
"Rai, kaus kaki Mas dimana?"
"Di atas meja Mas!" jawab Raina sembari menyisir rambutnya yang basah.
Selesai memakai kerudungnya, Raina berjalan ke arah Gibran yang sudah siap untuk dipakaikan dasi. Raina heran sampai sekarang Gibran tidak bisa memakai dasi sendiri, padahal Raina selalu mengajarkannya.
"Aduh perut Mas mules nih," ucap Gibran sambil memegang perutnya.
Raina mundur beberapa langkah dari Gibran kemudian menutup hidungnya. "Ih Mas kentutnya bau banget. Cepat ke toilet sana!" ucap Raina sambil mendorong tubuh Gibran ke toilet.
"Minyak anginnya di atas kasur Mas, Rai mau ke kamar Kakek dulu!" teriak Raina kemudian langsung ke kamar kakek.
Raina mengetuk pintu kamar kakek, kemudian masuk setelah kakek mengijinkannya. Terlihat kakek sedang membaca sebuah buku yang sudah usang. Raina duduk tepat disebelah kakek dan melirik sedikit apa yang sedang dibaca kakek.
"Ada apa hmm?" Pertanyaan kakek membuat Raina kaget, karena ketahuan sedang mengintip.
"Baca apa sih kek? Serius gitu kelihatannya," ujar Raina ingin tahu.
"Bukan apa-apa, hanya buku lama," ucap kakek sambil menutup buku tersebut, lalu menaruhnya ke atas nakas.
"Kata Bi Iis, tadi Kakek enggak mau minum obatnya lagi. Kalau kakek sakit, Rai kan sedih Kek."
"Kata siapa Kakek tidak minum obat, tanyakan saja pada Tantemu kalau tidak percaya."
"Oh syukurlah kalau sudah sama tante Yani. Rai khawatir aja Kek."
"Ini sisa obatnya ya, biar Rai simpan lagi ke tempatnya."
Raina merasa janggal, biasanya obat kakek masih terbungkus. Tapi kali ini, semuanya sudah terbuka dan ditaruh didalam pot obat. Penasaran, Raina mengambil beberapa tablet untuk ia lakukan uji laboratorium.
"Kek Rai pergi ya, ada bimbingan hari ini. Assalamu'alaikum."
Raina kembali ke kamarnya, dan ternyata Gibran juga sudah siap.
"Masih sakit ga Mas?" Tanya Raina cemas.
"Sudah enakan kok."
"Ya udah yuk berangkat, Rai bimbingan hari ini."
"Cepat lulus yah Yang. Biar kamu begadangnya sama Mas, bukan sama buku dan tugas-tugas kamu," Gibran tersenyum nakal.
"Idih maunya."
"Kamu tidak kerja pun nantinya, Mas masih mampu kok untuk nafkahin kamu dan anak-anak kita."
"Mas, Rai itu kuliah bukan karena masalah harta, tapi untuk diri Rai sendiri, untuk Mas dan untuk anak-anak kita. Rai enggak mau jadi istri dan ibu yang bodoh mas.”
"Iya, Mas ngerti sayang. Mas beruntung banget punya istri seperti kamu.”
__ADS_1
"Ya udah yuk Mas keburu telat. Kamu ada meeting juga kan ? "
"Iya ayo kita berangkat!" ajak Gibran sembari menggandeng tangan Raina.
Sampai dikampus Raina langsung ke ruang dosen untuk menemui pembimbingnya. Namun, sampai disana ternyata pembimbingnya belum datang. Beginilah perjuangan mahasiswa semester akhir, yang harus mengejar-ngejar dosennya dan harus setia menunggu bila dosennya terlambat, terlebih lagi harus ikhlas dan berbesar hati, tat kala telah seharian menunggu, namun sang dosen membatalkan janjinya dengan kita, karena ada urusan mendadak yang lebih penting.
Baru saja Raina mendapat wa dari dosen pembimbingnya bahwa beliau tidak dapat datang hari ini.
***
Besoknya, pagi sekali Raina langsung ke Laboratorium pusat, untuk mengetahui zat aktif apa yang terkandung dalam obat rutin yang sering kakek minum. Raina, bahkan tidak bisa tidur sejak semalam, karena terus memikirkan hal ini. Hingga untuk pertama kalinya, Raina tertidur di kelas saat perkuliahan berlangsung. Irena bahkan sudah mencubit pinggang Raina berkali-kali, tapi ia tak terbangun juga. Mata Irena membulat ketika Prof Annas berjalan ke arah mereka. Hingga semua pasang mata yang ada dikelas ini terfokus pada Raina.
"Apaan sih Ren," ucap Raina yang merasa terganggu.
"Ekhem.."
Merasa tak asing dengan deheman tersebut, Raina langsung sadar dari dimensinya, dan saat itu juga, ia harus menahan malu karena jadi bahan tertawaan satu kelas.
"Ren, kok kamu enggak bangunin aku sih," ucap Raina setengah berbisik.
"Berkali-kali bahkan Rai, tapi tidur kamu pules gitu."
