Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 50: Siapa Itu Papa?


__ADS_3

Masa sekarang


"Anak-anak, hari ini kita akan mengenal tentang jenis-jenis pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang di sekitar kita."


Miss Stevi berdiri di depan kelas menjelaskan pelajaran yang dibawakan untuk anak didiknya. Ia mengucapkan setiap kata dengan perlahan dan jelas agar mudah dimengerti. Ia juga membawa beberapa gambar yang menunjukkan tentang keberagaman jenis pekerjaan yang pastinya tidak asing bagi anak-anak.


"Ayo tebak, kira-kira ini gambar apa?" Miss Stevi memperlihatkan salah satu gambar kepada anak-anak.


"Gambar dokter ...." anak-anak menjawab secara serempak pertanyaan yang diberikan.


"Wah, pintar ...." Miss Stevi terlihat senang dengan antusiasme siswanya. "Kalau ini gambar apa?"


"Petani ...." anak-anak kembali menjawab dengan kompak.


Setiap gambar yang ditunjukkan oleh Miss Stevi bisa dijawab dengan baik. Hal itu menunjukkan bahwa anak-anak sudah mengetahui keberagaman pekerjaan di sekitarnya.


"Kali ini Miss Stevi mau bertanya tentang pekerjaan yang dilakukan oleh ayah kalian. Mulai dari Danu, apa pekerjaan ayahmu?" tanya Miss Stevi.


"Ayah saya seorang TNI, Miss!" Danu menjawabnya dengan lantang menirukan kegagahan ayahnya.


"Kalau ayah Cinta?" tanya Miss Stevi.


"Ayah saya Pilot."


"Nah, kalau ayah Zylan?"


Mendengar pertanyaan dari Miss Stevi, Zylan tidak menjawab. Matanya melirik ke kanan kiri karena kebingungan. Baru kali ini ia mendengar kata 'ayah'. Ia tidak pernah tahu seperti apa orang yang disebut ayah. Selama ini ia hanya tinggal bersama ibunya.


"Miss, Zylan tidak punya ayah," sahut Renta.


"Renta, tidak boleh berkata seperti itu," ucap Miss Stevi.


"Kata Ibuku, Zylan tidak punya ayah. Dia juga tidak pernah dijemput ayahnya," kata Renta.


Miss Stevi baru mengajar selama beberapa bulan di sana. Ia memang tidak terlalu paham dengan kondisi keluarga murid-muridnya.


"Ya sudah, kita lanjutkan pelajaran menyanyi hari ini supaya semua tambah semangat belajar!" Miss Stevi mengubah topik pembelajaran agar fokus mereka teralihkan.


Anak-anak terlihat begitu senang saat ia mengajaknya menari dan bernyanyi.


"Miss Indi, boleh aku tanya sesuatu?"

__ADS_1


Usai pembelajaran yang dilakukan di kelasnya, Miss Stevi merasa ada hal yang masih mengganjal di hatinya. Bahkan hingga waktu istirahat tiba, ia masih memikirkannya hingga memberanikan diri untuk bertanya kepada rekan kerjanya.


"Mau tanya apa? Tanyakan saja." Miss Indi menikmati waktu istirahatnya menyantap bekal yang ia bawa dari rumah sembari memutar lagu boy group Korea kesukaannya.


"Tau Zylan yang ada di kelas TK A, kan?"


"Oh, Zylan imut itu. Tau, tau ... Memangnya kenapa?" Miss Indi menanggapi pertanyaan Miss Stevi sambil melanjutkan makannya.


"Katanya dia tidak punya ayah? Apa ayahnya sudah lama meninggal?" tanya Miss Stevi.


"Uhuk! Uhuk!" Miss Indi sampai tersedak mendengar pertanyaan itu. Ia mengambil minumannya untuk menetralkan batuknya.


"Aduh, bagaimana ya, aku menjelaskannya? Aku lupa. Kalau kamu anak baru," kata Miss Indi.


"Memangnya ayah Zylan kenapa?" Miss Stevi semakin ingin tahu.


Miss Indi tampak mengamati situasi sekelilingnya. Hanya ada mereka berdua di ruang guru. "Sebenarnya tidak boleh menggosipkan tentang orang tua siswa. Tapi, aku akan memberitahumu yang sebenarnya." ia mendekatkan diri pada Miss Stevi agar nada lirihnya bisa terdengar.


"Kita tidak ada yang tahu siapa sebenarnya ayah Zylan," kata Miss Indi.


Miss Stevi mengerutkan dahinya. "Kok bisa?"


"Akta kelahiran Zylan juga hanya mencantumkan nama ibunya yang bernama Jessica Alba atau Ibu Jessy."


