Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 49: Kehamilan


__ADS_3

Hidup di kota baru membuat Jessy masih merasa kesepian. Tak ada seorangpun yang ia kenal. Bahkan hari-hati ia lalui dengan perasaan hampa menunggu Justin yang tak pernah menemuinya.


Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor Justin, namun tidak pernah aktif. Ia hanya berharap Justin masih mau menerimanya. Pada kenyataannya, hal itu sepertinya hanya keinginan yang sia-sia.


Jessy tinggal di sebuah kontrakan sederhana dekat stasiun. Untuk mengisi keseharian, Jessy bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahan. Ia juga mendaftar perkuliahan jarak jauh untuk melanjutkan kuliahnya yang belum selesai.


"Proyek pembangunan apartemen Dream Heaven yang sebelumnya sempat dikabarkan batal ternyata sudah dimulai proses pembangunannya."


Jessy yang tengah minum di dapur terkejut mendengar berita yang ditayangkan televisi. Ia mengalihkan perhatiannya kepada berita tersebut.


"Menurut kabar yang beredar, diperkirakan hal ini akibat membaiknya hubungan keluarga Wilson dan Russel. Kabar pernikahan antara Justin Wilson dan Ellena Russel memperkuat rumor yang beredar."


Prank!


Jessy tanpa sengaja menjatuhkan gelas yang dipegangnya. Tangannya gemetar mendengar berita tersebut.


"Pernikahan rencananya akan dilaksanakan pada hari minggu yang akan datang di hotel XXX."


Jessy mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menghela napas panjang untuk menenangkan diri.


"Kamu kenapa Jessy? Masih berharap Justin akan datang? Hahaha ...." gumamnya.


Air mata meleleh di pipi Jessy. Berita bahagia yang diharapkan banyak orang merupakan berita menyedihkan baginya. Ia masih tidak bisa menerima kenyataan kalau dia dan Justin tidak bisa bersama.


***


Sejak mendengar berita tentang pernikahan Justin, Jessy merasa tak bersemangat menjalani hari-harinya. Selama bekerja ia juga sering melamun hingga mendapat teguran dari atasannya.


"Jessy, bisa kamu bantu buang sampah-sampah di sana? Sepertinya sudah sangat menumpuk," pinta Rita, salah satu rekan kerjanya.


"Oh, oke."


Tanpa berpikir panjang Jessy mengiyakan permintaan temannya. Ia mengangkat kedua keranjang sampah itu sendiri dan membawanya ke tempat pembuangan.


Dug!


Jessy menabrak seseorang. "Aduh, maaf, ya," katanya merasa bersalah.


"Jessy, kalau jalan hati-hati," Rio geleng-geleng kepala dengan kecerobohan yang Jessy lakukan.


"Iya, maaf. Aku sepertinya kurang fokus," kilah Jessy.


"Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu!" Rio melanjutkan langkahnya kembali.


Pekerjaan Jessy di tempat itu bukanlah jabatan tinggi. Ia hanya bekerja sebagai petugas kebersihan karena saat mendaftar masih memakai ijasah SMA.


Jessy menumpahkan sampah yang ada di dalam keranjang ke tempat sampah. Saat ia hendak kembali ke dalam kantor, ia merasa sedikit pusing. Pandangannya tiba-tiba kabur.

__ADS_1


"Jessy! Kamu kenapa?" salah seorang rekan kerja Jessy bernama Tiana panik dan berlari menahan tubuh Jessy yang hampir limbung. Kalau tidak ada dia, Jessy pasti sudah terjatuh.


"Wajah kamu pucat sekali, apa kamu sakit?" tanya Tiana.


"Aku tidak apa-apa, mungkin hanya kelelahan," kata Jessy.


"Kayaknya kamu butuh ke ruang kesehatan. Ayo, aku antar!"


Tiana membantu memapah tubuh lemah Jessy. Dengan hati-hati ia membawa rekan kerjanya itu ke ruang kesehatan yang disediakan perusahaan.


"Kamu tadi sarapan nggak sebelum berangkat kerja?" tanya Tiana.


Jessy menggeleng. "Aku jarang sarapan. Tapi, biasanya juga tidak apa-apa."


"Namanya penyakit tidak tahu kapan munculnya, Jess! Mending mulai sekarang biasakan sarapan. Wajahmu kelihatan sangat pucat."


"Siapa yang sakit?" seorang wanita berseragam dokter baru saja muncul dari balik pintu.


"Jessy, Dok. Tadi dia sempat mau pingsan waktu membuang sampah di belakang. Wajahnya sangat pucat," kata Tiana.


"Oh, Jessy. Saya periksa dulu, ya!" kata dokter.


"Jess, aku ke kantin dulu sebentar. Nanti aku kembali lagi," pamit Tiana.


Jessy mengangguk. Ia bersyukur memiliki rekan kerja yang baik-baik di sana.


