
Raina berbelok ke sebuah gang kecil kemudian terus berjalan agak masuk ke dalam. Sudah lama sekali ia tak mengunjungi tempat ini, terakhir kali ia ke panti asuhan Melati ini adalah tujuh bulan yang lalu, saat tak sengaja menemukan seorang bayi yang tergeleletak begitu saja, dipinggir jalan sepulang kuliah sore.
"Kak Rai!" Teriak anak-anak panti saat menyadari bahwa Raina datang ke sana. Mereka langsung mengerubungi Raina bagaikan semut.
"Kakak kemana saja? Mira kangen, Kakak enggak kangen ya sama kita?" tanya Mira sembari memeluk Raina.
"Kakak juga kangen banget sama kalian semua, apalagi Mira. Maafin kakak ya kemarin Kakak sibuk."
"Umi ada kan?" tanya Raina.
"Ada kak di ruangannya."
"Ya udah kalian main lagi gih, Kakak mau ketemu Umi dulu."
Raina bergegas menuju ruangan umi.
"Assalaamu'alaikum," ucap Raina sembari mengetuk pintu.
"Wa'alaikum salam. Masuk!"
Raina membuka knop pintu dengan perlahan, terlihat umi Salma sedang membersihkan kaca matanya lalu memasukannya kedalam tempat kaca mata tersebut dan menyimpannya di atas meja.
"Rai ganggu Umi ya?"
"Umi sudah selesai kok baca al-qur'an nya."
"Ya Allah ini kamu Rai, Raina anaknya bu Sinta kan?" tanya Umi yang heran dengan penampilan Raina saat ini, tapi umi Salma sangat bersyukur dengan perubahan Rai yang sekarang.
"Iya Umi, ini Rai."
"Umi sehat kan?"
"Umi sehat sayang. Ma Sya Allah, Umi pangling banget lihat kamu nak, jadi tambah cantik dengan jilbab. Kamu gimana kabarnya sayang, sudah lama sekali kamu tidak berkunjung ke sini?"
"Rai baik Umi," ucap Raina sembari menyunggingkan senyumannya.
Raina menceritakan semuanya pada umi Salma, termasuk pernikahannya dengan Gibran hingga akhirnya ia berusaha untuk mejadi seorang istri dan muslimah yang selalu ta’at pada Rabb dan juga suaminya.
"Rai mau lihat Arkan Mi, pasti sekarang dia sudah bisa merangkak."
"Kamu benar sayang, Arkan sudah merangkak, malah sekarang dia sudah mulai mau bicara juga," jelas umi.
"Rai makin enggak sabar untuk ketemu Arkan."
"Ya udah yuk," ajak umi.
Arkan rupanya sedang bersama suster Riska di taman belakang. Bayi yang dulu masih merah itu, saat pertama kali Raina temukan, kini tumbuh semakin menggemaskan. Arkan tertawa saat suster Riska mengangkatnya tinggi-tinggi.
"Boleh Rai gendong sebentar Arkannya Sus?" tanya Rai pada suster Riska yang sedang asyik bermain dengan Arkan.
"Oh boleh," ujar suster Riska sembari memberikan Arkan pada Raina. Suster Riska pun pamit untuk mengawasi anak-anak panti.
Raina bersyukur karena Arkan tidak menangis saat ia gendong.
"Arkan chubby sekali pipinya, iya Umi?"
"Iya Raina. Sudah banyak sekali pasangan yang ingin mengadopsi Arkan. Tapi kamu tahu sendiri kan Rai, Umi tidak akan memberikan mereka pada orangtua baru, kecuali jika mereka sendiri yang menginginkannya."
__ADS_1
"Iya Umi, Rai tahu."
"Ma mama mamamama." oceh Arkan.
"Arkan panggil aku Mama Umi," ucap Raina dengan bahagia.
"Itu kata pertama nya Arkan loh Rai."
"Masa sih umi?"
"Iya."
Sementara, Gibran sudah menunggu Raina dari jam dua siang didepan kampusnya, tapi hingga sekarang Raina belum keluar juga. Gibran pun masuk ke dalam dan menanyakan keberadaan Raina, namun nihil. Gibran menepuk jidatnya sendiri, ia pun segera membuka handphone nya dan melihat gps yang ia pasang pada handphone Raina dan Gibran tersenyum karena kini ia tahu dimana Raina berada.
Gibran kini sudah sampai di panti. Ia berjalan ke salah satu kamar yang ditunjukan oleh umi Salma padanya. Rupanya Raina sedang berbincang dengan seorang anak kecil, Gibran pun sengaja tak masuk, dan penasaran juga apa sih yang sedang Raina bahas dengan anak kecil itu.
"Meskinya Isal tetap main juga, sama teman-teman yang lain. Isal harus bersosialisasi, enggak mesti belajar terus-terusan seperti ini," nasihat Raina pada Faisal, karena umi mengatakan padanya, bahwa Faisal kini sangat tertutup dan sangat sulit untuk makan.
"Aku mau serius belajar, biar bisa jadi dokter, terus nikah sama Kakak." ucap Faisal dengan serius. Gibran mengernyitkan dahinya dengan pernyataan Faisal barusan.
Raina dulu pernah bercerita pada mereka, bahwa suatu hari ia akan menikah dengan seorang dokter. Raina tidak tahu, kalau ucapannya kala itu dianggap serius oleh Faisal.
"Iya Isal sayang, semangat belajar kamu bagus banget, tapi harus bisa bagi waktu juga, harus tetap gabung sama anak panti lainnya, dan jangan lupa makan ya," ucap Raina sambil mengusap kepala Faisal.
"Iya Kakak."
"Ini, Kakak bawa makanan, Isal makan ya. Jangan lupa bagi sama temennya juga."
