Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
Ekstra Part


__ADS_3

Pagi ini cuaca terasa sangat dingin, saking dinginnya terasa hingga menusuk ke tulang, membuat siapapun lebih nyaman bergelung dalam selimut daripada harus melakukan aktivitas diluar ruangan. Dari semalam hujan turun, sekarang sudah jam delapan pagi tapi belum reda juga.


Sudah lima belas menit Gibran ke luar dari kamarnya dan belum kembali juga. Raina yang terbangun menyandarkan tubuhnya ke kepala rannjang, ia memijat sendiri kakinya yang terasa pegal.


"Sudah bangun, eh," ujar Gibran saat membuka pintu dan menemukan istrinya kini tengan terduduk. Gibran melangkah dengan membawa nampan yang berisi segelas susu hangat dan juga sepiring biskuit ditangannya.


"Minum dulu, biar Mas yang pijat kakinya," dengan patuh Raina meminum susu hamilnya


"Twin jangan nakal ya, kasian Mama," ucap Gibran disela-sela pijatannya membuat Raina tersenyum.


"Mas sudah pikirkan mau kasih nama apa untuk anak-anak kita?" tanya Raina.


"Mas sudah menyiapkannya, dua nama untuk laki-laki dan dua nama untuk perempuan." Gibran menyiapkan empat buah nama, karena sengaja untuk tidak mengetahui jenis kelaminnya terlebih dahulu sebelum kedua bayi kembarnya itu lahir.


"Sayang, ada ngerasa mulas enggak?”


"Udah dari semalam sih, makanya dari kemarin aku terus banyak jalan."


"Loh kok enggak ngasih tahu?"


"Aduh Mas, perutku sakit!"


"Sepertinya aku mau melahirkan." ucap Raina saat merasakan kontraksi.


"Tunggu! Mas panggil Mama dulu," Gibran mulai panik.


"Mama! Mama!"


"Iya Gibran, ada apa?"


"Rai mau lahiran Ma."


"Tenang, Mama manggil mang Joko dulu biar siapin mobil."


Gibran segera menggendong Raina kemudian berjalan dengan cepat menuju mobil yang sudah disiapkan oleh mang Joko,  Rahmi masuk lagi kedalam kamar untuk mengambil tas yang sudah disiapkan Raina jauh-jauh hari untuk persalinannya.


"Udah semua Ma?" tanya Gibran saat mamanya masuk kedalam mobil dan duduk disamping supir.


"Udah kok, yuk Mang Jo jalan!" perintah Rahmi.


"Siap Nonya."


Setelah dua puluh menit, akhirnya mereka sampai di rumah sakit Bunda Alya. Sesampainya disana Raina langsung dilarikan ke ruang bersalin. Gibran pun ikut masuk menemani istrinya yang berjuang untuk melahirkan kedua buah hatinya dengan persalinan normal.


"Bismillahirrahmaanirrohim," Gibran mengucapkan basmallah, membaca tasbih dan terus beristighfar.


"Raina jangan mengejan sebelum saya menyuruhnya, okay," Arvi memberikan arahan pada Raina.


"Sudah pembukaan lengkap."


"Ambil napas, keluarkan. Tarik napas lalu keluarkan dari mulut."


"Ayo Raina mengejan kepalanya sudah keluar!"


"Mengejan lagi dengan lebih kuat Raina."


"Engghhhh."


"Khoe aaaa," tangisan bayi pertama Gibran yang baru saja lahir ke dunia ini adalah seorang bayi laki-laki.


Raina tersenyum begitu pula dengan Gibran membuat hati mereka menjadi hangat.


"Ayo Raina, sekali lagi kamu harus berjuang untuk bayi kamu."


Selang delapan menit Raina kembali mendapatkan kontraksinya. Genggaman tangannya pada jemari Gibran kini bertambah kuat.


"Semangat, sayang. Kami mencintaimu." bisik Gibran kemudian mencium dahi Raina yang sudah penuh dengan peluh.


"Ayo Raina tarik napas, keluarkan, tarik napas, keluarkan. Satu dua tiga, Mengejan!"


"Enggh aaaaa." Erang Raina kemudian wanita itu tidak sadarkan diri.


"Sayang, sayang, Raina kamu dengar Mas kan. Arvi, istri aku tidak sadarkan diri, apa yang terjadi?"


