
Jessy mengenakan topi dan masker saat memasuki area rumah sakit. Ia khawatir akan ada yang mengenalinya dan berusaha menangkapnya kembali.
Nomor ponsel Justin tak bisa dihubungi. Mau tidak mau ia mempercayai Mark untuk menemui Justin di rumah sakit. Seharusnya hari ini mereka pergi ke stasiun untuk kabur berdua.
Klek!
Jessy membuka pintu kamar nomor 303. Tampak Justin tengah berdiri dengan tangan kiri yang dibalut perban.
"Jessy!" seru Justin kaget melihat Jessy ada di sana.
Jessy berlari ke arah Justin dan memeluknya. "Kamu kenapa?" tanya Jessy khawatir.
"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit terkilir," kata Justin. Ia mengusap pipi Jessy yang sejak semalam dikhawatirkannya. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku dengar anak buah kakekku sampai mencarimu ke tempat kost."
"Iya, aku baik-baik saja."
Jessy kembali memeluk Justin. Ia melakukannya untuk menebus rasa bersalah kepada lelaki itu bahwa semalam ia telah tidur dengan lelaki lain.
"Kemarin aku juga hampir saja tertangkap oleh kakekku. Untung saja anak buah pamanku datang dan membawaku ke sini. Niatnya aku segera berangkat ke stasiun untuk menemuimu," kata Justin.
"Justin, kamu yakin kan, mau membawaku pergi?" tanya Jessy memastikan.
Justin mengerutkan dahi. "Kenapa kamu menanyakannya lagi? Kita sudah sepakat akan menjalani hidup berdua, kan?"
"Pamanku sudah menyiapkan kendaraan untuk kita pergi dari kota ini. Tapi, aku harus mengambil sesuatu dari kampus dulu."
"Apa yang kamu tinggalkan di kampus?" tanya Jessy.
"Cincin yang waktu itu sempat kamu tolak," kata Justin sembari tersenyum. Benda itu sangat berharga baginya karena merupakan barang mahal pertama yang ia beli dengan hasil jerih payahnya.
Justin menggandeng erat tangan Jessy. "Kamu sudah siap pergi denganku?" tanyanya.
Jessy mengangguk. Keduanya memakai masker dan topi untuk menyamarkan penampilan. Justin menggunakan mobil milik Mark untuk membawa Jessy ke kampus bersamanya.
"Jess, kamu mau ikut aku ke tempat klub basket atau menunggu di sini?" tanya Justin ketika mereka telah sampai di area kampus.
"Aku menunggu di sini saja," jawab Jessy. Ia lebih memilih menunggu di taman yang sejuk dan tidak terlalu banyak orang yang berlalu lalang.
"Baiklah, jangan kemana-mana, aku akan segera kembali." Justin berlari meninggalkan Jessy menuju tempat biasa ia latihan basket. Ia meninggalkan barang-barangnya di loker tempat latihan.
__ADS_1
"Jessy, kamu di sini?" tanya seorang mahasiswa yang lewat di depan Jessy bersama dua temannya. Tatapan mereka terlihat lain saat melihat Jessy.
Jessy tak terlalu mengenal mereka, namun sepertinya mereka berasal dari fakultas yang sama dengannya.
"Jess, apa benar kamu yang ada di foto itu?" tanya orang itu lagi.
Jessy tidak mengerti arah pembicaraan mereka.
"Mungkin dia belum tahu, Liv," sahut salah satu temannya yang lain.
"Iya, sepertinya Jessy belum tahu," ucap yang satunya lagi.
"Itu, Jess. Di fakultas sedang heboh oleh foto-foto wanita mirip denganmu yang sedang bermesraan dengan Pak Mark, suami Bu Magda," kata Livia.
Jessy tersentak kaget. Rasanya tidak mungkin foto-foto kebersamaan mereka tersebar. Mark juga sudah berjanji tidak akan mengganggu kehidupannya lagi.
"Aku rasa bukan Jessy, ya. Soalnya dari gaya berpakaiannya sangat berbeda. Wanita di foto itu memakai pakaian yang sangat se ksi seperti wanita murahan," kata Tiara.
"Tapi wajahnya sangat mirip Jessy. Katanya Jessy juga pernah ke Inggris bareng Fika, kan?" sahut Risti.
