Tangan Nakal Daddy

Tangan Nakal Daddy
Bab 54: Motivasi Manajer


__ADS_3

"Oke, sepertinya desain untuk produk baru kita kali ini sangat sesuai dengan perusahaan. Aku rasa proses produksi bisa secepatnya dilaksanakan," kata Pak Wandi ketika memimpin rapat hari ini.


Seluruh jajaran divisi di bawah pimpinan Ratu merasa lega, terutama Jessy. Ia sampai begadang selama 3 hari hanya untuk membuat desain produk yang sesuai dengan keinginan Pak Wandi.


"Eits ... Kalian jangan senang dulu!" kalau Pak Wandi sudah mengupkan kata-kata ini, semua akan kembali tegang. Kelegaan yang mereka rasakan hanya bersifat sementara. Sudah pasti manajer tua itu akan memberikan kabar yang harus membuat mereka senantiasa kerja rodi.


"Kayaknya berita buruk, nih!" celetuk Rendi.


"Hei, masih muda jangan berpikiran negatif dulu. Nikmatilah proses kerja kalian ... Saya yang sudah 25 tahun bekerja saja masih semangat," kata Pak Wandi.


"Beri kami waktu untuk bernapas, Pak. Capek lembur terus," ujar Ratu.


"Mengeluh terus aku ganti kamu nanti, Ratu," seloroh Pak Wandi. Ratu langsung terdiam.


"Mulai minggu depan, kita harus bersiap menghadapi supervisi dari perusahaan induk. Segala bentuk laporan tolong kalian lengkapi. Kita harus tertib administrasi dan pembukuan agar tidak dituduh korupsi. Hati-hati, kalau terjadi suatu ketidakberesan, maka kita semua bisa kena imbasnya. Kalian masih butuh pekerjaan, kan? Makanya semangat, ya! Hahaha ...."


Pak Wandi berusaha memberi motivasi. Namun, mendengar berita reencana supervisi sudah membuat anak buahnya merasa lemas. Akhir tahun seharusnya dinikmati dengan liburan, tapu mereka malah harus siap lembur dan kerja rodi.


"Dari wajah-wajah miskin kalian sudah bisa ditebak kalau kalian malas saya menyampaikan hal ini. Untuk menjadi penyemangat, ingat-ingat saja dengan nominal lemburan yang bisa mungkin kalian gunakan untuk liburan. Jadi, ayo semangat! Bonus menanti kalian!" Pak Wandi terus berusaha memotivasi.


Kebanyakan karyawan yang sudah berpengalaman tahu kalau uang lemburan tidak cukup banyak. Bahkan kalau boleh memilih mereka tidak mau lembur walaupun gajinya lebih sedikit.


"Saya kira rapat kali ini cukup sampai di sini. Silakan kalian menikmati waktu istirahat. Jangan lupa makan agar kalian tetap kuat bekerja seperti saya." Pak Wandi mengerlingkan sebelah matanya sembari tersenyum. Gaya seperti itu malah makin membuat anak buahnya kesal.


"Dia enak kerjanya tinggal suruh-suruh kita," gerutu Intan setelah Pak Wandi keluar ruangan.


"Tua bangka itu kenapa awet hidup, ya? Sampai kapan kita akan kerja rodi begini," keluh Wuri.


"Namanya juga kacung, terima sajalah atasan mah perintah apa," ujar Rendi.


"Mending kalau rapat ada camilan sedikit atau kopi. Garing begini sampai lapar mendengar motivasi tak bermutu Pak Wandi," sahut Bayu.


"Kita ngopi sendiri saja, yuk! Mengeluh juga percuma, kecuali Ratu mau menyampaikan keluhan kita pada Pak Wandi," kata Rendi.

__ADS_1


"Yah, jadi aku kan yang kena? Aku malas bicara soalnya akhir-akhirnya pasti ditolak. Kalian jajan sendiri-sendiri sajalah!" ucap Ratu.


Usai perdebatan kecil di antara tim bagian desain produk, akhirnya mereka pergi ke tempat favorit masing-masing menghabiskan jam istirahat.


Jessy hendak pergi dengan Ratu dan Intan ke kafe seberang untuk makan siang. Ratu ingin mentraktir Jessy karena Pak Wandi akhirnya menyetujui desain kemasan yang baru.


