Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 65: Extra Part 1


__ADS_3

"Eh, kalian sudah datang ...."


Yanti tampak tersenyum lebar menyambut kehadiran Jessy dan suaminya. Ia bertingkah seolah sangat bahagia dengan kedatangan putrinya sendiri. Tidak tampak keangkuhan yang biasanya ia tunjukkan kepada Jessy.


Selain mengajak Jessy dan Zylan, Mark juga membawa sebuah truk berisi barang-barang yang akan ia berikan kepada keluarga Jessy. Sebenarnya hal itu yang paling Yanti nantikan, ia senang Jessy menikah dengan lelaki kaya raya.


"Paman, apa kabar?" Jessy menyalami pamanya dan memeluknya. Setelah menghilang begitu lama, akhirnya ia punya keberanian untuk kembali bertandang ke rumah lama.


Sang paman menitihkan air mata. Ia bersyukur keponakannya baik-baik saja. Selama ini ia merasa khawatir jika sesuatu yang buruk terjadi kepada keponakannya.


"Apa ini anakmu?" tanya sang paman saat melihat Zylan.


"Iya, Paman. Dia anakku, namanya Zylan," kata Jessy.

__ADS_1


Tubuh kecil Zylan diangkat oleh sang paman. Ia melihat mata indah anak itu yang sangat mirip dengan mata Jessy saat kecil. "Aku Kakekmu, Nak. Kamu ternyata sudah besar, ya!"


"Zylan, ayo nenek gendong. Ini nenek kamu." Yanti ikut-ikutan ingin menggendong Zylan.


Sebagai anak yang baik, Zylan mau-mau saja digendong oleh wanita yang menyebut dirinya nenek. Ia memang tidak tahu kalau wanita itu dulunya sering menyiksa ibunya. Namun, Jessy tak pernah menceritakan hal-hal buruk tentang keluarga pamannya kepada siapapun, baik kepada Zylan maupun Mark.


"Paman, Mark membawakan perabotan rumah. Apa bisa aku suruh mereka untuk mengangkutnya ke dalam?" tanya Jessy.


Paman langsung melirik ke arah istrinya. Ia agak kesal mengetahui ternyata istrinya meminta hal yang macam-macam kepada Jessy. Sementara, Yanti memilih membawa Zylan masuk ke dalam menghindari omelan suaminya.


Mereka terjerat hutang yang cukup besar. Gaji yang sang paman dapatkan hanya cukup untuk membayar cicilan hutang. Sementara, untuk hidup sehari-hari, mereka menjual satu per satu aset yang dimiliki. Sampai perabot rumah juga tak luput mereka jual.


Rumah yang dulu terlihat bagus kini berubah menjadi usang seperti bangunan tua terbengkalai. Kebocoran ada di mana-mana.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu repot-repot melakukan ini. Kalau mau datang, datang saja, Jessy. Jangan dengarkan Bibimu!" ucap sang paman. Sebenarnya ia sangat merasa malu terhadap Jessy. Seharunya ia yang merawat Jessy dengan baik. Kini, posisinya seperti terbalik, Jessy yang sedang mengurusinya.


"Aku tidak pernah merasa repot, Paman. Ini tidak sebanding dengan yang sudah Paman lakukan padaku. Terima kasih dulu sudah merawatku."


Paman menitihkan air mata. Ia membali memeluk Jessy dan meluapkan rasa bahagia bercampur rasa sungkannya.


Jessy mengusap punggung pamannya. Ia merasa prihatin dengan kehidupan pamannya. Ia tidak bisa hidup dengan bahagia jika mengetahui kehidupan pamannya menderita. Apapun yang sudah keluarga itu lakukan padanya di masa lalu, ia tetap merasa ada kebaikan yang ia dapatkan.


"Bagaimana? Kita masukkan sekarang?" tanya Mark yang bersiap memberi komando pada para tukang yang dibawanya.


Jessy menjawab dengan anggukan.


Satu per satu perabot yang ada di dalam truk diturunkan dan dibawa masuk ke dalam rumah. Yanti melihatnya dengan perasaan sangat bahagia.

__ADS_1


"Akhirnya hidupku tidak menderita lagi," gumamnya dengan senyuman lebar.


Zylan hanya menatap wanita yang tengah menggendongnya dengan tatapan heran. Ia tidak paham kenapa wanita itu tampak kegirangan.


__ADS_2