
"Ren, kamu lihat Jessy?" tanya Ratu yang baru terbangun dari tidurnya.
Semalam ia tidak kuat membuka mata karena mabuk. Akhirnya ia tertidur di atas meja tempat mereka makan bersama.
Jessy sebelumnya mengatakan ingin menginap di rumahnya kalau kemalaman. Namun, ia malah justru tertidur di sana. Ketika bangun, Jessy sudah tidak ada di dekatnya.
"Aku tidak tahu," jawab Rendi dengan nada malas. Ia bahkan belum tidur sejak semalam. Ia penasaran kenapa lelaki itu membawa Jessy seperti sudah lama saling kenal. Jessy tak pernah mengatakan apapun tentang anggota tim supervisi yang dikenalnya.
"Loh! Wajahmu kenapa?" Ratu kaget melihat sudut bibir Rendi terluka.
"Tidak apa-apa," jawab Rendi.
"Jagan bohong, kamu pasti semalam bertengkar dengan seseorang, ya?" selidik Ratu.
Rendi terdiam. Ia tidak berniat menceritakan apa yang terjadi semalam kepada Ratu.
"Ah, ya sudahlah! Kalau kamu tidak mau bilang, aku pergi dulu, mau cari Jessy!" ucap Ratu.
***
Jessy merasakan tidurnya kali ini sangat nyenyak. Perasaan nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan kembali menyelimutinya.
Ia seperti bermimpi dipeluk oleh Mark. Lelaki dewasa yang pernah memberikan kehangatan untuknya juga sosok yang bisa diandalkan. Rasanya ia ingin tertidur lebih lama bersama perasaan tenang itu.
Matanya perlahan terbuka. Kehangatan yang seperti mimpi itu masih bisa dirasakannya.
"Hmm, jangan bergerak."
Kesadaran Jessy langsung kembali mendengar suara lelaki yang tengah memeluknya. Ternyata ia tidak sedang bermimpi. Bahkan ia merasakan kedua tangan Mark yang memegangi dadanya, membuat ia sama sekali tak bisa pergi.
Samar-samar ingatan tentang kejadian semalam mulai terbayang. Ia telah melakukan hal yang melewati batas bersama Mark. Bahkan sangat jelas ia rasakan tubuh mereka masih menyatu sejak semalam. Mark tidak melepaskannya.
"Ah, ini gila," lirih Jessy. Ia benar-benar bingung mau berbuat apa. Mark tepat berada di belakangnya memeluk dengan erat. Tangannya tak bisa diam memberikan gerakan yang membuat hasratnya muncul.
Jessy perlahan berusaha melepaskan diri dari Mark dengan gerakan yang hati-hati. Ia harus pergi sebelum Mark terbangun.
"Sudah aku bilang kan, jangan bergerak. Aku jadi mau lagi," kata Mark. "Ini sangat enak, Baby," bisiknya.
"Pak, tolong lepaskan saya," pinta Jessy.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku bisa melakukannya? Kamu yang lebih dulu menggodaku semalam, Jessy." Mark tak mau mengalah. Ia bahkan lebih mengeratkan pelukannya.
Jessy tak sepenuhnya sadar dengan apa yang ia lakukan semalam. Mungkin ia mabuk sampai bisa melakukan hal yang tidak biasa. Ia sendiri yang mengatakan merindukan lelaki itu.
Mark mulai menggerakkan miliknya secara perlahan. Jessy tidak bisa lagi menghindar. Keduanya kembali terjebak dalam hasrat cinta yang membara.
Setelah lima tahun berlalu, akhirnya kejadian itu kembali terulang. Jessy kembali bermesraan dengan Mark.
Meskipun Jessy tak menginginkan aktivitas mereka sekarang, ia tidak memungkiri bahwa ia sangat menikmatinya. Setiap sentuhan dan gerakan Mark yang diberikan padanya membuat Jessy seakan melayang terbang ke atas awan.
Rasa kesepian yang selama ini dirasakan seakan telah terisi dengan kenyamanan. Mark menjadikan Jessy ingin bersandar kepadanya.
Keduanya tergolek lemas setelah sesi bercinta di pagi hari. Mark menatapnya dengan hangat. Senyuman yang ia berikan penuh ketulusan.
"Apa tidurmu nyenyak semalam?" Tanyanya.
Jessy tak berani menjawab. Mengiyakan sama artinya mengakui bahwa lelaki itu sangat hebat memberikan kepuasan padanya semalam.
"Bagaimana kalau kita sarapan dulu? Aku akan memesankan makanan," kata Mark.
"Aku mau mandi," kata Jessy. Rasanya ia ingin menghindar karena malu.
Mark menahan tangannya. "Berbaringlah sebentar lagi. Tubuhmu pasti masih sangat lelah," usulnya.
