Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
15 Pernikahan Rakana


__ADS_3

"Inhale...... exhale......  terus kak," perintah Raina pada Ana.


"Rai, Ana itu mau nikah bukan mau lahiran," omel mama.


"Maksud Rai kan bantuin, biar kak Ana enggak deg degan Ma."


"Tenang ya sayang, bismillah aja serahin semua nya sama Allah," tenang mama.


"Ana enggak tahu Tante, kalau akan semendebarkan ini," Ana meletakan tangan di dadanya.


"Maafin kakak ya Rai, jujur Kakak sebenarnya malu untuk nunjukin diri Kakak dihadapan kamu. Walau saja waktu itu Kakak- " Raina langung memotong ucapan Ana.


"Sudah Kak," ucap Rai sambil menempelkan telunjuknya dibibir Ana, "Rai ikhlas kak dan semuanya telah terjadi. Lagian Rai sudah bahagia sekarang. Kakak do'akan saja Rai dan Mas Gibran menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan selalu dirahmati Allah. Begitu pula Do'a Rai untuk Kakak sekarang, semoga kakak selalu bahagia menjadi keluarga yang sakinah mawaddah dan warahmah. Mudah-mudahan kelak di akhirat kita bisa dikumpulkan di syurganya Allah Kak," do'a Raina. Ana memeluk Rai dengan erat.


"Terimakasih Rai, Kakak sayang banget sama kamu. Maafin Kakak karena tidak bisa menjadi contoh dan Kakak yang baik untuk mu."


Mama Raina menyunggingkan senyuman nya dengan bahagia. Raina memang tidak sedarah dengan Rakana, tapi ikatan mereka lebih dari saudara kandung.


"Udahan ya nangis nya, bentar lagi ijab kabul dimulai," ucap mama. Ana semakin kuat meremas jemari Raina.


"Bagaimana para saksi sah?"


Sah


"Alhamdulillah." tahmid itu langsung terucap dari Rakana begitu saja.


"Barakallahu lakuma wa baraka alaikuma wa  jama'a bainakuma fil khoir ................ "


Tangis bahagia begitu kentara pada wajah Rakana. Tante Rima yang tadi melihat langsung menantunya mengucapkan ijab qabul, kini tengah masuk ke kamar Rakana dan membawanya turun ke bawah.


Tiap langkah Rakana begitu cantik saat menuruni anak tangga. Fokus sang suami pun tak tergoyahkan tat kala melihat Rakana yang sudah mendekat kepadanya.


"Mas, kak Ana cantik banget ya," ucap Rai menyikut Gibran.


"Tetep cantikan kamu, Yang," Gibran membawa Rai kepelukannya.


"Gombalnya receh banget, Mas," ucap Raina malu-malu.


Selesai akad para tetua berkumpul, sedang Raina sedang menggoda Rakana habis-habisan.


"Cie yang dulu nya sering galau, sekarang happy, yang di pegang tangannya dikit aja, sama sahabatnya sendiri langsung marah."


"Bukan mahram, Raina."


"Iya deh bu ustadzah."


"Mas Hanif yang dulunya sahabat kak An, dan sekarang naik status jadi sahabat hidup. Rai pesen ya, jaga hati dan jiwa kak Ana dengan sepenuh hati kakak. Awas ya lecet sedikit aja kak Hanif enggak akan selamat dari Rai."  Ancam Raina.


"Tenang saja Rai, enggak kamu suruh janji pun kakak akan menjaga Ana dengan jiwa raga bahkan nyawa pun akan kakak pertaruhkan," ucap Hanif yakin membuat Raina tersenyum senang. Kemudian Hanif melanjutkan ucapannya lagi " Tapi kalau sedikit lecet kakak enggak janji dek," ucap Hanif yang dengan refleks nya Rakana mencubit pinggang Hanif. Untung mereka sekarang hanya ber empat.

__ADS_1


"Abang baru tahu kalau adik bisa kejam juga," goda Hanif pada Rakana yang membuat mereka tertawa.


"Kak Hanif lihat Mas Gibran nya biasa aja kali. Kan mas Gibran nikah nya juga sama Rai, bukan kak Ana. Tenang aja kak, mas Gibran udah tersegel hati nya sama Rai," ucap Rai. Kemudian Raina bingung sendiri karena kini Gibran dan Hanif sedang berpelukan.


"Mas sama Hanif itu teman satu kelas pas SD. Kita udah lama enggak ketemu, makanya Hanif lihat mas kaya lihat hantu."


"Oh jadi kalian temenan?" tanya Raina yang di angguki Gibran dan Hanif.


"Temen main ps, sama temen kabur juga," tambah Hanif.


"Mas kita kesana yuk, Rai laper banget nih. Dah kak Ana."


