Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
9 Aku Mencintaimu


__ADS_3

Selesai shalat subuh, Raina menyuruh Gibran untuk menghabiskan buburnya. Entah mengapa, sakit membuat Gibran menjadi lebih manja. Gibran sendiri juga tak mengerti, mengapa ia suka sekali merepotkan Raina.


"Ayo mas, habiskan buburnya!" perintah Raina.


"Mas sudah kenyang."


"Biasanya juga makan sebakul, ini baru dua sendok, masa sudah kenyang?"


"Rasanya pahit."


"Bukannya Mas sering bilang sama Rai, enggak boleh mubazir, ayo abisin!"


"Suapin lagi," rengek Gibran.


Raina merasa geli dengan bayi besar yang super manja ini. Ia pun menyuapi Gibran dengan satu sendok penuh bubur. Baru saja Gibran akan melenan buburnya, Raina menjejali lagi mulut Gibran dengan bubur begitu terus hingga bubur nya habis tak bersisa.


"Anak pintar," Raina tertawa setengah mengejek Gibran.


Maksud hati ingin diperlakukan dengan manis oleh Raina, malah ini yang Gibran dapatkan. Baru saja ia akan berbicara Raina terlebih dahulu menyela nya.


"Karena makannya sudah beres, sekarang minum obatnya ya!" ucap Raina dengan lembut. Kalau sudah begini, mana berani Gibran menolak.


Raina menyodorkan obat dan segelas penuh air putih. Gibran pun mengambil obat tersebut kemudian meminumnya.


"Makanya kalau alergi udang, jangan coba-coba makan. Jadi ruam 'kan." Raina baru tahu kalau Gibra alergi degan udang, mungkin itu adalah sebuah hukuman karena meninggalkan istrinya kemarin malam dan tak sengaja memakan udang yang dipesan temannya.


Hari ini mereka tidak pergi kemana-mana. Sambil menjaga Gibran, Raina menonton kartun favoritnya ditemani setoples penuh camilan.


"Ha ha ha ha," Raina terpingkal sembari memegang perutnya.


Gibran menyingkirkan toples dipangkuan Raina, kemudian menjadikan paha Raina sebagai bantalnya. Gibran pikir Raina akan marah, tapi Raina fokus menonton kartunnya, dan sesekali menyisir rambut Gibran dengan jemarinya.


"Rambut  Mas halus juga ternyata." 


"Rambut kamu juga halus, wangi banget lagi." Gibran mendongakan kepalanya, membelai rambut Raina yang panjang dan menghirup aromanya.


"Rambut Mas memang halus tapi bau." ejek Raina sambil menutup hidungnya. Gemas dengan ulah Raina Gibran terus menggelitik Raina.


" ha ha ha ampun Mas ha ha ha...."


"Rasakan, ya."


Raina bukannya tidak memberikan perlawanan, hanya saja tenaga Gibran memang sangat kuat. Raina berusaha menahan tangan Gibran, memukulnya, kemudian mencubit pinggangnya dengan kuat tetap saja hasilnya sia-sia.  Kesal tak berhasil juga Raina menggigit tangan Gibran kemudian berlalri menjauh darinya.


"Aww curang ya."


"Biarin wlee ..."


"Awas ya, Mas kejar kamu."


***


Malam harinya Gibran mengajak Raina untuk makan malam. Awalnya Raina menolak mengingat kondisi Gibran yang sedang tidak sehat. Karena Gibran bersikuku kalau ia sudah sembuh, akhirnya Raina pun menurutinya.


Disinilah mereka sekarang, disebuah cafe yang sudah Gibran reservasi sebelumnya. Raina begitu anggun dengan gamis berwarna peach senada dengan kerudungnya, dan tampilan Gibran pun tak kalah memukau dengan kemeja peach serta tuxedo hitamnya.


Baru saja mereka duduk beberapa menit, datang seorang pelayan memberikan bunga pada Raina. Raina menghirup bunga itu kemudian membaca note yang ada disana kemudian tersenyum karenanya.

__ADS_1


For My Beautiful Wife


"Kenapa enggak Mas aja sih yang ngasih langsung?" tanya Raina sedang Gibran hanya nyengir.


