
"Shanon!"
Perhatian orang-orang kembali teralih pada seruan itu.
"Daddy ...." Shanon berlari menghampiri lelaki yang baru saja memanggilnya. Ia meminta digendong oleh lelaki itu.
Jessy kembali terkejut melihat keberadaan orang yang pernah dikenalnya. Kehadiran Justin di sana membangkitkan kembali memori masa lalunya yang penuh dengan kebahagiaan dan kesedihan.
Justin terlihat semakin dewasa dan penampilannya sangat menawan. Memang serasi jika lelaki itu bersanding dengan wanita secantik Ellena dan memiliki putri yang sangat cantik pula.
Jessy ingin bahagia dengan kebahagiaan yang Justin dapatkan. Namun, tak bisa dipungkiri bahwa sisi hatinya yang lain ia merasakan kesedihan. Ia pernah menunggu kehadiran Justin di sana. Ketika lelaki itu akhirnya datang malah membawa serta anak dan istrinya.
"Sayang, tadi Jessy yang menemukan anak kita," kata Ellena.
Justin melangkah maju dengan tatapan kosongnya. "Oh, begitu, ya? Terima kasih," ucapnya dengan nada canggung.
"Tidak perlu berterima kasih. Semua orang akan melakukan hal yang sama," kata Jessy.
Justin hanya berani menatap sekilas wajah Jessy. Wanita itu masih terlihat secantik dulu. Meskipun pernah dikhianati, rasa cintanya yang dulu kepada Jessy kembali menimbulkan debaran di hatinya.
"Em, aku mau pamit. Sebentar lagi jam istirahat kantor habis. Senang bertemu dengan kalian," kata Jessy yang langsung beranjak pergi dari sana.
Ellena menoleh ke arah Justin. Wajahnya berubah sendu melihat suaminya menatap begitu lekat sosok Jessy yang berjalan meninggalkan mereka. Setelah lima tahun berlalu, ia merasa suaminya masih memiliki perasaan yang sama terhadap Jessy.
***
Justin berdiri di balkon apartemennya sembari menghisap rokok dan memandangi suasana sore kota. Bayangan wajah Jessy saat ia bertemu dengannya tadi siang masih terbayang di pikirannya.
Ia kira Jessy telah hidup bahagia dengan pamannya di Inggris. Ternyata wanita itu masih berada di negara yang sama dengannya, di kota yang pernah mereka sepakati untuk hidup bersama.
__ADS_1
Justin semakin memperdalam hisapan rokoknya. Ucapan sang paman waktu itu kembali terngiang di kepalanya.
"Bukankah kalian sudah sepakat akan pergi bersama? Jessy telah berangkat duluan untuk menunggumu di sana. Dia pasti masih mengharapkan kehadiranmu."
Rasanya menyesakkan mengingat kejadian yang telah berlalu. Sisa-sisa cinta yang pernah ada untuk Jessy tentu saja masih tersimpan di hatinya. Terkadang muncul rasa sesal kenapa mereka tidak memiliki takdir untuk bersama.
Ia bertanya-tanya apakah keputusannya waktu itu adalah sesuatu yang salah, memilih melanjutkan perjodohan dari pada menyusul Jessy. Wanita itu benar-benar bertahan di kota ini selama lima tahun.
"Sayang ...," panggil Ellena. Ia membawa dua cngkir teh hangat. Salah satunya ia berikan kepada sang suami.
Justin mengembanhkan senyum. Ia segera mematikan rokok dan membuang puntungnya di atas asbak. "Terima kasih," ucapnya seraya meraih cangkir teh itu.
Ellena berdiri di samping sang suami menikmati secangkir teh bersama. Perasaannya masih resah sejak siang tadi. Ia juga memperhatikan sikap Justin yang lebih memilih menyendiri dan diam setelah mereka pulang.
"Aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu dengan wanita itu lagi," kata Ellena.
Justin terdiam. Ia merasa tidak nyaman mendengar Ellena membahas tentang Jessy. Ia juga merasa bersalah telah memikirkan wanita lain saat bersama keluarganya.
"Bisakah kamu tidak membahasnya?" pinta Justin seraya meneguk teh di dalam gelasnya.
