Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
12 Saran dari Sahabat


__ADS_3

Karena penasaran dan dilanda kepo tingkat akut, meski jam sudah menunjukan pukul dua belas malam, Raina belum bisa tertidur, sedang Gibran sudah nyenyak dalam mimpinya. Raina membalikan tubuhnya kesana kemari, mencari posisi yang nyaman agar setidaknya ia bisa terpejam. Bayangan Jihan selalu saja mengusiknya, bisa-bisanya dia sok perhatian pada suaminya pake acara kecentilan segala lagi, membuat Raina keki saja.


"Belum tidur hmm?" ucap Gibran yang terusik dengan pergerakan Raina.


"Kenapa?" Tanya Gibran sembari membuka matanya perlahan.


"Enggak bisa tidur," jawab Raina.


 "Sini Mas peluk."


"Enggak mau ah, gerah."


"Loh kok malah liatin Rai  kaya gitu,  udah mas bobo aja lagi, Rai belum ngantuk."


"Mas mau temenin kamu aja."  Gibran memeluk Raina.


"Gerah, ih." ketus Raina, sembari menyingkirkan lengan Gibran dari tubuhnya.


"Kamu marah ya sama Mas?"


"Pikir aja sendiri!"


"Maafin mas, ya Rai sayang."


"hmmm"


"Maafin Mas sayang, tapi kamu enggak boleh pendam sendiri Raina, kamu harus bilang apa salah Mas?  Mana mungkin Mas bisa perbaikin kesalahan, jika kamu tidak memberitahunya. Mas bukan cenayang, yang bisa tahu apa yang kamu pikirkan," tutur Gibran sembari mengusap punggung Raina.


"Rai kesel sama Mas, mata Mas gak bisa dijaga lihat cewek cantik sedikit, langsung genit."


"Cie ada yang cemburu."


"Siapa lagi yang cemburu?"


"Jadi, dari tadi kamu uring-uringan sampai enggak bisa tidur, karena cemburu sama Jihan ya Rai?" tuduh Gibran tepat sasaran.


"Au ah, muka Mas jelek," ucap Raina kemudian menutup badannya dengan selimut, namun berhasil Gibran tarik lagi hingga kini mata Rai dan mata Gibran bertemu.


"Mas seneng kamu cemburu, berarti kamu beneran cinta sama Mas. Kalau gini kan Mas makin cinta sama kamu."


"Maafin mas, besok Mas bakal merem kalau ketemu Jihan."


"Iya mas, Rai maafin. Awas ya kalo bohong!" Ancam Raina kemudian membalas pelukan Gibran hingga ia tertidur.


*******


"Rai, kaus kaki mas dimana?"


"Idih kalau ular udah matok kali Mas, tuh kaos kaki di atas kasur!"


"Hehe, kalau map biru, lihat tidak?"


"Udah Rai masukin tas."


"Ya udah, yuk berangkat."


"Yuk"

__ADS_1


"Banyak sekali buku yang kamu bawa Rai, sini biar Mas yang bawain."


"Makasih Mas, sekalian ya bawain nya sampai kelas."


"Siap tuan putri."


Raina dan Gibran pun siap berangkat menuju kantor dan kampus Raina.


"Kalian tidak sarapan dulu?" tanya Jihan.


"Kami mau sarapan diluar Ji." jawab Gibran.


"Kalau begitu, minumlah teh hangat  dulu ya," ucap Jihan sembari memberikan tehnya pada Gibran dan segera di ambil Raina.


"Terimakasih  Mbak Jihan, baik banget sih," ucap Raina kemudian meminum teh tersebut membuat Jihan melongo dibuatnya.


"Tapi, teh itu aku buatin  untuk Gibran," ucap Jihan sebal.


"Mbak sih telat, mas Gibran sudah minum susu tadi satu gelas besar lagi, kalau sekarang minum lagi, entar perut mas Gibran kembung. Ya udah Rai aja yang wakilin minumnya. Diminum Rai gak papa 'kan mas suami?" ucap Raina mengedipkan sebelah matanya pada Gibran dan suaminya itu tersenyum karenanya.


"Bukannya kamu tidak suka susu kan Al?" Tanya Jihan heran.


"Aku suka, apapun yang Raina sajikan aku menyukainya."


"Berangkat yuk Mas suami, entar kita telat."


"Kita duluan ya Ji, assalaamu'alaikum," pamit Gibran.


"Wa'alaikum salam."


Setelah sampai dikampus, dengan sigap Gibran membukakan pintu mobil untuk Raina.


"Sini bukunya biar Mas antar kamu sampai kelas."


"Enggak ah Mas, Rai aja yang bawa sebentar lagi ada Rena sama Marsya kok. Mas ke kantor aja takutnya telat lagi."


