Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
13 Tidak ada Dia


__ADS_3

Jam sudah menunjukan pukul delapan malam, tapi belum ada tanda-tanda Raina akan  keluar dari kelas nya, namun Gibran masih setia menunggu di parkiran. Gibran memasukan tangannya ke dalam kantong jaket merah yang ia kenakan, cuaca malam ini terasa sangat dingin meski tidak turun hujan.


"Assalamualaikum Mas," Raina mengecup punggung tangan Gibran saat sampai di parkiran.


"Wa'alaikum salam sayang. Lama juga ya, kelasnya."


"Iya Mas, tapi kita jadi nonton kan?"


"Jadi Rai, ya udah yuk berangkat."


Setelah menepikan mobilnya disalah satu mall di bilangan Jakarta, Gibran segera turun dan memutari mobil, kemudian membukakan pintu untuk Raina. Tentu saja Raina merasa senang diperlakukan manis oleh Gibran, apalagi suaminya tersebut mengulurkan sebelah tangannya pada Raina, sementara  tangan kirinya disimpan dibelakang punggung sembari membungkukan badan. Gibran memperlakukan Raina bak putri raja. Akhirnya mereka berjalan sembari Raina bergelayut di lengan Gibran.


"Mas, aku lapar, kita makan dulu yuk."


"Siap tuan putri."


Saat mereka menikmati makanannya, tak sengaja Rai melihat Gibran yang pandangannya tengah tertuju pada seseorang, Raina mengikuti arah mata Gibran dan mendapati kalau yang dipandang ternyata Dinda, tidak, bukan hanya Dinda, tapi juga ada Jihan di sana.


"Loh kalian disini juga? Lagi shoping juga?" tanya Dinda membuka pembicaraan.


"Enggak kak, kita mau nonton," jawab Raina.


"Kita boleh kan gabung disini?" tanya Jihan basa-basi.


"Silahkan mbak."


Saat Jihan dan Dinda menarik kursi untuk duduk, tiba-tiba ponsel Gibran berdering. Kemudian pria itu pamit undur diri untuk menjawab telponnya dan pergi setelah mendapat anggukan dari Raina.


"Aduh, sepertinya jam tangan yang ku beli tadi, tertinggal saat kita memilih gelang Ji. Jihan, Raina aku kesana dulu ya, mudah-mudahan masih ada." ucap Dinda.


"Iya kak," ucap Raina.


"Belanjaan Mbak banyak sekali ya," ucap Raina melihat banyak sekali barang bawaan Jihan.


"Iya nih, karena aku akan menetap di Indonesia, jadi aku beli saja baju yang banyak, kemarin Dinda terburu-buru pulang kesini, hingga aku meninggalkan semua bajuku disana. Lagi pula aku tak suka memakai baju yang sama lebih dari dua kali," ucap Jihan sembari melihat penampilan Raina dari atas hingga bawah.


"Oh begitu," angguk Raina kemudian kembali mengunyah makanannya.


"Badanmu kecil, tapi makanmu banyak juga ya Raina."


"Iya Mbak habis enak sih, Mbak mau pizza juga?" tawar Raina sembari menyodorkan sekotak pizza pada Raina.

__ADS_1


"Aku tak suka makanan seperti itu, tinggi kalori." Jihan berkata acuh.


"Ya sudah kalau tidak mau," ucap Raina meneruskan makanannya.


"Aku heran sama Al, kenapa dia sudi menjadikanmu sebagai istrinya?  Anak ingusan seperti mu tak layak menjadi istri Al. Apa lebihnya dirimu dibandingkan aku?  Ataukah kau hanya pelarian Al karena aku dulu meninggalkan nya? Asal kau tau Al sangat mencintaiku, tapi dulu aku terlalu bodoh karena memikirkan persahabatan kami. Dan aku yakin, Al masih mencintaiku dan akan kembali padaku setelah membuangmu jauh jauh," ucap Jihan sembari menatap sinis Raina.


Al sangat mencintaiku


Al sangat mencintaiku, dari panjangnya kata Jihan yang Raina tangkap, hanya tiga kata itu yang terus berputar dalam benaknya. Namun, Raina berusaha untuk tidak menunjukan ekspresinya didepan Jihan.


"Sudah selesai mbak orasinya?" tanya Raina balik yang membuat Jihan heran.


"Anak ingusan? Mbak mau ngomong pake bismillah makanya, seenaknya aja ngatain anak orang, enggak disaring banget sih. Atau Mbak berkata seperti itu karena merasa kalah muda dari saya?" Raina tersenyum kemudian melanjutkan perkataannya. "Jelas Rai lebih segalanya dibandingkan Mbak, makanya yang Mas Gibran nikahin itu Raina, bukan Mbak Jihan. Aku tak peduli sedekat apa kalian dulu, yang jelas jangan harap Mbak bisa merebut mas Gibran dariku, karena aku tidak akan pernah membiarkan nya," ucap Raina tegas.


