
Seperti biasa, tempat favorit di kampus yang sering Raina dan sahabatnya kunjungi, selain perpustakaan adalah kantin. Di meja nomor lima inilah, mereka selalu mengisi energinya yang terkuras habis setelah praktikum dan mengerjakan tugas kuliah lainnya.
Padahal hampir dua jam Raina membujuk teman-temannya, makanan dan minuman yang Raina pesan sebagai sogokan pun, sudah habis sedari tadi. Tetapi, sampai sekarang tidak ada satupun yang memenuhi permintaan Raina.
"Rai pokoknya aku gak mau kamu titipin Thomas titik," tolak Marsya sambil cemberut sedang Raina semakin memelas padanya.
"Ayolah Marsya cantik, aku titipin Thomas dkk cuma 3 hari aja, ya ya ya," pinta Raina dengan mata puppy eyes nya.
"Enggak mau," ucap Marsya penuh penekanan, "titipin Rena aja, males banget aku harus bolak-balik kosan kampus," Marsya tetap keukeuh tidak mau membantu Raina dan membuat Irena berjengit ngeri karena harus mengurus Thomas dan teman-temannya.
"Kamu lihat sendiri kan Sya, belum apa-apa aja Rena udah takut. Lagi pula, jangankan ngurus Thomas, sendirinya aja enggak ke urus. Bisa-bisa Thomas kesayanganku dikasih mie instan tiap hari sama Rena. Ayolah Sya, please!" bujuk Raina pada Marsya.
Marsya menghela napasnya, "Ok deh tiga hari aja ya. Lagian kamu mau kemana sih, sampai-sampai harus titipin Thomas?" tanya Marsya heran.
"Kalian tahu sepupu aku, kak Ana?" tanya Raina membuat ke tiga sahabatnya itu membayangkan sosok yang Raina sebutkan.
"Oh kak Rakana yang cantik, anggun dan lembut itu. Emang kenapa dia?" tanya Diki satu-satunya pria dari kumpulan geng Oces ini.
"Benar Dik. Dia mau nikah besok, berhubung kak Ana ponakan Mama satu-satunya, kita harus hadir mulai dari persiapan sampai resepsi selesai," jelas Raina panjang lebar. Ia pun mengeluarkan dua keranjang bertutup kawat yang berisi masing-masing sepuluh ekor mencit di dalamnya.
"Karena Mama bawel banget dan aku harus ikut persiapan. Jadi, keranjang biru untuk kamu Diki, dan satu keranjang merah muda ini buat kamu Sya. Kalian jaga baik baik ya mencit-mencit ku, di dalamnya sudah aku siapin semua kebutuhannya makannya minumya. Pokoknya jangan biarkan mereka sampai kelaperan," ucap Raina sambil memberikan keranjang berisi mencit kepada Diki dan Marsya. Mencit-mencit itu adalah media untuk penelitian Raina.
"Jangan lupa souvenir buat kita ya Rai."
"Urusan gampang Ren. Ya udah Rai duluan ya, dah semuanya," Raina beranjak dari kursi dan meninggalkan mereka semua.
"Dah Raina."
__ADS_1
Setelah sampai dirumahnya, Raina begitu takjub. Padahal, pagi tadi saat ia akan berangkat kuliah, rumah masih seperti biasa, dan sekarang saat pulang, ia melihat rumah ini sudah di dekorasi dengan begitu indah. Mata cantiknya masih mengamati setiap sudut rumahnya, dan perhatiannya teralihkan saat ia melihat mamanya sedang berbincang dengan begitu serius pada salah seorang pegawai. Raina pun menghampiri mamanya, saat pegawai itu berlalu untuk mengerjakan instruksi dari mama.
"Ada acara apa sih Ma? Kok rumah kita di dekor juga, bukannya hari ini kita mau ke rumahnya Tante Rima buat hajatan?" tanya Rai tanpa jeda.
"Ini anak, masuk rumah bukannya ucapin salam, malah nyelonong aja,” ucap mama sembari memberikan tangannya pada Raina.
“Udah kok tadi, Mamanya aja yang enggak dengar, ya udah assalaamu’alaikum Mama,” ucap Rai sembari mencium punggung tangan mamanya.
"Wa’alaikum salam. Begini Rai, Kakek yang keukeuh kalau akadnya harus diadakan di rumah ini. Tahu sendiri kan kakek tidak bisa di bantah. Katanya kalau di rumah Tante Rima terlalu jauh dari rumah mempelai pria, jadi akadnya dilaksanakan disini deh." terang mama sembari memperhatikan para pekerja.