"Rainaaaaaa!" teriak Marsya Irena dan Diki yang berjalan ke arah Raina.


"Tuh kan, baru aja di omongin mereka udah pada dateng. Mas berangkat sekarang aja ya "


"Iya Mas Gibran berangkat aja, Raina biar kita yang jagain." timpal Rena.


"Terimakasih ya, Mas berangkat," Raina pun mencium punggung tangan Gibran dan Gibran mencium kening Raina membuat sahabat Raina envy melihatnya, kemudian malu-malu Raina mencium pipi Gibran dengan cepat.


"Assalaamu'alaikum," pamit Gibran.


"Wa'alaikum salam," jawab Raina dan sahabat-sahabatnya.


"Gila kamu Rai, udah main sosor  aja," ucap Diki.


"Sirik aja kamu Dik, jomblo dilarang baper."


"Dasar jomblo, huww," delik Iren pada Diki.


"Tapi kamu jahat Rai, buat kita mupeng pagi-pagi."


"Makanya kalian cepetan nikah, jadi rasanya punya pacar halal tuh kaya gini ya, seneng banget deh pokoknya." ucap Raina berbunga-bunga.

__ADS_1


"Cie yang lagi jatuh cinta." timpal marsya.


"Biarin, sama suami sendiri kok. Cinta sama pacar DOSA kalau cinta suami itu berPAHALA."


"By the way in the busway, kalian udah pada ngerjain tugas Miss Novri belum?" tanya Marsya.


"Udah dong  tugas HACCP aku dibantuin mas Gibran ngerjainnya, pasti nilai Rai akan sempurna."


"Cie enak banget dibantuin suami."


"Iya dong, apapun kita kerjakan bersama."


"Kiamat dua belas nih." ucap Diki khawatir.


"Kenapa kamu Dik? " tanya Rena.


"Punya aku belum selesai."


"Siap-siap aja disidang  sama Miss Novri," ucap Marsya menakuti Diki.


"Tuh lihat, Miss Novri sudah mau masuk kelas!" tunjuk Raina membuat Diki mati kutu ditempatnya. Mereka pun bergegas memasuki kelas.


Merekapun masuk kedalam kelas, karena tidak membuat tugasnya, akhirnya Diki mendapat hukuman dari dosennya.


"Muka mu kusut banget Dik," ucap Rena pada Diki yang baru gabung ke kantin.


"Dihukum apa sama Miss N Dik? " tanya Marsya.


"Iya, aku disuruh nyelesain tugas yang kemarin diruang dosen. Aku kira hukuman cukup sampai disitu taunya disuruh bersihin toilet yang deket gudang, punggungku rasanya remuk semua."


"Pantasan saja, mukamu sama berantakan kaya toilet sebelah gudang," ucap Rena


"Rasain, makanya kerjain tugas dirumah, bukan dikampus " ucap Marsya.


"Yang habis dari toilet siapa, yang kerasukan siapa," ucap Rena yang melihat Raina melamun.


"Raiiii!" teriak Marsya sembari menggebrak meja.


"Astaghfirullah,"  Raina kaget sembari mengusap dadanya.


"Ngagetin aja sih Sya."


"Kamu mikirin apa  sih Rai, sampai tu ice mencair karena kamu aduk doang dari tadi."


"Aku penasaran aja sama orang baru dirumah Sya, namanya Jihan. Kata kakek sih dia itu sahabatnya mas Gibran dan kak Dinda dari kecil apalagi dulunya mereka bertetangga. Yang bikin aku gemes dia itu kecentilan banget sama mas Gibran, nempel mulu kaya parasit. Pokoknya tuh nenek sihir ambisi banget gangguin aku sama Mas Gibran, pokoknya aku kesel."


"Cie cemburu menguras emosi," ucap Marsya


"Cemburu membuat Raina kaya emak-emak rempong, nyerocos tanpa jeda."ucap Diki


"Gara-gara cemburu, langsung keluar tanduknya Raina," ucap Irena kemudian mereka bertiga tertawa.


"Kalian itu sahabat apa musuh aku sih sebenarnya? Bukannya support malah ngatain."


"Woles dong Rai, berarti kamu memang udah beneran Cinta sama Mas Gibran mu itu," ucap Diki.


"Tapi, kita memang harus menjaga apa yang menjadi milik kita Rai, tunjukin kalau posisimu lebih tinggi dari dia, kamu itu istrinya Gibran dan dia hanya sahabat," ucap Marsya.

__ADS_1


"Lagian Mas Gibran kan Cinta nya sama kamu, jadi tenang aja Rai, kalau dia macam-macam baru kita bertindak," ucap Iren


"Ya udah buruan yuk makannya, bentar lagi kita kuis Farmakologi nih." ucap Rena.


__ADS_2