Ellena tersenyum getir. "Aku juga tidak ingin membahasnya. Aku tidak ingin memikirkan pertemuan kalian siang tadi. Tapi, rasanya ada yang mengganjal di hati kalau aku tidak membahasnya denganmu. Aku khawatir perasaanmu akan berubah setelah bertemu dengannya lagi," katanya.
Justin menoleh ke arah Ellena. Ia tidak menyangka sang istri akan berkata seperti itu di depannya. Mata Ellena terlihat mulai berkaca-kaca dan tatapannya menjadi sendu.
Lima tahun yang lalu Justin memutuskan untuk menikah dengan Ellena. Ia sampai harus berlutut di hadapan keluarga Russel meminta maaf dan memohon agar perjodohan itu kembali dilanjutkan.
Tuan Russel sempat menolak keinginan Justin. Ia sudah benar-benar kecewa melihat Justin dengan berani membawa gadis lain di acara keluarga. Namun, karena Ellena yang berhati lembut membela Justin, sebagai seorang ayah, Tuan Russel tidak kuasa menolak keinginan putrinya. Pernikahan itu akhirnya terjadi.
Selama pernikahan, Justin berusaha menerima keberadaan Ellena di sampingnya. Jatuh cinta lagi kepada seorang wanita ternyata tak semenakutkan yang Justin kira.
__ADS_1
Ellena sosok wanita yang baik dan penuh cinta terhadapnya. Hari-hari yang ia lalui selama pernikahan terasa mengesankan bersama Ellena. Mereka menikmati hal-hal baru berdua dan menjadi semakin dekat. Kelahiran Shanon kian mempererat keintiman di antara mereka.
"Kenapa kamu mengkhawatirkan hal yang tidak penting seperti itu?" tanya Justin.
"Karena aku tahu dia pernah menjadi seseorang yang penting di hidupmu. Aku hanya khawatir kamu akan berpaling." Ellena menunduk. Ia berusaha menahan air matanya yang hampir keluar.
Justin mengambil gelas dari tangan Ellena. Ia meletakkan gelasnya dan gelas itu di meja. Tangan Ellena ia tarik dalam pelukannya.
"Maaf jika telah membuatmu khawatir. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu dan Shanon apapun yang terjadi. Tolong, percayalah padaku," pinta Justin.
Kepahitan yang pernah dirasakannya memberikan pengalaman yang berharga. Justin tidak ingin memiliki pernikahan buruk seperti ibunya dan pamannya. Sangat menyakitkan ketika diselingkuhi. Ia tidak akan melakukan hal yang sama.
Meskipun ia belum sepenuhnya melupakan Jessy, ia tak akan pernah kembali padanya. Jessy akan menjadi masa lalu dan penyesalannya. Saat ini, ada anak dan istri yang harus ia jaga perasaannya.
"Kalau tinggal di kota ini membuatmu tidak nyaman, bagaimana kalau kita kembali saja? Akan aku batalkan rencana pembukaan cabang perusahaan di sini," kata Justin sembari mengusap lembut pipi istrinya.
Ellena tersenyum. "Kamu tidak perlu melakukan hal sejauh itu," katanya.
"Aku hanya ingin membuatmu merasa nyaman bersamaku. Jangan pikirkan lagi tentang masa laluku. Kamu bisa, kan?" pinta Justin.
Ellena mengangguk.
"Mommy dan Daddy ada di sini? Kenapa Shanon ditinggal sendiri?" Shanon melongok dari balik pintu melihat kedua orang tuanya yang tengah berduaan di area balkon.
Justin dan Ellena menoleh. Keduanya hampir lupa dengan buah hati mereka.
"Oh, Honey, maafkan Mommy dan Daddy ... Ayo kita masuk lagi ke dalam," ajak Ellena. Ia segera meraih tubuh Shanon dan menggendongnya.
Shanon menyandarkan kepalanya pada bahu Ellena. Anak itu tersenyum memandangi ayahnya.
__ADS_1
Justin membalas senyuman yang Shanon berikan. Anak manis itu cukup meyakinkannya bahwa ia bisa mencintai Ellena. Shanon ada sebagai bentuk cinta dari Justin dan Ellena. Justin berjanji pada dirinya sendiri akan menjaga senyuman itu selamanya.