
Jam menunjukan pukul empat subuh. Rupanya semalaman mereka tidur dengan Gibran yang masih memeluk Raina. Raina memindahkan tangan Gibran dari perutnya, kemudian ia segera beranjak dari kasur dan mencepol rambutnya asal, lalu pergi ke kamar mandi. Setelah selesai, Raina membangunkan Gibran agar bersiap untuk shalat subuh.
"Mas, bangun Mas," Raina menggoyangkan lengan Gibran, namun suaminya itu masih asik dengan dunia mimpinya.
"MAS CEPETAN BANGUN!"
Karena Gibran belum bangun juga, dengan usilnya Raina menarik selimut yang Gibran pakai, kemudian aksi saling tarik menarik pun terjadi. Berhasil mendapatkan selimut, Raina langsung mengecilkan volume AC agar Gibran kedinginan dan caranya itu ternyata membuahkan hasil.
"Iya mas bangun," ucap Gibran sambil megucek matanya.
"Tumben susah banget dibanguninnya, biasanya udah mandi jam segini, udah wangi."
Saat Gibran masuk ke kamar mandi, dengan sigapnya Raina menyiapkan koko, sarung dan kopiah putih untuk Gibran, kemudian ia turun ke dapur untuk memasak.
Mata Raina berbinar karena menemukan buah favoritnya saat ia membuka kulkas.
"Seger pasti, kalau kiwi ini Rai bikin jus," gumam Raina.
"Bi Iis, tolong kupasin dulu buah kiwi nya ya, Rai mau ke atas sebentar."
"Siap Non."
Saat menapaki tangga untuk ke kamarnya, Raina berpapasan dengan tante Yani.
"Mau ke mana?"
"Ke kamar, Tante."
"Jangan lama ya, habis itu bantuin Tante di dapur."
"Siap Tante," ucap Raina, sambil memberi hormat seperti kepada pembina upacara.
Raina masuk ke dalam kamarnya dan melihat Gibran sedang memakai kopiahnya. Raina menyampirkan sejadah dipundak Gibran kemudian memberikan Gibran selembar uang.
"Nah kalau gini kan ganteng."
"Memangnya kemarin Mas enggak ganteng?"
Raina menggelengkan kepalanya seraya terkekeh.
"Uang ini?"
"Masukin kotak amal ya, mas." ucap Raina, membuat Gibran tersenyum serta menganggukan kepalanya. Kemudian ia memperhatikan penampilan Raina.
"Kamu ke luar kamar dengan penampilan seperti ini?"
"Maksud Mas, piyama ini?"
"Raina, mulai sekarang, kalau mau keluar kamar harus pakai jilbab. Masih mending sekarang suami kakak belum pulang dari dinasnya, disini banyak juga asisten laki-laki dan mereka semua bukan mahram kamu. Jadi jangan seperti ini lagi ya."
"Iya Mas, Rai janji enggak akan keluar kamar dengan penampilan seperti ini lagi, ok."
"Istri yang baik."
"Sekarang, Mas cepat berangkat ke mesjid sebentar lagi adzan."
"Mas ke mesjid ya, assalaamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Teringat dengan Yani, Raina pun segera ke dapur.
"Kamu lama banget sih, ngapain aja?"
"Idih Tante kepo deh, pengen tahu aja," Raina terkekeh.
"Ditanya sama orang tua, malah ketawa, enggak sopan."
"Maafin Rai tante, orang bercanda juga. Biasa Tan, ngurus baby besar dulu."
"Kita masak apa Tante?"
"Sarapan hari ini roti saja, jadi enggak perlu masak."
"Ok deh Tante, lalu apa yang bisa Rai bantu?"
"Kamu berikan obat kakek saja, Tante jengkel sendiri karena Ayah susah banget dibujukin buat minum obat."
"Ok tante, tapi Rai mau minum jus dulu ya tenggorokan Rai rasanya kering."
"Sekarang Rai, kakek itu bandel, bisa telat nanti minum obatnya."
__ADS_1
Raina mengambil dua gelas jus yang dibuat mbak Iis, kemudian menyerahkannya pada Yani.
"Cobain deh tante," ucap Raina polos kemudian meminum jusnya.
