Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
17 False Pregnancy


__ADS_3

"Yes tinggal satu mata kuliah lagi ujian kita. Aku seneng banget." ucap Iren.


"Say goodbye buat semester tujuh, dan Hello buat semester 8 terus wisuda deh. Sebentar lagi kita lulus," timpal Marsya.


"Iya, enggak kerasa ya," ucap Diki.


"Eh Rai tumben lesu amat," ucap Diki karena Raina diam saja.


"Enggak papa cuma laper, ke kantin yuk. "


"Ayuk."


Seperti biasa meja no 5 ini selalu saja kosong bila mereka ke kantin.


"Eh Rai enggak kurang pedes tuh, bakso dikuah pakai cabai, banyak banget lagi."


"Diem. lama-lama kamu yang aku makan Dik." ketus Raina meunjuk Diki degan sendok yang dipegangnya.


"Santai bu, sensi amat, kaya yang enggak dapet jatah dari suami aja."


"Diki Wahyudi!" Raina menggeram.


"Damai Rai, sumpah enggak lagi-lagi," cicit Diki ketakutan.


"Rai aku bawa cake kesukaan mu loh. Cake ini baru aja dibikin Mom kemarin. Mommy juga kangen sama kamu, soalnya sekarang kamu jarang banget ke rumah."


"Salam ya buat Tante Sya. Ok deh lusa kita ke rumah mu Sya. Ini cake nya makasih banget ya, lumayan obat pedes."


Baru saja Raina menggigit sepotong cake itu, tiba-tiba perutnya terasa sangat melilit, dan ia langsung berlari ke toilet yang ada disebelah kantin. Marsya dan Rena langsung menyusul Raina. Marsya memijat tenguk Raina saat Raina memuntahkan isi perutnya ke wastafel.


"Kamu enggak papa Rai?"


"Aku enggak papa Sya. Masuk angin aja kali. Yuk balik lagi!"


"Rai aku anter pulang aja ya, kamunya pucet gitu."


"Udah ah Ren, Sya, beneran aku enggak papa, kita ke kantin aja lagi."


"Iya deh Rai."


Marsya dan Rena benar-benar heran, karena Raina kini kembali baik-baik saja, bahkan sekarang Raina sekarang sedang menghabiskan cake yang dibawa nya.


"Rai aku mau tanya sama kamu?"


"Nanya ya nanya aja Sya, biasa nya juga enggak pakai ijin, aneh banget," ucap Rai yang masih asyik dengan cake coklat tersebut.


"Bulan ini kamu udah dapet tamu bulanan belum?"


Raina terdiam sesaat dan mengingat kapan terakhir ia mendapat tamu bulanannya.


"Jangan-jangan kamu hamil lagi Rai," terka Rena.


"Hamil juga enggak papa kali, ada bapak nya ini pakai heboh gitu kamu Ren," ujar Diki.


"Diki nyebelin banget sih."


Raina tersenyum senang. Iya sangat yakin, kalau di rahimnya kini tengah ada buah hati nya bersama Gibran.


"Aku udah telat dua minggu Sya Dik Ren. Aku telat," ucap Raina dengan gembira sambil mengelus perutnya.


"Do'a in ya, mudah-mudahan aku benar-benar hamil, pokoknya sore ini juga aku mau periksa."


"Aamiin. Asyik kita bakalan cepet jadi aunty."


"Terimakasih ya teman-teman. Aku pulang duluan ya bye semua."


"Main bye bye aja. Pokoknya kamu enggak boleh pulang sendiri Rai, aku takut calon keponakan kita kenapa-napa." ucap Diki.


"Diki bener Rai, kita akan antar kamu pulang ke rumah dengan selamat."


"Terimakasih aunty," ucap Raina.

__ADS_1


***


Gibran menyelesaikan pekerjaan dengan cepat agar bisa pulang ke rumah lebih awal. Gibran tak mau kesalah pahaman ini berlanjut, dan berdampak buruk pada hubungannya dengan Raina.


Sampai di rumah Gibran tersenyum karena Raina ada di kamarnya.


"Assalamu'alaikum, Mas pulang."


"Wa'alaikum salam," jawab Raina kemudian menghambur ke pelukan Gibran. Gibran senang, karena Raina sudah tidak marah lagi kepada nya.


"Mas mau bicara,"


"Rai mau bicara,"  ucap mereka bersamaan. Gibran dan Raina merasa dejavu mengingat bahwa ini juga pernah terjadi dulu. Kemudian mereka berdua tertawa bersama.


"Kali ini, Mas dulu yang mau bicara. Mas mau jelasin kejadian tadi pagi, Mas takut kamu salah paham."


