
"Pokoknya, malam ini kita harus bersenang-senang," kata Lita.
"Yup! Ellena, nikmati malam ini dengan bahagia," sahut Ester.
Keduanya sengaja mengajak Ellena ke klab malam agar wanita itu tidak lagi bersedih karena batalnya rencana pernikahan dengan Justin.
Ini pertama kalinya Ellena memasuki klab malam. Meskipun pernah kuliah di luar negeri, ia termasuk anak rumahan yang tidak suka keluar malam.
Lita dan Ester merupakan teman SMA-nya. Mereka sangat girang ketika Ellene memutuskan kembali ke tanah air dan melanjutkan kuliahnya di sini.
Ellena tidak memiliki pengalaman dekat dengan lawan jenis. Saat kedua orang tuanya memperkenalkan Justin sebagai calon suaminya, itu pertama kali ia merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Justin lelaki yang tampan, siapapun pasti akan terpesona dengannya, termasuk Ellena.
Pengalaman jatuh cinta itu langsung terlukai oleh kenyataan bahwa Justin ternyata telah memiliki wanita yang dicintainya. Ellena sempat sakit karena sedih. Setelah kondisinya membaik, kedua teman baiknya mengajak datang ke salah satu tempat hiburan malam ternama di kota itu.
"Di sini banyak lelaki tampan yang bisa kamu dapatkan. Mereka juga kaya raya, tidak kalah dengan Justin," kata Lita.
"Lalu, kenapa kamu belum punya seorangpun pacar?" sindir Ellena.
"Hahaha ...." Ester tertawa terbahak-bahak Lita mati kutu disindir Ellena.
"Bukannya aku tidak mau punya pacar. Aku belum siap saja untuk menikah," kilah Lita.
"Aku juga sepertinya belum siap menikah. Atau kalau bisa aku tidak mau menikah selamanya," ucap Ellena dengan rajt wajah pasrahnya.
"Jangan bilang begitu, El. Tidak semua lelaki seperti Justin. Masih banyak lelaki yang baik dan layak untukmu," hibur Ester.
Ellena terdiam. Meskipun belum terlalu mengenal Justin, lelaki yang membuatnya pertama kali jatuh cinta itu sangat sulit untuk dilupakan. Ia masih berharap bisa menikah dengan Justin meskipun orang tuanya jelas-jelas sudah mem-blacklist lelaki itu dari daftar menantu.
Ellena diajak duduk pada salah satu meja yang tersedia. Lita memesankan makanan dan minuman.
"Aku tidak mau minum alkohol," kata Ellena.
"Tenang saja, aku sudah tahu kamu tidak terbiasa minum, Ellena sayang." Lita mengerlingkan sebelah matanya.
"Ngomong-ngomong, kalau berita yang sekarang beredar itu kira-kira benar atau tidak, ya?" tanya Ester.
"Memangnya ada berita apa?" Lita menyahut ingin tahu.
"Seharusnya Ellena yang lebih tahu. Dia kan berkuliah di kampus yang sama dengan Justin. Tapi, teman kita ini kan baru keluar dari gua setelah hinernasi," ledek Ester.
Ellena jadi penasaran apa berita yang tidak ia ketahui. "Apa sih?" tanyanya.
"Aku dengar rumor dari anak yang satu kampus dengan Justin juga, ya. Tapi nggak tahu kalau beritanya benar atau tidak," kata Ester.
__ADS_1
"Cepat bilang, deh! Kamu malah membuat kami semakin penasaran," protes Lita.
"Aku dengar wanita yang Justin sukai, siapa namanya?"
"Jessy?"
"Ya, Jessy ... Wanita itu kabarnya jadi simpanan ayah Justin, Pak Mark Jonathan."
Lita dan Ellena tercengang mendengar ucapan Ester.
"Jangan ngarang kamu!" Lita merasa tidak percaya.
"Sebentar, sepertinya aku masih punya fotonya."
Ester mengeluarkan ponselnya dan membuka koleksi foto di ponselnya. Ia menunjukkan foto yang diyakini adalah Jessy tengah berciuman dengan Mark.
"Wah, wanita ini memang benar-benar gila!" Lita ternganga saking tidak percayanya.
Ellena terkejut. Ia kira Jessy memang benar-benar memiliki hubungan yang dekat dengan Justin saja. Ternyata wanita itu bahkan mendekati ayah sambung Justin juga.
"Sudah, Ellena. Kamu tidak perlu sedih lagi. Aku rasa Justin langsung kena karma karena mencampakanmu. Dia susah payah membela wanita murahan yang ternyata simpanan ayahnya sendiri." Ester menepuk pundak Ellena.
