Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 56: Tim Supervisi


__ADS_3

"Jess, bisa bantu aku fotokopi berkas-berkas ini?"


Ratu datang menghampiri Jessy di meja kerjanya. Semua orang terlihat sibuk karena hari ini akan ada tim supervisi dari perusahaan induk yang datang ke sana.


"Jadi hari ini, ya?" tanya Jessy memastikan.


"Iya, Jess. Setelah ini aku harus ke ruangan pak manajer untuk persiapan penyambutan. Kamu tolong tangani tugas ini, ya?" pinta Ratu.


"Oke," kata Jessy.


Ia membawa berkas yang Ratu berikan ke tempat fotokopi. Di area luar karyawan yang lain juga terlihat mondar-mandir ke sana kemari.


Jessy tidak terlalu paham seperti apa jalannya supervisi nanti. Selama dua tahun bekerja ini pertama kalinya ada supervisi dari kantor pusat. Biasanya staff bagian HRD yang melakukan pengecekan.


"Aku dengar sudah datang, ya?"


"Iya. Aku tadi lihat rombongannya ada di lantai bawah."


"Aduh, serem nggak mereka?"


"Menurutku biasa-biasa saja, sih. Nggak ada yang tampangnya galak. Bahkan tadi ada satu loh yang ganteng banget!"


"Masa sih?"


"Duh, kalau kamu lihat sendiri juga paling bisa histeris. Bisa-bisanya ada seorang supervisor yang seperti artis! Ganteng banget! Orangnya tinggi dan wajahnya seperti blasteran."


"Ah, aku jadi mau ikut lihat ...."


"Heh! Kita masih banyak pekerjaan, tahu!"


Tanpa sengaja Jessy mendengarkan percakapan karyawan dari divisi lain yang lewat. Ternyata tim supervisi benar-benar sudah datang. Ia mempercepat tugas memfotokopi lembaran yang Ratu berikan.


Usai menyelesaikan pekerjaannya, ia kembali ke ruangan. Rekan kerjanya yang lain juga masih sibuk dengan tugas masing-masing.


"Jess, sini aku bantu jilid kopiannya," kata Rendi menawarkan bantuan.


"Oh, makasih, ya!" Jessy memberikan tumpukan berkas itu kepada Rendi.

__ADS_1


"Tim supervisi sedang berada di bagian pemasaran. Setelah ini katanya mereka akan datang ke sini," ucap Rendi sembari menjilid hasil kopian Jessy.


"Memangnya setiap divisi akan dicek?" tanya Jessy.


"Tentu saja. Kalau ada temua yang mencurigakan, manajer dan kepala divisi yang akan dimintai pertanggungjawaban."


Jessy baru tahu. Pantas saja Ratu buru-buru pergi. Jabatan sebagai ketua tim ternyata memang berat makanya gaji yang diperoleh juga lebih besar dari karyawan lainnya.


"Pak Wandi apa kira-kira bisa menangani hari ini?" tanya Jessy cemas.


"Kamu tenang saja. Walaupun bapak tua itu cukup menyebalkan, pengalaman kerja puluhan tahu sudah tidak bisa diragukan lagi."


"Sini aku bantu!"


Jessy meminta sebagian jilidan berkas dari Rendi. Keduanya membawa berkas-berkas itu ke rak yang telah tersusun rapi sesuai tahun pembuatannya. Meskipun bukan perusahaan besar, namun administrasinya diatur agar tertib.


"Selamat datang di bagian desain produk. Ini merupakan tempat kami biasa menghabiskan waktu bekerja dalam tim." Ratu berperan sebagai juru bicara mendampingi Pak Wandi.


Tim supervisi satu per satu memasuki ruangan. Para karyawan bagian desain produk langsung berdiri menyambut mereka.


Jessy beringsut mundur dan berusaha menyembunyikan dirinya agar tidak menonjol. Tidak disangka jika tim dari supervisi yang baru masuk merupakan Mark yang didampingi oleh sang asisten, Todd.


Ia mer emas-r emas sendiri tangannya saking gugup. Pikirannya seakan langsung kosong.


"Siapa manajer di sini?" tanya salah satu tim supervisi wanita yang berambut pendek.


"Saya manajernya," jawab Pak Wandi.


