
Sekelompok lelaki berpakaian rapi mendatangi rumah lama Jessy. Mereka diperintahkan oleh Tuan Wilson untuk membawa Jessy, wanita yang menjadi penyebab Justin menolak perjodohan.
Tok tok tok
"Cari siapa?" Rindi terkejut melihat tamu yang baru saja datang ke rumahnya.
"Permisi, apa ini rumah Jessica Alba?" tanya salah seorang dari mereka.
"Iya, tapi Jessy ...."
Belum sempat Rindi menyelesaikan kata-katanya, mereka memaksa masuk ke dalam dan mendorong Rindi. Orang-orang tersebut langsung berpencar mencari orang yang dimaksud.
"Hei! Apa-apaan kalian?" teriak Rindi. "Jangan masuk rumah orang sembarangan, ya!"
Mereka tidak menggubris permintaan Rindi. Setiap sudut rumah ditelusuri demi menangkap Jessy.
"Ada apa ini?" tanya ayah Rindi yang kebingungan tiba-tiba diseret keluar dari dalam kamarnya.
"Aduh! Lepaskan aku!"
Nasib yang sama dialami oleh Yanti. Ia ditarik paksa saat sedang memasak di dapur. Ketiga penghuni rumah dikumpulkan di ruang tengah.
"Apa kalian menemukannya?" tanya salah seorang dari mereka.
"Tidak ada, Bos. Selain mereka bertiga, aku rasa tidak ada orang lain lagi," jawab anak buah orang tersebut.
"Sepertinya dia tidak di sini, Bos. Mustahil dia kabur lewat atas," sahut anak buah yang lain.
"Sebenarnya siapa yang kalian cari? Kenapa masuk rumah orang tanpa permisi?" tanya ayah Rindi.
"Kami sedang mencari Jessy. Dimana kalian menyembunyikannya?"
"Apa? Jessy? Anak itu membuat ulah apa lagi?" Ibu Yanti naik pitam mendengar nama Jessy menjadi penyebab huru-hara di rumahnya saat ini.
"Kami tidak bisa menjelaskannya. Kami hanya diperintahkan untuk membawa Nona Jessy."
"Dia tidak ada di sini. Percuma kalian mencarinya. Dia sudah lama tidak pulang dan memilih tinggal di kos-kosan," sahut Rindi.
Tatapan mata pemimpin mereka terarah pada Rindi. "Dimana tempat kosnya?"
Rindi menyebutkan secara rinci alamat kos yang Jessy tempati.
"Oke, akan kami cari ke sana. Kalau sampai informasi kalian palsu, kami akan kembali ke sini lagi!" ancam orang itu. Ia kemudian menyuruh anak buahnya untuk pergi meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
"Oh, Ya Tuhan! Ya Tuhan!" Yanti menghela napas lega setelah rombongan orang yang menakutkan itu keluar dari rumah. Kakinya kampir tak kuat dipakai berdiri saking takutnya.
"Bikin ulah apa dia sampai dicari orang begitu!" kesal Rindi.
Ayah Rindi mengambil ponsel dari dalam sakunya. Ia berusaha menghubungi Jessy, namun nomornya tidak aktif. Ia sangat khawatir dengan nazib keponakannya.
"Rin, dia ada masalah apa sebenarnya di kampus?" tanya sang ayah.
"Aku tidak tahu, Yah!" jawab Rindi dengan nada kesal.
"Bagaimana kamu tidak tahu, dia kan sepupumu. Dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain kita!"
"Aku tidak suka dia, Yah! Pergaulannya tidak baik. Temannya itu jadi wanita simpanan pengusaha. Bahkan sampai dikeluarkan karena ketahuan pihak kampus. Mungkin Jessy juga seperti itu makanya diburu orang!"
"Kamu jangan bicara sembarangan! Jessy tidak mungkin melakukan hal semacam itu!" ayah Rindi terlihat marah.
"Tidak ada yang tahu kelakuan Jessy di luaran sana. Dia punya uang banyak juga sudah mencurigakan. Apalagi Ayah bilang Jessy tidak punya keluarga lagi. Jangan-jangan ucapannya waktu itu yang bilang dapat warisan itu bohong," tebak Rindi.