"Iya Mas aja duluan. Rai akan menjadi pendengar yang baik."


"Maafin Mas. Mas tidak bermaksud menyakiti kamu Rai."


"Iya Rai tahu kok Mas. Rai udah maafin Mas kok."


"Coba aja Rai, kamu lihat ekspresinya Jihan saat mau buka mulutnya, terus malah kamu makan makanannya."


"Udah ah jangan bahas itu. Mas masih cinta ya sama dia?"


"Tuh kan, Mas mau negasin ini. Mas beneran sudah tidak ada perasaan lagi untuknya Rai, karena di hati pikiran dan hidup Mas hanya ada kamu. Mas kasihan sama Jihan, dia udah enggak punya siapa-siapa lagi selain kita. Kita enggak mungkin biarin dia dalam keadaan terpuruk seperti ini."


"Iya mas, Rai ngerti. Tapi, kenapa mbak Jihan bisa hamil? Apa mas tahu siapa ayah dari anak yang dikandung Mbak Jihan?"


"Kehidupan di sana sangat bebas, dan Biyan adalah ayah dari anak yang dikandung Jihan. Tetapi lelaki brengsek itu sudah meninggalkannya. Kemarin Jihan sangat syok saat tahu bahwa dia hamil, lalu tanpa berpikir panjang, ia putuskan untuk mengakhiri hidupnya."


"Kasihan Mbak Jihan ya Mas." ucap Raina.


“Dan, satu lagi. Jihan minta maaf sama kamu Rai.”


“Serius? Mas tidak bohong?” Gibran menggelengkan kepalanya.


Bukannya bicara Raina malah lari ke toilet dan kembali memuntahkan isi perutnya.


"Huek... huek."


"Kamu kenapa Rai?" ucap Gibran sembari memijat tenguk Raina.


Raina benar-benar lemas sekarang, dari tadi tak hentinya ia muntah sembari menunggu Gibran pulang.


"Eh," Raina kaget karena Gibran tengah membopongnya dan meletakannya ke atas kasur dengan hati-hati.


"Mas aku udah telat dua minggu. Kita kedokter yuk, Rai mau periksa sekalian jenguk Mbak Jihan, ya."


Gibran tersenyum senang. Jadi tingkah istrinya aneh karena ia sedang hamil. Gibran merutuki dirinya sendiri merasa begitu bodoh.


"Iya sayang."


Gibran mencium kening dan wajah Raina, kemudian mencium perut rata Raina. Ia benar-benar yakin, bahwa istrinya kini tengah mengandung buah cinta mereka.


"Bagaimana dok?" tanya Gibran saat Raina selesai menjalani beberapa pemeriksaan.


"Mohon maaf Pak, istri anda mengalami pseudocyesis. "


"Maksud dokter?"


"False pregnancy atau pseudocyesis, adalah suatu kondisi yang terjadi dimana seorang wanita seperti hamil padahal secara medis tidak hamil. Gejalanya memang mirip dengan kehamilan seperti berhentinya menstruasi, perbesaran payudara, mual dan muntah. Namun, saat pemeriksaan ultrasonografi hanya ditemukan Rahim yang kosong, membesar dan kadang ditemukan perlunakan dari leher Rahim seperti wanita hamil yang senbenarnya. Tapi tidak ditemukan tanda – tanda adanya janin atau kehidupan janin," Jelas dokter.


"Bapak dan ibu masih muda, masih banyak kesempatan. Teruslah berikhtiar dan berdo'a karena tak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak," tutur dr. Vera Setiawati, Sp.Og.


"Terimakasih dok."


Sesampainya mereka pulang, tak sepatatah kata pun keluar dari bibir Raina. Ia sangat yakin kalau diagnosa dokter tadi adalah kekeliruan. Dalam benaknya ia menguatkan bahwa janin nya masih sangat kecil, sehingga tidak terdeteksi oleh alat USG itu.


"Sayang," panggil Gibran dan Raina masih asyik dalam lamunannya.

__ADS_1


Gibran mendekap Raina dengan erat. Raina bergeming, hingga akhirnya tetesan demi tetesan dari kelopak matanya itu luruh ke pipi.


"Mas, hiks... hiks." isak Raina dalam pelukan Gibran.


"Sayang jangan menangis lagi," tenang Gibran.


"Mas, alat itu salahkan? Diagnosa dokter salahkan?" tanya Raina. Gibran tak menjawab pertanyaan Raina yang ia lakukan hanya semakin erat memeluk Raina berusaha menguatkannya. Gibran tak ingin memberikan harapan kosong untuk Raina, namun tak kuasa juga melihat Raina seperti ini.


