
Melepaskan ikatan pertunangan
Tiga hari sudah berlalu, semua anggota keluarga Wardiman sangat terkejut, tentunya kejutan yang membuat mereka begitu bahagia. Mereka semua sekarang sedang berkumpul di ruang tunggu rumah sakit keculai Yani, kakek sengaja mengancam tidak boleh ada seorangpun yang memberitahu kepada rubah itu tentang kembalinya Gibran, terlebih lagi sekarang Yani sedang berada di luar negeri, bisa-bisa wanita itu melarikan diri atau bersembunyi karena kasusnya telah terbongkar, yang jelas kakek sudah mengajukan perkara ini ke meja hijau. Hingga Yani harus mempertanggungjawabkan apa yang dilakukannya saat kembali ke Jakarta.
Wulan yang begitu mempercayai Yani merasa sangat bersalah pada Raina, terlebih ia pernah membenci Raina karena kesalahpahaman ini, dan ia merasa bersalah karena menganggap kejujuran Raina sebagai bentuk gangguan kejiwaan.
Hanya Raina lah yang kini ada di ruangan Gibran, mereka sengaja memberi privasi untuk Gibran dan Raina sehingga hanya menunggu di luar.
Tiba-tiba seorang suster masuk dan hendak memeriksa kondisi Gibran.
"Bu, saya bersihkan Bapak dulu ya?"
"Jangan Sus, biar saya saja yang melakukannya," pinta Raina pada perawat wanita itu. Suster Dini yang Raina ketahui lihat lewat name tag nya itu kemudian memberikan peralatannya pada Raina.
"Baik, kalau begitu saya permisi ya Bu," pamit Dini. Kemudian suster itu pergi setelah Raina menganggukan kepalanya.
Raina menatap Gibran dengan lekat, lagi-lagi air matanya mengalir.
"Mas, kapan kamu bangun. Aku kangen kamu, Mas."
"Mas kemana aja kamu selama ini hmm? Kamu makan dengan baik tidak? Kenapa kamu sangat kurus sekarang, Mas? Huhuhu... Ya Allah, apa yang terjadi pada Mas Gibran selama ini? Mas..... Ya Allah."
Jangankan Raina, siapapun yang melihat kondisi Gibran saat ini akan merasakan sedih luar biasa, apalagi Raina?
Wajah Gibran sangat tirus, kusam tulang pipinya terlihat menonjol, tubuhnya sangat kurus, saking kurusnya hanya tulang yang terbungkus kulit, warna kulit Gibran pun berubah menjadi hitam namun pias. Raina membuka baju Gibran dengan perlahan, tangan Raina bergetar hati ya lagi-lagi mencelos, sakit sekali rasanya melihat tulang dada Gibran tertonjol keluar.
"Allahu Rabbi, Mas." Raina menutup mulutnya dengan telapak tangannya, melihat luka cambukan juga sayatan pada badan Gibran, kulit badannya berwarna putih kontras sekali dengan bagian tubuhnya yang tidak tertutupi baju.
"Huuhuhuhu Ya Allah, aku enggak kuat. Maafin aku Mas."
Dibersihkannya tubuh Gibran dengan hati-hati, Rai mengelap tubuh Gibran dengan lembut, ia juga merasa perih pada tubuhnya kala melakukan itu.
Selesai dengan pekerjaannya, Raina kembali memasangkan baju baru pada suaminya, kemudian menyimpan peralatan itu dimeja. Raina kembali duduk disamping bangsal Gibran. Diraihnya sebelah tangan Gibran yang tidak memakai selang infus, kemudian menaruh jemari Gibran dipipinya. Raina ciumi jemari Gibran berulang-ulang. Raina kemudian memeluk Gibran dari samping, sembari meletakan kepalanya dibangsal Gibran, kemudian wanita itu mengajak lagi Gibran bicara.
"Mas bangun, Mas."
"Rai bener-bener gak kuat kalau Mas harus ninggalin aku lagi, aku gak kuat Mas, aku gak akan sanggup. Jika mas kali ini benar-benar ninggalin Rai, Rai gak tahu apakah Rai masih bisa melanjutkan hidup? Ya Allah, sadarkan Mas Gibranku Ya Allah. Huhhuhu."
Raina terdiam sesaat, ketika merasakan ada pergerakan kecil dari Gibran. Raina bangun, menegakkan tubuhnya, Raina melihat dengan jelas saat Gibran berusaha membuka matanya.
__ADS_1
"Mas, Mas, kamu denger aku 'kan? Ini aku Mas, Raina."
Senyum kemudian terpancar dari bibir Raina, saat Gibran melihatnya, dan pria itu tersenyum dengan lemah pada Raina.
"Alhamdulillah Ya Allah, terimakasih engkau telah mengabulkan do'aku," Raina kemudian menekan tombol, tak lama setelah itu dokter dan beberapa suster langsung datang ke ruangannya.