"Kamu sering ya Mas, makan malam romantis kaya gini?" tanya Raina disela-sela percakapan mereka.


"Tidak juga," jawab Gibran enteng.


"Mas sebelum nikah sama aku, mas pernah pacaran berapa kali? "


"Tiga kali sebelum Mas hijrah, kamu sendiri?"


"Jangankan pacaran, baru niat saja, sudah habis sama omelan Mama."


"Kirain enggak laku," canda Gibran.


"Enak saja, yang ngantri banyak tahu. Tapi baru di ajak kerumah sekali aja, udah langsung pada ciut sama kegarangan Mama. Padahal kita cuma kerja kelompok aja waktu itu."


"Mama yang baik."


"Mama Rai memang yang terbaik.  Jangan salah, over protective nya juga di atas rata-rata."


"Dan sekarang, Mas yang akan mengisi posisi itu."


"Mas mau ngekang aku nih ceritanya?"


"Bukan mengekang, tapi mau menjaga istri Mas."


"Sama aja," ucap Raina sebal.


"Ada,"


"Siapa mas, yang mana?" tanya Raina antusias.


"Namanya Andin,"


"Pasti cantik ya."


"Memang." ucap Gibran dan Raina pun terdiam.


"Dia yang waktu itu bilang gini bukan, Gibran aku udah nunggu kamu lama, eh malah nikah sama orang lain." Raina menirukan suara Andin. "Dia, yang juga meluk mas lama banget, ia kan? Raina berapi-api.


Gibran malah tertawa dengan celoteh Raina.


"Kok ketawa sih, nyebelin." Raina merajuk.


"Cemburu ya, sama Andin."


"Enggak, siapa lagi yang cemburu?"


"Kalau gak cemburu, kok cemberut. Andin udah nikah kok,  anaknya sudah dua malahan. Lagian dia hanya masa lalu, masa sekarang dan yang akan datang dalam hidup mas 'kan, hanya kamu. Raina Desiana Silvi anaknya mama Sinta, yang paling cantik, perhatian, cintanya Mas."


"Gombal." ujar Raina malu-malu.


Selesai makan malam, Raina dan Gibran kembali ke hotel. Selesai berganti pakaian Gibran menghampiri Raina yang sedang duduk ditepian Ranjang.


"Sepertinya, Mas melupakan sesuatu, Rai?"

__ADS_1


"Apa?"


"Ini," ucap Gibran sambil memasangkan kalung berbandul hati kepada Raina.


"Terimakasih mas, kalung ini cantik sekali."


"Raina maukah kamu menjadi istriku sesungguhnya?"


"Maksud mas? Bukankah aku memang istrimu?"


"Maukah kamu memberikan tidak hanya jiwamu tapi juga hatimu Raina. Menjadi istriku, ibu dari anak-anaku dan menjadi pelengkap hidupku?" tanya Gibran dengan sungguh-sungguh dan menatap mata Raina dengan lekat sembari menggenggam jemari Raina dengan erat.


Tak ada jawaban yang keluar dari bibir Raina. Ia hanya mengangguk dengan mantap sambil tersenyum kepada Gibran. Gibran merasa begitu bahagia karena Raina mau menerimanya. Meski tak ada kata yang terucap, tapi sorot mata anggukan serta senyuman Raina telah menegaskan semuanya kalau ia juga memiliki perasaan yang sama terhadap Gibran.


"Aku mencintaimu Raina." ucap Gibran tepat di telinga Raina. Kemudian ia memanjatkan do'a sembari memegang ubun-ubun Raina. "Ya Allah, aku memohon kebaikannya dan kebaikan tabiatnya yang ia bawa. Dan aku berlindung dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa."


Gibran menyuruh Raina mengambil wudhu kemudian mereka melaksanakan shalat sunnah dua raka'at bersama. Selesai shalat Gibran mengangkat kedua tangannya seraya berdo'a kemudian di amini Raina "Ya Allah berikanlah keberkahan kepadaku dan isteriku, serta berkahilah mereka dengan sebab aku. Ya allah, berikanlah rizki kepadaku lantaran mereka, dan berikanlah rizki kepada mereka lantaran aku. Ya allah, satukanlah antara kami (berdua) dalam kebaikan."


