Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
25 Waktu terus berlalu


__ADS_3

Kediaman Wardiman tengah berduka, hari ini di adakan pengajian  empat puluh hari untuk Gibran. Kondisi Raina masih sama saja, ia lebih banyak menyendiri dan berdiam diri. Bahkan, hingga saat ini ia belum pernah menginjakan kaki ke tempat peristirahatan terakhir suaminya yang ada di TPU jeruk purut.


Raina mengambil kemeja Gibran yang berada di dalam lemari, kemudian mengendus kemeja itu dan memeluknya dengan sayang, seolah benda itu adalah wujud nyata Gibran.


"Kamu masih saja gak bisa pasang dasi, Mas. Padahal aku tiap hari ngajarin kamu tetep aja gak bisa-bisa. Akan tetapi, tidak papa Mas, aku suka pasanginnya. Walaupun setelahnya kamu suka curi ciuman dari aku," Rai tersenyum.


"Aku beli dasi banyak banget Mas, kalau kamu pakai, pasti nambah ganteng, ada jam baru juga loh. Kamu kapan pulang, Mas? Terus siapa yang mau pakai dasi dan jam ini jika kamu enggak ada mas?" air muka Rai berubah menjadi sendu, "Mas, kamu kapan pulang, huhuhuhu Mas, Rai takut sendirian, huhuhuhu......."


Marsya yang berada di depan pintu, menatap Rai pilu. Ia berjalan ke arah Raina yang merosot di depan lemari sembari memeluk lututnya sendiri. Marsya langsung memeluk Raina dengan erat.


Raina berusaha melepaskan pelukannya dari Marsya, namun Marsya tetap memeluk Raina dengan erat, hingga akhirnya Marsya terjengkang karena Raina berhasil mendorongnya dengan kuat.


"Untuk apalagi kamu ke sini Sya? Kamu mau bilang aku gila juga, hah? Jika kamu datang ke sini hanya untuk mengasihani aku, lebih baik kamu keluar dari sini, Sya. KELUAR!"


"Dengerin aku dulu, Rai."


"Pergi dari sini!" Raina terus mendorong Marsya agar keluar dari kamarnya.


"Dengerin aku dulu Rai, aku percaya sama kamu," Raina masih mendorong Marsya, dan berhenti ketika sahabatnya berkata, "aku percaya kalau dalang dari semua ini adalah Tante Yani," ucap Marsya kemudian menutup pintu kamar Rai dan menguncinya rapat.


"Aku percaya sama kamu Rai, dan akan selalu seperti itu. Maafin aku jika waktu itu aku tidak membenarkan perkataanmu Rai," Marsya membawa Raina duduk diranjangnya.


"Aku tahu kamu Rai sayang, dan sangat mengenalmu. Kita udah temenan dari kecil, aku tahu kamu tidak akan pernah berbohong, apalagi untuk hal sebesar ini."


"Sekarang, hanya ada aku dan kamu Rai. Aku mohon tolong ceritakan kejadian detailnya agar aku bisa bantu kamu. Karena aku yakin, Yani memang dalang dibalik semua ini."


Raina menceritakan semuanya pada Marsya tanpa ada satupun yang ia tutupi. Termasuk penghianatan Diki, sahabat yang sudah Rai anggap seperti saudaranya.


"Pantas saja, Diki tidak mau datang saat ku ajak kemari. Aku pasti akan bantu kamu Rai. Namun, aku akan tetap berpura-pura agar semuanya menjadi mudah."


"Terimakasih udah mau percaya sama aku Sya, tapi kamu tidak perlu terlibat dengan semua ini. Aku takut Tante Yani juga akan mencelakaimu."


"Untuk itu, aku akan tetap berpura-pura. Jangan khawatir Rai, aku pasti baik-baik saja."


"Satu hal yang aku minta Rai, jaga diri kamu baik-baik. Aku gak bisa 24 jam nemenin kamu disini, aku harap mak lampir itu tidak lagi berusaha mencelakaimu."


