
Jessy mengamati kondisi sekeliling sebelum memutuskan masuk ke dalam mobil milik Mark. Lelaki itu memintanya bertemu untuk menjelaskan masalah sebelumnya. Makanya, pulang dari kantor mereka sepakat untuk bertemu.
"Aku masih tidak habis pikir kenapa kamu pergi membawa anakku," gumam Mark sembari mengemudi. Ia masih tidak percaya kalau ternyata dirinya telah memiliki seorang anak.
"Saya juga tidak tahu kalau waktu itu sedang hamil." Jessy tak berani menoleh ke arah Mark. Ia merasa cemas karena tiba-tiba Mark meminta dipertemukan dengan putranya.
"Kalau aku tahu sejak awal, aku akan membawamu bersamaku, Jessy. Aku tidak akan membiarkanmu kesulitan sendiri. Maafkan aku." Mark menyesal melewatkan momen melihat kehamilan Jessy serta kelahiran putranya. Selama ini ia mengira Jessy telah melupakannya.
"Saya tidak merasa kesulitan sedikitpun selama merawatnya. Mungkin bayi itu juga mengerti kondisi ibunya. Perut saya tampak kecil selama hamil sehingga tidak membuat orang curiga. Ada banyak orang baik yang menolong saya selama kehamilan dan merawatnya."
Ada rasa haru saat Jessy menceritakan pengalamannya memiliki Zylan. Meskipun ia pernah ragu untuk melahirkannya, namun akhirnya ia tidak menyesal membesarkan Zylan.
Mark mengulurkan tangan kirinya meraih tangan Jessy dan menggenggamnya erat. "Mulai sekarang tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku akan selalu bersama kalian," ucapnya.
Mark tidak akan bisa menebus waktu yang telah terlewati. Dalam hatinya, ia bertekad untuk membahagiakan Jessy dan putranya.
"Ini sekolahannya?" tanya Mark ketika mereka telah sampai di tempat Zylan dititipkan.
"Iya. Di sini bisa sekolah sekaligus tempat penitipan anak. Zylan sudah dua tahunan saya titipkan di sini kalau sedang kerja."
"Bagaimana kalau kamu sedang lembur sampai malam atau bahkan harus menginap seperti kemarin?" tanya Mark.
Jessy melirik kesal kepada Mark. Ia jadi ingat kembali kejadian malam itu bersama Mark. "Aku menitipkan Zylan ke tetangga, kebetulan mereka baik."
Mark sedikit merasa bersalah. Untung saja waktu itu dia tidak jadi mengurung Jessy. Kalau itu terjadi, putranya akan kebingungan ditinggal ibunya.
"Mama ...."
Seorang anak laki-laki kecil berlari ke arah mereka. Keimutan anak itu membuat Mark terpana. Ia seperti melihat sosok mini dirinya. Senyumnya terkembang, merasa bangga bahwa ia benar-benar telah memiliki seorang putra.
Zylan memberikan pelukan sayang kepada sang ibu. Netranya terus memandangi sosok asing yang datang bersama ibunya. Dia seperti anak kecil lainnya yang penasaran dengan orang baru.
"Kita pulang sekarang ya, Sayang," kata Jessy.
Zylan mengangguk. Anak itu belum berani menanyakan siapa lelaki yang bersama ibunya. Ia hanya memasang sikap waspada sembari memegangi ibunya seakan takut kalau ibunya akan diambil orang itu.
Sepanjang perjalanan Zylan tak melepaskan pandangannya dari Mark. Ia bertanya-tanya kenapa hari ini ada yang berbeda, seorang lelaki dengan baik hati datang menjemputnya bahkan mengantar dengan mobil bagus.
"Ma, kenapa Om ini ikut masuk?" tanya Zylan.
__ADS_1
Anak itu akhirnya berani bertanya ketika Mark mengikuti mereka masuk ke dalam rumah. Selama ini, Jessy memang tak pernah membawa orang lain datang ke rumah selain Nino. Hal itu membuat Zylan sangat penasaran.
Jessy melirik ke arah Mark. Ia juga bingung bagaimana caranya agar Zylan tidak terkejut dengan orang yang dibawanya kali ini.
"Sayang, Mama pernah bilang kan, kalau Papa Zylan sibuk kerja. Makanya belum bisa datang menemui kita. Sekarang, Papa Zylan sudah tidak sibuk lagi," kata Jessy dengan nada pelan.