"Kalau mau diurus sih sebenarnya bisa. Hanya saja, Ibu Jessy memang tidak mau memberitahukan ayah Zylan siapa. Bahkan kartu identitas Ibu Jessy statusnya belum menikah," jawab Miss Indi.


"Mengetahui ayah kandung seharusnya menjadi hak anak. Ibu Jessy seharusnya tidak boleh seperti itu."


"Kita kan tidak tahu kehidupan seperti apa yang Ibu Jessy jalani. Jadi, tidak perlu ikut campur. Kewajiban kita hanya memastikan anak-anak bisa mendapatkan pendidikan sebaik mungkin. Masalah rumah tangga biar menjadi urusan mereka saja," nasihat Miss Indi.


Miss Stevi tampak lebih memahami apa yang dialaminya. Seharusnya sebagai guru ia bisa lebih peka. Akibat pertanyaannya di kelas tadi mungkin akan memberikan imbas besar bagi Zylan.


***


"Mama ...," panggil Zylan.


Jessy yang tengah menyiapkan makan malam untuk Zylan bergegas membawakan nasi goreng omelet untuk putra kesayangannya.


"Iya, Sayang. Kamu sudah tidak sabar untuk makan malam, ya?" Jessy mengembangkan senyumannya. Ia meletakkan piring makanan milik Zylan di atas meja. "Kamu mau makan sendiri atau disuapi?" tanyanya.


"Mau disuapi!" kata Zylan dengan manja.

__ADS_1


Jessy kembali tersenyum dengan tingkah menggemaskan putranya. Ia mulai menyendokkan makanan dan menyuapkannya pada Zylan. Senang rasanya melihat sang anak mau memakan apa yang ia masak.


"Ma, Zylan punya Papa atau tidak?" tanya Zylan dengan polosnya.


Pertanyaan Zylan membuat Jessy mematung. Baru kali ini putranya menanyakan hal sensitif itu kepadanya. Ia benar-benar belum mempersiapkan jawaban yang tepat untuk putranya.


"Ma ... Mama kok tidak jawab?" tanya Zylan heran.


Jessy mencoba tetap tersenyum. "Kenapa tiba-tiba Zylan bertanya seperti itu?"


"Soalnya Zylan tidak pernah dijemput Papa seperti teman-teman yang lain," kata Zylan sembari memainkan robot-robotannya.


"Tapi, setiap hari Mama kan jemput Zylan." Jessy mengusap lembut puncak kepala putranya.


"Tadi ibu guru di sekolah bertanya apa pekerjaan Papa Zylan. Tapi, Zylan tidak tahu."


Zylan memang terlihat belum memiliki beban karena tidak mengenal siapa ayahnya. Anak itu hanya bingung dan iri ingin seperti teman-temannya yang lain. Namun, cerita Zylan membuat hati Jessy terasa teriris.


Sebagai seorang ibu, tentu saja ia ingin memberikan keluarga yang lengkap untuk putranya. Namun, ia sadar diri bahwa lelaki yang menghamilinya juga telah memiliki keluarga. Ia tak ingin memiliki keluarga harmonis dengan menghancurkan keluarga orang lain.


"Ma ...," panggil Zylan lagi.


"Iya, Sayang?"


"Jadi, Zylan punya Papa apa tidak?" tanya Zylan.


Jessy menghela napas. "Tentu saja, Sayang. Kamu punya Papa," katanya dengan seulas senyum.


"Papa Zylan itu seperti apa?" rasa ingin tahu Zylan semakin besar.


"Tentu saja tampan seperti Zylan. Papamu juga orang yang baik dan penyayang." Jessy mengatakannya sembari mengingat kembali wajah Mark dalam memorinya. Ia tidak bisa melulakannya karena memang Zylan memiliki banyak kemiripan dengan lelaki itu.


"Tapi, kenapa Papa tidak pernah bersama kita?"


"Em ... Karena, Papa Zylan orang yang sangat sibuk. Dia harus memimpin banyak orang di perusahaan besarnya. Kamu tahu bos, kan?"


Zylan mengangguk-anggukkan kepalanya. "Berarti Papa suka menyuruh-nyuruh orang, ya?" tanyanya.


"Hahaha ...." Jessy tertawa dengan pertanyaan Zylan. "Iya kurang lebih seperti itu pekerjaan Papa Zylan."


"Jadi, kalau Ibu Guru bertanya lagi apa pekerjaan Papa, Zylan jawab Papa itu Bos?"

__ADS_1


Jessy senyum-senyum sendiri. "Iya, Sayang. Papamu itu Bos."


__ADS_2