"Aku ingin tanya satu hal Sya, sama kamu."


"Apa Rai?"


"Menurut kamu, apakah Mas Gibran masih hidup?"


Marsya tersenyum "Aku gak tahu pasti Rai, koran itu hanya bilang kalau suamimu ikut terbakar dengan mobilnya. Tapi, apa yang hati kamu katakan Rai?" tanya Marsya balik.


"Hati aku mengatakan kalau Mas Gibran masih hidup Sya. Dan aku juga yakin, Mas Gibran masih hidup hanya saja ia berada jauh dariku sekarang."


"Perasaan seorang istri tidak akan pernah salah Rai, melihatmu, aku yakin kalau suamimu masih hidup."


Raina tersenyum kemudian memeluk Marsya.

__ADS_1


Semenjak hari itu Raina tidak pernah murung lagi, meski harus menjalani terapi palsu berulang kali, ia tetap melakukannya. Raina tidak Gila, tapi seperti kata Marsya ia harus ikut alur yang Yani ciptakan. Biarlah Yani berpikir kalau Raina melupakan Gibran dan semua peristiwa menyedihkan itu, sampai waktu itu tiba, hingga keadaan berubah terbalik menjadi lebih baik.


Enam bulan telah berlalu, Wulan yang tak lain adalah kakak Gibran kini menetap di Kalimantan bersama suaminya dan Milka. Sedang Raina saat ini bersama mama dan papa mertuanya telah tinggal di Belanda, selain melakukan terapi dan pengobatan untuk mama mertuanya, Raina juga melanjutkan pendidikannya yang tertunda.


"Ma, katanya hari ini Papa datang. Di telepon Rai bilang sama Papa, kalau mama kangen makanan Indonesia dan pengen banget dodol sama chocodot. Papa bilang di sampai ke daerahnya dulu buat bawa dodol pesanan mama."


"Mama memang kangen makanan Indonesia, tapi kalau chocodot mama rasa kamu aja deh yang pengen. Nakal ya, pakai jual nama mama segala," mertuanya itu terus saja mengelitikinya.


"Ampun Ma, ampun Rai janji kalau udah ada kita bagi dua, okay?"


"Iya, iya."


"Tetapi, Mama harus sering latihannya ya. Jangan kalah sama Alex, meski selalu terjatuh tapi dia selalu berusaha mah."


"Iya Rai sayang, Mama akan rajin latihan. Ya jangan bandingin Mama sama balita tetangga sebelah itu juga Rai." mamanya merajuk.


"Habisnya Mama lucu sih."


"Kamu ini, Rai."


Lima tahun kemudian


Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar, bukan pula hal mudah untuk bisa Raina lalui hingga tahap ini.


Mama mertua Raina yang lumpuh, kini sudah bisa berjalan dengan normal kembali. Rahmi, mama mertua Raina sangat beruntung mempunyai Raina sebagai menantunya, karena Raina lah ia bisa menggerakan kakinya lagi bahkan kini kakinya itu kuat untuk jogging di pagi hari. Bukan hanya Marsya yang mempercai Raina sepenuhnya, Rahmi juga percaya, namun selama ini ia bungkam demi keselamatan keluarganya. Rahmi dipaksa harus merelakan putra kesayangannya, dan ia tidak mau keluarganya yang lain juga menderita terlebih lagi ia tidak ingin kehilangan Raina, menantu yang sudah ia anggap anak sendiri.


Selama ini Raina selalu mencoba mencari keberadaan Gibran, ia tidak yakin kalau jasad yang sudah beristirahat dengan damai itu adalah suaminya. Raina yakin kalau Gibran masih hidup meski semua orang menentangnya, karena hanya harapan dan keyakinannya itulah yang mampu membuatnya bertahan hingga saat ini.


