Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 58: De Javu


__ADS_3

Mark datang menghadiri acara perusahaan ditemani Todd dan tim supervisi. Tujuannya mau datang hanya satu, yaitu untuk melihat Jessy di sana.


Ada banyak orang di tempat pesta, namun mata Mark langsung bisa menemukan keberadaan Jessy di sana. Mata mereka bertemu. Mark memandanginya dengan terpaku. Namun, lagi-lagi Jessy menghindari tatapannya.


Mark merasa Jessy telah benar-benar membencinya. Wanita itu sudah tidak ingin mengenalnya lagi. Jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan, ia sangat bahagia bisa bertemu kembali dengan Jessy.


"Pak, tempat kita di sana," tegur Todd yang menyadari Mark tengah tertegun.


"Ah, iya." Mark melepaskan pandangannya dari Jessy dan mengikuti rombongannya dengan tim.


Tempat duduk mereka cukup jauh dari jangkauan Jessy. Mark harus menahan diri tidak melakukan pendekatan yang mungkin membuat Jessy tidak nyaman. Apalagi melihat respon Jessy kepadanya semakin memundurkan niatnya untuk menyapa.


Mark terus memandang ke arah Jessy. Ia cukup cemburu setiap kali wanita itu didekati lelaki lain. Ingin rasanya ia menjauhkan Jessy dari sana.


"Pak, apa perlu saya panggilkan Nona Jessy ke sini?" tanya Todd. Ia merasa atasannya itu tidak akan bisa fokus pada percakapan mereka. Sejak tadi Mark sama sekali tidak memberi perhatian.


"Tidak usah," tolak Mark.


***


"Apa kamu sudah lebih baik?" tanya Rendi.


"Hm, ya ... Lumayan!" kata Jessy. Setidaknya di luar ia bisa menghirup udara dengan leluasa. Kalau tetap di dalam, rasanya ia sesak dan sulit bernapas. Meski demikian, rasa kantuknya belum hilang. Kepalanya juga masih pusing.


"Aku antar pulang sekarang, ya?" Rendi kembali menawarkan bantuan.


"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri nanti," tolak Jessy.


"Kamu tidak akan kuat pulang sendiri, kamu mabuk, Jess."


"Iya, sedikit. Kalau sudah mendingan nanti aku pulang sendiri saja. Kamu juga pulanglah! Ini sudah jam berapa?" tanya Jessy.


"Jam satu lebih," jawab Rendi.


Jessy sudah sangat telat untuk pulang ke rumah. Ia tidak mau diantar karena tidak ingin teman kantornya tahu dimana ia tinggal. Selama ini belum pernah ada teman kantor yang main ke rumahnya.


"Kamu pulang saja dulu, Ren. Aku masih mau di sini," kata Jessy. Mungkin ia akan menunggu pagi tiba di sana untuk pulang. Lagipula masih banyak teman kantornya di dalam.


"Aku tidak tega meninggalkanmu. Aku akan menemanimu saja di sini," kata Rendi.

__ADS_1


Jessy tersenyum. "Kamu tidak perlu melakukan itu," katanya.


"Tidak apa-apa. Aku suka di sini."


Rendi memandangi wajah Jessy yang kelihatan memerah karena mabuk. Kecantikannya benar-benar semakin menambah rasa kagum di hatinya.


"Jess, aku menyukaimu." Kata-kata itu secara reflek terlontar saja dari bibir Rendi.


Jessy menoleh ke arah Rendi karena kaget mendengarnya. "Apa?" tanyanya.


"Aku menyukaimu, Jessy. Aku sudah lama menyukaimu," kata Rendi.


Akhirnya Jessy tahu rekan kerja yang memiliki rasa padanya ternyata adalah Rendi. "Ah, maaf, ya! Tapi aku sedang tidak tertarik untuk pacaran. Aku masih mau fokus kerja," jawabnya.


Rendi terlihat kecewa dengan jawaban Jessy. Namun, ia masih tetap di sana menemani Jessy.


Saat melihat Jessy memejamkan mata, ia seakan terpancing untuk menciumnya. Entah keberanian dari mana yang ia peroleh hingga berniat melakukannya.


Bugh!


Belum sempat memberikan ciuman, seseorang menariknya menjauh dari Jessy dan memukulnya dengan keras. Tampak seorang lelaki menatap tajam penuh kemarahan padanya. Dia adalah salah satu anggota tim supervisi, Mark.


"Baik, Pak."


Mark mengangkat tubuh Jessy yang tertidur di bangku tersebut lalu menggendongnya. Ia bawa Jessy ke tempat mobilnya berada.


"Kita kembali ke hotel!" Perinth Mark saat ia telah masuk ke dalam mobil.


