Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
14


__ADS_3

Siang ini begitu cerah dan memberikan semangat untuk Raina hingga ia menjadi orang pertama yang menyelesaikan kuis mata kuliah Kimia Medisinal. Ia lebih dulu berjalan dikoridor meninggalkan sahabat nya yang masih sibuk menyelesaikan kuis mereka. Langkahnya terhenti tat kala ponselnya berdering dari dalam tas.


"Assalaamu'alaikum, sayang."


"Wa'alaikum salam, Mama," ucap Raina sambil meneruskan langkahnya.


"Rai, Mama ada diseberang kamu sayang," ucap mama yang melambaikan tangannya pada Raina. Raina tersenyum senang dan berlari ke arah mamanya. Mereka pun duduk dikursi dekat Laboratorium Dasar.


"Mama Rai kangen banget, Mama apa kabar?" tanya Raina sambil memeluk mama nya.


"Mama baik, gimana proposal penelitian kamu sayang?" tanya mama balik.


"Mama datang kesini cuma mau mantau proposal Rai doang?" ucap Raina sambil mengerucutkan bibirnya dan mama nya malah menyentil pucuk hidungnya.


"Manja nya anak Mama ini, proposal itu salah satunya sayang, salah duanya Mama juga kangen sama kamu, dan salah tiga nya Mama mau kasih ini sama kamu," ucap mama sambil memeberikan sebuah undangan pada Raina.


"Dari siapa Ma?"


"Anak Mama ini bercanda atau belaga bodoh si? Rai sayang, buka aja undangan nya, disana kan sudah tertera namanya."


"Iiih ... Mama kebiasaan deh, suka gitu sama anak sendiri, heran Rai lebih sering dibully Mama, daripada temen."


"Kak Ana yang nikah Ma?" ucap Rai setelah membuka undangan tersebut.


"Iya sayang, Ana akan menikah lusa. Setelah akad nikah, Mama, Papa, Kakek sama Tante Rima akan ikut umroh bareng sama mereka. Kamu sama Gibran mau ikut enggak sayang?"


"Kaya nya Rai enggak bisa Ma, Rai sama Mas Gibran sama-sama sibuk. Tapi Rai akan kasih tau Mas Gibran kok, In Syaa Allah kalau akad Rai akan datang Ma."


"Enggak papa, Mama ngerti kok sayang."


"Tangan kamu kenapa sayang?" tanya mama khawatir sambil memegang pergelangan tangan Raina.


"Rai belum bisa masak ikan Ma, minyak nya bandel nyiprat-nyiprat." Mama langsung mengecup tangan Rai yang terluka.


"Maafin Mama Rai. Saking sayangnya Mama sama kamu, Mama malah manja in kamu dan enggak pernah menyuruhmu melakukan pekerjaaan rumah tangga. Jangan kan masak ikan kamu masak mie instan aja suka sampai ancur mie nya. Tapi Mama bangga banget sama kamu, kamu mau belajar semua nya Rai."


"Tapi Mama tahu enggak? Rai pernah bilang sama mas Gibran, kalau Rai enggak bisa apa-apa, jangankan ngurus urusan rumah tangga, Rai aja masih di urusin sama Mama. Tapi Mas Gibran bilang, kalau dia nikahin Rai itu untuk menjadi istrinya bukan untuk jadi pembantunya, dan mas Gibran tetep terima Rai apa adanya. Gimana enggak kelepek-kelepek Ma Rai sama dia?"


"Jadi, enggak nyesel kan nikah sama Gibran?"


"Enggak lah Ma."


"Udah cinta nih sama suaminya?" mama mengedipkan sebelah matanya.


"Ah Mama," Raina malu-malu.


"Mama jadi pengen cobain masakan kamu sayang, enak enggak ya?"


"Jangan raguin Rai Ma soal rasa masakan yang Rai buat, kalau enggak asin ya hambar Ma, soal ngulek Rai sudah khatam, orang dari smk sampai kuliah sering banget gerus resep pakai mortir sama stamper, bedanya kalau dirumah Mas Gibran pakai cobek sama ulekan. Tapi mau gerus obat ataupun masakan, Rai meraciknya pakai cinta loh ma."


"Udah berani bilang cinta ya sekarang mah di depan Mama."


