
Tak terasa lima hari berlalu begitu cepat. Kini Gibran dan Raina telah kembali ke Jakarta dan menjalani rutinitasnya seperti biasa.
Raina merasa putus asa, semenjak ia menikah mama nya tak pernah sekalipun menjawab telepon darinya. Malam ini pun, ia terus mencoba menghubungi mamanya, namun hanya suara operator lah yang terus menggema ditelinganya.
"Mama tahu kan Rai enggak bisa jauh dari Mama. Sampai kapan Mama akan terus menghindari Rai? Rai kangen banget sama mama hiks.. hiks," Raina memeluk lututnya seraya menyurukan wajahnya disana.
Gibran baru saja pulang dari kantor, tapi ia tak mendapati Raina di kamarnya, kemudian ia melihat pintu balkonnya terbuka. Gibran pun berjalan ke sana dan melihat Raina sedang menangis. Gibran pun duduk disamping Raina dan membawa Raina kedalam pelukannya ya hanya itulah yang ia bisa lakukan saat ini.
Gibran tahu kalau Raina sedih karena merindukan mamanya. Raina tidak tahu saja bahwa setiap hari mama nya selalu menanyakan keadaannya melalui Gibran. Gibran sedih melihat Raina seperti ini. Akan tetapi dari tadi mertuanya sudah mewanti-wanti agar tidak lemah karena Raina.
"Kamu kenapa hmm?"
"Rai tidak papa Mas," ucap Raina sembari menguraikan pelukannya.
"Kalau tidak, air yang keluar dari matamu yang indah ini, apa?" tanya Gibran sembari mengusap air mata Raina dengan jemarinya. Raina tak menjawab, ia hanya menunduk kemudian bahunya bergetar kembali.
"Menangislah Rai jika kamu ingin menangis, marahlah jika kamu ingin marah dan tertawalah jika kamu ingin. Tapi mas mohon bagi itu semua dengan Mas dan kamu tak boleh menyimpannya sendiri. Mas siap jadi sandaran kamu kapan pun kamu butuhkan. Mas ada disini untuk kamu," ucap Gibran dan memeluk Raina kembali.
"Rai kangen Mama Mas, Rai ingin ketemu Mama."
"Baiklah, libur kerja nanti Mas antar ke rumah Mama, sebaiknya kita ke dalam saja, lagi pula udaranya begitu dingin di sini," ajak Gibran.
Tepat saat tengah malam, Raina merasa ada yang memanggil sekaligus mengelus pipiya degan pelan, Rai yakin sang pelaku bukanlah Gibran karena suara yang membangunkannya ini terdengar cempreng khas perempuan, yang jelas bukannya ingin bangun Rai malah merasa sangat nyaman dengan usapan di pipinya karena terasa lembut dan hangat.
__ADS_1
“Jadi mau tiduran aja nih, kata nak Gibran kamu rindu Mama sampai mewek-mewek, Mama udah ke sini tapi malah dianggurin, ya udah Pah yuk kita pulang lagi aja!”
Bagaimanapun ucapan mama barusan, langsung membuat Raina terjaga, Raina duduk kemudian langsung memeluk mama nya dengan erat dan menangis kembali.
“Mas sama Papa nunggu di bawah ya, mau nonton bola dulu,”
"Selamat ulang tahun sayang, Mama sayang banget sama kamu."
"Rai juga sayang banget sama Mama, Mama jahat banget enggak pernah angkat telpon dari Rai."
"Mama sengaja sayang, biar kamu betah disini. Kalau kamu telpon mama terus, entar yang ada kamu malah pengen ke rumah Mama."
"Tapi mereka baik sama kamu kan Rai, enggak ada yang cuekin kamu kan sayang?"
"Syukurlah kalau begitu, Mama lega."
"Tapi, Mama masih ada perasaan yang mengganjal sama kamu sayang, maafin Mama ya Rai, karena Mama telah menikah kan kamu tanpa sepengatahuan mu sebelumnya."
"Enggak ada yang perlu dimaafin Ma, Mama enggak salah kok, harusnya Rai yang minta maaf karena Rai banyak banget salah sama Mama."
"Maafin Mama Rai, Mama takut kalau kamu tidak bahagia."
"Mama jangan khawatir seperti itu, Rai bahagia kok ma sama Mas Gibran," ucap Raina sembari melebarkan senyumannya.
__ADS_1
"Terimakasih sayang telah lahir kedunia ini, menjadi pelengkap hidup mama dan papa."
"Terimakasih ma, karena mama dan papa telah menjadi orang tua yang paling berharga untuk Rai, tanpa kalian Rai enggak akan bisa seperti ini," tutur Raina sembari memeluk mamanya erat.
"Ma, Rai mohon jangan pernah abaikan Rai lagi, rasanya sakit Ma, Rai tak pernah terbiasa jauh dari Mama."
"Iya sayang Mama janji."
"Kamu tidur selalu pakai jilbab gini sayang?" Raina baru tersadar dengan pertanyaan mamanya barusan.
"Enggak mah, kalau mau tidur Rai lepas kok. Gara-gara Mama gak angkat telpon Rai, Rai kan baper sampe ketiduran, enggak lepas jilbab enggak ganti baju juga lagi, tapi Rai enggak bau kan Ma?"
"Bau cuka sayang,"
"Yah Mama, Rai malu banget. Tanggung jawab Mama ih."
"Enggak kok sayang, Mama bercanda barusan."
"Ih Mama, beneran nih ga ada iler kan dipipi Rai? Malu banget bangun tidur belum cuci muka."
"Tapi pas bangun tidur, muka kamu memang gak control Rai."
"MAMA!"
__ADS_1
Beginilah Raina meski pun telah menjadi seorang istri, tetap saja super manja pada mamanya. Raina begitu bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya.