
Raina mengerjapkan matanya saat merasa gerah luar biasa dan mendengar teriakan-teriakan dari luar, ketika matanya terbuka sempurna, ia kaget, ruangan yang ia tempati kini tengah terlalap api.
Raina bangun dari ranjangnya, dan ia baru sadar kalau dirinya sedang berada di rumah sakit sekarang. Raina melepaskan selang infus yang terpasang dilengannya, Raina mulai memutar otaknya, agar ia bisa keluar dari ruangan ini dengan selamat.
Raina turun dari bangsalnya sembari membawa selimut, kemudian ia kasuk ke dalam toilet yang berada di ruangan tersebut. Raina mengguyur terlebih dahulu tubuhnya dengan air, kemudian ia membasahi selimutnya, lalu ia kenakan selimut basah itu untuk menutupi tubuh kecilnya.
Raina berlari ke luar ruangan sembari terbatuk-batuk, lorong rs ini sangat pekat dengan asap.
"Toloooong!"
Raina mendengar teriakan seorang wanita meminta tolong, di ruangan yang baru saja ia lewati. Raina mundur, kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. Dilihatnya seorang wanita parubaya dengan mata berlinang, rautnya sangat ketakutan. Raina merasa tidak asing dengan wajah tersebut.
__ADS_1
"Bu, ayo kita keluar," ucap Raina sembari memberikan tangannya.
"Saya tidak bisa berjalan."
"Bu, tolong selimut ini jadikan sebagai kerudung untuk menutupi punggung Ibu!" perintah Raina dan ibu tersebut menurutinya.
"Ayo naik bu," tawar Raina saat memberikan punggungnya.
"Tapi-" meski ragu-ragu, akhirnya ibu tersebut mengalungkan tangannya ke leher Raina.
Kekuasan Allah lah, yang bisa menolong mereka. Hingga kini mereka sudah selamat dan berada di luar rumah sakit.
__ADS_1
Raina menurunkan ibu tersebut ke atas tanah, tubuhnya juga ikut luruh di sana.
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah."
Raina melihat banyak taksi dan juga ojek, mereka secara sukarela ikut mengevakuasi korban yang ada di sana untuk dipindahkan ke tempat atau rumah sakit lain yang lebih aman.
"Pak tolong angkat Ibu ini," ucap Raina pada seorang pria yang mendekat ke arahnya.
Raina mengekori pria tersebut saat dia tengah berjalan sembari memangku ibu.
"Mau ke rumah sakit lain Mbak?" tanya pria tersebut saat sudah duduk di kursi kemudu.
__ADS_1
"Ke rumah saya saja, Pak." jawab Raina, sembari menyebutkan alamat rumah almarhum kedua orangtuanya.
Raina memperhatikan ibu yang sudah tertidur disampingnya, Raina mencoba mengingat-ngingat kembali, karena wajah beliau terasa sangat familiar, Raina menutup mulutnya karena rasa tak percaya. Wanita yang yang ia selamatkan tadi, dan yang duduk disampingnya saat ini adalah mertuanya sendiri a.k.a mamanya Gibran.