"Kakek sama yang lainnya udah nunggu kamu sayang, jadi cepat bersih-bersih. Udah gitu temuin mereka ya. Mama mau kedepan dulu, cek yang lainnya takut kerjaan mereka gak bener."
"Siap Ma," ucap Raina sembari memberikan hormat seperti pada sang saka.
Selesai membersihkan tubuh dan lengkap dengan pakaian santainya, Raina pun datang ke ruang keluarga. Ia bahagia sekali karena dapat berkumpul bersama keluarga besarnya, momen langka yang hanya didapatkanya pada hari raya besar saja. Setelah bersalaman dengan semuanya Raina langsung mengambil posisi duduk di sebelah kakeknya.
"Kakek, Rai kangen banget sama Kakek," ucap Raina sembari bergelayut manja di lengan kakek serta menyandarkan kepalanya dipundak lelaki sepuh itu.
Ya, cucu kakek Gandi Santana hanya dua orang yaitu Rakana dari alm. Darmawan Santana dan Rima. Serta Raina anak dari Ananta Santana dan Sinta.
Rakana dan Raina sama-sama cantik, tapi karakter mereka jelas berbeda. Kalau Rakana sifatnya keibuan, anggun, dewasa dan lemah lembut. Sedangkan Raina adalah kebalikannya, ia periang, aktif dan sangat manja apalagi pada keluarga nya.
"Kak Ana aku kangen banget, jarang banget sih main ke Jakarta. Tahu-tahu mau nikah aja, cie enggak jomblo lagi, cie cie," goda Raina pada sepupunya itu, tapi semuanya hanya diam, terlebih Rakana yang hanya menundukan pandangannya.
"Kok malah pada diem sih, Rai salah bicara ya."
Kakek berdeham, kemudian memeluk Raina dan Rakana yang berada di samping kiri dan kanannya.
__ADS_1
"Rakana, Raina, kalian adalah cucu yang paling Kakek sayangi. Ternyata waktu bergulir dengan begitu cepat. Padahal, rasanya baru kemarin kalian berada dalam gendongan Kakek, hingga sekarang menjadi gadis yang dewasa, dan waktu juga yang akan segera memisahkan Kakek dari kalian. Ingatlah cucu-cucuku, jika kalian sudah menikah nanti jadilah makmum yang patuh dan ta'at kepada suami kalian selama itu sesuai dengan syariat. Kalian paham?"
"Kakek yang menikah kan kak Ana, kenapa Rai juga kena ceramah?" Ceplos Rai yang dihadiahi pelototan oleh mamanya.
"Rai sayang, kamu kan nantinya juga akan menikah."
"Iya Kakek, tapi enggak sekarang juga. Rai kan masih kuliah."
"Kata siapa kuliah enggak boleh nikah?" tanya kakek.
"Bisa sih kek."
"Ya sudah kalau gitu Kakek nikahkan kamu juga besok." ucap kakek dengan serius.
"Dih kakek main nikah-nikahin aja. Jangankan calon suami, pacar saja Rai enggak punya. Mereka semua takut sama mama. Mama sih garang," Raina mendrama hingga membuat mereka semua tertawa.
"Niat Rai godain kak Ana, malah Rai yang kena batunya. Udah ah Rai ke kamar aja, mau ngerjain tugas," Raina pun pergi ke kamar nya dengan begitu gondok.
Saat Raina sudah meninggalkan ruang keluarga, Sinta, mamanya Rai menjadi salah tingkah karena merasa cemas, juga takut, takut kalau putri kesayangannya itu akan membenci dan jauh darinya atas apa yang akan terjadi hari esok.
"Sinta kenapa kamu terlihat khawatir seperti itu?" tanya kakek melihat menantunya begitu resah.
"Tidak Ayah, hanya saja aku sangat takut kalau Raina..."
"Tidak ada yang perlu ditakutkan Ma, semuanya akan baik-baik saja," tenang Ananta yang baru pulang dari kantor.
"Iya Sinta tenang saja, tidak akan terjadi sesuatu yang buruk. Semuanya akan baik-baik saja. Meskipun Raina terlihat manja, tapi ia adalah gadis yang kuat. Ia tidak akan membuat kita kecewa apalagi sampai membuat kita kehilangan muka," ucap kakek tegas sembari melihat Rakana dengan tatapan tajam, ada kemarahan dalam setiap ucapan kakek barusan.
__ADS_1
Rakana menunduk, ia tahu, dirinya telah membuat kesalahan, namun ucapan kakeknya barusan membuat hatinya terluka, walalu ia tahu, ia juga akan menorehkan luka yang begitu besar pada saudari sepupunya.
“Sekali lagi, pastikan Raina tidak tahu apa-apa sebelum ijab qabul di iqrarkan!” Perintah kakek.