Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
3 Malam Pertama


__ADS_3

Raina menatap mata mamanya dalam, seakan sorot mata itu meminta penjelasan semua pertanyaan yang kini berputar dalam benaknya.


"Ma jelasin semuanya Ma, Rai mo-hon." suara Raina tercekat di tenggorokan, matanya terasa begitu panas hingga kini air matanya telah menetes.


Tepat saat mamanya mau berbicara, seseorang membuka pintu dan menyuruh mempelai wanita untuk segera turun kebawah.


"Mama janji akan jelasin semuanya setelah ini. Tapi, mama mohon sekarang kita turun ke bawah dulu sayang. Mama tidak ingin kondisi Kakek sampai drop."


Jika saja kakeknya tidak mempunyai riwayat penyakit jantung, Raina akan langsung kabur, dan loncat dari lantai dua kamarnya sekarang juga. Pastinya ia tidak akan melangkah bersama mamanya dan turun kebawah begitu saja. Namun, Raina masih sedikit waras, ia tidak memungkin melakukan hal itu dan mengancam hidup kakek yang sangat disayanginya.


Saat menuruni tangga, semua pasang mata yang hadir di majlis, tak satupun yang tak menatap Raina. Mereka begitu terpesona, hingga seorang pria yang tadi telah beriqrar sucipun sampai tak berkedip. Raina duduk disamping mempelai pria dengan tatapan kosong, ia menurut saja saat harus menandatangani surat-surat pernikahan.


Kini tiba saatnya untuk bertukar cincin. Jemari Raina bergetar, perlahan suaminya memasangkan cincin bertahtakan berlian pada jari manisnya.


Selesai bertukar cincin, Raina meraih telapak tangan suaminya atas instruksi dari kakeknya. Di kecupnya punggung tangan Gibran, jantung Raina mendadak berdetak lebih cepat saat Gibran mencium Puncak kepalanya juga. Namun, semua ini terasa begitu mendadak bagi Raina, kepalanya terasa begitu berat untuk mencerna semua ini, hingga Raina akhirnya tak sadarkan diri. Dengan sigap Gibran menggendong Raina ala bridal ke dalam kamar, untung saja akad ini hanya dihadiri oleh keluarga dan pihak KUA saja.


Setelah beberapa saat, Raina sadar.


"Minum dulu sayang." ucap mama sembari menyodorkan segelas air pada Raina. Selesai minum, Raina duduk dikepala ranjang.


"Mereka pergi kemana?" tanya Raina pada mamanya.


"Shalat jumat sayang."


Raina menangis, wajahnya tertunduk, serta tangannya meremas kebaya putih yang ia kenakan. Ia berpikir bahwa tadi adalah mimpi buruk, namun saat ia bangun, Raina sadar bahwa hari ini dan pernikahan ini benar-benar nyata.


"Maafkan kami sayang, kami tidak bermaksud untuk menyakiti mu. Semuanya serba salah, awalnya yang akan menikah memang kakakmu," mama mencoba menjelaskan membuat Raina medongakan wajahnya untuk menatap wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu.


"Pernikahan ini memang sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari. Tapi, dua minggu sebelum pernikahan, Rakana mengaku kalau ia tengah hamil dengan sahabatnya. Kamu tahu, kakek langsung masuk rumah sakit saat itu."

__ADS_1


Rakana berbohong perihal kehamilannya agar ia tidak jadi menikah dengan Gibran, ia tidak mungkin melakukan hubungan terlarang itu sebelum menikah, meski ia sangat mencintai sahabatnya. Namun, karena kebohongannya itu, Gandi Santana langsung mendapat serangan jantung, beruntung mereka tidak telat ke rumah sakit sehingga nyawa kakek masih bisa diselamatkan.


"Kami tidak mungkin menggagalkan pernikahan ini, selain untuk menyatukan dua perusahaan. Kakek pernah bernadzar dengan sahabatnya untuk menikahkan anak-anak mereka. Tapi kakekmu dan sahabatnya sama-sama hanya memiliki anak laki-laki. Dan baru sekarang nadzar itu bisa terlaksana."


"Kenapa Mama tidak memberitahu Rai terlebih dahulu?"


"Kami takut, kamu akan menolak dan melarikan diri."


"Nyatanya Rai sudah kalah Ma, bahkan sebelum mencobanya."


"Mungkin ini memang takdirmu sayang, dan jalannya harus seperti ini. Gibran adalah pria yang baik, Mama yakin ia pasti bisa membahagiakan mu sayang," ucap mama, setelahnya mereka terdiam dan Raina kembali menangis sesenggukan.