"Untung anak itu sudah pergi dari sini. Bahaya sekali kita merawat anak bermasalah seperti itu," sahut Yanti.
"Bu, kamu jangan seperti itu."
"Ayah jangan asal membela orang. Walaupun keponakan, kalau salah ya tetap salah!"
"Permisi, apa ada anak kost yang bernama Jessica Alba di sini?" tanya seorang berpakaian hitam pada penghuni kos yang tengah duduk-duduk di teras depan.
Mereka sejenak tercengang melihat sebuah mobil berhenti di depan kos, beberapa orang keluar dari sana. Penampilan mereka sudah seperti mafia.
"Kalian siapa dan mau apa?" tanya Ita, salah satu penghuni kos di sana.
"Kami ada perlu dengan Nona Jessy," jawab orang misterius itu.
"Em, Jessy ada di lantai atas kamar nomor 14," jawab Gaby, penghuni kost yang tengah duduk bersama Ita.
Orang tersebut mengajak dua anak buahnya untuk ikut bersamanya naik ke lantai atas.
"Kenapa dengan Jessy?" tanya Ita sembari berbisik-bisik.
"Aku juga tidak tahu. Apa dia sudah melakukan perbuatan kriminal?" tebak Gaby.
"Kayaknya tidak mungkin kalau Jessy berbuat seperti itu. Dia kan kelihatannya anak baik dan ramah," bantah Ita.
"Tapi, kalau dipikir-pikir, dia kan jarang pulang ke kost. Mungkin saja dia ada masalah," ucap Gaby.
__ADS_1
"Iya juga, sih! Bisa jadi dia pecandu atau pengedar. Kita juga tidak tahu. Tapi, mudah-mudahan tidak berimbas pada tempat kost ini," kata Ita.
"Aku juga berharap begitu. Jangan sampai tempat kost ini ditutup garis polisi dan kita di suruh pindah."
Ketiga orang asing berjalan melewati kamar-kamar kost. Beberapa orang yang tengah bersantai di depan kamar penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka menaiki tangga menuju lantai kedua.
Tok tok tok
Klek!
Jessy membuka pintu kamarnya. "Ada perlu apa?" tanyanya kepada tiga orang asing itu.
"Apa Anda yang bernama Jessica Alba?" tanya salah satu dari mereka.
"Iya, benar. Ada apa, ya?" tanya Jessy penasaran.
"Kami mendapat perintah dari Tuan Wilson untuk membawa Anda."
Jessy mengerutkan dahi. "Tuan Wilson?"
"Kakek dari Tuan Muda Justin!" tegas orang tersebut.
Jessy langsung terdiam. Ia tidak menyangka akan dicari oleh kakeknya Justin.
"Mari, ikut kami sekarang!" pinta orang tersebut.
"Tapi, aku merasa tidak ada urusan apapun dengan Beliau," tolak Jessy.
"Kami disuruh membawa Anda secara sukarela maupun terpaksa, Nona. Jadi bagaimana, mau ikut kami secara baik-baik atau secara paksa?" tanya orang tersebut.
Jessy merasa tak ada pilihan lain. Ia terpaksa menurut dan ikut bersama mereka.
Saat Jessy turun, teman-teman kost memperhatikannya. Mereka sudah lasti bertanya-tanya tentang apa yang terjadi terhadap Jessy. Apalagi Jessy dibawa oleh orang asing yang berpenampilan seperti mafia.
Tak ada satupun yang berani bertanya. Mereka hanya menyaksikan Jessy yang masuk ke dalam mobil mereka.
"Boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Jessy ketika telah berada di dalam mobil.
"Silakan, Nona."
"Apa ... Justin juga berada di rumahnya?" tanyanya.
"Tuan Muda sudah dua hari tidak pulang ke rumah, Nona," jawab orang tersebut.
__ADS_1
Jessy tak berani menanyakan apa-apa lagi. Justin memang telah meninggalkan rumah demi dirinya.