
"Jess, kata Pak Manajer, desain produk baru yang kita buat kurang bagus. Bapak tua itu meminta kita mengubahnya sebelum rapat minggu depan," keluh Ratu.
Setelah tiga bulan berkutat menghasilkan produk baru berupa sabun mandi, pada akhirnya mereka harus mengganti desain kemasan yang menurut sang manajer kurang bagus. Padahal, desain kemasan sudah dibahas jauh-jauh hari dan telah disetujui. Tiba-tiba manejer meminta untuk diganti.
Ratu merupakan ketua tim di bagian desain produk. Ia menjadi lemas setiap kali harus mendengarkan permintaan sang atasan. Dari enam orang anggota di divisinya, hanya Jessy yang paling jago membuat desain dengan aplikasi.
Jessy yang tengah mengetik menghentikan sementara pekerjaannya. Ia sebenarnya masih pusing belum menyelesaikan laporannya tapi sudah datang pekerjaan yang baru.
"Bagaimana kalau kita membayar jasa desain produk saja? Bukankah itu lebih efisien? Pak Wandi juga bisa memberikan catatan khusus seperti apa desain yang Beliau mau," kata Jessy.
"Idemu sangat bagus, Jessy ... Masalahnya, kamu taulah seperti apa manajer tua kita ... Dia tidak mau mengeluarkan biaya tambahan karena merasa itu sudah bagian dari pekerjaan kita." Ratu rasanya ingin membenturkan kepalanya sendiri ke tembok.
Selama lima tahun bekerja di bawah pimpinan Pak Wandi, ia selalu kena mental. Jabatannya memang lumayan, tapi harus sabar kalau mendapatkan protes langsung dari manajer.
Jessy menghela napas. "Bagaimana, ya? Desain yang aku berikan sebelumnya sudah disetujui, kenapa sekarang minta dirubah lagi? Aku masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan." ia memperlihatkan monitornya yang berisi pekerjaannya.
"Katanya desain yang kita ajukan banyak kemiripan dengan produk baru dari perusahaan sebelah," sahut Rendi.
"Serius, Ren?" tanya Ratu penasaran.
Rendi mendekat ke arah Jessy dan Ratu. Ia mengutak-atik ponselnya lalu memperlihatkan gambar produk buatan perusahaan saingan yang ia maksudkan.
Ratu dan Jessy tercengang karena memang desain mereka sangat mirip dengan yang mereka usulkan 3 bulan yang lalu.
"Produk ini kapan mulai dipasarkan, Ren?" tanya Jessy. Ia benar-benar tidak menyangka desain yang susah payah dibuat bisa ditiru oleh perusahaan lain.
"Belum lama, sekitar semingguan," jawab Rendi.
"Kok bisa ya, ini sangat mirip dengan desain kita." Ratu masih bergumam tidak percaya. Ia menjadi saksi bahwa Jessy yang telah bersusah payah membuat desainnya dengan masukan dari anggota yang lain.
"Kalian tidak menuduhku sebagai penjiplak, kan? Aku benar-benar membuatnya sendiri waktu itu," kata Jessy.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud seperti itu, Jess. Aku tahu kalau kamu memang membuatnya sendiri," kata Rendi yang juga sempat melihat proses pembuatan desain oleh Jessy.
"Iya, Jess. Kami tahu kamu tidak melakukannya. Kamu juga membuatnya bersama kami tiga bulan lalu." Ratu turut menenangkan Jessy yang terlihat tertekan desainnya dipakai orang.
"Mungkin ini sebabnya Pak Wandi meminta kita mengganti desain produk baru. Dia tidak ingin kita dicap sebagai penjiplak walaupun sebenarnya kita tidak menjiplak," kata Rendi.
"Aku rasa Pak Wandi belum tahu tentang hal ini. Beliau kan orang yang tidak suka mengikuti perkembangan berita," kilah Ratu.
"Yah, apapun alasan Pak Wandi, anggap saja sebagai masukan yang positif. Kita memang sudah kalah start untuk menggunakan desain semacam ini. Dari pada kita yang disebut plagiat, lebih baik kita rubah saja dulu desainnya," usul Rendi.