Raina segera ke meja disusul Gibran kemudian makan bersama. Sesekali mereka saling menyuapi.


"Cie pengantin basi, masih aja bikin orang envy," celetuk Diki yang baru saja bergabung bersama mereka.


"Mas rumah kakek kok jadi horor sih."


"Emangnya kenapa yang?"


"Mas, aku denger suara tapi enggak ada wujudnya," ucap Rai begidik ngeri.


"Et dah, dipikir  jin tomang kali," ucap Diki.


"Lah kan memang itu faktanya," timpal Marsya dan Irena yang juga berkumpul di meja Raina.


"Kirain Rai aja yang bolos, kalian juga?"


"Alhamdulillah, berarti Rai enggak ninggalin quis dong."


"Iya Rai. Enggak ada kamu kan aku nyontek sama siapa?" ucap Diki.


"Dasar tukang nyontek, huuw " ejek Iren dan Marsya.


"Kan itu juga, kalau kepepet."


"Kepepet kok sering banget," Marsya mendelikan matanya membuat mereka tertawa.


***


Meski pernah ditinggalkan mama dan papanya menunaikan rukun islam yang ke lima (ibadah haji). Tapi kali ini entah kenapa, Rai agak berat melepas mama, papa, dan juga kakeknya untuk umroh?


"Mau sampai kapan kalian berpelukan seperti itu?" tanya papa saat Raina tak kunjung melepaskan pelukan mamanya.


"Idih papa, minjem Mama bentar aja sewot banget."


"Papa enggak sewot sayang, memangnya mama aja yang mau dipeluk, papa kan juga mau," Raina pun merentangkan kedua tangannya dan berpelukan dengan papa dan mama nya.


"Kamu mau oleh-oleh apa sayang?"

__ADS_1


"Yang biasa aja Ma, biar nanti kita bisa pakai bareng." ujar Raina sembari menaikan sebelah alisnya.


"Siap sayang." ujar mama terkikik.


Tiba-tiba papa Raina menepuk pundak Gibran dan setengah berbisik padanya.


"Siap-siap aja ya nak Gibran, karena kali ini bukan hanya papa yang akan kena usil mereka berdua."


"Maksudnya Pah?"


"Siap-siap aja, setelah kami pulang umroh, kuku kamu bakalan berwarna nanti."


Ya dulu saat mereka pulang menunaikan ibadah haji, ketika papa Rai tertidur dengan iseng nya Rai dan mama nya memakaikan hena ke kuku papanya, dan itu tidak hanya di jari tangan tapi juga dikakinya. Papa Rai jadi tertawa sendiri membayangkan kejadian itu apalagi besoknya papa Rai harus presentasi di kantor.


Mama mengelus perut Raina kemudian mencium perut rata putri tunggalnya itu.


"Cepat hadir ya nak, Oma pengen segera gendong kamu," lirih mama Rai sambil menitikan air matanya.


"Jangan lupa Ma, pas di multajam do'ain Rai biar bisa cepet punya baby."


"Pasti sayang, disetiap shalat bahkan helaan napas Mama dan Papa selalu mendo'akan yang terbaik untuk mu dan Gibran. Mama juga berdo'a agar kalian segera memiliki buah cinta kalian."


"Aamiin makasih Ma, Pah."


"Nak Gibran, Mama sama Papa titip Rai ya."


"Iya Ma."


Suara ketukan pintu terdengar kemudian terlihat tante Rima disana.


"Sudah siap Sinta? " tanya tante Rima pada  mama Rai.


"Sudah kak."


"Kalau begitu, ayo kita berangkat semuanya sudah menuggu di bawah."


Raina dan Gibran mengantarkan mereka hingga depan gerbang Rumah. Mama dan papa Raina pun sudah masuk ke dalam mobil dan mesin pun sudah dinyalakan. Tiba-tiba Raina membuka pintu mobil dan memeluk kembali mama nya.


"Hati-hati ya ma."


"Jaga diri kamu baik-baik sayang," ucap mama sambil menciumi seluruh wajah Raina. Raina melepaskan pelukan nya dan keluar kembali.


Mama dan keluarga nya melambaikan tangan saat mobil mereka telah melaju. Gibran memeluk Raina dari samping dengan erat.


"Jangan nangis yang, kalau kamu mau kita bisa ikut mereka sekarang," ucap Gibran sambil menyeka air mata dipipi  Raina.


"Enggak usah Mas, Rai enggak papa kok. Rai nya lagi kena sindrom cengeng aja."


"Hari ini kita nginep disini aja ya mas?"

__ADS_1


"Iya sayang." ucap Gibran sambil membawa Raina masuk ke dalam rumah.


__ADS_2