Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 44: Pilihan


__ADS_3

5 tahun kemudian


"Mama ...."


Seorang anak kecil berlari kegirangan menghampiri ibu yang baru saja datang menjemputnya. Kebahagiaan terbesar bagi anak itu adalah momen pulang sekolah. Tangan kecil itu memeluk hangat tubuh ibunya.


"Halo, Sayang, apa hari ini menyenangkan di sekolah?" tanya sang ibu dengan senyuman termanisnya.


"Di sekolah aku senang. Tapi, aku lebih senang bertemu Mama. Aku mau cepat pulang," kata sang anak dengan polosnya.


Sang ibu kembali tersenyum. "Baiklah, kalau begitu kita pulang sekarang!"


Wanita muda itu adalah Jessy. Dan anak kecil itu adalah Zylan, anak yang telah ia lahirkan empat tahun yang lalu.


Tak pernah Jessy bayangkan bahwa dirinya akan melahirkan seorang anak tanpa pernikahan. Anak tersebut adalah anak Mark, satu-satunya lelaki yang pernah tidur dengannya.


Flash back on


"Kamu sekarang mau bagaimana?" tanya Mark.


Mereka baru saja berhasil keluar dari kediaman keluarga Wilson. Jessy sendiri bingung dengan keputusannya. Justin tak akan mau pergi dengannya sesuai rencana.


Mark meraih tangan Jessy. "Kalau kamu tidak punya tempat untuk pergi, tetaplah denganku," ucapnya.


Jessy melepaskan tangan itu. "Maaf, Pak. Saya sudah mengatakan ingin mengakhiri hubungan ini. Saya tidak bisa bersama Anda."


"Lalu mau apa? Kamu juga tidak punya tujuan yang jelas. Kamu kira hidup di luaran sana bisa mudah?" Mark tidak habis pikir dengan sikap keras kepala Jessy.


"Saya sudah sangat merasa bersalah karena menghancurkan keluarga Bapak. Tolong, jangan menambahi beban di hati saya lagi."


"Keluarga Wilson tidak akan mudah memaafkanmu, Jessy. Kamu tidak bisa tetap berada di kota ini."


"Saya mengerti. Makanya saya akan pergi sejauh mungkin dari sini."


"Tanpa Justin?"


Jessy mengangguk. "Saya akan pergi ke tempat yang sudah aku dan Justin sepakati. Bapak tolong tepati janji untuk tidak mencampuri kehidupan saya lagi. Saya mau pergi sekarang," pamit Jessy.


Ia menghentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat. Tanpa berpikir lama, ia memasuki taksi itu dan meninggalkan Mark begitu saja.


"Ke stasiun, Pak!" pinta Jessy.

__ADS_1


"Baik, Mba."


Jessy mengusap air matanya. Rasanya sudah cukup ia menangis karena tidak ada gunanya. Nasibnya juga tidak akan berubah meskipun terus menangis.


Tidak ada yang perlu disesali dengan apa yang terjadi. Meskipun tanpa Justin, ia akan tetap membuka lembaran baru dalam kehidupannya.


Sesampainya di stasiun, ia menaiki kereta yang akan membawanya jauh meninggalkan kota penuh kenangan itu.


Flash back off


"Mama ...,"


"Hm?"


"Kata Dio, dia sudah pernah lihat dinosaurus."


"Oh, dinosaurus ... Memangnya lihat dimana?"


"Tidak tahu." Zylan menggelengkan kepalanya.


Jessy hanya tersenyum. Ia tahu dinosaurua hang anaknya maksud merupakan taman bermain baru yang belum lama ini diresmikan di kota mereka.


"Aku juga mau lihat dinosaurus, Ma ...," rengek Zylan.


Zylan memanyunkan bibirnya. "Kapan Mama libur? Bahkan di rumah juga Mama masih kerja," keluh anak kecil itu.


Menjelang akhir tahun memang sudah biasa ada audit. Seluruh karyawan di perusahaan termasuk Jessy harus terima untuk melakukan lembur. Apalagi ada rencana pergantian karyawan dan pimpinan. Jika ia tidak bisa menunjukkan kinerja terbaik, ia bisa diputus kontrak.


"Maaf ya, Sayang. Mama memang cukup sibuk akhir-akhir ini. Nanti kalau sudah tidak sibuk, Mama janji akan membawamu melihat dinosaurus," kata Jessy.


"Halo, Zylan ...."


