Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
28 Kembalinya Gibran


__ADS_3

Seorang pria akhirnya berhasil pulang ke tanah air dengan selamat. Setelah beberapa tahun tinggal diluar negeri dan dijadikan seorang budak.


Ya Gibran adalah salah satu korban human trafficking Yani yang tak lain adalah tantenya sendiri.


Saat kejadian naasnya di hutan kala itu, esoknya Yani datang kembali ke sana dan membawa Gibran yang masih tak sadarkan diri ke suatu tempat.


“Kenapa kita tidak membunuhnya saja Nyonya?” tanya Amas sembari memperhatikan majikannya yang tersenyum miring.


“Kematiannya tidak berguna untuk ku Amas. Aku ingin membuat anak bodoh ini sendiri yang menginginkan maut mendatanginya!”


“Kau tahu Amas, sebentar lagi David dan dua temanku yang lainnya akan segera datang kemari, mereka akan membawa Gibran ke suatu tempat yang sangat jauh, tempat yang tidak hanya menyiksanya secara fisik, tapi juga menghancurkan mentalnya hahahaha,” wanita licik itu terbahak dengan keras. Tak berselang lama, orang yang Yani sebutkan datang kemudian membawa Gibran pergi dari sana.


Hebatnya Yani dalam memanipulasi keadaan, seakan Gibran telah meninggal karena kecelakaan mobil bersama Raina, hingga tidak ada satu orangpun yang menyangka kalau Gibran masih hidup dan dijadikan seorang budak, karena media yang Yani bayar menyatakan kalau Gibran meninggal dan terbakar bersama mobil yang dikemudikannya.

__ADS_1


Saat Gibran bangun ia baru sadar kalau dirinya berada di sebuah ruangan yang sangat sempit sehingga membuat nya merasa begitu sesak karena kekurangan oksigen.


Gibran berusaha meminta pertolongan. Jangankan berteriak, mencoba untuk mengucap satu kata pun sangat sulit dilakukan nya saat itu. Kerongkongan nya terasa begitu kering dan perih, badannya pun terasa begitu lemah. Entah berapa hari ia tak sadarkan diri karena sekarang ia begitu sangat lapar.


Gibran merasa bersyukur tat kala mendengar beberapa orang datang lalu membuka pintu. Ia kira mereka datang untuk menolongnya. Akan tetapi yang terjadi adalah lain, mereka menyeret paksa Gibran ke luar kemudian mengguyur wajah dan tubuh Gibran dengan air. Setelah itu mereka menjejalkan roti yang sangat keras ke dalam mulut Gibran. Selesai makan Gibran di bawa ke ruangan lain dan dimasukkan kedalam sel yang dihuni banyak orang.


Gibran menatap ke sekeliling nya, postur tubuh dan bentuk wajah mereka sangat berbeda dengannya. Pandangannya jatuh pada seseorang yang berwajah asia kemudian Gibran mendekati orang tersebut dan bertanya kepadanya dengan bahasa inggris, karena Gibran tidak tahu bahasa apa yang digunakan para penjaga tadi. Ternyata pria tersebut bernama Bima dan juga berasal dari Indonesia.


Bima sudah satu tahun menjadi tawanan di sana, Bima menceritakan dirinya bagaimana ia bisa masuk ke Negara ini. Namun saat Bima bertanya pada Gibran tiba-tiba para penjaga datang dan membuka sel kemudian para tawanan berhamburan ke luar.


Hari demi hari terus Gibran lewati, melihat bangkai manusia yang tergeletak bukan pemandangan yang baru lagi untuknya. Selain dari kerja rodi yang dilakukan mereka, salah satu penyebab lain mereka meninggal karena dehidrasi dan juga diare, bahkan banyak yang bunuh diri karena putus asa. Para petinggi mereka di sini sangat tidak manusiawi, ketika hidup tenaga yang mereka ambil, dan ketika mati, mereka tak segan untuk menjual organ dalam yang masih berfungsi seperti mata, jantung, paru-paru serta liver.


Gibran tak pernah meninggalkan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk menjalankan shalat lima waktu sebisanya bahkan harus sembunyi-sembunyi, meski ia melakukannya dengan tidak sempurna, bahkan pakaian bersih pun ia tidak punya. Gibran tahu, meski ia menjalankan ibadahnya dengan cacat, tetapi hatinya selalu tertuju pada Allah, Dzat yang selalu bersamanya, dan menguatkannya. Karena Allah lah, ia masih bias melihat mentari, serta menghirup oksigen hingga detik ini. Seberat apapun hari yang ia jalani, semuanya terasa ringan saat bibirnya tak pernah berhenti menyebut kalam Ilahi.

__ADS_1


Allah, Allah, Allah


Malam ini, Gibran tengah memegang mushaf yang sangat kecil pemberian Atif yang juga seorang muslim sebelum pria itu meninggalkan Gibran untuk selamanya. Tidak ada raut kesakitan saat Atif menghembuskan napas terakhirnya, wajah pria berkulit hitam asal Afrika itu justru bercahaya, bahkan ia tersenyum. Gibran selalu berdo’a untuk Atif, mertua, keluarga dan juga Raina.


“Ya Allah, jagalah permata hatiku dimanapun ia berada, aamiin.”


Gibran menutup mushaf itu kemudian menyimpannya di tempat yang aman, karena Allah yang Maha Pemurah, Alhamdulillah sekarang ia sudah hafal seratus empat belas surah yang ada dalam Al-quran.


Waktu terus bergulir, sering Gibran mencoba untuk melarikan diri namun percobaannya itu sia-sia. Terakhir, berkat Allah subhanahu wata’ala, ia bisa melarikan diri bersama Bima bersembunyi di kokpit pesawat untuk ekspor barang ke Singapura. Sampai di sana Gibran selamat, namun Bima sahabatnya tak dapat diselamatkan karena tertembak. Beruntung ia menemukan orang yang baik saat di Singapura dan akhirnya ia bisa kembali lagi ke Indonesia dengan bantuan orang asing itu meski hanya bisa sampai pelabuhan merak.


Gibran kini tengah menuju ke rumahnya, karena tidak mempunyai uang sepeserpun, ia berjalan tertatih-tatih menuju rumahnya. Kendaraan, baik taksi juga angkutan umum tidak ada yang mau di tumpanginya, karena melihat kondisi Gibran saat ini.


Saat ia terus melangkahkan kakinya dengan lunglai, ia tidak fokus tiba-tiba mobil dari belakang kehilangan kendali dan menabrak dirinya, saat itu ia melihat Raina seakan ada di hadapannya. Orang yang paling ia rindukan selama ini, seperti memeluknya menangisinya dan meneriakan namanya hingga semuanya menjadi gelap dan ia tak dapat mendengar apapun lagi.

__ADS_1


Raina langsung ikut masuk kedalam ambulance yang akan membawa Gibran ke rumah sakit, Raina menghubungi mertuanya agar segera datang ke rumah sakit.


"Mas Gibran kamu harus selamat Mas, kamu harus kuat, demi aku. Ya Allah selamatkanlah Mas Gibran, ku mohon."


__ADS_2