
Berjama'ah dalam setiap waktu, sudah menjadi kebiasaan mereka setelah menikah. Seperti subuh ini, siapa yang bangun lebih awal, maka mereka harus saling membangunkan. Seusai shalat, Raina langsung turun ke dapur untuk memasak, telat sedikit saja ia langsung kena omel Yani, istri dari almarhum Guna Wardiman, yang tak lain adik papa Gibran.
"Siapa yang sakit Bi?" tanya Raina, saat melihat Iis mengambil kotak obat di lemari.
"Ini obat rutin Kakek, Nyonya."
"Ish Bibi, sudah Rai bilang, jangan panggil Nyonya. Aku tidak setua itu, panggil saja Rai ok!"
"Bibi enggak berani," cicit Iis, membuat Raina cemberut.
"Ya udah Bi, mana saja obat Kakek, biar Rai yang berikan."
Raina pun membawa obat dan segelas air. Raina mengetuk pintu, kemudian masuk setelah Kakek mengijinkannya.
"Kek, Rai bawa obat. Ayo diminum, biar Kakek cepat sembuh."
"Kakek gak mau obat, Kakek maunya cicit dari kamu."
"Justru karena itu kakek harus minum obatnya, nanti bila cicit kakek sudah lahir. Kakek buyutnya masih sehat dan bugar. Jadi bisa gendong cicit Kakek sepuasnya. Ok?"
"Mana obatnya, kakek ingin meminumnya sekarang juga."
"Bismillah dulu kek."
Gibran tersenyum memperhatikan Raina dan kakeknya, ia merasa iri pada Raina. Jika selama ini dengan segala cara ia harus susah payah membujuk kakek agar mau meminum obatnya. Tapi dengan Raina, kakek langsung menurutinya. The power of woman.
"Kenapa kau senyum-senyum sendiri disamping pintu Gibran?"
Gibran hanya mengangkat tangannya, menunjukan dasi yang berada dalam genggamannya.
"Bisakah pinjam Raina sebentar, Kek?"
"Pelit sekali kau Gibran, tidak mau membiarkan istrimu lebih lama bersama kakek," ujar kakek pura-pura marah.
"Maafkan Gibran Kek, tapi Gibran butuh Raina sekarang."
"Ya sudah, Mas ke kamar duluan, Rai akan menyusul," lerainya.
Raina masuk ke dalam kamar, dan menemukan Gibran sedang memasukan berkas-berkas kedalam tasnya. Melihat Raina masuk, Gibran menghampiri Raina dengan membawa dasinya. Raina mengambil alih dasi itu, kemudian memasangkannya pada Gibran. Raina selalu gugup jika berdekatan dengan Gibran, meski ini bukan yang pertama lagi untuknya.
Raina berusaha agar tidak menengadahkan wajahnya lagi. Kali ini, Ia tak ingin mata dan tubuhnya membeku, tidak bisa bergerak seperti kemarin-kemarin hanya karena ditatap oleh Gibran. Akhirnya selesai, dan saat akan melangkah mundur, Gibran menarik kedua tangan Raina dan lebih mendekatkan tubuh mereka. Raina kaget dan refleks ia melihat ke arah Gibran. Gibran memeluk Raina kemudian mencium puncak kepalanya.
"Terimakasih," ucap Gibran tepat ditelinga Raina.
"Sama-sama," balas Raina gugup. Kemudian Raina segera turun mempersiapkan sarapan untuk mereka semua.
Kini semua anggota sudah berkumpul dimeja makan, dan sarapan pun telah dihidangkan.
"Hanya nasi goreng?" tanya Yani.
"Ada sandwich juga Tante."
"Sandwich saja, saya tidak mau nasi goreng, nanti kolesterol saya tinggi lagi," ketus Yani. Raina hanya tersenyum, kemudian memberikan sandwich pada piring Yani.
"Milka mau nasi goreng, Tante," pinta Milka sambil menyerahkan piringnya.
"Kakek juga mau."
__ADS_1
"Khusus Kakek, Rai masakin bubur."