"Oh, ternyata masih Anda. Sampai bosan saya bertemu dengan Anda," kata wanita itu sambil tertawa kecil. Pak Wandi memang salah satu keryawan tertua di perusahaan.


"Kalau bosan, bagaimana dengan tukar posisi? Saya juga ingin menjadi bagian tim supervisi?" seloroh Pak Wandi.


Suasana yang awalnya terlihat sedikit tegang langsung cair oleh lelucon Pak Wandi. Para tim supervisi tertawa.


"Boleh kami melihat-lihat data dan semuanya?"


"Tentu saja boleh. Silakan Ratu bisa memandu," pinta Pak Wandi.

__ADS_1


Ratu kembali maju dan berbicara di depan tim supervisi. Ia menjelaskan seputar divisinya dan projek yang belum lama mereka lakukan.


Ratu juga mempersilakan mereka untuk masuk dan mengecek sendiri apapun yang ada di sana. Jessy kembali melangkah mundur ke pojokan saat tim supervisi semakin masuk dan mengecek rak arsip data yang baru ia dan Rendi rapikan.


"Kamu kenapa, Jess?" tanya Rendi setengah berbisik. Sejak tadi Jessy terlihat seperti orang yang ingin bersembunyi.


"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya tidak nyaman dengan kehadiran orang baru," kilah Jessy.


Rendi berusaha untuk memabami. Ia yang pengertian bahkan berusaha menjadi tembok bagi Jessy agar wanita itu tidak terlihat.


Jessy curi-curi pandang ke arah Mark. Lelaki itu sama sekali tidak berubah, masih setampan dulu dengan penampilan yang selalu rapi dan keren. Ia berharap Mark tidak akan mengenalinya dan mereka tidak perlu bertemu.


Sayangnya, sekilas pada akhirnya Mark tampak membalas tatapan Jessy. Keduanya sama-sama tidak percaya. Jessy memilih menghindari kontak mata. Sementara, Mark semakin penasaran ingin memastikan wanita yang baru dilihatnya memang benar-benar Jessy.


Mark mengikuti tim supervisi. Ia berpura-pura ikut mengecek untuk mendekati Jessy. Sayangnya, semakin ia berusaha mendekat, Jessy justru ingin semakin menjauh darinya.


"Pak, apa yang di bagian paling belakang itu Nona Jessy?" bisik Todd.


"Berarti yang berpikir seperti ini bukan hanya aku, Todd. Aku juga mengira kalau itu adalah Jessy," jawab Mark.


Keduanya tetap bersikap tenang seolah tidak ada hal lain yang menjadi fokus mereka. Bagaimanapun juga, ini masih jam kerja. Mereka tidak bisa melakukan semaunya.


Todd kembali memperhatikan ke arah wanita yang paling belakang. Ia yakin wanita itu adalah Jessy.


Selama 5 tahun kehidupan Mark terlihat kacau semenjak berpisah dari Jessy. Bahkan lebih kacau jika dibandingkan sebelum mengenal Jessy. Ia hanya tahu Mark lebih sering tersenyum dan tertawa selama bersama Jessy.


Ditinggalkan Jessy membuat Mark seakan kembali pada setelan pabriknya menjadi sosok lelaki dingin dan terlihat angkuh di hadapan orang lain. Ia tak memiliki belas kasihan ketika terjadi permasalahan di dalam bisnis yang dijalani.


"Pak, apa perlu saya memanggilnya setelah kegiatan selesai?" tanya Todd.


"Kamu tidak usah melakukan apa-apa, biar aku yang menyelesaikan masalahku sendiri," kata Mark dengan mantap.


Jessy benar-benar menghindari kontak mata dengannya. Mark sangat merindukan wanita itu. Rasanya masih tidak bisa dipercaya jika mereka akan dipertemukan kembali tanpa sengaja.


Sebenarnya Mark sudah sangat malas kembali ke tanah air. Menurutnya, sudah tidak ada alasan kembali ke sana. Jessy telah memilih meninggalkannya ke tempat yang tidak ia ketahui.


Kesempatan datang saat perusahaannya di Inggris telah mengakuisisi perusahaan tempat Jessy bekerja sejak 5 tahun yang lalu. Ini pertama kalinya mereka secara langsung melakukan supervisi ke kantor cabang.

__ADS_1


__ADS_2