Malamnya, acara resepsi pun dilakukan di ballroom hotel ternama di bilangan Jakarta. Acaranya berlangsung dengan megah. Meski undangan yang hadir hanya keluarga dan beberapa kolega, namun kaki Raina terasa sangat pegal karena berdiri terlalu lama.


Melihat istrinya tidak nyaman, dan para tamu undangan sudah mulai sepi, Gibran menyuruh Raina untuk duduk. Setelah itu Gibran berjongkok kemudian memijat betis Raina. Awalnya Raina merasa risih, karena perlakuan Gibran membuat perhatian para tamu terpusat pada mereka berdua, tapi jika dirasa-rasa perlakuan Gibran itu membuatnya nyaman hingga rasa pegal dikakinya itu pergi entah kemana.


Acara telah selesai, baik keluarga Gibran maupun Raina sudah pulang kerumahnya masing-masing. Tinggalah Raina dan Gibran di hotel ini. Mereka berdua masuk kedalam kamar yang khusus dipilihkan untuk mereka berdua.


"Ada yang ingin aku bicarakan," ucap mereka berbarengan dengan pandangan yang saling terkunci satu sama lain. Raina yang lebih dahulu tersadar, langsung memalingkan wajahnya kesamping.


"Ladies first," Gibran mengalah.


"Gimana sih, jadi canggung gini," gumam Raina yang masih dapat Gibran dengar, hingga ia terkekeh karenanya. Dengan salah tingkah Raina malah mengulurkan tangannya dan Gibran ikut menjabat tangan Raina.


"Raina Desiana Silvi," Raina memperkenalkan dirinya.


"Gibran Al-Fatih."


Setelah selesai berkenalan, Raina malah menggaruk tenguk nya yang tidak gatal sama sekali.

__ADS_1


"Aku harus panggil kamu apa?" tanya Raina dan Gibran mulai berpikir.


"Mas saja, ok."


Kali ini Raina menatap Gibran dengan serius.


"Apa Mas tahu, kalau sebenarnya yang harus menikah dengan Mas adalah kak Ana?"


"Memang, tapi yang jadi istri aku itu kamu Rai."


"Kalian semua tahu? Jadi, di sini hanya aku yang tidak tahu apa-apa. Kalian tahu aku merasa bodoh sendiri tadi?" Raina berapi-api.


"Kenapa, kenapa kamu gak coba batalin pernikahan ini Mas?"


"Kamu menyesal?" tanya Gibran balik.


"Bahkan untuk kecewa pun aku tak mampu. Lalu, apa Mas tidak merasa dipermainkan karena keluargaku malah menjadikanku sebagai pengganti kak Ana?"


Raina menangis, amarah yang dipendamnya sejak tadi kini keluar lah sudah. Gibran mendekat pada Raina, kemudian memeluknya, mengusap punggung seorang wanita yang kini telah menjadi istrinya itu.


"Ssst kamu bukan pengganti, tidak ada yang menjadi pengganti. Masalah jodoh, hanya tuhan yang tahu. Sekuat apapun kita menolak, tapi jika ia jodoh kita maka ia akan bersama. Tapi, jika tak berjodoh, sekuat apapun orang itu mempertahankan tetap saja tidak akan bersama. Bukankah Rencana Allah itu lebih baik dari pengharapan kita?" Gibran mengembuskan napas, kemudian melanjutkan perkataannya, "Kita adalah salah satu buktinya Raina."


"Tetap saja, ini semua terasa begitu mendadak untukku. Aku juga tidak tahu apa-apa tentang Mas."


"Mungkin ini memang mendadak. Mas juga belum tahu terlalu banyak tentangmu Rai, tapi itu semua tidak menjadi masalah. Kita punya waktu sepanjang sisa hidup untuk bersama, menurut Mas itu lebih dari sekadar cukup untuk mengenal satu sama lain," pipi Raina menghangat, mungkin mamanya benar, Gibran adalah pria yang baik.


"Marilah kita sama-sama membuka hati kita Raina, bersama-sama menerima apa yang sudah Allah garis kan untuk kita."


"Baiklah Mas, kalau begitu kita mulai dari pertemanan dulu. Bagaimana?"

__ADS_1


"Tidak masalah, teman hidup."


Begitulah malam pertama Raina dan Gibran, mereka awali dengan menjadi seorang teman.


__ADS_2