
Mobil yang membawa Jessy memasuki sebuah pekarangan rumah mewah. Bahkan ukuran halamannya saja lebih luas jika dibandingkan dengan rumah lamanya. Sudah bisa ditebak keluarga Justin memang kaya raya, sangat jauh jika harus dibandingkan dengan dirinya.
"Nona, silakan turun."
Pintu mobil dibukakan, Jessy diminta turun dari mobil selayaknya tamu kehormatan. Ia lihat ada banyak penjaga di setiap sudut rumah, menandakan tempat itu pasti sangat sulit dimasuki oleh pencuri.
Jessy dibawa memasuki rumah megah itu. Beberapa pelayan tampak berjajar di area ruang tengah.
Akhirnya Jessy bisa bertemu dengan kakek nenek Justin. Dari auranya, meskipun sudah tua, mereka terlihat selayaknya orang kelas atas.
"Tuan, Nyonya, kami telah membawa Nona Jessy." orang yang membawa Jessy memberikan laporan.
"Jadi kamu yang bernama Jessy?" tanya Nyonya. Dari nada bicara dan ekspresi wajahnnya, Jessy bisa menilai jika nenek Justin tidak menyukainya.
"Benar, Nyonya, saya Jessy," jawab Jessy dengan perasaan sedikit gugup.
Jessy tak ditawari untuk duduk menandakan kehadirannya tidak disambut dengan baik. Ia merasa diundang karena ada kaitannya dengan Justin yang memilih pergi dari rumah.
"Berapa lama kamu berhubungan dengan Justin?" tanya Tuan Wilson dengan nada tak kalah dingin dari Nyonya Wilson.
"Sekitar dua tahun," jawab Jessy.
"Apa yang kamu lakukan sampai cucuku tergila-gila padamu? Apa kamu memberikan tubuhmu? Begitu cara merayu cucuku?"
Jessy mengangkat kepalanya menatap Nyonya Wilson yang telah mengatakan pertanyaan tidak sopan kepadanya.
"Aku sudah menyelidiki latar belakangmu. Kamu anak yatim piatu yang tidak punya apa-apa. Keunggulanmu hanya sedikit pintar di kampus. Anak yang lebih baik darimu banyak. Bagaimana bisa cucuku tertarik padamu? Kamu pasti rela menyerahkan tubuhmu seperti seorang *** ***, kan? Kamu tahu kalau Justin orang kaya dan berharap bisa menumpang hidup pada keluarga kami."
"Nyonya, cukup!" Jessy memotong perkataan Nyonya Wilson yang sudah keterlaluan.
"Berapa yang kamu inginkan agar mau meninggalkan Justin? Kami akan berikan berapapun sebagai kompensasi hiburan yang sudah kamu berikan pada cucuku."
"Nyonya, Anda sudah keterlaluan!" kata Jessy dengan nada sedikit meninggi.
__ADS_1
"Aku hanya mengatakan kenyataan. Wanita sepertimu mendekati lelaki kaya karena mengharapkan harta. Kamu tidak usah munafik!"
"Maaf, Nyonya. Saya berpacaran dengan Justin karena mencintainya, bukan karena alasan lain."
"Hahaha ... Cinta! Mana ada hal se-klise itu di dunia ini." Nyonya Wilson menertawakan jawaban Jessy.
Bagi Jessy, hubungannya dengan Justin memang murni dilandasi perasaan tertarik dan saling suka. Dua tahun ia lewati hubungan karena merasa nyaman bersama Justin. Ia tak pernah ada maksud lain atau memanfaatkan pacarnya. Bahkan, sering kali Jessy yang membayar uang makan saat mereka pergi kencan.
"Kamu tidak perlu berbasa-basi. Sebutkan saja uang yang kamu mau dan tinggalkan Justin!" perintah Tuan Wilson.
"Maaf, Tuan, saya tidak bisa melakukannya. Saya tulus mencintai Justin dan ingin bersamanya," jawab Jessy.