"Kau," ucap Jihan sambil mengacungkan telunjuknya pada Raina.


"Kita lihat saja nanti, Raina siapa yang akan menang? Dan, kau tak bisa menampik satu kenyataan bahwa kau hanya pengganti Raina," ucap Jihan kesal. Raina ingin meneruskan perdebatan ini, tapi ia hentikan saat Gibran berjalan ke arahnya.


"Maaf ya lama, tadi ada klien yang telpon," ucap Gibran.


"Enggak papa MAS SUAMI KU sayang, papanya anak-anak, Rai sudah selesai nih makannya. Kita jadi nonton kan?" ucap Raina sambil menggelayut ditangan Gibran.


"Dinda mengambil jam nya yang tertinggal di toko perhiasan  Al," jawab Jihan.


"Kita duluan ya Mbak, sebentar lagi Film nya mau diputar," ucap Raina.


"Ayo Mas."


"Ji, kita duluan ya, pamit juga sama Dinda," pamit Gibran sedang Rai semakin melebarkan senyumnya pada Jihan. Gibran dan Raina pun pergi meninggalkan Jihan sendirian.


"Kamu panggil Dinda kakak, dia kan adik ipar kamu? " tanya Gibran.


"Iya Mas, enggak enak kalau panggil nama. Kak Dinda kan seumuran sama kamu," terang Raina sedang Gibran menganngukan kepalanya.


"Loh kita malah turun Yang, kan Filmnya sebentar lagi akan di mulai?"


"Besok aja Mas, aku udah enggak selera nonton, sekarang kita pulang aku mau bicara serius sama kamu." Gibran merasa heran padahal tadi istrinya itu sangat excited untuk nonton, dan tiba-tiba sekarang malah mengajaknya pulang. Mungkin Raina merasa lelah pikir Gibran.


Setelah shalat isya, Raina menunggu Gibran selesai mengerjakan tugas kantornya. Hingga Gibran menutup laptopnya, baru Raina merubah posisinya menjadi duduk dan menyenderkan punggungnya pada kepala ranjang.


"Aku ingin mas jujur sama aku, dan aku ingin mas cerita semua yang aku tidak ketahui dari mas," Raina menarik napasnya kemudian menghembuskan napasnya perlahan. "Apa benar mas mencintai Jihan?" tanya Raina dengan serius, namun Gibran malah bungkam.

__ADS_1


"Apa diamnya Mas ini, membenarkan pertanyaan Rai barusan?" tanya Raina hingga matanya mulai berkaca.


"Mas, jawab Mas," lirih Rai sembari menarik kerah kemeja Gibran sembari mengguncang-guncang tubuh Gibran.


 Bukan jawaban yang Raina dapatkan. Namun, hanya tatapan rasa bersalah dari Gibran yang ia terima.


"Maafkan Mas."


Meskipun sudah siap akan jawaban yang akan dia dengar, nyatanya tetap saja begitu menyakitkan. Air mata itu tetap saja mengalir, meski dengan susah payah Raina menahannya. Kenyataan bahwa Gibran mencintai Jihan membuat hati Raina merasa sakit, dadanya pun begitu terasa sesak.


Raina tidak menyangka ia begitu cepat mencintai Gibran, dan begitu cepat pula hatinya menjadi patah.


Gibran  menarik kepala Raina kepundaknya, kemudian ia genggam jemari Raina. Pandangan Gibran lurus kedepan, dan matanya mulai menerawang.


"Jihan adalah cinta pertama Mas. Mas dan dia sudah dekat, dari kami masih kecil. Kami selalu bersama, dari TK, SD, hingga kuliah pun kami mengambil jurusan dan Universitas yang sama pula."


"Rasa sayang Mas padanya berubah menjadi cinta, ketika kami beranjak dewasa. Hati mas selalu tertuju padanya. Apapun akan mas lakukan untuknya saat itu, demi membuat ia bahagia. Tapi saat itu, mas terlalu pengecut untuk menyatakan perasaan mas padanya. Mas takut, ia akan menjauh dari mas, hingga mas memilih untuk memendamnya sendiri. Hingga saat kami kuliah, tepatnya semester empat, datang mahasiswa pindahan bernama Biyan. Kami berkenalan dan mulai berteman dengannya. Ternyata, dari awal pertemuan Jihan sudah tertarik pada Biyan. Perlahan Jihan semakin dekat dengannya, hampir setiap hari Jihan menceritakan kekagumannya pada Biyan dengan mata yang berbinar. Mas bahagia melihat ia bahagia dan sekaligus sakit karena bukan mas yang membuatnya bahagia." Gibran tersenyum miris.