"Bagaimana itu dengan Ibu Magda? Apa dia akan membiarkan saja hal seperti itu terjadi? Parah sekali wanita bernama Jessy itu," kata Lita.
"Maklum, suami Ibu Magda masih terlihat sangat muda. Wajar banyak godaan yang datang." Lita juga terpesona dengan ketampanan ayah Justin.
"Aku hanya tidak habis pikir kok Jessy tega menduakan pacar dengan ayah pacarnya," gumam Ester.
Mendengar kedua temannya menyalahkan Justin, Ellena justru memiliki pemikiran yang berbeda. Ia kasihan dengan Justin. Ia kira hanya dirinya yang terluka karena pembatalan perjodohan, ternyata Justin mengalami sesuatu yang lebih menyakitkan dari pada dirinya.
Pesanan yang mereka inginkan akhirnya datang. Ketiganya kembali membahas hal-hal random yang melahirkan tawa tiang di antara mereka.
Ellena berusaha membaur dengan obrolan kedua temannya meskipun banyak hal yang tidak ia ketahui. Ia menghargai usaha temannya untuk menghibur dirinya.
"Enyah kamu dari sini!"
Suara ribut-ribut dari sudut lain di tempat itu terdengar sampai tempat Ellena dan teman-temannya.
Beberapa pengunjung wanita tampak menjerit sementara pengunjung lain yang penasaran langsung berkerumun di tempat keributan itu.
"Ada apa, ya?" tanya Ester sembari mengunyah kentang gorengnya.
"Paling juga orang bertengkar. Di sini kan tempatnya cowok cari musuh apalagi yang hobi tonjok-tonjokkan," kata Lita dengan santainya.
__ADS_1
Keributan yang terjadi kelihatannya semakin memanas. Terdengar suara barang-barang yang jatuh dan pecah. Ada pula suara makian yang bercampur dengan dentuman musik.
Ellena melihat Dion dan Benny berlari menghampiri tempat keributan. Ia mengenal mereka sebagai teman Justin. "Apa dia juga ada di sini?" gumamnya.
"Jangan menyesal dengan keputusanmu, Justin. Aku anggap kamu sudah menyerah pada Jessy," kata Mark.
"Ambil saja wanita murahan itu! Aku sudah tidak peduli lagi padanya!" ucap Justin. Ia kembali berusaha menghajar Mark, namun dicegah oleh Dion dan Benny.
Ellena seperti mendengar suara Justin dari arah sana. Ia sampai bangkit dari tempat duduknya.
"Kenapa, El?" tanya Ester melihat Ellena tiba-tiba berdiri.
"Aku ... Sepertinya aku mau lihat ke sana!" kata Ellena.
Ia berjalan menghampiri sumber keributan. Lita dan Ester yang khawatir turut membuntuti.
Betapa terkejutnya Ellena saat mengetahui bahwa lelaki yang menjadi pusat perhatian di sana benar-benar Justin. Ia kira lelaki itu telah bersama dengan Jessy.
Lebih mengejutkan lagi, Justin dengan berani menghajar ayahnya sendiri sampai babak belur. Suara makian dan kemarahan terus keluar dari mulut Justin.
"Itu Justin dan ayahnya, kan? Apa mereka bertengkar gara-gara wanita itu?" bisik Lita.
"Sudah, diamlah! Ini petugas keamanan dimana? Masa tidak ada yang melerai," ucap Ester.
Beberapa saat kemudian keributan bisa ditangani. Mark mengalah pergi bersama asistennya. Sementara, Justin yang masih emosi berusaha mengejar Mark. Lelaki itu tampaknya belum puas melampiaskan kekesalannya.
"Sudah, Justin, ini tempat umum, malu dilihat orang," ucap Dion.
"Ayahmu juga sudah pergi, kamu tenangkan dirimu lagi," imbuh Benny menenangkan Justin.
Dion memberikan segelas minuman agar Justin lebih tenang. Kerumunan berangsur-angsur bubar karena ditertibkan oleh petugas di sana.
"El, kita balik ke tempat duduk, yuk!" ajak Ester.
"Iya. Kita kembali saja ke tempat duduk kita," kata Lita.
"Em, maaf, ya. Sepertinya aku mau bicara dengan Justin. Apa kalian bisa pergi tanpa aku?" tanya Ellena.
Ester dan Lita saling berpandangan. Sebenarnya mereka tidak ingin Ellena berhubungan lagi dengan Justin. Namun, karena itu keinginan Ellena sendiri, mereka tidak dapat melarangnya.
"Ya sudah, kamu hati-hati, El," ucap Lita.
"Terima kasih, ya," kata Ellena sembari mengembangkan senyumnya.
__ADS_1