"Aku kira kalau jurusan bisnis digital saat lulusan hanya akan jadi pemilik online shop begitu yang banyak di era digital seperti sekarang," kata Intan.


"Iya. Aku kira juga pekerjaannya seputar membuat aplikasi belanja online atau membangun start up begitu. Ternyata kamu jago juga kalau membuat desain," sambung Ratu.


"Bahkan Jessy bisa membuat animasi lucu untuk iklan. Keren banget!" puji Intan.


Jessy hanya tersenyum mendengar pendapat temannya. "Ya, memang arahnya ke sana. Ada banyak hal yanh dipelajari bukan hanya tentang bisnis digitalnya saja, tapi juga desain. Kalau untuk membangun start up itu butuh kematangan rencana dan tentunya modal yang besar. Aku mana sanggup berpikir sampai di sana. Bidang ilmu yang aku pelajari bisa bermanfaat juga sudah bersyukur sekali," kata Jessy.


"Kampusmu termasuk salah satu kampus terbaik di negeri ini, ya! Terbukti banyak lulusannya yang sukses," ucap Intan.


"Biayanya juga termasuk bagus, sih! Mahal ...," kata Ratu.


"Hahaha ... Benar. Kalau bukan dengan bantuan beasiswa, aku juga tidak akan bertahan di sana."


"Em, kayaknya aku melupakan sesuatu," kata Jessy mencari alasan.


"Apa? Dompet? Aku yang traktir, loh!" ucap Ratu heran karena Jessy tiba-tiba berhenti.


"Bukan itu! Aku ada sedikit urusan dengan orang. Jadi, kalian masuk duluan, ya! Aku nanti menyusul," katanya.


"Benar, Jess? Jangan lama-lama, ya!" pinta Ratu.


"Iya, aku tidak lama. Pesankan sekalian punyaku. Samakan dengan pesanan kalian," kata Jessy.


"Baiklah, kami masuk dulu."


Setelah kedua temannya masuk ke dalam kafe, Jessy berjalan mendekat ke arah Justin. Lelaki itu tampaknya sengaja berdiri di sana untuk menunggu.

__ADS_1


"Hai," sapa Jessy dengan seulas senyum.


"Hai." Justin juga melakukan hal yang sama.


Keduanya tampak begitu canggung setelah 5 tahun berpisah.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Justin.


Jessy mengangguk.


Justin mempersilakan Jessy masuk ke dalam mobilnya. Ia menyalakan mesin mobil untuk menghidupkan pendingin mobil. Suasana di dalam sana kembali canggung. Selama beberapa saat keduanya saling diam hanya melihat lalu lalang kendaran dan orang-orang di jalanan.


"Kamu ... Apa kabar?" tanya Jessy.


"Kabarku baik," jawab Justin.


Jessy sudah tau jika Justin pasti akan baik-baik saja. Lelaki itu sudah hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.


"Kamu sendiri bagaimana?" tanya Justin.


"Kabarku juga baik," jawab Jessy.


Tentu saja ia harus menjawabnya seperti itu untuk menyembunyikan kenyataan bahwa ia sering memikirkan Justin sampai menangis selama lima tahun ini. Andai ia orang jahat, mungkin ia sudah mengungkapkan betapa rindunya ia kepada lelaki itu tanpa mempedulikan status Justin sekarang.


"Kamu ... Ada urusan apa di kota ini?" tanya Jessy.


"Urusan bisnis. Rencananya aku akan membangun cabang perusahaan di sini."


Justin yang sekarang sudah jauh berbeda dari sebelumnya. Seorang Justin yang hanya mengenal main-main dan mengandalkan kekayaan keluarga kini telah menjadi seorang pengusaha muda yang berprestasi.


Jessy merasa dirinya perlu menyelesaikan masa lalunya agar ia bisa melangkah ke depan dengan tenang. "Ada satu hal yang belum sempat aku lakukan dengan benar padamu," kata Jessy.


Justin mengarahkan pandangan pada Jessy hingga mata mereka bertemu.

__ADS_1


"Justin, tolong maafkan perbuatanku yang dulu. Aku bersalah dan aku sangat menyesal," kata Jessy dengan tulus.


__ADS_2