"Pasti rasanya lezat."
"Mas Gibran mau nasi atau roti?"
"Gibran, Raina ada dihadapan mu. Saking terpesonanya, kau malah menatapnya saja dari tadi.” Goda Wulan kakak Gibran.
"A-aku mau nasi goreng." Raina pun menuangkan nasi goreng ke atas piring Gibran.
Setelah sarapan Raina dan Gibran pamit kepada semuanya. Meski jarak dari kampus ke kantornya agak jauh Gibran bersikuku untuk mengantar Raina. Dan keadaan hening seperti ini sangat tidak di inginkan Gibran karena bingung harus berbuat apa. Ia ingin sekali mengajak Raina untuk sekadar ngobrol dan mengetahuinya lebih dalam. Tapi entah karena ia terlalu gengsi atau terlalu kaku, sehingga ia tidak tahu dari mana ia harus memulainya.
"Nah itu kampusku Mas," ucap Raina saat ia hampir sampai.
"Pulang jam berapa?" tanya Gibran.
"Jam empat."
"Nanti Mas jemput, ya." Raina hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. Saat hendak turun, Gibran menangkup pipi Raina kemudian membenahi jilbabnya.
"Anak rambutmu keluar sedikit,"
"Terimakasih Mas."
Mereka turun dari mobil, dengan Gibran yang membukakan pintu untuk Raina. Raina pamit, kemudian mencium tangan suaminya dan Gibran balas mencium keningnya.
"Mas berangkat ya, assalaamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." Raina masih terpaku, sampai mobil Gibran benar-benar pergi dari pandangannya.
"**** nganten baru, udah bikin kita envy pagi pagi."
"Apaan sih Iren?" rajuk Raina.
"Pipinya merah saudara-saudara."
“Ada angin apa juga, sekarang kamu pakai jilbab Rai?”
"Bisa-bisa nya ya kamu bohongin kita Rai, bilangnya kak Ana yang nikah, ternyata kamu sendiri yang menikah. Untung aja, mama kamu ngasih tahu kita. Jadi nya kita bisa hadir saat kamu resepsi."
"Rai gak pernah bohongin kalian, Rai juga gak tahu, kenapa namaku yang ia ikrarkan saat ijab kabul?" ucap Raina sedih, membuat para sahabatnya yang berniat rusuh itu menjadi diam.
"Kenapa bisa seperti ini Rai?" tanya Marsya.
"Rai enggak bisa jelasin sekarang, tapi Rai janji, akan cerita pada kalian kalau sudah siap."
"Maafin kita ya Rai, kita paksa-paksa kamu cerita disaat yang tidak tepat. Kita akan sabar nunggu kamu buat cerita sendiri nanti. Kita do'ain semoga kamu bahagia, dan bisa menjadi keluarga yang sakinah mawadah dan warahmah. Kamu enggak perlu canggung buat minta pertolongan kita ya Rai. Karena selamanya kita sahabat," ucap Marsya memeluk Raina di ikuti Irena dan Diki.
"Terimakasih ya, kalian sudah menjadi sahabat terbaiku. Rai tahu, kalian lakuin semua ini, karena rasa sayang kalian sama aku," ucap Raina.
"Melihat perlakuan Mas Gibran tadi sama kamu, Iren yakin, Mas Gibran itu orang yang baik. Dia pasti bisa bahagiain kamu Rai. Dan kamu beruntung banget Raina, dia ganteng pake banget," ujar Iren cungar-cengir.
"Inget Ren, laki orang tuh." celetuk Marsya.
"Makanya Ren, kamu suruh pacar kamu gih buat halalin. Pacaran aja udah tujuh tahun, tapi sampai sekarang belum kasih kepastian. Tujuh tahun kalau dipakai kredit mobil udah lunas kali," ucap Diki pada Iren.
"Bukannya Galih gak mau lamar aku, tahu sendiri kan kalian, ibu sama Ayah belum kasih lampu ijo buat dia."