"Dulu sih jangankan mau bilang, baru niat dalam hati aja, mama udah marah. Lagian mama dulu kenapa sih kalau Rai di antar cowok suka judes banget? Jadi pada ngacir kan mereka."


" Memang Mama segarang itu ya Rai? "


"Enggak sih ma, cuma kalau di sinetron-sinetron mama pantes tuh jadi peran antagonis judulnya mertua kejam haha."


"Ih berani ya sama Mama, Mama potong ya uang jajan kamu." ucap mama sembari menggelitik pinggang Raina.


" Ah... biarin, Rai dapet uang dari mas Gib... ran ge... li ma...ma. Ampuun." ucap Rai tertahan sambil menahan rasa gelinya. Mama menghentikan aksinya tat kala papa menelponnya.


"Siapa Ma?" tanya Raina.


"Biasa, nih mantan, ganggu mulu."


"Sini Ma, Rai pengen ngobrol sama Papa." mama memberikan handphonnya.


" ................. "

__ADS_1


"Rai juga kangen sama Papa"


" ........ "


"Enggak boleh, pokoknya hari ini Mama, Rai perboden seharian, ya Papa ya."


" ............ "


"Terimakasih Papa, Rai sayang sama papa, dadah papa assalaamu'alaikum," pamit Rai menutup telpon.


"Ma, mantan Mama ngijinin loh kita jalan seharian, kata Papa mau belanja sepuasnya juga boleh, kalau perlu sampai gempor katanya. Tapi enaknya ngapain dulu ya Ma?" tanya Raina sembari berpikir.


"Nyalon dulu, enak deh Rai."


"Ayo Ma, mumpung mas Gibran lembur hari ini. Lagian mas Gibran juga kemarin baru aja ngasih bulanan. Bentar Ma, Rai izin dulu sama Mas Gibran." ucap Rai sembari mengetik sesuatu di handphone nya.


"Tumben mau diajak Mama ke salon, biasanya juga enggak mau.”


“Biar makin cantik Ma, biar suami betah di rumah.”


Mama Sinta tidak hanya menjadi mama untuk Raina, tapi ia bisa menjadi apapun untuk Raina baik itu mama, ataupun sahabat sekaligus bodyguard untuk nya, walaupun caranya memanjakan Raina dengan sangat, tidak dapat dibenarkan juga. Tapi itu lah kasih ibu rela mengorbankan apa pun demi kebahagiaan anaknya.


Seharian belanja rupanya melelahkan juga, tapi ia senang sekali hari ini, karena sudah lama tidak pergi bersama mama nya.


"Dari mana saja kamu, jam segini baru pulang?" tanya Jihan saat Raina membuka knop pintu.


"Assalaamu'alaikum Mbak Jihan," salam Raina sambil tersenyum.


"Bisa-bisa nya asyik belanja sampai pulang selarut ini," ucap Jihan ketus.


"Baca salam sunnah Mbak, tapi jawab nya wajib loh," ucap Rai enteng.


"Wa'alaikum salam," jawab Jihan.


"Aku habis jalan mba."


"Sudah nikah masih keluyuran saja, bocah sepertimu mana bisa mengurus suami."


"Mau ngajarin saya?"


"Please kalem aja deh mba, enggak usah pakai urat gitu ngomongnya, Rai nemenin mama Rai, tadi mas Gibran juga ngijinin, kok mba yang kebakaran jenggot sih heran deh," ucap Raina dan Jihan hanya mengepalkan tangan nya saja.


"Dah mba Rai mau ke atas capek."


Selesai mandi dan membereskan belanjaannya, Raina tersenyum hanya karena mendapat wa dari Gibran.


 From : Mas Suami 


Tunggu mas pulang ya sayang. Kamu mau dibawain apa?


To : Mas Suami


Mas pulang dengan selamat aja Rai bersyukur banget. Hmmmm martabak enak juga kayak nya.


From : Mas Suami


Ditunggu tuan putri, pangeran beserta martabaknya siap meluncur.


Sembari menunggu Gibran pulang, Raina menyalakan TV dan menonton kartun Favoritnya. Mendengar tawa yang begitu memekakan telinganya Jihan datang dan mengganti saluran yang sedang Raina tonton.