Bukan takut karena prof Annas merupakan salah satu dosen paling killer di universitas ini. Akan tetapi, rasa malu akan ulahnya sendiri, sangat mengganggu Raina. Andai saja saat ini ada lubang, pasti Raina akan langsung masuk kedalamnya, atau meminjam pintu kemana saja milik doraemon, agar ia bisa melarikan diri dari kelas ini saking malunya.
"Sebaiknya kamu cuci muka dulu Raina!" perintah prof Annas.
Raina pun bergegas meninggalkan kelas, dan segera ke toilet untuk menyegarkan wajahnya. Selesai membasuh wajahnya, Raina mengeringkannya dengan tissue. Raina tidak kembali ke kelas, melainkan ke Lab untuk melanjutkan penelitiannya. Lagi pula, kelasnya akan berakhir sepuluh menit lagi.
Untuk tugas akhirnya Raina memilih pemanfaatan limbah kulit pisang untuk dibuat menjadi masker gel peel off. Alasan Raina adalah selain kandungan antioksidan kulit pisang lebih tinggi dibanding buahnya, ia juga bisa menjadikan sesuatu yang terbuang menjadi lebih bermanfaat.
Selesai membuat sediaan yang ia inginkan. Raina menyimpannya di dalam freezer. Lagi-lagi Raina kaget saat seseorang menepuk pundaknya.
"Astagfirullah. Kamu Dik, ngagetin aja."
"Iren bilang, tadi kamu ketiduran di kelasnya prof Annas, Rai?"
"Memang."
"Ya udah minum dulu Rai, mumgkin kamu kurang cairan," ucap Diki sembari menyerahkan sebotol air mineral kepada Raina.
"Makasih Dik, kamu memang sahabat yang paling pengertian."
"Aku balik ya Rai, mau bimbingan lima menit lagi."
"Ya udah sana pergi. Makasih ya minumannya."
Raina tidak tahu, kenapa kini pandangannya jadi mengabur dan kepalanya terasa begitu berat.
"Astagfirullah, kenapa kamu bisa tertidur sampai empat jam Raina?" tanya Rai pada dirinya sendiri, saat melihat jam yang terpasang di tangannya menunjukan pukul lima.
__ADS_1
Selesai menjalankan shalat ashar, Raina segera turun ke parkiran, dan rupanya Gibran telah menunggu di sana.
"Lama ya Mas nunggunya?"
"Enggak lama kok, Mas juga baru sampai, Mas khawatir aja, telepon, dan wa mas, enggak kamu balas satupun. Kenapa, hmm?"
"Handphone Rai ketinggalan di rumah Mas."
"Pantas saja. Tapi kamu enggak kenapa-napa kan, Yang?" tanya Gibran khawatir.
"Enggak papa kok Mas. Hanya saja-" Raina menggantung kalimatnya.
"Hanya?"
"Tidak papa."
"Hanya saja ada yang janggal dengan hari ini." batin Raina.
"Ya udah pulang yuk Mas. Rai laper banget nih."
"Siap tuan putri."
Selesai shalat isya, Raina membantu kakak Gibran packing, karena akan ikut suaminya ke Kalimantan untuk tugas di sana, dalam waktu yang cukup lama. Awalnya kakek menolak, agar kak Wulan tetap tinggal di rumah ini. Namun, meski berat, akhirnya kakek mengijinkannya.
"Kak, boleh ya hari ini, Milka tidurnya sama Rai? Rai akan sangat merindukan kalian."
"Boleh ya Bunda?" rengek Milka.
"Iya boleh," ucap Wulan, sambil mengelus rambut panjang Milka.
"Hore. Ayo tante." Milka menarik tangan Raina.
"Tapi ini belum selesai Milka sayang."
"Biar Bunda aja yang beresin, Tan," ucap Milka dan Wulan hanya menggelengkan kepalanya.
Raina sudah menceritakan dua kisah yang berbeda. Namun, hingga saat ini, Milka masih belum tertidur juga.
"Milka sayang, ayo kita tidur sudah malam."
"Tapi, Milka belum ngantuk tante."
"Kalau Milka tidak tidur, nanti ada monster yang akan mencabut gigi Milka yang udah goyang itu," ucap Gibran saat membuka pintu kamar.
Milka langsung memeluk Raina, sampai ia tertidur. Raina susah payah membujuk Milka, bahwa Gibran hanya berbohong.
"Kamu Mas, anak kecil malah di takut-takutin. Lihat sampai keringetan kaya gini!"
"Mas kan hanya bercanda," Gibran terkekeh.
__ADS_1
Gibran tidur di sisi kanan, dan Raina tidur di sisi kiri, dengan Milka yang menengahi mereka. Gibran memeluk Milka dan Raina. Gibran tak hentinya menatap Raina, dan senyum mengembang terpancar dari keduanya.
Mungkin, hal inilah yang akan terjadi setiap harinya, jika mereka mempunyai seorang anak nanti. Sesuatu yang sangat menyenangkan, melihat mereka tumbuh dan berkembang bersama orang yang paling kita cintai.