"Enggak lama kan tante, kalau gitu sekarang Raina ke kamar kakek dulu."
"Dah tante, diminum ya jus nya seger loh." ucap Raina seraya meninggalkan Yani yang terpaku ditempatnya.
"Anak itu!" umpat yani kesal kemudian meminum jus yang diberikan Raina.
"Enak juga." komentarnya kemudian melanjutkan lagi pekerjaannya.
Kini mereka semua berkumpul dimeja makan untuk sarapan pagi. Dan sepertinya diwaktu inilah mereka semua dapat berkumpul dan itu sudah menjadi peraturan rumah untuk tidak melewatkan waktu sarapan. Karena selain pagi hari, mereka sulit sekali untuk dapat berkumpul bersama, karena hampir semua penghuni rumah ini memiliki kesibukan.
"Raina kuliah mu kapan libur? " tanya kakek.
"Besok kek, sampai tanggal 5 Januari." jawab Raina.
"Gibran, kakek beri kamu cuti sampai tanggal 5 Januari. Kalian maksimalkan waktu itu untuk bulan madu kalian yang tertunda, dan keputusan ini final."
Gibran melirik ke arah Raina yang sedang membelalakan matanya, sedang Gibran tersenyum kikuk. Setelah selesai sarapan, Gibran bergegas mengantarkan Raina ke kampus dengan menggunakan mobil.
"Mas,"
"Iya," ucap Gibran yang terus fokus ke jalan.
"Kalau Mas sibuk, lebih baik ditunda saja bulan madunya." usul Raina.
"Enggak kok, penat juga kalau dikantor terus lumayanlah buat kita refreshing."
"Terserah Mas saja."
Raina mebuka diktat kuliahnya, kemudian mulai membacanya.
"Kamu pulang jam berapa Rai?"
"Jam sebelas, Mas."
"Tumben cepet."
"Hari ini hanya satu mata kuliah Mas."
Seperti biasa setelah itu mereka larut dalam pikiran masing-masing, hingga kampus Raina terlewati.
"Iya Raina." Rai malah mengerucutkan bibirnya.
"Loh, kok cemberut,"
"Kampus nya, Mas."
"Iya, kita kan memang mau ke kampus." ujar Gibran santai, membuat Raina menepuk jidatnya.
"Kampusnya kelewat kali."ujar Raina datar.
"Apa?" Gibran mengerem kemudinya seketika.
"Kebiasaan deh, ngerem mendadak. Untung jantung Rai sehat-sehat aja."
"Maafin Mas ya Rai, Mas enggak sadar."
"Turun disini aja Mas, belum terlalu jauh juga."
"Enggak papa, kita putar balik saja."
"Udah Mas, pokoknya disini aja, entar kamu telat lagi." Raina mengecup punggung tangan Gibran kemudian pamit
"Assalaamu'alaikum." kemudian Raina membuka pintu mobil, dan menutupnya kembali meninggalkan Gibran yang termangu ditempatnya.
"Wa'alaikum sallam."
Gibran merasa serba salah jika berurusan dengan makhluk yang bernama wanita, terutama dengan istrinya Raina. Semenjak menikah Gibran Merasa dunianya jungkir balik. Namun tak ditampiknya jika ia merasa bahagia karena dunianya kini lebih berwarna.
"Vina, apa saja jadwal saya hari ini?"
"Ada beberapa berkas yang perlu ditandatangani, dan satu jam lagi ada meeting, bersama pak Ramdhan dari Corporation group."
Selesai mempelajari dan menandatangani berkasnya. Gibran melihat jam tangannya sudah menunjukan pukul sebelas, dan artinya perkuliahan Raina juga akan selesai. Gibran mengeluarkan ponselnya dan menulis pesan untuk Raina.
to : my wife
Mas sekarang ke sana, kita makan siang bareng
__ADS_1
from : my wife
Ok, Rai tunggu
Gibran tersenyum melihat balasan Raina kemudian segera meluncur dari kantornya, karena tak mau istrinya menungu terlalu lama.
Saat sampai dikampus, Gibran melihat Raina sedang berbicara dengan seorang pria, yang Gibran yakini bukan Diki sahabat Raina. Raina terlihat akrab dengan pemuda itu, membuat Gibran sedikit merasa kesal. Dengan tergesa-gesa ia datang kemari, setelah sampai, istrinya malah asyik sendiri dengan orang lain.
Gibran menghampiri Raina yang sedang berbincang didekat pos satpam. Melihat Gibran datang, Raina mencium punggung tangan Gibran dan mengucapkan salam.
"Oh iya Bi, kenalin ini suami aku, Mas Gibran," ucap Raina memperkenalkan suaminya.
"Gibran." Gibran mengulurkan tangannya sembari memeluk Raina dari samping.
"Robi."
"Ya sudah Bi, aku sama Mas GIbran duluan ya, assalaamu'alaikum." pamit Raina sembari tersenyum dengan manis menurut Gibran.
"Wa'alaikum salam."
"Ngobrolin apa aja? akrab banget kelihatannya," ketus Gibran.
"Enggak ngobrolin apa-apa, cuma bahas TA aja mas, terus dia ngajakin pulang bareng, udah gitu aja."
"Terus, mau pulang bareng dia?"
"Aku bilang mau pulang sama kamu Mas."
"Terus, kalau aku enggak jemput kamu mau di antar sama dia?"
"Lumayanlah Mas, hemat ongkos."
"Oh jadi gitu."
"Kenapa Mas, enggak boleh ya?"
"Mana boleh, kalau pun misalnya nanti Mas enggak bisa jemput kamu, biar mang Joko yang antar jemput kamu."
"Iya Mas aku cuma bercanda aja kok, aku juga tahu diri Mas, sudah punya suami masa mau di antar sama laki-laki lain."
"Bagus."
"Mas, aku laper. Tapi, Rai pengen makan yang pedes nih."
"Bagaimana kalau ramen?"
"Ayuk mas, cepet ya udah kepengen banget nih."
"Kamu gak lagi ngidam kan Rai?"
"Ih, mas Gibran apaan sih."
Setelah sampai direstoran, Raina menantang Gibran memakan ramen dengan level tertinggi yang disajikan diresto itu, dan yang kalah harus mendapatkan hukuman.
"Pokoknya, Mas besok harus pakai kemeja kuning kalau kalah."
"Kamu enggak boleh nonton drama korea. Bagaimana, deal?"
"Deal."
Persaingan begitu sengit, padahal ini baru sendokan kedua, tapi Gibran hampir menghambiskan lemon juicenya, sedang Raina masih aman-aman saja dengan kunyahannya. Gibran memang baru dua sendok, tapi bisa kalian bayangkan sendiri dua suap versi pria dewasa itu hampir menadaskan isi dari mangkuk tersebut.
"Jangan dulu senang mas, kamu baru memakan mienya saja, dan ingat ya kuahnya harus sampai habis juga."
Kebiasaan Raina adalah memakan semua topingnya dulu, baru memakan mie nya. Dan kini Raina mulai beraksi, Raina begitu lihai memainkan sumpitnya, ia terus menyeruput mie nya kemudian mengunyahnya, membuat Gibran tak berkedip melihatnya hingga Raina menyelesaikan tantangan ini. Raina sampai harus menghabiskan 2 gelas milshake strawberry untuk menghilangkan rasa pedas dilidahnya higga membuatnya sangat kekenyangan.
"Yes Rai menang, besok kamu harus pakai kemeja kuning Mas," ucap Raina senang, sambil mengipas-ngipaskan tangannya ke wajahnya karena kegerahan.
Raina tertawa melihat Gibran yang kewalahan karena kepedasan.
"Huh....huh.. pedas sekali lidahku seperti terbakar," Gibran meneguk air putih.
"Mbak milkshakenya satu lagi ya," pesan Raina.
Witersnya membawakan pesanan Raina kemudian pergi setelah meletakannya dimeja Raina.
"Mas minum milkshake nya, casein dalam susu dapat membantu mengurangi rasa pedas." Gibran langsung meminumnya hingga tandas tak bersisa, dann ternyata memang benar, rasa pedas di lidahnya terasa berkurang.
"Makasih ya Rai."
"Iya sama-sama."
__ADS_1
"Yuk kita pulang, sebentar lagi kita harus packing buat ke Lombok."
"Ayuk," ucap Raina sambil menyampirkan tas dipundaknya.