"Baik-baik ya kalian di sini. Jangan bandel, dan jangan repotin suster sama Umi, ok? Kakak pulang dulu ya sudah sore," pesan Raina. Raina melihat ke arah pintu dan melihat Gibran ada di sana.
"Mas Gibran!" ucap Raina sambil menatap Gibran.
"Om itu siapa Kak?" Faisal bertanya pada Raina.
Baru saja Raina akan membuka mulutnya, tiba-tiba Gibran menghampirinya dengan membawa sekantung penuh mainan dan makanan.
"Hai adik-adik, Om bawa sesuatu untuk kalian," semua anak langsung berhambur ke arah Gibran, kecuali Faisal yang masih betah di atas ranjangnya.
"Mas kenapa bisa ke sini?"
"Karena kamu ada di sini sayang."
"Mas menguntitku ya?" tanya Raina yang hanya dibalas senyuman oleh Gibran.
"Terimakasih Om, barbie nya cantik, Mira suka," ucap Mira sembari menunjukan bonekanya itu pada Gibran dan Raina.
"Sama-sama sayang."
"Tadi Mira denger, Om bilang sayang sama Kakak. Om pacarnya Kakak ya? Apa om ini pangeran berjas putihnya kak Rai?" tanya Mira membuat Faisal tidak suka.
Gibran melirik ke arah Raina meminta penjelasan "Pangeran berjas putih?"
"Dokter Om," jawab Mira
Tok tok tok
"Anak-anak sebentar lagi jadwalnya kalian mengaji, ayo siap-siap masuk kelas!" panggil Riska.
__ADS_1
"Kakak pulang ya."
"Iya kak."
"Sus, saya titip anak-anak ya saya dan mas Gibran mau pulang sekarang. Assalaamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam. Hati-hati ya Bu, Pak."
Kini Raina sudah berada di dalam mobil Gibran dan pasrah dengan serbuan pertanyaan yang akan Gibran layangkan padanya. Tapi keduanya larut dalam pikiranya masing-masing. Raina lebih memilih melihat pemandangan dari kaca mobil disampingnya. Tatapan Gibran fokus ke jalan, tangan kanannya memegang stir sementara kini tangan kirinya ia tautkan pada jemari Raina.
"Eng" Raina tersentak dari lamunannya.
"Apakah kamu merasa lebih senang hari ini?"
"Hmmmm." Raina tersenyum.
"Lain kali jangan pergi sendiri ya. Mas khawatir banget, takut kamu kenapa-napa."
"Iya mas, Rai janji, ini yang terakhir. Tapi Mas kenapa bisa tahu kalau Rai datang ke panti?"
"Gps," Rai merutuki dirinya sendiri pantas saja.
"Lagipula, Mas juga salah satu donatur di sana. Tetapi, Mas jarang sekali ketemu langsung sama anak-anak."
Raina sangat menyukai anak kecil. Terlahir menjadi anak tunggal, membuatnya sangat kesepian. Raina selalu merengek pada mamanya meminta adik ketika ia masih kecil, tapi rahim mama Rai harus di angkat karena serviks.
Setelah menikah dengan Gibran, tak pernah sekalipun Raina meminum pil kontrasepsi meskipun kini ia masih kuliah. Baginya mempunyai seorang anak akan menjadi pelengkap kebahagiaannya bersama Gibran. Ia begitu merasa senang kemarin saat tamu bulanannya tidak datang. Raina memang sempat down kemarin. Namun, ia harus berbesar hati, bahwa ia belum hamil. Kini ia sudah menerima semuanya dengan lapang dada, semuanya memang butuh proses. Lagipula pernikahannya dengan Gibran baru berjalan tujuh bulan. Masih banyak waktu untuknya dan Gibran untuk berusaha dan terus berdo'a hingga suatu saat nanti Allah memberikan amanah itu padanya.
"Mas jangan pulang dulu ke rumah ya. Rai mau nonton dulu, Marsya bilang ada film bagus katanya," ucap Rai sambil memeluk lengan Gibran.
"Kemanapun yang kamu mau sayang," Gibran membanting stir ke pusat perbelanjaan.
Selesai shalat dan makan. Gibran pun membeli tiket film yang akan mereka tonton.
"Film nya dimulai jam sembilan, berarti masih dua jam lagi. Mau nunggu dimana?"
"Kalau gitu, Mas ikut aku dulu!" ucap Rai sembari menarik tangan Gibran.
"Mas Rai mau boneka yang itu, pokoknya harus dapet ya."
"Kalau Mas berhasil kamu mau kasih Mas apa?"
"Apapun yang mas inginkan."
"Bener nih?" tanya Gibran sambil menaikan sebelah alisnya.
"Cepetan deh Mas, banyak banget negosiasinya."
Gibran fokus pada boneka yang di inginkan Raina. Kemudian ia terus menggeserkan tangannya ke kanan dan ke kiri pada mesin penarik boneka itu hingga Gibran berhasil mendapatkannya.
Raina memeluk Gibran dengan bahagia. Padahal, setiap kali ia mencobanya bersama Marsya Iren dan Diki, ia selalu saja gaga,l dan kini dengan satu kali saja Gibran berhasil mendapatkannya.
"Mas hebat banget."
"Hadiahnya nanti pas kita pulang di rumah ya sayang," tagih Gibran pada Raina.
"Iya Mas kalu Rai enggak lupa." ucap Raina sambil berlari meninggalkan Gibran menuju bioskop.
__ADS_1
Gibran menggelengkan kepalanya. Dia sudah susah payah untuk mendapatkan boneka tersebut, dan kini ia malah ditinggalkan. Tapi, mekipun begitu ia merasa bahagia karena Raina kini tak bersedih lagi.