Raina masih terpaku ditempatnya saat ia selesai merapikan mukenanya. Gibran mendekat pada Raina kemudian membelai pipinya dengan lembut.  Ritme jantung Raina berdetak dengan cepat membuatnya menjadi salah tingkah. Pipi Raina sudah sangat merah sekarang dan ia begitu kaget saat Gibran menngendongnya  ala birdal. Dibaringkannya Raina dengan hati-hati di atas ranjang. Raina ibarat barang pecah belah yang rapuh jika Gibran tak memperlakukannya dengan lembut. Gibran mendekatkan wajahnya pada Raina seraya berdo'a "Dengan menyebut nama Allah jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami."


Malam itu menjadi malam yang tak akan pernah terlupakan bagi mereka.


Selesai berjama'ah subuh dan tilawah bersama. Seperti biasa Raina mengecup punggung tangan Gibran, kemudian Gibran balas dengan mencium kening pipi dan mengecup bibir Raina sekilas hingga pipi Raina merona karenanya.


Selesai melipat dan merapikan mukenanya, Raina duduk di sofa mengambil majalah yang tersimpan di atas meja kemudian menggunakannya untuk mengipasi rambutnya. Gibran menghampiri Raina dan duduk bersamanya.


"Rambut mu belum kering juga ya Rai."


"Ulah siapa juga." Raina mendelik pada Gibran sedang sang pelaku hanya tertawa.


"Sini mas aja yang kipasin, biar cepat kering." Gibran mengambil alih majalah yang sedang Raina pegang kemudian mulai mengipasinya.


"Pake lupa bawa hair dryer lagi, jadi susah begini."


"Kitakan bulan madu kesini Rai, bukan pindahan."


"Iya sih mas. Tapi lumayan juga sekarang ada hair dryer otomatis, hemat listrik lagi."


"Nanti siang, kita snorkling yuk." ajak Gibran.


"Neng manut aja sama kakang. Aduh mas, kapan selesai  kalau rambutnya dimainin terus," ucap Raina sebal, saat Gibran sedang asyik memelintir ujung rambut Raina.


"Maafin mas, Rai sayang," Gibran kembali mengipasi rambut Raina hingga kering.


Setelah bersiap Raina dan Gibran pergi ke luar hotel untuk sarapan dan melanjutkan jalan-jalan mereka yang sempat tertunda. Gibran tak pernah melepaskan tangannya dari pinggang Raina barang sedetik pun hingga mereka sampai di restoran, meski telinganya harus panas karena omelan Raina yang merasa malu karena  dilihat banyak orang.


"Mas, Rai mau sarapan bubur aja," pinta Raina. Gibran pun memanggil waiters dan memesankan bubur untuk mereka berdua.


Saat pesanan datang Raina pun langsung memakan buburnya karena merasa sangat lapar. Meski begitu ia makan dengan pelan sedang Gibran memakan buburnya dengan cara mengaduk semua topingnya hingga tercampur menjadi satu.


Saat Gibran ingin menyuapi nya, Raina malah mengambil alih sendok yang akan diberikan padanya dan menggantinya dengan sendok yang sudah di isi bubur Raina.


"Nah sekarang mas boleh suapin Rai. Maaf ya Rai enek aja kalau buburnya di aduk," ucap Raina membuat Gibran terkekeh.


"Baiklah, mulai sekarang kalau Mas pengen suapin kamu buburnya enggak akan Mas aduk," ucap Gibran kemudian menyuapi Raina. Raina pun melakukan hal yang sama dan mereka pun saling menyuapi.


Perlakuan sederhana itu membuat keduanya merasa bahagia. Ya jatuh cinta memang indah, dunia serasa milik berdua dan Raina pun tak malu lagi meski menjadi pusat perhatian orang. Pacaran setelah menikah memang dirasa lebih indah, apa-apa yang dilakukan dinilai ibadah dan mendapat pahala, beda cerita dengan pacaran sebelum menikah, saling menyuapi seperti ini bukan mendapat pahala, malah mendapatkan siksa dan terus memupuk dosa.

__ADS_1


__ADS_2