Pada awalnya Raina terpuruk dan begitu menyedihkan, tapi kedatangan Marsya membuatnya menjadi lebih berani, Raina bertekad ia tidak akan menjadi wanita yang lemah, ia harus menjadi kuat, demi Gibran.


Jika dulu, Raina sempat di drop out dari kampusnya dengan tidak hormat, itu pun atas kesalahan yang sama sekali tidak ia lakukan. Kini dalam lima tahun, Raina berhasil meraih gelar Magister nya, dan kehormatan itu ia dapatkan di Leiden Universteit Belanda berkat penemuannya dalam bidang sains. Raina berhasil menemukan senyawa baru sebagai antikanker payudara yang selektif tanpa memiliki efek samping terhadap kanker servik.


Saat ini, Raina bekerja disalah satu industri farmasi terbesar di Indonesia dan terus mengembangkan temuannya.


"Assalaamu'alaikum, maaf menunggu lama dokter Arvi, saya terjebak macet barusan," ucap seorang wanita berjilbab biru yang baru saja datang.


"Wa'alikum sallam. Tidak apa-apa Raina, saya juga baru sampai," pria itu membenarkan letak kaca matanya sembari tersenyum. "Oh, iya silahkan duduk."


"Terimakasih dokter. Mengenai uji klinis yang akan kita lakukan-" Arvi menyela perkataan Raina sebelum wanita itu selesai menyampaikannya.


"Saya mengundangmu kemari untuk makan malam Raina, bukan untuk melanjutkan penelitian kita."


"Baiklah dokter Arvi."


"Kamu mau pesan apa Rai?"


"Samakan saja dengan dokter," jawaban Raina diangguki Arvi, kemudian pria yang Raina panggil dokter itu segera memanggil waiters dan menyebutkan pesananya.


"Saya melupakan sesuatu," ucap Arvi membuat kening Raina mengkerut.

__ADS_1


"Malam ini kamu cantik sekali Raina, saking terpesonanya saya hingga lupa mengucapkan."


"Dokter Arvi bisa saja, tapi terimakasih atas sanjungannya."


"Dan satu lagi Raina, jangan panggil saya dokter, kamu buka pasien saya," Raina hanya tersenyum dengan ucapan Arvi yang ia anggap sebuah gurauan.


"Aku kan temanmu, jadi panggil Arvi saja, ok?"


"Baiklah. Kak Arvi," ucap Raina sembari tersenyum.


Arvi sangat senang mendapatkan senyuman yang jarang sekali terbit dari wanita yang berada dihadapannya saat ini. Raina begitu dingin, jadi sangat wajar bila Arvi sangat senang mendapatkan senyum dari Raina. Meskipun ia pernah Raina tolak, tapi malam ini Arvi akan mencoba kembali meluluhkan hati Raina yang beku. Meskipun resikonya ia harus siap untuk merasakan patah hati kembali. Arvi tak akan gentar, ia akan mencoba lagi dan lagi jika ia gagal, ia akan terus mencari peruntungan itu, ia berharap kali ini semesta mendukungnya.


Selesai makan malam, Raina segera pulang ke rumahnya, Raina bahkan menolak Arvi mengantarkannya pulang. Raina merasa bersalah karena telah menolak Arvi untuk kedua kalinya, ia sama sekali tak ingin menyakiti hati pria itu. Raina rasa lelaki itu terlalu baik untuknya, dan Raina tak bisa menggap Arvi lebih dari sekadar temam, terlebih lagi di hati Raina, nama yang bertahta masihlah sama, dan nama itu begitu kuat terpatri diqalbunya itu.


"Assalamu'alaikum Ma," salam Raina sambil mencium punggung tangan Rahmi, mertuanya itu sedang duduk di sofa ruang tamu, sembari membuka belanjaannya yang banyak.


