
Mark menatap dalam-dalam wajah wanita yang berada di bawahnya. "Jessy, ayo kita bercinta untuk yang terakhir kali. Setelah ini, aku akan membiarkanmu pergi."
Jessy tampak memikirkan ucapan Mark. Ia sudah tidak mau lagi melanjutkan hubungan semacam itu. Namun, Mark bukan lelaki yang mudah untuk melepaskannya. "Apa Bapak bisa berjanji tidak akan mengganggu saya lagi?" tanyanya.
Mark mengangguk. "Aku akan melupakan semua hal yang pernah terjadi di antara kita. Kamu bisa menjalani hidup sesuai kemauanmu," katanya.
Jessy menghela napas panjang. "Baiklah, saya mau melakukannya," jawab Jessy.
Mark tersenyum senang meskipun ada raut kesedihan yang terukir di sana. Malam ini akan menjadi akhir bagi dirinya berbagi kehangatan di atas ranjang yang sama dengan Jessy.
"Baby, panggil aku 'Daddy' seperti biasa kamu memanggilku. Aku merindukan panggilan itu darimu," kata Mark seraya menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah wanitanya.
"Iya, Daddy."
Jessy melingkarkan kedua tangannya di belakang leher Mark. Setelah sekian lama, akhirnya bibir mereka kembali bertemu, saling memagut dan berbagi kehangatan. Sejenak Jessy melupakan Justin dari pikirannya.
Satu per satu pakaian yang mereka kenakan di tanggalkan hingga tak menyisakan apapun. Bohong jika Mark bisa melupakan Jessy. Kali ini saja ia memandangi tubuh indah itu berharap bisa mengingat malam ini untuk selamanya.
Meskipun sudah sering melakukannya, Jessy tetap merasa gugup. Mark sudah sangat hafal setiap jengkal tubuhnya. Setiap titik yang dijamah membuat Jessy terbawa hasratnya.
__ADS_1
Suara napas Mark di telinganya serta gigitan kecil yang diberikan di sana mampu membuatnya mengerang. "Kamu selalu cantik, Jessy ...," lirihnya.
Mark menciumi ceruk leher Jessy dengan perlahan. Tangannya tak tinggal diam memainkan dada lembut wanitanya. Sesekali ia memainkan puncaknya hingga membuat Jessy mengeluarkan suara yang semakin membuatnya bersemangat.
Mark kembali memandangi wajah Jessy yang memerah dan mempesona. Ia menarik tangan wanita itu mengarah pada miliknya.
Mata Jessy melebar saat menyentuh miliknya. Ini kali pertama tangan halus itu menyentuh area paling pribadinya.
"Pegang, Baby," pinta Mark.
Dengan malu-malu Jessy menurut. Terasa aneh melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Mark tampak memejamkan mata dan napasnya terlihat berat saat tangannya menggenggam benda itu.
"Sebenarnya aku berharap kamu akan merindukan milikku, Baby," kata Mark dengan nada nakal.
***
Jessy mengenakan kembali pakaiannya setelah menyelesaikan mandi pagi. Ia mengemasi barang-barangnya. Hari ini, ia akan resmi pergi dari tempat itu selepas melewati malam panasnya dengan Mark.
"Kamu mau pergi sekarang?"
__ADS_1
Mark tampak baru saja keluar dari kamar mandi. Tetesan air masih membasahi tubuhnya yang hanya tertutup selembar kain melilit di pinggang.
Jessy bersiap pergi dengan barang-barangnya. "Saya ... Pamit dulu, ya, Pak," ucapnya canggung.
Mark berjalan mendekati Jessy. Ia memberikan pelukan kepada wanita itu. Sebenarnya berat rasanya untuk membiarkan wanita itu pergi dari sisinya.
Ia menyunggingkan senyum, pura-pura rela melepaskannya. "Jessy, kalau kamu mencari Justin, dia ada di rumah sakit," ucapnya.
Jessy terkejut. "Justin kenapa?" tanyanya khawatir.
"Dia baik-baik saja, hanya luka lecet saat berusaha kabur dari kejaran anak buah kakeknya. Mungkin hari ini sudah boleh pulang. Datangi saja paviliun rumah sakit XXX kamar nomor 303."
Jessy semakin tidak mengerti dengan Mark. Seharusnya lelaki itu tidak memberitahukan keberadaan Justin karena dia berniat meninggalkannya.
"Aku tidak bohong, Jessy. Meskipun aku mencintaimu, Justin juga keponakanku. Aku peduli pada kalian berdua. Apapun keputusanmu akan aku terima," kata Mark.
"Pak ...." Jessy merasa tidak enak hati pada Mark. "Terima kasih dan maaf untuk semuanya," ucapnya.
Mark menepuk puncak kepala Jessy. "Pergilah sebelum aku berubah pikiran. Kalau kamu mengalami kesulitan, jangan sungkan meminta bantuanku," katanya.
__ADS_1
Jessy mengangguk. Ia berbalik dan melangkah pergi dari hadapan Mark.
Mark hanya bisa memandangi punggung Jessy yang semakin menjauh darinya.