Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 62: Fakta


__ADS_3

Mark menghisap rokoknya sembari bersandar pada dinding seperti orang yang putus asa. Entah sudah berapa batang rokok yang ia hisap. Botol-botol minuman juga berserakan di sekitarnya. Mark seakan menjadi seorang remaja yang baru putus cinta gara-gara memergoki Jessy bersama anak kecil dan seorang lelaki.


"Oh, Ya Tuhan ... Apa yang terjadi?" Todd sangat kaget begitu masuk ke dalam kamar Mark. Sangat berantakan.


"Kenapa lagi, Todd? Apa kamu masih mau menyuruhku bekerja?" tanya Mark sembari menghisap rokoknya.


Todd jadi teringat kembali. Hal yang sama pernah terjadi saat Mark baru kembali ke Inggris. Lelaki itu juga mabuk-mabukan sendiri. Ia yakin hal ini pasti ada hubungannya dengan Jessy. Padahal baru kemarin bosnya agak lebih waras.


"Anda bisa mati kalau begini terus," kata Todd.


"Hahaha ... Biarkan saja aku mati itu mungkin akan lebih baik!" Jawaban Mark sangat mencerminkan orang yang putus asa.


"Apa yang bisa saya bantu agar Anda menjadi lebih baik?" tanya Todd.


Mark terdiam.


"Apa perlu saya menghubungi Nona Jessy agar datang ke sini?" tanya Todd lagi.


"Percuma. Jessy tidak akan mau. Dia sudah punya suami dan anak," kata Mark dengan nada lemas.


"Mungkin Anda salah. Nona Jessy menuliskan di dalam datanya dengan status belum menikah apalagi memiliki anak." Todd sangat heran dengan ucapan bosnya.


"Dia pasti berbohong. Aku melihatnya sendiri dia keluar dari rumah menggendong seorang anak. Dia bergandengan dengan seorang lelaki."


Todd menghela napas. Bertahun-tahun mendampingi orang itu, baru urusan cinta yang membuatnya ikut kewalahan. "Anda bisa menanyakannya sendiri besok. Kalau memang Nona Jessy sudah menikah dan punya anak, berarti Anda harus mulai membuka hati untuk wanita lain."


Mark terkekeh. Seumur hidup, ia hanya pernah mengizinkan Jessy yang memasuki hatinya. Tidak ada tempat untuk wanita selain Jessy.


"Pergilah, Todd! Aku ingin sendirian," pinta Mark.


"Saya tidak akan meninggalkan Anda dalam kondisi seperti ini."


***


Jessy memasuki lobi perusahaan dengan perasaan bahagia. Ia menyapa beberapa karyawan yang dikenalnya dengan ramah. Rasanya ia sudah menjadi seorang ibu yang paling bahagia di dunia.


Pagi tadi Zylan membangunkannya. Anak kecil itu memberikan kejutan untuknya. Sebuah gambar yang Zylan buat sendiri. Zylan mengungkapkan bahwa dia sangat mencintai ibunya. Hal sesederhana itu saja mampu menumbuhkan semangat yang besar dalam diri Jessy.


"Pagi, Jess," sapa Intan.


"Pagi ...."


Jessy meletakkan tas di atas meja kerjanya. Ia langsung membuka monitor miliknya dan memulai bekerja.


Ia melihat Rendi baru masuk ke ruangan. Padahal mata mereka bertemu, namun Rendi langsung berlalu tanpa menyapanya.


Sejak acara gathering waktu itu, Rendi sepertinya tidak sudah tidak mau menyapanya lagi. Padahal, sebelumnya hubungan mereka bisa dikatakan sangat akrab.


"Jess, bisa tolong kamu buatkan laporan ini?" tanya Ratu.


Jessy menerima berkas yang Ratu berikan dan membacanya sekilas. "Oh, oke!"

__ADS_1


"Tapi sekarang, soalnya mau langsung aku serahkan ke manajer," pinta Ratu.


"Iya, beres. Langsung aku kerjakan. Kalau sudah selesai aku kirimkan padamu," jawab Jessy.


"Sip!"


Ratu beralih ke tempat lain. Ia membagikan pekerjaan-pekerjaan kepada seluruh anggota tim secara adil dan mempertimbangkan kemampuan masing-masing. Ia berusaha di dalam timnya tidak ada kesenjangan dalam hal pekerjaan.


"Jess, kamu dipanggil ke ruangan Pak Mark," kata Bayu.


Jessy menghela napas panjang. Bosan rasanya bolak-balik ke ruangan lelaki itu. Ia heran sendiri kenapa Mark masih tetap berada di sana, sementara anggota tim yang lain susah kembali.


"Kenapa lagi, Jess? Kamu disuruh membuat desain, ya?" tanya Intan.


Jessy memang terkenal kemampuannya dalam hal desain. Tidak mengherankan jika dia bolak-balik dipanggil untuk dimintai pendapat. Hanya saja, sebenarnya ia tak pernah melakukan apa-apa ataupun membahas pekerjaan saat berada di ruangan Mark. Lelaki itu sering kali memintanya membahas urusan pribadi.


"Aku juga tidak tahu. Apa kamu mau menggantikanku?" tanya Jessy.


"Oh, tentu saja tidak. Aku sudah nyaman berada di meja kerjaku!" tolak Intan.


Jessy bergegas bangkit dari tempatnya menuju ruangan Mark. Kalau ia terlambat, lelaki itu tidak akan segan mendatangi tempat kerjanya. Hal itu akan lebih membuatnya malu.


Tok tok tok


"Masuk!"


Jessy membuka pintu ruangan setelah diizinkan. Tampak Mark tengah duduk bersandar pada kursi kebesarannya dengan keangkuhannya.


Mark menyeringai. "Memang begitulah tidak enaknya menjadi bawahan. Kalau mau yang enak, cobalah berada di posisiku."


Mark seakan tengah ingin menunjukkan kekuasaannya dengan cara merendahkan jabatan Jessy.


"Dua tahun saya bekerja di sini masih nyaman-nyaman saja sebelum Anda datang. Tolong berhenti mengganggu saya seperti ini. Bukankah Anda juga seharusnya sudah kembali seperti anggota tim supervisi yang lain?"


Mark bersikap santai mendengarkan keluhan Jessy. "Aku masih di sini karena ingin memastikan tidak ada rekayasa yang terjadi di perusahaan ini."


"Bukankah sudah sangat jelas hasil audit dan supervisi kemarin? Anda sendiri kan yang menyimpan hasil penilaiannya?"


"Benar. Perusahaan ini memang sehat. Aku hampir percaya begitu saja. Padahal ada kebohongan besar yang seseorang coba tutupi di sini." Mark melirik ke arah Jessy. Lelaki itu seakan tengah menuduhnya telah melakukan sesuatu yang salah.


"Kalau memang ada kesalahan, Anda bisa mengumpulkan semua karyawan dan membahasnya bersama. Kenapa menyampaikan hal ini kepada saya?" protes Jessy.


"Masalahnya hanya kamu yang bermasalah," kata Mark.


Jessy sampai ternganga tidak percaya. "Apa? Saya bermasalah?"


"Iya, benar! Silakan introspeksi dirimu, apa kesalahan yang telah kamu lakukan di perusahaan ini," cecar Mark. Ia ingin mengetahui bagaimana caranya wanita itu akan berkelit.


Jessy memikirkan apa kira-kira kesalahannya. Namun, ia merasa telah bekerja dengan baik selama bekerja di sana.


"Maaf, Pak. Sepertinya saya tidak membuat kesalahan apapun. Saya juga tidak pernah membuat masalah yang berimbas pada nama baik perusahaan."

__ADS_1


Mark kembali menyeringai mendengar jawaban Jessy. Ia menyerahkan sebuah amplop coklat kepada Jessy. "Bukalah!" pintanya.


Jessy menerima amplop tersebut. Dengan penuh rasa penasaran, ia mulai membukanya. Ada sebuah surat di dalamnya. Jessy membacanya, ternyata itu adalah surat pemecatan dirinya.


"Pak, ini maksudnya apa?" tanya Jessy bingung. "Jangan hanya karena masalah pribadi, Anda bisa semena-mena terhadap saya."


Bruk!


Mark melemparkan kasar berkas-berkas lamaran kerja Jessy saat baru masuk ke perusahaan. Jessy semakin tidak paham dengan kemauan lelaki itu. Ia merasa arogansi yang Mark perlihatkan hanya karena penolakannya.


"Kamu bilang kamu belum menikah, kan? Statusmu di data karyawan HRD masih single!" Mark mengatakan hal itu dengan nada kesal.


"Saya memang belum menikah, Pak. Apa yang salah dengan itu?" tanya Jessy heran.


Mark kembali mengeluarkan selembar foto dan menyerahkannya pada Jessy. Tampak potret Jessy bersama Zylan.


Kali ini Jessy tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia tidak menyangka jika Mark akan mengetahuinya lebih cepat.


"Silakan kamu kemasi barang-barangmu dan pergi dari perusahaan ini!" perintah Mark.


Jessy tetap di tempatnya.


"Kenapa kamu tidak mau pergi? Jelas-jelas kamu sudah membohongi perusahaan, kan?"


Jessy tertunduk. "Saya tidak merasa membohongi perusahaan. Saya memang belum menikah," lirihnya.


Mark tidak percaya Jessy masih berusaha menyangkal. "Kamu mau menyangkal tentang anakmu sendiri? Benar-benar ibu yang kejam."


"Saya tidak menyangkal kalau dia putra saya. Tapi, saya menyangkal tentang pernikahan. Saya belum menikah!" Jessy tetap pada kata-katanya.


"Hahaha ... Bagaimana bisa kamu tidak menikah tapi sudah punya anak?" Mark merasa Jessy sedang membuat lelucon.


"Itu bisa saja terjadi," jawab Jessy.


"Itu tidak mungkin!" ucap Mark.


"Itu mungkin!" seru Jessy. "Ini juga salah Anda waktu itu mengajak saya bercinta untuk terakhir kali dan ternyata saya hamil!"


Jessy menutup mulutnya sendiri. Ia sudah kelepasan bicara mengatakan hal yang seharusnya tidak ia katakan.


Mark ikut tertegun mendengarnya. "Apa katamu?" tanya Mark memastikan.


"Permisi, Pak. Saya harus kembali ke tempat kerja!" Jessy buru-buru kabur dari sana.


Mark lebih gesit menahan pintu yang hendak Jessy buka. Ia bahkan menguncinya agar Jessy tak bisa keluar dari ruangannya.


Jessy tak bisa lari diapit lengan kokoh Mark. Tatapan lelaki itu begitu tajam terhadapnya.


"Jessy, katakan dengan jelas semuanya!" pinta Mark.


"Saya ... Mengandung putra Anda ketika pergi ke kota ini," ucap Jessy dengan nada lirih.

__ADS_1


__ADS_2