
"Justin, tolong maafkan perbuatanku yang dulu. Aku bersalah dan aku sangat menyesal," kata Jessy dengan tulus.
"Aku tahu kalau perbuatanku sangat jahat dan tidak bisa dimaafkan. Dan selama lima tahun ini aku hidup dengan rasa bersalah itu. Mungkin, dengan maafmu aku bisa sedikit merasa lega."
Justin menghela napas. Jika bertemu Jessy, dia memang seharusnya melampiaskan kemarahannya. Namun, kenyataannya, ia menjadi lemah saat bertemu secara langsung dengan Jessy. Selain kesalahan besar itu, Jessy tetap menjadi sosok wanita yang lembut hingga membuatnya tidak tega untuk membalas dendam. Justru ia merasa kasihan dengan Jessy.
"Kenapa kamu tidak pergi ke Inggris?" tanya Justin.
"Aku ... Di sini karena menunggumu," jawab Jessy dengan nada lirih.
Justin terdiam mendengar jawaban Jessy.
"Kamu jangan salah paham. Itu jawabanku dulu sebelum tahu kamu menikah. Setelah aku tahu kamu memilih bersama Ellena, aku tidak lagi menunggumu. Aku hidup di sini untuk diriku sendiri. Aku bahagia menghabiskan waktuku selama 5 tahun di sini." Jessy segera menjelaskan ucapannya. Ia tak ingin Justin salah paham bahwa dirinya tengah berusaha menggodanya.
"Kita ... Sudah punya jalan hidup masing-masing. Apa yang pernah terjadi di antara kita dulu hanyalah bagian dari masa lalu. Yang terpenting adalah masa sekarang. Aku harap kita sama-sama bisa bahagia dan meninggalkan masa lalu yang mungkin menyakitkan. Sekali lagi, maafkan kesalahku yang dulu," kata Jessy.
Ia menggerakkan tangannya ke arah leher dan meraih kalung yang dikenakannya. Ada sebuah cincin yang melingkar pada kalung tersebut. Ia mengambilnya dan menyerahkan kembali pada Justin.
Justin terkejut melihat cincin itu ada pada Jessy. Itu cincin yang sempat dia buang saat mengetahui gosip tentang Jessy dan Mark di kampus. Ia tidak menyangka selama ini Jessy menyimpannya.
"Dulu, kamu bilang ingin memberikan cincin itu padaku. Sepertinya aku bukanlah orang yang tepat untuk menerimanya," ucap Jessy.
Justin menggenggam erat cincin yang Jessy berikan padanya. Mengenang kembali masa lalu hampir membuatnya ingin menangis. Jessy benar-benar sosok wanita yang sangat sulit ia lupakan.
"Jessy, jawab dengan jujur pertanyaanku!" pinta Justin. Ia menatap Jessy dengan tatapan serius. "Apa selama ini ... Hidupmu benar-benar bahagia tanpa diriku?" tanyanya.
Justin sangat mengharapkan kejujuran Jessy kali ini.
Raut wajah Jessy terlihat bingung dengan pertanyaan Justin. Dengan segenap ketegarannya, Jessy memaksakan diri untuk tersenyum. "Iya, aku sangat bahagia di sini," katanya.
Justin menarik tengkuk leher Jessy hendak mencium bibir wanita itu. Namun, ketika melihat mainan milik Shanon yang ada di mobil, ia mengurungkan niatnya. Jessy juga sudah memejamkan matanya melihat Justin yang sepertinya akan menciumnya.
Cup!
__ADS_1
Justin hanya mencium pipi Jessy dan menepuk puncak kepalanya. "Pergilah, Jessy! Aku sudah memaafkan masalah kita yang dulu. Kamu harus tetap hidup dengan bahagia. Aku juga begitu," kata Justin.
Jessy tertegun. Ternyata Justin tak jadi menciumnya. Ia juga merasa bodoh mengharapkan sebuah ciuman dari seorang lelaki beristri. Jessy tersenyum.
"Kamu pasti belum makan siang, kan? Teman-temanmu pasti sudah menunggu," kata Justin dengan nada bersahabat.
"Iya, Justin. Terima kasih atas waktunya. Aku pergi dulu," pamit Jessy. Ia keluar dari dalam mobil Justin.
Justin hanya bisa memandangi sosok Jessy yang melangkah semakin menjauh darinya.