Sepanjang perjalanan, ia terus memandangi wajah Jessy yang tertidur di sebelahnya. Sesekali ia tampak mengusap pipinya, memastikan bahwa ia benar-benar tengah bersama Jessy.


Jessy terlihat banyak perubahan dalam hal penampilan. Wanita itu tampak lebih dewasa dibandingkan lima tahun yang lalu. Jessy semakin terlihat cantik sebagai wanita dewasa.


Mark secara perlahan membaringkan tubuh Jessy di atas ranjang kamar hotelnya. Rasanya masih tidak bisa percaya Jessy ada di dekatnya.


Jessy terlihat gelisah dan tidak nyaman dalam tidurnya dan berusaha melepas pakaiannya sendiri. Melihat hal itu, Mark berinisiatif membantu menanggalkan pakaian Jessy dan menggantinya dengan kimono tidur yang disediakan hotel.


Mark tak henti-hentinya menghela napas saat menggantikan pakaian Jessy. Lelaki mana yang tidak tertarik melihat tubuh seindah itu. Apalagi dulu ia sudah pernah menyentuh setiap bagian tubuh yang Jessy miliki.


Tidur Jessy terlihat lebih nyaman setelah pakaiannya diganti. Ia bergegas masuk ke kamar mandi untuk menenangkan hasratnya di bawah guyuran air dingin. Ia bisa gila dan tidak tahan jika sekamar dengan Jessy. Apalagi saat ini ia juga tengah sedikit mabuk.

__ADS_1


Usai mandi, Jessy tampak masih terlelap di ranjangnya. Ia meraih ponsel miliknya berniat menghubungi Todd.


"Daddy?"


Belum sempat teleponnya diangkat Todd, ia lihat Jessy sudah terbangun dan duduk di atas ranjang. Bahkan memanggilnya dengan sebutan yang sangat ia rindukan. Mark membatalkan panggilannya dan berjalan mendekati Jessy.


"Kamu sudah bangun?" Tanya Mark seraya mengelus pipi Jessy.


Jessy mengembangkan senyuman. Dengan manja wanita itu memeluknya. Sikap Jessy membuat Mark bingung, wanita itu menunjukkan tingkah seperti tidak pernah ada masalah di antara mereka berdua. Ia kira Jessy akan sangat membencinya.


"Kenapa lama sekali pulangnya? Aku kesepian," rengek Jessy.


Mark hanya bisa tertegun menerima tingkah anehnya.


"Hm, tubuh Daddy sangat wangi. Pasti Daddy baru selesai mandi, ya? Aku suka aromanya."


Ucapan Jessy bagaikan sebuah godaan bagi Mark. Ia yang berusaha menahan hasratnya justru seakan dipancing untuk mengeluarkannya.


Mark kembali membaringkan Jessy. Ia mengungkung tubuh wanita itu di bawahnya. Wajah Jessy terlihat merona, memandanginya dengan senyuman yang manis, sama persis dengan lima tahun lalu.


"Tidurku kurang nyaman," ucap Jessy.


Rasanya Mark sudah tidak peduli saat ini Jessy sedang mabuk atau mengigau. Ia sangat merindukan wanita itu. "Apa kamu menungguku?" tanyanya.


"Kenapa masih bertanya. Tentu saja ... Bisakah Daddy tetap berada di sini?"


Dengan berani Jessy melingkarkan kedua tangannya di leher Mark. Ia memberikan ciuman kepada lelaki itu secara singkat lalu tersenyum.


Mark yang merasa ciumannya kurang gantian memberikan ciumannya kepada Jessy. Ciuman yang panas dan menggebu sebagai realisasi atas rasa rindu yang selama ini dipendamnya. Keduanya saling bertatapan mesra.


"Daddy, aku merindukanmu," ucap Jessy.


Mark melebarkan mata. Perasaannya begitu bahagia mendengar kata-kata itu terucap dari mulut Jessy. "Aku juga merindukanmu, Baby," jawabnya.


"Aku kesepian ...."


Setiap ucapan Jessy membuat Mark meleleh. Ia semakin tak bisa menahan dirinya. "Baby, mulai sekarang, aku tidak akan membiarkanmu kesepian. Aku akan selalu ada di sisimu," ucap Mark.


Lelaki itu kembali mencium bibir Jessy. Tangannya dengan lincah melepaskan tali bathrobe yang wanita itu kenakan. Ia merasa menjadi lebih leluasa menyentuh tubuh yang selama ini sangat dirindukannya.

__ADS_1


Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang gila baginya. Lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk meluapkan kerinduannya. Aroma tubuhnya, suaranya, ekspresinya, semua tentang Jessy ia merindukannya.


__ADS_2