"Tenang Gibran, ini jauh lebih gawat, putrimu lahir tapi dia tidak menangis."


"Ya Allah selamatkanlah istri dan anakku."

__ADS_1


Arvi berusaha memberikan tindakan pada bayi kedua Gibran, namun bayi itu tidak kunjung menangis juga bahkan detak jantungnya sangat lemah.


"Dokter tekanan darah pasien menurun, Ny Raina juga mengalami pendarahan."


Untunglah ada dokter Viola yang juga baru selesai dari persalinan sebelumnya, dokter cantik itu langsung mengambil alih Raina untuk ia tangani.


Sementara Arvi masih berjuang mati-matian agar putri kecil Raina dapat bertahan hidup. Namun,  kondisi malaikat kecil itu kian menurun, membuat dada Arvi berdebar dengan kencang karena merasakan cemas luar biasa.


"Ya Allah selamatkanlah bayi cantik ini, kumohon," Do'a Arvi tulus.


Arvi telah berjuang, mengerahkan seluruh kemampuannya. Namun, Allah lah Yang berkuasa atas segala sesuatu, putri Raina tidak bisa ia selamat. Air mata Arvi luruh, ia menangis sembari mendekap sang bayi. Bayi kecil itu semakin lama, semakin bertambah dingin, kemudian Arvi meletakan putri kecil itu disamping saudaranya. Jagoan kecil itu menangis dengan kencang saat ia didekatkan dengan saudarinya. Jagoan kecil itu tau kalau teman satu rahimnya itu tidak baik-baik saja.


Arvi keluar dari ruangan, kemudian memberitahukan keadaan bayi kecil itu pada keluarga Raina.


"Ya Allah, Pah cucuku Pah," ucap Rahmi memeluk suaminya yang baru saja datang.


Keadaan Gibran begitu kacau, ia harus rela kehilangan putri yang dinantikannya, belum lagi kondisi istrinya yang belum stabil dan hingga kini Raina belum sadarkan diri.


Satu setengah jam berlalu, akhirnya Raina siuman.


"Bayiku mana Mas?" Raina bertanya sembari tersenyum lemah.


"Alhamdulillah putra pertama kita lahir dengan selamat, sayang."


"Apakah keduanya laki-laki?" tanya Raina.


"Put... Putri kita cantik seperti kamu."


"Mana mereka? Rai ingin mengendongnya Mas!" pinta Raina.


Bibir Gibran bergetar, "Kamu  harus ikhlas sayang, putri kita-"


"Apa maksud mas, anak kita baik-baik aja kan?"


Raina menarik infus yang terpasang dilengannya, kemudian ia bangkit.


"Apa yang kamu lakukan sayang?"


"Dimana anak kita Mas?" tanya Raina sembari berusaha untuk turun dari ranjang.


Gibran pun membawa Raina ke ruangan bayi mereka.


Raina nampak terkejut melihat bayi-bayinya, ditatapnya satu persatu bayinya. Bayinya yang berada disebelah kanan menangis dengan sangat kencang, sedang bayi yang jauh lebih kecil ukurannya nampak diam dan kaku. Bayi mungil itu membiru sementara bayi disebelahnya terus menangis dengan kencang.


Raina menangis, kemudian mengambil bayi yang sudah membiru itu kedalam pelukannya.


"Sayang, apa kamu masih tidur?" tanya Raina dengan lembut, Gibran yang berada disamping Raina merasa menjadi irang yang tidak berguna karena tidak bisa menjaga putrinya dengan baik.


Sedang Arvi mematung menyaksikan itu semua dengan hati yang sama-sama hancur.


Raina mengayun-ngayun bayi yang ada dalam gendongannya itu sembari bershalawat.


"Allahumma shalli 'alaa Muhammad," Raina bersenandung, sesekali mengecup putri kecilnya itu yang terasa begitu dingin.


"Sayang, kenapa kamu tertidur nak? Ayo bangun, mama kangen sama kamu, nak. Hiks hiks....." Isak Raina.


"Huhuhu Ya Allah."


Namun, saat Raina bershalawat lagi sembari menimang putrinya itu, tiba-tiba tangan gadis kecil itu bergerak dipunggung tangan Raina. Atas izin Allah, bayi yang sudah membiru itu kembali ke warna kulit asalnya, suhu bayi mungil itu juga menghangat, tak lama kemudian bayi itu menangis dengan kencang, membuat semua orang kaget dibuatnya.


Arvi yang bahkan sudah tahu bahwa bayi mungil itu tadi telah meninggal, benar-benar kaget saat mendengar bayi itu menangis. Hanya kuasa Allah lah, yang dapat menghidupkan maupun mengambil kehidupan seseorang.


Raina tersenyum dengan lega, putra dan putrinya baik-baik saja, seketika lututnya terasa lemas dan ia hampir jatuh jika saja Gibran dan Arvi tidak segera menangkapnya.


Arvi mengambil alih bayi yang berada dipelukan Raina kemudian segera memberikannya perawatan terbaik.


Raina segera dibawa kembali keruang perawatan dikarenakan kondisinya yang lemah.


****


Tujuh hari telah berlalu, kini Raina dan kedua buah hatinya sudah bisa pulang ke rumah. Rahmi yang sudah menunggu mereka pulang, nampak bahagia ketika anak, menantu serta kedua cucunya sudah berada didalam rumah.


Rumah begitu ramai, karena para tetangga dan juga teman-teman Rahmi sudah tidak sabar ingin melihat sikembar, selain itu Rahmi memang mengundang ratusan anak yatim untuk mengadakan syukuran dirumahnya hari ini sekaligus aqiqah untuk sikembar.


"Namanya siapa anak manis?" tanya bu Fitri yang tak lain adalah tetangga depan rumahnya.


"Muhammad Haykal Wardiman dan juga Asheyla Wardiman," jawab Gibran dan Raina bersamaan.

__ADS_1


"Nama panggilannya?"


"Untuk jagoanku nama panggilannya Aa, dan untuk gadis kecilku nama panggilannya Teteh." jawab Gibran.


"Aa dan Teteh ya. Semoga menjadi anak yang shaleh dan shalihah yan nak, berbakti kepada orang tua dan juga berguna untuk nusa dan bangsa. Ibu cuma bawa hadiah ini untuk Aa dan Teteh," ucap bu Fitri sembari menyerahkan kado dengan ukuran besar kepada Gibran.


"Aamiin, terimakasih bu Fitri atas do'a dan hadiahnya."


"Sama-sama. Ya udah Ibu gabung dulu sama yang lainnya ya."


"Iya Bu."


Bu Fitri pun meninggalkan Gibran dan Raina. Gibran mendekatkan tubuhnya pada Raina dan memeluk istrinya itu dari samping.


"Terimakasih sayang, kamu telah memberikanku kebahagiaan yang lengkap, apalagi sekarang terasa semakin semarak dengan kehadiran pangeran dan putri kita. Terimakasih, aku mencintaimu," ucap Gibran kemudian mengecup kening istrinya itu.


"Aku juga mencintaimu Mas Gibran, Papanya anak-anak."


"Aku lebih mencintaimu, Mamanya anak-anak."


***


“Mama! Mama! Huaaaa,” teriak Asheyla, membuat Raina yang sedang sibuk di dapur langsung mematikan kompornya. Wanita itu kemudian berlari menuju sumber suara. Dilihatnya anak gadis satu-satunya itu sedang menangis, sementara tepat dihadapan Asheyla tampak Haykal yang terlihat amat marah.


Raina mendekati Asheyla, kemudian ia duduk dan mensejajarkan tubuhnya dengan putri kecilnya.


“Ada apa hmm?”


“Aa gunting rambutnya barbie Neng, Ma huhuhu,” Asheyla mengadu kepada Raina, dan kembali menangis dengan kencang.


“Marahin Aa, Ma!” pinta Asheyla dengan mata dan hidungnya yang merah. Raina tidak langsung memarahi jagoan kecilnya, karena Raina tahu bahwa Asheyla sangat manja dan cengeng. Lagi pula, putranya itu tidak mungkin berbuat jahil pada adiknya, jika bukan Asheyla sendiri yang memulai, jika Haykal sudah berbuat seperti itu, artinya, apa yang Asheyla lakukan sudah melebihi batas.


“Bener A’, Aa ngerusakin mainannya Teteh?”


“Bukan Teteh Ma, tapi Neng,” ralat gadis kecilnya itu. Semula Asheyla senang-senang saja dipanggil Teteh, namun ketika teman-temannya memberi tahu bawa teteh artinya kakak, Asheyla langsung tidak mau dipanggil Teteh dan mengganti nama panggilannya sendiri dengan Neng, alasan gadis berumur 6 tahun itu sangat sepele, Asheyla tidak mau mempunyai adik.


Pandangan Raina kembali kepada putranya, “Benar A’?”


“Iya Ma, Aa yang gunting rambut bonekanya Neng, karena dia duluan yang rusakin gambar Aa dengan lipstik Mama, dan juga rendam mobil remot Aa pakai air pel. Dan lagi, dia makan ice cream padahal batuknya belum sembuh,” jelas Haykal. Raina sebisa mungkin menahan tawanya agar tidak keluar.


“Mama, Neng bantu warnain gambar Aa bukan rusakin, dan cuci mobil Aa biar bersih,” ucap gadis kecil itu membela diri


“Sudah-sudah, Aa dan Neng harus saling minta dan memaafkan, ok!”


“Aa lain kali kalau marah, jangan langsung rusakin mainan adiknya. Dan Neng juga harus ijin dulu kalau mau bantu Aa apalagi meminjam barang Aa. Kalian harus ingat di luar sana, banyak anak kecil yang enggak punya mainan kaya punya Aa sama Neng, bahkan untuk makanpun mereka kesusahan.”


“Mereka enggak makan ayam goreng Ma?” tanya Neng dan Raina menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


“Makanya Neng sama Aa enggak boleh pilih-pilih makanan, terus selesai main harus disimpan kembali ketempatnya, mengerti?”


“Iya Mama, kami mengerti,” ucap Neng dan Aa bersamaan.


“Ayo, sekarang kalian harus baikan!” perintah Raina kepada anak kembarnya itu.


“Maafin Aa ya Neng.”


“Maafin Neng juga ya Aa.”


“Ingat ya, Aa sebagai laki-laki harus menjaga adiknya, dan Neng harus sayang sama Aa. Kalian bersaudara harus saling menyayangi dan membutuhkan ya. Bel udah bunyi tuh, kayanya Papa udah pulang deh,” setelah mengucapkan hal itu mereka langsung berlari ke ruang depan untuk menyambut Gibran.


“Assalaamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam Papa.” Mereka langsung berebut ingin digendong duluan. Akhirnya Gibran menggendong jagoannya di sebelah kanan, dan menggendong putrinya di sebelah kiri. Aa mencium pipi kanan Gibran, dan Asheyla tidak mau kalah melakukan hal yang sama pada Papanya.


Raina yang baru dating dari dapur karena membawa minum untuk Gibran tersenyum melihat tingkah mereka bertiga.


“Turun dulu, Papa masih capek!” perintah Raina kepada anak kembarnya tersebut.


“Enggak mau!” ucap putrinya yang terdengar sangat lucu. Akhirnya Gibran mendudukan mereka berdua di kursi, kemudian ia juga duduk berada di tengah-tengah mereka berdua. Raina menghampiri Gibran kemudian mencium punggung tangan suaminya itu dengan khidmat.


“Mas diminum dulu airnya,” ucap Raina sembari menyerahkan cangkir berisi air putih kepada Gibran. Ketika Gibran meminumnya, dahaga yang ia rasakan langsung terobati, lelah bekerja langsung hilang saat melihat anak-anak dan juga istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Waktu memang terasa berjalan dengan begitu cepat, kemarin anak-anaknya itu masih bayi dan sekarang sudah tumbuh dengan begitu menggemaskan. Namun, momen-momen itulah yang membuat ia dan Raina sangat bahagia, seperti saat pertama kali si kembar bisa merangkak, berjalan, mulai menyebut mereka mama dan papa, mengajarkan mereka shalat, berdo’a dan semuanya.


Perjalanan hidup memang masih terbentang panjang di hadapan mereka. Namun Gibran dan Raina yakin, jika mereka selalu melibatkan Allah dalam segala urusannya, masalah apapun yang akan mendatangi, mereka yakin bisa melewatinya.


“Karena Allah, aku mencintaimu dan anak-anak.”

__ADS_1


“Karena Allah, aku juga mencintaimu dan anak-anak Mas.”


END


__ADS_2