"Suatu ketika, karena rasa cemburu dan ketakutan mas akan kehilangannya. Malam itu mas datang padanya untuk mengungkapkan perasaan mas padanya. Namun, sebelum itu terjadi, Jihan bercerita bahwa ia dan Biyan telah resmi menjadi sepasang kekasih. Lagi-lagi melihat nya bahagia bersama Biyan mas urungkan niat untuk mengungkapkan cinta mas berbalik menjadi ucapan selamat. Hingga suatu hari ,mas melihat Biyan berselingkuh dan menghajar nya habis-habisan dan menunjukannya pada Jihan. Tapi Jihan langsung luluh dengan permintaan maaf lelaki brengsek itu.  Mas akhirnya menyatakan cinta mas pada Jihan tapi ia tolak. Baginya mas sudah seperti saudara sendiri, hingga ia benar-benar menjauh dari mas dan menyusul Biyan untuk  S2 ke Australia."


"Mendengar permintaannya untuk terakhir kali, sebelum ia pergi. Ia menyuruh mas, mencoba untuk menjalani sebuah hubungan dengan seorang wanita, untuk  meyakinkan bahwa perasaan mas padanya hanya untuk melindungi dan menyayanginya sebagai adik tidak lebih, karena selama ini mas tak dekat dengan wanita manapun selain Jihan dan Dinda. Mas mencobanya berkali-kali, tapi selalu saja gagal dan sulit untuk melupakan Jihan."


"Mas memang mencintai Jihan, tapi itu dulu dan hanya akan menjadi sebuah kenangan."


"Wanita yang Mas cintai, bukan lagi Jihan. Bahkan rasa itu kini benar-benar lenyap untuk nya. Karena sekarang mas mencintai-" Raina langsung mendongakan kepalanya menatap manik mata Gibran.


"Wanita yang Mas cintai, kini sedang berurai air mata bahkan sambil memeluk Mas. Asal kamu tahu Raina, Mas memang belum pernah bertemu denganmu sebelumnya. Tapi, saat Mas menjabat tangan  papahmu dan mengikrarkan janji suci kita kepada Allah yang bahkan para malaikat pun menyaksikan nya,  saat itu juga, hati mas bergetar dan jantung Mas berdetak sangat cepat. Mas sangat bersyukur, karena saat itu juga hati Mas telah berlabuh padamu apalagi tat kala kamu mencium tangan mas saat itu, perasaan hangat itu menjalar dari hati mas hingga keseluruh tubuh. Demi Allah Raina, wanita yang Mas cintai hanya kamu istri Mas sendiri, hanya kamu lah penyempurna hidup dan agama Mas." Raina menyelami mata Gibran untuk melihat kebenarannya dan Raina tak menemukan sedikit kebohongan pun disana.


Raina memeluk leher Gibran dengan erat dan menangis sesenggukan. Namun kali ini bukan isak karena hati nya yang luka, tapi rasa syukur karena begitu bahagia, bahwa hanya ialah wanita yang Gibran cintai.


"Maafin mas Rai, mas tidak suka melihat mu menangis seperti ini," ucap Gibran sembari menghapus air mata Raina.


"Terimakasih mas, hanya kejujuran mas yang ingin Rai dengarkan. Rai tidak ingin hal sekecil apapun mas tutupi," ucap Raina lirih namun masih bisa Gibran dengar. Kini Raina menguraikan pelukan mereka.


"Satu lagi, Rai ingin ini adalah pertama dan terakhir mas menyebut dia saat kita sedang bersama. Semua nya sudah jelas mas, Rai percaya sama mas, Rai juga cinta sama mas."


Gibran bahagia sekali mendengar pengakuan Raina barusan. Bak gayung bersambut, jika dulu cintanya bertepuk sebelah tangan. Kini tangan nya yang mengapung di udara itu tengah menaut dengan Raina. Gibran bahagia sekali karena kini ia tak hanya mencintai tapi juga dicintai.


"Mas janji tidak akan ada lagi dia ataupun mereka di antara kita. Mas memang bukan orang yang baik, tapi mas akan terus berusaha menjadi suami terbaik untukmu Raina."


"Begitu pula Rai mas, Rai akan mengabdikan seluruh hidup Rai pada mas dan kita akan terus bersama-sama untuk menggapai Ridho-Nya."

__ADS_1


__ADS_2