Ia dan Justin sudah sepakat akan menghadapi masalah ini berdua. Kesulitan yang akan datang, mereka akan berusaha melaluinya berdua.
"Albern, berikan cambuk padaku!" pinta Tuan Wilson.
Lelaki paruh baya itu naik pitam mendengar penolakan yang Jessy katakan. Albern memberikan benda yang tuannya inginkan.
Sesaat Jessy gentar dengan ancaman tersebut. Namun, mengingat kembali tentang perjuangan Justin demi dirinya, ia merasa tak gentar.
Bagi orang yang sudah terlahir kaya raya, pasti akan kesulitan untuk memutuskan meninggalkan segalanya. Namun, Justin mau melakukan hal itu untuknya. Tidak adil jika dia tidak berani mengambil resiko atas keputusan mereka.
"Tuan, Anda mengatakan bahwa Justin boleh memilih keputusannya asalkan mau keluar dari ini. Dia sudah berani mengambil keputusannya demi saya. Jadi, pantaskah jika saya menerima uang yang Anda tawarkan dan meninggalkannya? Saya tidak mau meninggalkan Justin!" ucap Jessy.
"Semakin lama aku semakin paham kalau wanita sepertimu bisa memberikan pengaruh buruk bagi cucuku!"
Ctak!
"Ah!" Jessy menjerit saat cambuk yang Tuan Wilson ayunkan mengenai tubuhnya.
Satu cambukan rasanya telah mematahkan tulang-tulangnya. Punggungnya terasa panas.
"Apa kamu masih mau membangkang?" tanya Tuan Wilson.
__ADS_1
Jessy tak menjawab. Ia yakin bisa bertahan menahan rasa sakitnya.
"Baiklah, akan aku buat kamu merintih dan memohon karena kesakitan sampai mau berjanji tak akan mendekati cucuku lagi."
Ctak! Ctak! Ctak!
Tuan Wilson mengayunkan cambuknya beberapa kali tanpa ampun ke punggung Jessy. Wanita itu sampai jatuh tersungkur saking sakitnya. Setiap kali cambuk mengenai kulitnya, Jessy menjerit. Air matanya keluar meskipun ia terus menahan rasa sakitnya.
"Apa kamu belum menyerah?" tanya Tuan Wilson. Amarah dalam dirinya sama sekali belum mereda. Ia tak punya rasa belas kasihan meskipun Jessy seorang wanita.
"Tuan, apa kami tidak boleh bahagia? Kami saling mencintai," kata Jessy seraya menitihkan air mata.
"Kamu kira hidup ini hanya butuh cinta? Kamu kira Justin akan bahagia hidup denganmu? Dia sudah terbiasa dilayani dan hidup berkecukupan. Kamu kira dia akan bisa bertahan hidup sederhana denganmu?"
Ucapan Tuan Wilson sudah berulang kali ia pikirkan. Justin memang pasti akan merasa berat hidup tanpa fasilitas yang biasa didapatkannya. Namun, ucapan Justin waktu itu benar-benar membuatnya percaya jika Justin pasti bisa melakukannya.
"Tuan, Justin pasti akan bahagia dengan pilihannya sendiri," kata Jessy.
"Kamu memang benar-benar keras kepala!"
Ctak!
"Ah!"
"Ada apa ini?"
Mark tiba-tiba datang. Ia terkejut melihat Jessy ada di sana dalam kondisi yang menyedihkan. Pakaian Jessy di bagian punggung sampai terkoyak karena terkena cambukan yang dilayangkan mertuanya.
"Oh, Mark. Kamu datang? Ada apa?" tanya Tuan Wilson.
"Kenapa dia ada di sini?" tanya Mark penasaran. Sekilas ia melihat Jessy menatapnya dengan tatapan sendu. Suara isakannya masih terdengar menahan kesakitan.
"Gara-gara dia Justin nekad pergi dari rumah. Aku sudah menawarkan padanya sejumlah uang agar mau meninggalkan Justin. Tapi, dia keras kepala tidak mau meninggalkan Justin," kata Tuan Wilson.
__ADS_1