Mama, papa, kakek, dan Wulan pun langsung penasaran pada saat dokter dan beberapa perawat itu masuk ke ruangan Gibran. Mereka hanya melihat dari kaca saat para ahli medis itu memeriksa Gibran.
Kemudian para ahli medis tersebut keluar setelah mengatakan sesuatu pada Raina.
"Dok, apa yang terjadi pada putra saya?" tanya Rahmi.
"Pasien sudah siuman dan sudah memiliki kemajuan. Namun, bergantian saja untuk melihatnya."
"Terimakasih dok."
Mama Gibran langsung masuk saat dokter dan para perawat itu kembali bertugas, wanita paru baya itu duduk disamping Raina.
"Mama," suara Gibran begitu pelan.
"Iya sayang Mama disini." Sebelah tangan Rahmi memeluk Raina dan sebelah tangannya ia gunakan untuk mengusap pipi Gibran. Gibran tersenyum dan juga menangis, tidak mereka bertiga seperti itu diwaktu yang bersamaan.
***
Kondisi Gibran berangsur pulih, dan kini lelaki itu sudah bisa mendudukan tubuhnya di atas ranjang. Mata cekungnya itu terus saja memperhatikan Raina yang sedang memotong apel merah untuknya.
"Aaaa," perintah Raina agar Gibran membuka mulutnya. Namun yang pria itu lakukan adalah mengenggenggam jemari yang akan menyuapinya itu, kemudian mendekatkan tubuh mereka dan memeluk wanita yang menggunakan gamis berwarna kuning itu dengan erat. Tubuh Raina mematung, namun ia membalas pelukan Gibran pada akhirnya.
"Mas kangen sama kamu."
"Aku juga Mas." Raina merasa pelukan Gibran bertambah ketat, selain itu Gibran juga menciumi kepala Rai yang tertutup hijab sewarna dengan gamis yang dipakainya.
Pria itu kemudian menguraikan pelukannya selepas mengecup kening Raina, lalu menyandarkan kembali tubuhnya ke kepala rangjang dengan dua bantal besar sebagai penyangganya.
Raina kembali menyuapi Gibran, sesaat hanya hening dan hanya kunyahan pelan Gibran lah yang terdengar.
"Ukhuk... Ukhuk."
"Minum Mas," Raina langsung memberikan Gibran segelas air.
"Terimakasih," ucap Gibran sembari menyerahkan kembali gelas itu pada Raina.
__ADS_1
Dua sejoli itu tidak tahu, bahwa sedari tadi seorang pria yang memakai jas berwarna putih tengah memperhatikan mereka dimuka pintu.
Arvi tersenyum melihat Raina bisa kembali bersama Gibran, semenjak ada Gibran ia belum pernah menemui Raina hingga saat ini. Arvi akan memenuhi janjinya untuk selalu membuat Raina bahagia. Dan Arvi tahu, kebahagiaan Raina ada pada Gibran. Arvi siap melepaskan Raina, meski itu membuat hatinya patah.
"Kak Arvi?" tanya Raina saat melihat dokter muda itu ada didepan pintu.
"Mas, sebentar ya." Rai kemudian mendekati Arvi setelah Gibran menganggukan kepalanya.
"Ada yang harus kita bicarakan Kak."
Raina dan Arvi kini sudah berada di cafe samping rumah sakit.
"Kamu apa kabar Rai?"
"Alhamdulillah aku baik Kak, Kakak sendiri?" Arvi hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum.
Raina kemudian melepaskan gelang yang ada ditangannya, kemudian menaruhnya dimeja yang ada dihadapan Arvi.
"Maafin Rai Kak, aku gak bisa lanjutin semua ini. Maafin aku yang sudah jahat sama Kakak, tapi aku tak ingin lebih menyakiti perasaan kakak jika hubungan ini harus berlanjut. Sekali lagi maafin aku."
"Tidak perlu ada yang dimaafkan Rai, kamu tidak salah. Saya ikhlas melepaskan kamu. Tapi kamu harus janji."
"Janji?"
"Kamu harus bahagia."
"Terimakasih Kak. Kakak juga harus bahagia ya."
"Hmm."
"Kakak permisi ya, masih ada praktek hari ini."
"Iya."
Arvi bohong, karena sebenarnya shiftnya hari ini sudah selesai, ia hanya takut jika berlama-lama melihat orang yang dicintainya itu, ia akan lupa diri dan menjadi tamak ingin memilikinya. Saat ini ia akan pergi, untuk menyembuhkan hatinya walau entah berapa lama.
Raina merasa beban dihatinya menguap entah kemana, yang jelas ia merasa lega sekali. Arvi memang pria yang sangat baik, pasti siapapun akan beruntung jika ada disisinya. Namun, hati Raina sudah lebih jauh terikat dengan Gibran. Raina mendo'akan agar Arvi mendapatkan seseorang yang lebih segalanya darinya, lebih shalihah, lebih cantik, lebih baik dan tentu juga mencintai Arvi.
Raina segera bergegas kembali ke rumah sakit, ia tak mau Gibran terlalu lama menunggunya.
__ADS_1