Aroma parfum Jessy masih tercium memenuhi mobilnya. Parfum yang sama dan tak pernah berubah sejak dulu. Tanpa terasa air mata mulai menetes di pipi Justin.
Ketegaran seorang Justin akhirnya runtuh dengan kepergian Jessy. Tangannya gemetar memegangi sebuah cincin yang seharusnya ia berikan untuk Jessy. Kali ini, ia benar-benar telah berpisah dengan Jessy.
Justin mengambil mainan milik Shanon yang tadi dilihatnya. Benda itu membuatnya kembali teringat bahwa ada putri kecil di masa depannya.
Pertemuan ini menjadi akhir dari masa lalu. Justin akan fokus dengan masa depannya.
Jessy membasuh wajahnya di toilet. Ia tidak ingin teman-temannya melihat sisa-sisa air mata yanh menetes di pipinya.
Meskipun harus berbohong tentang perasaannya yang sesungguhnya, Jessy merasa keputusan yang diambilnya kali ini adalah yang terbaik. Ia tidak lagi berusaha lari dari masalah. Dengan pertemuan ini, ia menyelesaikan masalahnya di masa lalu.
"Aku kira kamu tidak akan kembali, Jess. Untung makanannya juga baru datang," ucap Ratu yang merasa lega melihat kehadiran Jessy di sana.
Jessy mengembangkan senyum. "Aku kan sudah bilang kalau aku hanya sebentar."
Jessy menempati tempat duduknya. Di hadapannya sudah ada semangkuk ramen dan jus alpukat sama seperti pesanan kedua temannya.
"Jess, kamu sebenarnya sudah punya pacar atau belum?" tanya Intan di sela-sela kegiatan makan mereka.
Jessy merasa agak tidak nyaman dengan pertanyaan itu.
"Kamu ini kenapa tiba-tiba bahas pacar segala?" sahut Ratu.
__ADS_1
"Ya, memangnya kita harus bahas apa? Masa pekerjaan lagi? Ini kan jam istirahat, bisalah kita bahas yang lain seperti percintaan atau gosip-gosip kantor," kata Intan. "Lagi pula, kebanyakan dari kita kan memang masih muda dan belum menikah. Kalau bahas masalah rumah tangga malah lebih tidak nyambung!" lanjutnya.
"Kalau aku sendiri malah belum kepikiran punya pacar, masih mau fokus kerja dan menyenangkan diri sendiri," kata Ratu. "Mungkin Jessy tertarik membahas masalah pribadi seperti Intan?"
Jessy tersenyum. "Aku juga belum memikirkan hal semacam itu. Aku masih ingin fokus bekerja," katanya.
"Yah! Kalian memang dua orang yang tidak asik!" cibir Intan.
"Punya keterikatan dengan seseorang itu rumit, segalanya ada batasan. Malas!" Ratu menjadi apatis dengan hubungan percintaan karena pengalamannya pernah ditinggal menikah oleh mantan.
"Di kantor itu sebenarnya ada yang naksir Jessy. Aku disuruh tanya kalau Jessy sudah punya pacar atau belum," kata Intan.
"Eh, siapa? Siapa?" Ratu jadi penasaran.
"Katanya tadi tidak tertarik membahas hal seperti ini," ledek Intan.
"Kalau gosip tentang cinta-cintaan di kantor memang kayaknya seru," kata Ratu.
"Aku tidak bisa menyebutkan identitasnya karena katanya masih rahasia. Ini bingungnya bagaimana, ya? Jessy memang sedang tidak punya pacar, tapi juga tidak tertarik pada seseorang."
"Ya, coba kenalkan saja, siapa tau cocok. Iya kan, Jess?" tanya Ratu.
Jessy hanya senyum-senyum sembari memakan ramennya. Sejak lima tahun yang lalu, ia memang tidak pernah memikirkan untuk menjalin hubungan yang baru. Lelaki yang ada di pikirannya hanya Mark dan Justin. Sepertinya hatinya juga tidak mau terbuka untuk orang lain.
"Jess, kriteria cowok idaman kamu seperti apa?" tanya Intan.
"Aku tidak tahu. Aku belum memikirkannya," jawab Jessy.
"Yah, Jessy tidak asik! Beri tahu sedikit, lah!" rayu Intan.
"Paling juga Jessy sukanya yang tampan, kaya, dan mapan," sahut Ratu.
"Itu sih kriteria cowok semua wanita, jangan ditanya lagi!"
__ADS_1