"Aku baik-baik saja," kilah Jessy. Ia beringsut turun dari ranjang. Badannya memang terasa pegal-pegal namun ia terlalu gengsi untuk mengakui. Perlahan ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Jessy menyalakan shower yang mengucur membasahi tubuhnya. Ia mulai membersihakan sisa-sisa percintaan mereka. "Aku pasti sudah gila," gumam Jessy pada dirinya sendiri.
Tak berapa lama, ia merasakan kehadiran seseorang di sana. Mark menyusulnya ke kamar mandi.
"Pak, saya belum selesai mandi," katanya sembari menutupi bagian tubuhnya yang paling privasi.
Sementara, Mark dengan percaya dirinya berdiri di hadapan Jessy tanpa mengenakan apapun. Seolah ia memang ingin memamerkan tubuh atletisnya yang menawan. Apalagi milik lelaki itu yang entah bagaimana sudah kembali terbangun. Membuat Jessy ketar-ketir dan gugup. Seakan Mark sedang menodongnya dengan senjata.
"Aku sengaja menyusul. Takut kamu pingsan di dalam. Ternyata kamu cukup kuat juga. Kalau begitu, biar aku yang akan membantumu mandi," kata Mark.
"Tidak usah, Pak. Saya bisa sendiri," jawab Jessy.
"Jangan sungkan, kita bukan orang yang baru saling kenal, Jessy. Kamu harus lebih jujur dengan perasaanmu."
__ADS_1
Mark kembali mendekat ke arah Jessy. Ia memberikan pelukan kepada Jessy. Keduanya sama-sama mandi di bawah guyuran shower.
"Pak, kita sudah tidak ada hubungan lagi. Kita tidak boleh seperti ini," Jessy mencoba menyadarkan Mark dengan perbuatannya. Lelaki itu terus saja menggerayanginya.
Mark tersenyum. "Seharusnya kamu mengatakannya semalam, Jessy. Ini sudah terlambat."
"Saya mabuk dan tidak sepenuhnya sadar dengan tindakan semalam," kilah Jessy.
"Kalau begitu, anggaplah dirimu masih mabuk. Aku lebih menyukai Jessy yang jujur saat mabuk dari pada Jessy yang selalu ingin kabur saat bangun tidur."
Mark meraih tengkuk Jessy dan mencium bibirnya dengan agresif. Ia tak ingin memberikan kesempatan bagi Jessy untuk berpikir. Ia hanya ingin Jessy menerima kenyataan bahwa wanita itu sangat merindukannya saat ini.
"Letakkan tanganmu pada dinding, Baby," pinta Mark dengan nada mesra.
Jessy hanya menurut. Ia biarkan Mark membali memasuki dirinya secara perlahan. Ia tak bisa berpikir jernih. Hanya kenikmatan yang ia rasakan dalam sesi bercinta lanjutan di kamar mandi.
Tubuhnya kembali melemas usai pelampiasan hasrat. Mark benar-benar ingin membuatnya tak berdaya seharian. Lelaki itu bahkan harus membantu membersihkan tubuhnya karena Jessy sudah tak sanggup berdiri.
Mark memakaikan pakaian yang Todd bawakan untuk Jessy. Ia juga membantu mengeringkan rambut Jessy yang basah.
"Baby, kenapa kamu diam terus? Apa kamu sedang marah denganku?" tanya Mark.
Jessy hanya tidak tahu harus berkata apa lagi kepada lelaki itu. Segala ucapannya tidak ada yang dituruti, Mark semaunya sendiri.
"Apa aku terlalu berlebihan?" tanya Mark.
Jessy kesal sendiri Mark seolah tidak merasa bersalah. Sudah jelas semalam lelaki itu juga mengajaknya bercinta seperti singa yang kelaparan. Pagi hari lelaki itu masih ingin melakukannya. Bahkan, saat mandi, Mark tetap tak mau melakukannya.
"Aku mau pulang sekarang," kata Jessy.
Wajah Mark terlihat tidak senang. "Kenapa kamu terus mengatakan hal itu? Semalam kamu sendiri yang memintaku untuk tidak meninggalkanmu. Aku ingin kamu tetap di sini," kata Mark dengan nada serius.
"Pak, Anda tidak bisa memercayai ucapan orang mabuk!" tegas Jessy.
"Aku rasa itu bukan mabuk. Apa yang kamu ucapkan semalam merupakan isi hatimu yang sebenarnya," tampik Mark.
"Anda sudah berjanji tidak akan mengganggu hidup saya lagi."
"Kalau semalam aku tidak membawamu ke sini, mungkin kamu sudah terbangun di samping lelaki lain. Kamu kira aku akan bisa menerimanya?"
__ADS_1
Jessy terkejut mendengar ucapan Mark. Ia kembali berusaha mengingat kejadian semalam di perusahaan.
Ia ingat semalam dirinya bersama Rendi. Lelaki itu mengutarakan perasaan kepadanya. Ia juga ingat bahwa Rendi hendak menciumnya.