"Tidak, Dok. Saya tidak mual. Hanya pusing saja tadi sebentar."


Dokter Ita mulai memompa alat penvecek tekanan darah itu hingga membuat lengan Jessy terasa sesak. Sang dokter mengerutkan dahi melihat hasil pengecekan yang baru dilakukannya.


"90/60. Kamu menunjukkan gejala hipotensi, Jessy. Sudah berapa hari kamu merasa pusing seperti hari ini?" tanya dokter.


"Beberapa hari ini memang saya rasanya sedang tidak enak badan, Dok. Mungkin itu sebabnya tekanan darah saya turun."


"Kamu tidak merokok atau minum alkohol, kan?" tanya dokter memastikan.


Jessy menggeleng.


"Bagus kalau begitu. Usahakan untuk rutin minum air putih 2 liter sehari, jangan begadang, makan teratur, kalau tidur bantalnya ditinggikan supaya saat bangun lebih enak."


"Iya, Dok."


"Coba kamu tampung air kencingmu di sini, ya!" pinta dokter seraya memberikan wadah kecil untuk Jessy


Jessy sedikit bingung. "Untuk apa, Dok?" tanyanya heran.


"Untuk dicek saja. Kamu bisa masuk ke kamar mandi di sebelah sana." dokter menunjukkan arah kamar mandi.

__ADS_1


Jessy menurut saja untuk masuk ke kamar mandi membawa wadah yang dokter berikan. Jessy tidak begitu ingin buang air kecil, sehingga cairan yang dikeluarkannya hanya sedikit.


"Ini, Dok!"


Jessy menyerahkan wadah air seninya. Dokter mengambil sebuah alat tes dan memasukkan ke dalam wadah tersebut.


Lagi-lagi sang dokter mengerutkan dahi. Ia tampak menghela napas dan memandang Jessy dengan serius.


"Jessy, kamu belum menikah?" tanya dokter.


Jessy merasa semakin aneh dengan pertanyaan yang diajukan. "Belum, Dok," jawabnya.


"Kamu sedang hamil, Jessy."


Informasi yang diberikan dokter membuat Jessy mematung. Ia tidak menyangka akan mendengarkan kabar semacam itu sebelum dirinya menikah.


Ia merasa bingung dengan kehamilan yang baru diketahuinya. Rasanya ia tidak bisa berpikir. ia hanya tertunduk lesu di hadapan dokter.


"Saya tidak akan ikut campur dengan urusan pribadi orang. Tapi, kehamilan di luar pernikahan sangat dilarang di perusahaan. Saya harap kamu bisa bijak untuk membuat keputusan, jangan sampai pihak perusahaan mengetahui hal ini jika kamu masih tetap ingin bekerja di sini."


"Dokter tidak akan membocorkan hal ini, kan?" tanya Jessy memastikan.


Dokter Ita tersenyum dan mengangguk. "Kalau bisa, sayangi janin yang ada di dalam perutmu, ya. Dia tidak bersalah dan tidak bisa memilih di dalam rahim siapa ia akan tumbuh. Mungkin sebelumnya kamu sudah pernah melakukan kesalahan. Jangan sampai kamu melakukan kesalahan lain terhadap calon anakmu sendiri."


Wajah Jessy sangat jelas menunjukkan kecemasannya. Ia benar-benar merasa belum siap untuk memiliki seorang anak. Ia tidak menyangka pada akhirnya hubungannya dengan Mark akan membuatnya hamil.


"Kamu bisa secepatnya mengunjungi dokter kandungan untuk memastikannya. Karena kamu sedang hamil, tolong lebih jaga pola hidup sehat. Saya akan meresepkan tablet penambah darah dan suplemen kehamilan. Kamu harus rutin meminumnya." dokter mengambilkan obat-obatan untuk Jessy dan menuliskan aturan minum agar mudah diingat.


Klek!


Pintu ruangan terbuka. Jessy buru-buru memasukkan obat yang dokter berikan ke dalam tas. Tiana kembali membawa bungkusan makanan dari kantin.


"Kamu sudah kembali, Tiana?" tanya dokter.


"Iya, Dok. Aku beli nasi padang untuk Jessy. Kayaknya dia harus makan supaya tidak lemas," kata Tiana.


"Hahaha ... Senang sekali Jessy bisa memiliki teman sebaik kamu. Jessy, nikmati makananmu dengan enak, ya! Saya mau keluar sebentar," pamit dokter.


Tiana membantu membukakan bungkusan makanan yang dibawanya. Ia juga menyiapkan minuman untuk Jessy.


"Tadi dokter bilang apa?" tanya Tiana.


"Katanya aku darah rendah."


"Oh ...." Tiana mangguk-mangguk. "Ayo makan dulu! Pokoknya lain kali jangan sampai lupa sarapan."


Flash back off

__ADS_1


__ADS_2