Livia membulatkan mata. "Jess, kamu tidak ketularan Fika jadi pelakor, kan?" tanyanya menegaskan.
Ketiga orang itu mulai berbisik-bisik dan memberikan tatapan aneh kepada Jessy. Sepertinya mereka tengah berdebat dengan kebenaran berita itu.
"Ada apa ini? Kenapa ramai-ramai?" Justin baru saja kembali setelah mengambil barang yang diinginkannya.
"Eh, Justin," kata Livia terkejut.
"Kenapa kalian mengerumuni Jessy?" tanya Justin dengan ekspresi wajah kesalnya.
"Em, maaf, Justin. Kami hanya ingin meluruskan gosip di fakultas kita kalau memang benar atau salah," kata Risti.
"Gosip apa lagi?" tanya Justin heran.
"Ada foto Jessy dengan ayahmu, Justin. Semua orang sedang membicarakannya kalau Jessy jadi simpanan Pak Mark," jawab Risti.
"Justin, kami pergi dulu, ya! Kami tidak ada niat apa-apa, hanya mau bertanya," kata Livia. Ia mengajak kedua temannya untuk menghindar karena takut Justin akan marah.
Jessy gelisah sampai tangannya gemetar. Ia takut Justin tak akan mau menerimanya jika memang apa yang Livia dan teman-temannya katakan benar.
__ADS_1
"Jess, katakan sesuatu!"
Justin tidak mau mempercayai perkataan mereka. Namun, melihat gelagat Jessy yang gugup ia merasa ada yang tidak beres. Apalagi Jessy tak mau berbicara apapun kepadanya.
Ditariknya tangan Jessy agar ikut dengannya. Ia ingin membuktikan sendiri ucapan dari mereka apakah benar atau hanya rumor belaka.
Suasana di tempat pengumuman fakultas mereka terlihat ramai. Justin semakin khawatir jika berita itu benar.
"Gila, ya! Aku nggak nyangka Jessy bisa begitu."
"Iya. Aku kira dia anak yang polos."
"Mainnya nggak kira-kira, ke Eropa sama suami Bu Magda."
"Diam-diam menghanyutkan."
"Wajar sih menurutku. Dia kan temannya Fika, pasti kelakuannya 11 12 lah!"
"Ini lebih parah dari Fika, Sih! Suami Bu Magda, loh! Otomatis ayahnya Justin juga, kan? Mereka teman dekat masa tega menggaet ayah temannya sendiri."
"Aku baru tahu kalau papanya Justin ganteng banget. Pintar sekali Jessy cari target. Gila gila."
"Sstt! Ada Justin sama Jessy. Diam diam!"
Sekumpulan orang yang tengah membahas isu tentang Jessy langsung terdiam dengan kehadiran Justin. Mereka memberi jalan agar Justin dan Jessy bisa melihat apa yang tertempel di sana.
Benar saja, beberapa foto yang menunjukkan kedekatan antara Jessy dan Mark terpampang di sana. Bahkan ada salah satu foto yang menunjukkan keduanya tengah berciuman. Latar foto menggambarkan suasana di luar negeri, jelas itu adalah London.
Justin sangat syok melihat foto-foto itu. Ia tidak menyangka jika Jessy ternyata memiliki kedekatan dengan pamannya. Rasa kecewa bercongkol di hatinya. Ia berbalik dan pergi meninggalkan tempat kerumunan itu.
"Justin, tunggu! Biar aku jelaskan semuanya!" dengan mata berkaca-kaca, Jessy mengejar Justin yang berusaha menghindarinya.
Justin masih terdiam dengan kekecewaaannya.
"Justin, please, dengarkan aku dulu," pinta Jessy. Ia juga tertekan dengan pemberitaan tentang dirinya yang tiba-tiba.
Ia juga tak berniat menyembunyikan hal itu selamanya dari Justin. Namun, waktunya sangat tidak tepat untuk menguak semuanya.
"Justin!" Jessy meraih tangan kekasihnya itu, namun Justin menepisnya dengan kasar.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kamu tega melakukan hal seperti ini padaku, Jess!" Justin sangat kecewa dengan Jessy. Napasnya sampai terasa berat karena dadanya sesak mendengar kenyataan itu.