Zylan mencoba mencerna perkataan ibunya. Ia melirik kembali ke arah Mark. "Ini ... Papa Zylan?" tanyanya.
Mark mengulaskan senyum. Ia berharap anak itu tidak akan takut padanya.
"Iya, Sayang. Ini Papanya Zylan," jawab Jessy.
Zylan tampak terdiam. Sepertinya ia bingung mau melakukan apa setelah bertemu ayahnya.
"Zylan senang tidak ketemu Papa?" tanya Jessy.
"Senang." Zylan menjawabnya dengan nada biasa. Ia terus melirik ke arah Mark.
"Zylan mau peluk Papa?" tanya Mark.
Ia merentangkan kedua tangannya bersiap memeluk Zylan. Sejenak, anak itu tampak berpikir untuk memeluk Mark atau tidak. Pada akhirnya, anak itu mau bergerak memeluk ayahnya. Jessy dan Mark merasa lega.
"Maafkan Papa, ya? Papa baru bisa datang sekarang," ucap Mark sembari menahan air mata haru. Dipeluknya Zylan dengan penuh kasih sayang.
Jessy menitihkan air mata. Ia sangat bahagia bisa mewujudkan keinginan putranya untuk memiliki seorang ayah.
Usai nostalgia yang mengharukan, Jessy pergi ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Zylan bersama Mark bermain di ruang tengah. Sesekali ia mengintip untuk melihat apa yang mereka lakukan. Ia akan senyum-senyum setiap kali melihat kekompakan ayah dan anak itu.
"Kamu sedang masak apa?" tanya Mark menghampiri Jessy di dapur.
Jessy agak terkejut disusul oleh Mark. "Zylan mana? Kenapa Anda kesini?" tanyanya.
"Zylan di toilet, mau pup katanya."
"Ah, dia memang sudah bisa sendiri," kata Jessy seraya melanjutkan aktivitas memasaknya.
Mark memeluknya dari belakang. Jessy sedikit merasa terganggu. Apalagi Mark sangat nakal menciumi lehernya sehingga ia susah fokus.
"Apa yang Anda lakukan? Saya masih memasak, Pak," tegur Jessy.
__ADS_1
"Aku sedang mengungkapkan kebahagiaanku. Hari ini aku sangat bahagia," ucapnya.
Mark tidak berhenti menciumi area leher Jessy. Tangannya juga nakal menyisip masuk ke dalam baju yang Jessy kenakan.
"Anda jangan gila, Pak. Saya masih memasak!" Jessy mengomel. Lelaki itu agaknya tidak kenal tempat untuk melakukan perbuatan semacam itu.
"Berarti, kalau kamu sudah selesai memasak, boleh kan, kita bermesraan?" tanya Mark.
"Ingat di rumah ini ada Zylan. Anda tidak boleh aneh-aneh!"
"Papa ...."
Sedang asyik-asyiknya bermesraan, terdengar suara Zylan memanggil. Terpaksa Mark melepaskan tangannya dari tubuh Jessy.
"Masak yang enak ya, Sayang!"
Cup!
Mark memberikan sebuah ciuman sebelum kembali menemui Zylan. Pipi Jessy langsung merona.
Ia mempercepat proses penyajian masakan lalu membawanya ke ruang tengah untuk dimakan berasama Mark dan Zylan.
Ketiganya makan lesehan di atas karpet. Meskipun begitu, mereka kelihatan bahagia.
"Papa, Papa akan tinggal di sini terus, kan? Papa tidak akan pergi lagi, kan?" tanya Zylan sembari memakan ayam goreng kesukaannya.
Jessy dan Mark saling berpandangan.
"Em, Sayang ...." Jessy hendak memberikan penjelasan pada Zylan, namun Mark menghentikannya.
"Tentu saja, Sayang. Papa akan tinggal di sini bersama kalian," ucap Mark.
"Janji, Papa tidak boleh pergi lagi!" pinta Zylan.
"Iya, Papa tidak akan pergi meninggalkan Zylan."
Jessy menatap tajam ke arah Mark. "Kita belum menikah, Pak. Jangan berpikir Anda akan menginap di sini malam ini," bisik Jessy.
Mark tersenyum. "Memangnya kenapa? Bagus kalau kita digrebek supaya lebih cepat dinikahkan," godanya.
__ADS_1