Tampak seorang lelaki menunggu di depan rumah Jessy sembari memamerkan bungkusan mainan kepada Zylan. Reflek anak kecil itu melepas gandengan tangan Jessy dan menghampirinya.


"Om Nino ...," serunya kegirangan.


"Ini untuk jagoannya Om Nino!" ia memberikan kotak mainan yang dibawanya kepada Zylan.


"Yeay! Ini eskavator!" Zylan berseru kegirangan.


"Kamu senang, kan?"

__ADS_1


"Senang sekali, Om. Makasih," Zylan tersenyum lebar.


"Nino, sudah aku bilang kamu tidak perlu membelikan mainan terus untuk Zylan. Mending kamu tabung uang hasil kerjamu," protes Jessy.


"Aku juga tidak membelikan Nino mainan setiap hari, Kak. Kebetulan juga baru ada kerjaan di luar kota terus lihat mainan ini jadi ingat Zylan."


"Ya sudah, masuk dulu ke dalam!" ajak Jessy.


Nino merupakan anak Pak Dasiran yang waktu itu Jessy tolong biaya operasi ginjalnya. Anak itu baru saja lulus kuliah dan mendapatkan pekerjaan. Kebetulan ia bekerja di kota yang sama dengan Jessy sehingga mereka bisa bertemu.


"Bagaimana kabar ayah dan ibumu?" tanya Jessy seraya menyuguhkan segelas teh hangat kepada Nino.


"Mereka sehat, Kak. Rencananya kalau aku sudah diangkat jadi karyawan tetap di perusahaan, mereka akan aku ajak pindah ke kota ini."


"Rajin-rajin menabung kalau punya gajian, jangan kamu habiskan uangmu untuk membelikan Zylan mainan."


"Apa yang aku berikan kepada Zylan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bantuan yang Kakak berikan padaku."


Terlihat Zylan tengah memainkan mainan barunya dengan antusias. Apalagi mainan yang Nino berikan bisa berjalan sendiri dengan kendali remot kontrol.


"Aku belum memberitahu kepada ayah dan ibu kalau Kak Jessy sudah punya anak," kata Nino.


Jessy tersenyum. "Kamu tidak usah mengatakannya. Aku takut nanti mereka jadi ikut kepikiran. Lagipula, aku juga bisa mengurus Zylan dengan baik."


"Sebenarnya siapa ayah Zylan, Kak? Apa lelaki yang bernama Justin itu?" tanya Nino.


Jessy terdiam. Sudah lama ia tidak mendengar nama Justin disebut. Ia bahkan sudah hampir melupakan lelaki yang menjadi cinta pertamanya.


"Rasanya tidak adil lelaki itu bisa hidup bahagia bersama anak dan istrinya sementara Kakak di sini kesusahan sendiri bersama Zylan. Menurutku, Kakak tetap harus meminta tanggung jawab lelaki itu!"


"Ayah Zylan bukan dia, Nino. Tolong, kamu jangan membahasnya lagi."


Mendengar nama Justin membuat kenangan pahit yang ingin dilupakan kembali muncul. Ia sudah tahu kabar pernikahan Justin dengan Ellena akhirnya tetap dilaksanakan lima tahun yang lalu. Ia dengar Justin juga sudah memiliki seorang anak perempuan. Mungkin usianya juga tidak terpaut jauh dengan Zylan.


Setelah memutuskan pergi ke kota itu, setiap hari Jessy menunggu kabar dari Justin. Ia masih berharap Justin bisa berubah pikiran dan menyusulnya. Namun, Justin tak pernah datang.


Jessy justru dikejutkan dengan hasil kehamilan yang diberitahukan dokter. Tanpa ia sangka, ia tengah hamil saat pergi meninggalkan kota lamanya. Hubungan terakhir yang ia lakukan dengan Mark ternyata menghadirkan Zylan di perutnya.


"Kalau bukan dia lalu siapa, Kak? Masa kalian akan hidup berdua seperti ini terus?"


"Nino ...," Jessy mengekuarkan lirikkannya.

__ADS_1


Nino tak berani bertanya lagi. Ia meminum teh yang Jessy buatkan lalu ikut bermain bersama Zylan.


Jessy menghela napas. Terkadang ia ingin memberitahukan kepada Mark bahwa ia telah memiliki anak darinya. Namun, belum tentu Mark juga menginginkan anak itu. Apalagi anak yang dilahirkan oleh wanita miskin seperti dirinya. Ia takut anaknya akan disingkirkan oleh keluarga mereka.


__ADS_2