"Mbak ngapain sih?" ujar Raina sembari merebut kembali remot dari Jihan.


"Bocah banget kamu nonton kartun."


"Suka-suka Rai lah Mbak. Memang situ suka nya nonton gosip? Dosa loh Mbak nonton acara yang suka gunjingin orang kaya gitu, sama aja kaya makan bangkai saudara sendiri."


"Banyak bicara banget sih. Sekarang, jadwal nya Film kesukaan saya," ucap Jihan kemudian memindahkan kembali chanelnya dan mereka terus berebut remote.


Terdengar suara bel Raina memberikan remote nya kepada Jihan dan langsung berlari ke arah pintu.

__ADS_1


"Assalaamu'alaikum."


"Wa'alaikum sallam," ucap Rai mencium punggung tangan Gibran, kemudian mengambil tas dan jas yang Gibran pakai.


Mendengar Gibran pulang, Jihan pun menghampiri mereka.


"Kamu masih ingat aja Al, kalau aku suka martabak," ucap Jihan sedang Gibran hanya nyengir. Raina ingin sekali mentertawakannya karena ia rasa ucapan Jihan lebih lucu dari kartun yang ditonton nya tadi, jelas-jelas Gibran membeli martabak itu karena Raina yang meminta nya, biasanya juga wanita itu enggak mau makanann berkalori tinggi, lah hari ini pakai mau martabak segala.


Melihat Gibran membawa dua dus martabak, Raina mengambil satu dus dan memberikan nya pada Jihan.


"Ini Mbak martabaknya, tapi maaf ya kita enggak bisa nemenin Mbak makan, kita mau langsung ke kamar dan kayaknya Mas Gibran capek banget," ucap Raina.


"Makasih," ucap Jihan datar.


"Yuk ah mas." ucap Raina sambil menggelayut manja ditangan Gibran.


Selesai berganti pakaian, Gibran bergabung bersama Raina menikmati martabak yang tadi Gibran beli.


"Mas, lusa kak Ana nikah."


"Iya, Mama kamu udah ngasih tahu Mas kok."


"Kamu enggak cemburu kan?" ucap Raina sembari tertawa.


"Ngapain Mas cemburu?"


"Kan yang harus nya jadi istri mas tuh, kak Ana bukan Rai?"


"Jodoh Mas kan kamu Rai, makanya yang sekarang jadi nyonya Gibran ya kamu."


"Ah Mas, bisa aja deh."


"Terus Mama nawarin umroh bareng, tapi Rai tolak karena kuliah Rai dan kerjaan Mas lagi banyak. Enggak papa kan Mas?"


"Enggak papa sayang, umroh nya kita berangkat berdua aja pas kamu libur semester."


"Makasih mas Gibran."


"Enak banget mas martabaknya, kulitnya masih reyah dan lembut banget dalemnya. Sini Rai suapin," ucap Raina sembari menjejali mulut Gibran dengan martabak.


"Enak banget, apalagi disuapin istri sendiri."


Gibran menaruh kepalanya dipangkuan Raina sambil mengusap-ngusap perut Raina.


"Yang, perut kamu kok masih rata sih."


"Mas tiap hari aja bawa martabak manis, sama yang asin kalau perlu, pasti deh perut Rai buncit sama melar," ucap Raina yang masih asyik menghabiskan martabak nya.


"Bukan itu maksud Mas, kamu kok enggak peka sih Rai?"


"Oh maksud Mas, belum ada dedek nya ya?"


"Iya biar aku dan kamu enggak hanya jadi kita, kalau ada dedek bayi kan, jadi kami."


"Berdo'a aja terus Mas, sama usaha juga. In Sha Allah kita juga bakalan segera punya. Lagian Rai kan enggak pakai kontrasepsi."


"Kalau gitu, ayo Yang."


"Ngapain? "


"Ikhtiar, ngasih penerus buat keluarga Wardiman."


"Martabak nya belum habis," ucap Rai mempermainkan Gibran.


"Besok mas beli sama gerobak nya." mohon Gibran.


"Ya udah mas duluan aja wudhu, nanti Rai nyusul nanggung masih enak martabak nya."


"Siap."

__ADS_1


Gibran pun masuk ke kamar mandi meningalkan Raina yang masih asyik dengan kunyahan nya.


__ADS_2