__ADS_1
"Tapi kalau Galih beneran Cinta sama kamu, dia pasti akan berjuang Irena, Judika say biar mamamu tak suka,...papamu juga melarang, walau dunia menolak ku.."
"Please deh jangan jadi Saepul, Diki. Segala dipakai nyanyi. Mending kalau suaramu bagus ini malah kaya kaleng rombeng."
"Lah emang bener, kan."
"Tapi bener juga kata Iren, Mas mu itu keihatan sayang banget sama kamu Rai," tambah Marsya.
"Tenang aja Rai, kalau dia sampai nyakitin hati kamu, kita gantung Mas mu kaya boneka teru-teru," bela Iren.
***
Jam sudah menunjukan pukul empat sore, dan mata kuliah hari ini pun telah selesai. Teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu karena ada keperluan. Saat hendak bangun dari kursinya, tiba-tiba Raina merasa perutnya sangat kram hingga ia sulit untuk berdiri.
Gibran yang sudah menunggu dari jam empat mulai khawatir, karena jam yang ada ditangannya sudah menunjukan pukul lima. Gibran tidak, ralat belum mempunyai nomor handphone Raina. Namun ia segera ke akademik, untuk menanyakan kelas terakhir Raina.
"Lantai tiga ruang sembilan, baiklah aku kesana sekarang juga."
Saat sampai di ruang sembilan, Gibran kaget karena melihat Raina begitu pucat dan lemas sembari mencengkeram perutnya. Untung saja ia segera kesana, karena ruangan ini benar-benar kosong.
"Mas Gibran," lirih Raina.
Gibran segera menghampiri Raina, kemudian menggendongnya ala bridal. Raina yang sangat lemas hanya pasrah, dan mengalungkan tangannya dileher Gibran. Ia menyusupkan wajahnya di dada bidang Gibran, berharap tidak ada yang melihat mereka sampai masuk kedalam mobil. Kalau ada yang melihatnya digendong seperti ini, apalagi sahabatnya, bisa-bisa ia jadi bahan bully an dan Raina tidak mau itu sampai terjadi.
"Kita ke dokter sekarang," ucap Gibran sambil menyalakan mesin mobil.
"Jangan Mas, Rai enggak papa kok."
"Jangan membantah Raina, kamu tidak baik-baik saja," ucap Gibran sambil terus melajukan mobilnya.
"Kita pulang ke rumah aja, ya," bujuk Raina.
"Hmm."
Sampai dirumah, Gibran menggendong Raina lagi sampai ke kamarnya, walau harus di goda habis-habisan oleh keluarganya ketika berada dibawah tadi. Raina merintih lagi, saat perutnya kembali terasa sakit.
"Mana yang sakit Rai?" tanya Gibran dan Raina hanya mencengkram perutnya kuat. Gibran langsung mengambil minyak angin dan mengusapkannya diperut rata Raina.
"Sudah lebih baik?" Raina hanya menganggukan kepalanya, tapi sesekali ia masih meringis kesakitan. Gibran melonggarkan dasinya, lalu ikut bergabung bersama Raina diranjang, kemudian memeluk Raina dari belakang sambil mengelus-ngelus perut Raina. Awalnya Raina kaget dan malu, tapi perlakuan Gibran membuatnya nyaman sampai ia tertidur.
Handphone Raina berbunyi dan Gibran pun mengangkat telponnya.
"Assalaamu'alaikum, Rai ini Mama."
"Rainanya baru aja tidur Ma," ucap Gibra sembari membeahi selimut Raina.
"Maaf ya, Mama ganggu nak Gibran."
"Enggak papa Ma, barusan Raina mengaduh kesakitan dan terus memegangi perutnya."
"Pantes, perasaan Mama gak enak. Kalau dateng tamu bulanannya, ya gini, Raina suka sakit. Ia baru bisa tidur, kalau Mama elusin perutya."
"Tenang aja Ma, sekarang udah ada Gibran, dan Mama gak perlu khawatir, aku pasti jagain Raina."
"Makasih ya nak Gibran."
"Sama-sama Ma."
__ADS_1