"Aku benar-benar merasakan kehadirannya Mas," ucap Raina sembari menjauhkan tubuhnya dari Gibran.


Raina meraih tangan Gibran kemudian menempelkannya diperutnya. "Dia ada disini Mas. Dapatkah kau merasakannya jua?" ujar Raina meyakinkan Gibran. Gibran menarik kembali Raina dan memeluknya dengan erat.


"Sayang, terkadang apa yang begitu kita inginkan, tidak akan selalu menjadi milik kita. Anak adalah amanah dari Allah. Mungkin saat ini, belum saatnya kita mengemban amanah yang mulia itu," ucap Gibran sembari mengelus punggung Raina.


"Percayalah bila saat nya tiba, pasti Allah akan memberikannya. Yang harus kita lakukan sekarang adalah terus berikhtiar, berdo'a serta menantinya dalam sabar," tenang Gibran dan terus memeluk Raina hingga istrinya tertidur.


Pagi-pagi sekali Raina terbangun dan memuntahkan semua isi perutnya. Gibran berusaha agar ia selalu bisa disisi Raina. Dokter bilang false pregnancy ini bisa terjadi selama beberapa minggu hingga berbulan-bulan.


Raina berbaring diranjang dengan begitu lemas. Gibran datang dengan membawa teh manis hangat.


"Diminum dulu Yang," ucap Gibran sambil meminumkannya pada Raina.


"Lucu ya mas, katanya aku enggak hamil tapi kok gini ya?" Raina tersenyum miris.


"Malah terus-terusan repotin kamu, mas," ucap Raina tertunduk.


"Kok sedih gitu sih. Ini kan bagian latihan kita juga. Jadi nanti sudah tidak kaku lagi," ucap Gibran mencairkan suasana.


"Kamu istirahat dulu aja sayang. Mas mau mandi dulu."


Selesai mandi dan komplit memakai setelan kerjanya Gibran mengajak Raina sarapan pagi. Kakak dan suaminya serta si lucu Milka baru saja pulang setelah menghabiskan liburan mereka di Bandung.


Saat hendak membuka pintu kamarnya, Raina menahan lengan Gibran.


"Mas jangan beritahu siapa-siapa dulu ya. Rai malu." ucap Raina cemas.


"Iya sayang." Gibran mengelus pipi Raina.


"Tante!" teriak Milka dan berhambur kepelukan Raina.


"Gimana liburannya sayang?" tanya Raina.


"Seru banget tante. Milka suka."


Jawab milka dengan antusias.


"Milka ke Trans studio, terus ke Farmhouse terus ke rumah kelinci di Foat mmh di Foat apa bunda?" tanya Milka pada ibunya.


"Di Floating Market sayang."


"Iya di sana Tante. Kelincinya lucu-lucu, Milka kasih mereka makan juga tante. Pokoknya seru," Milka berceloteh dengan riang.


"Kalau Ayah libur kerja lagi, kita kesana lagi ya Yah?" pinta Milka yang di angguki ayahnya.


"Kamu sakit Rai, wajah kamu pucet banget?" tanya Wulan saudara iparnya ini.


"Kecapean aja kali Kak, maklum sedang ujian. Untung hari ini hari terakhir," Raina tersenyum lemah.


"Belajarnya jangan terlalu di porsir lah Rai. Inget, harus tetep jaga kesehatan juga," wejang Wulan.


"Siap Kak."


Gibran sudah kehabisan akal, membujuk Raina agar ia ikut ujian susulan. Tapi Raina kekeh ingin ujian, karena ini hari terakhir. Bukan apa-apa, Gibran sangat mencemaskan Raina, terlebih kondisi Raina yang sedang tidak stabil seperti ini.


"Mas berangkat aja, Rai enggak papa kok," Raina meyakinkan Gibran.


"Tapi pulangnya jangan sendiri ya. Pokoknya harus hubungin Mas. Mas yang jemput," ucap Gibran.


"Ia Mas bawelku," ucap Raina kemudian mengecup punggung tangan Gibran kemudian segera masuk ke ruangannya.


Raina berbohong kalau hari ini masih ujian. Pasalnya mata kuliah yang di ujian kan hari ini sudah di ambilnya saat ia masih semester lima.

__ADS_1


Saat mobil Gibran benar-benar lenyap dari penglihatannya, barulah ia keluar dari kampus dan melangkah kemana hatinya membawa. Ia tak ingin lari dari kenyataan, hanya saja ia butuh waktu untuknya sendiri saat ini.


__ADS_2