"Wa'alikum sallam, Rai mama beli gamis baru buat kamu, warna peach, pasti tambah cantik kalau kamu yang kenakan," ucap Rahmi sembari mengangkat gamis itu dan menyampirkannya ditubuh Rai.


"Kamu kurang enak badan sayang, kok pucet gitu?"


"Rai gak papa Ma, cuma kecapean aja."


"Jangan bohong sama mama Rai, apa kamu ada masalah?"


"Dokter Arvi melamar Rai lagi Ma, tetapi Rai gak bisa Ma. Rai masih mencintai Mas Gibran dan akan selalu seperti itu."


"Sayang kamu berhak untuk bahagia, menerima lamaran Arvi bukan berarti rasa cintamu hilang untuk Gibran. Kamu masih muda, jalanmu juga masih panjang. Bukalah hatimu sayang, nak Arvi orang yang baik, Mama yakin dia pasti bisa membahagiakanmu. Mama juga akan merasa sangat bahagia, jika kamu mau menerima lamarannya. Meskipun kamu menikah dengan nak Arvi kamu tetap putrinya Mama, kesayangannya Mama."


Pov Raina Desiana Silvi


Sayang kamu berhak untuk bahagia. Menerima lamaran nak Arvi bukan berarti rasa cintamu hilang untuk Gibran. Kamu masih muda, jalanmu juga masih panjang. Bukalah hatimu sayang, nak Arvi adalah pria yang baik, mama yakin dia pasti bisa membahagiakanmu. Mama juga akan merasa sangat bahagia jika kamu mau menerima lamarannya. Meskipun kamu menikah dengan nak Arvi, kamu tetap putrinya mama, kesayangan mama.


Perkataan mama terus saja berputar dikepalaku, dan perkataan mama tadi terdengar lebih dari sekadar permohonan, aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan?


Aku tahu, mama berkata seperti itu, karena beliau sangat menyayangiku. Meskipun beliau bukan ibu kandungku, tapi aku merasa seperti putrinya sendiri, bahkan aku merasa beliau lebih menyayangiku daripada kak Wulan, dan akupun memposisikan mama mertuaku itu sama seperti almarhumah mama, sehingga sangat sulit untuk ku tolak permintaannya. Namun, disisi lain aku masih sangat mencintai mas Gibran.


Ku ambil foto mas Gibran yang berada di atas nakas, ku pandangi sosok yang berada dalam frame ini dengan lekat, jemariku terulur mengusap frame ini dengan sayang. Mungkin orang-orang akan melihatku iba, atau mungkin menganggapku Gila karena hampir setiap hari foto ini selalu aku ajak bicara. Aku tak perduli, karena dengan cara ini, aku merasa mas Gibran ada bersamaku, walau setelahnya hal ini malah membuatku sakit karena semakin merindukannya.


Puas memandangi wajah mas Gibran yang sedang tersenyum ini, akhirnya kuletakkan foto ini didadaku, kemudian aku memeluknya dengan erat sembari memejamkan mata.


Meski kemungkinan kau masih hidup sangat kecil mas, namun harapan dan keyakinan inilah yang membuatku dapat bertahan hingga detik ini meski sulit. Harapan yang membuatku semakin merindumu dan membuat hatiku perih dalam penantian ini.


Kapankah harap ini menjadi nyata? Kapan penantian ini akan berakhir? Kapankah kau akan kembali ke dalam kehidupanku mas?


Tanpamu hidupku menjadi sepi dan tak berarti. Kumohon kembalilah mas, aku tak kuasa lagi menjalani semua ini sendirian.


Mas, kamu dengar aku 'kan?


Apakah kamu, ingin aku memenuhi keinginan ibu yang melahirkanmu kedunia ini  untuk menerima orang lain?

__ADS_1


Rai mohon kembalilah mas, aku rindu. Rai tidak ingin orang lain, aku ingin kamu mas. Aku cinta kamu.


Ku mohon, kembali hiks...hiks


__ADS_2