"Pekerjaan kita masih sangat menumpuk, Ren, kamu masih sanggup mengikuti serentetan permintaan aneh Pak Wandi?" tanya Ratu.
"Hehehe ...." Rendi menggaruk kepalanya. "Kalau masalah membuat desain, aku serahkan kepada Nona Jessy saja. Soalnya aku tidak mampu," katanya.
Ratu memutar bola matanya malas.
"Tapi, aku siap membantu Jessy juga membuat laporan. Tenang ya, Jess!" Rendi menepuk pundak Jessy memberi semangat.
"Baiklah, akan aku pikirkan desain baru yang sekiranya manajer kehendaki," kata Jessy.
"Yeay! Ini baru rekan kerja favoritku!" Ratu tersenyum girang.
"Semangat, Jess. Aku akan mendukungmu dari belakang." Rendi mengacungkan jempolnya.
"Cih! Apa itu dukungan kok seperti itu," ledek Ratu.
"Aku juga mau traktir Jessy kopi kalau mau. Yang penting Jessy semangat. Oke?" Rendi kembali mengacungkan jarinya.
Jessy hanya tersenyum.
"Bagaimana kalau kita makan di kantin sekarang? Sudah masuk waktu istirahat," kata Ratu sembari mengamati jam tangannya.
__ADS_1
"Ayo!" sahut Rendi semangat.
"Aku tidak mengajakmu." Ratu mengeluarkan lirikan tajamnya.
"Makasih tawarannya, Ratu. Sayangnya aku mau ke mall sebentar membeli sesuatu. Mungkin lain kali saja kita makan bersama," kata Jessy.
"Oh, kamu mau belanja di mall? Perlu aku temani?" tanya Ratu.
"Tidak usah. Aku sekalian ada perlu bertemu seseorang di sana. Kalau aku agak telat kembali, bantu tutupi dari manajer, ya!" ucap Jessy.
"Wah, pasti mau bertemu pacar," seloroh Rendi.
"Ah, aku jadi penasaran siapa yang mau Jessy temui. Kok main rahasia-rahasiaan banget," kata Ratu.
"Hahaha ... Hanya teman lama kok," jawab Jessy.
Ia mengambil tas dan pamit pergi menuju ke mall. Sebenarnya ia tidak ingin bertemu dengan siapapun. Ia hanya ingin berbelanja sendiri membeli beberapa mainan untuk Zylan.
Seluruh rekan kerjanya tidak ada yang tahu kalau dia telah memiliki anak. Ia berencana akan menyembunyikan kehidupan pribadinya sampai kapanpun dari lingkungan kerjanya.
Ia ingin berterima kasih terhadap dokter yang pertama kali mengetahui kehamilannya. Berkat dokter itu, Jessy memiliki keberanian untuk tetap melahirkan Zylan meskipun tanpa seorang suami.
Di kota yang baru itu Jessy tak memiliki satupun kenalan. Ia berjuang sendiri untuk bertahan hidup juga membesarkan putranya. Ketika kandungannya semakin membesar dan tidak bisa disembunyikan lagi, Jessy mengundurkan diri dari perusahaan pertamanya di kota itu. Sebelum ia keluar dari perusahaan, Dokter Ita banyak memberikannya tips tentang kehamilan.
Jessy sempat berhenti kerja sampai usia Zylan menginjak dua tahun. Kesehariannya bisa disokong dengan sisa tabungannya. Ia juga berhasil menyelesaikan kuliahnya yang sempat tertunda.
Dengan titel sarjana yang dimiliki dan keahlian di bidang desain, Jessy akhirnya bisa kembali mendapatkan pekerjaan bahkan dengan posisi dan gaji yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Zylan ia titipkan di tempat penitipan anak setiap kali ia bekerja.
Terkadang, jika akhir pekan ia terpaksa tetap harus bekerja, ia titipkan Zylan pada tetangga samping rumah yang sangat baik hati dan sudah Jessy anggap sebagai ibunya sendiri.
Pasangan suami istri samping rumah kontrakan Jessy telah berusia 40 tahunan namun belum dikaruniai anak. Makanya mereka senang jika dititipi Zylan. Mereka tipe orang yang bisa dipercaya karena sama-sama perantau. Jessy tidak khawatir menitipkan Zylan kepada mereka.
__ADS_1