
Puas melihat penampilannya di cermin, Raina memutar tubuhnya sembari tersenyum. Hari ini ia dan Gibran akan jalan-jalan keluar, untuk merayakan hari jadi Raina setelah mama nya pulang. Langkah mereka terhenti saat Yani memanggil mereka.
"Gibran!"
"Iya Tante, ada apa?" tanya Gibran.
"Mang Joko nganterin Kakek ke cabang tadi, tolong jemput Dinda ke bandara ya Gibran, dia sudah menunggu dari tadi."
"Maaf tante, Gibran sudah ada janji sama Raina."
"Jemput Dinda dulu Mas, kita bisa pergi lagi nanti."
"Istri kamu aja, enggak keberatan kok."
"Tapi tan--"
"Udah mas, aku bisa nunggu kamu kok," ucap Raina sambil tersenyum.
"Ya sudah, mas berangkat dulu ya."
"Hati-hati mas," ucap Raina sembari mengecup punggung tangan Gibran.
"Assalaamu'alaikum," pamit Gibran.
"Wa'alaikum salam." jawab Raina dan Yani bersamaan.
"Mau kemana kamu?" tanya Yani ssat Raina menaiki anak tangga.
"Rai mau ke kamar."
"Sini! bantuin Tante siapin makanan buat nyambut Dinda."
"Baik Tante, tapi Rai ganti baju dulu ya sebentar."
Selesai mengganti bajunya, Raina pun turun untuk membantu Yani di dapur. Kemudian ia pun memakai apron yang diberikan Yani padanya.
"Bukan seperti itu Raina, potong wortelnya menyerong."
__ADS_1
"Bulet labih cantik tante."
Kemudian Yani mengambil alih pisau yang dipegang Raina.
"Begini caranya, masa motong sayuran aja gak bisa," Yani memberikan contoh hingga wortel yang berada di dalam keranjang hampir habis.
"Loh kok malah jadi saya yang beresin," dumel Yani membuat Raina cekikikan.
"Raina tambahin garam, sup nya masih hambar," titah Yani saat mencicipi sup yang masih mengepul didalam wajan.
"Matikan kompornya, capcaynya sudah matang."
"Balikin ayamnya, jangan sampai gosong! Eh angkat aja udah mateng kok." "
"Raina, pudingnya pakai mangga bukan pepaya."
"Rainaa!" panggil Yani.
"Iya Tante, apa lagi?" ucap Raina tersengal dengan peluh didahinya.
Raina menyandarkan tubuhnya di depan kulkas sembari bergumam "Bi Iis kenapa kamu pulang kampung lama sekali? Rai lelah."
Setelah berkutat di dapur selama hampir dua jam, akhirnya Raina dapat menghembuskan napasnya lega saat semua nya telah selesai. Merasa badannya lengket, Raina pun kemabali ke dalam kamarnya untuk mandi lagi. Selesai dengan ritualnya, Raina pun turun ke bawah, dan rupanya semua orang telah berkumpul.
"Kakek senang sekali hari ini, karena menantu kakek sedang berulang tahun dan kebahagiaan kita lengkap karena kembalinya Dinda berkumpul bersama kita lagi."
"Kok, hanya Dinda kek, Jihan enggak ya," ucap Jihan yang baru datang dari arah dapur bersama Yani dengan membawa orange juice. Raina penasaran dengan wanita cantik ini, pikirnya terus menerka-nerka siapa dia sebenarnya.
"Kamu juga datang Jihan? Maaf kakek tidak tahu. Kakek pikir hanya Dinda yang pulang," ucap Kakek. Jihan pun duduk disebelah Dinda.
Saat Raina menyedokan nasi untuk Gibran, tiba-tiba seseorang telah mengisi piring Gibran terlebih dahulu. Pandangannya jatuh pada Jihan yang sedang memilihkan lauk untuk Gibran.
"Kamu sangat suka telur setengah matangkan Al?" tanya Jihan saat Raina menyendokan capcay untuk Gibran sedang Gibran hanya tersenyum kikuk.
"Bukannya Mbak baru datang juga dari bandara 'kan? Pasti mbak lelah, Mbak duduk saja. Oh iya, Mbak mau makan pakai apa?" tanya Raina membuat dahi Jihan mengkerut.
"Ini Raina, dia istri aku Ji."
__ADS_1
"Jihan sahabat Mas," ucap Gibran saat menatap Raina.
"Seandainya almarhum mom dan daddy tidak mengajaku pindah ke Sidney, pasti kita masih jadi tetangga, sayang mom malah menjual rumah yang dulu jadi aku tidak punya tempat tinggal disini," ujar Jihan sedih.
"Jangan sedih Jihan, anggap saja ini rumahmu juga, kamu bisa tinggal sampai kapanpun kamu mau, pintu rumah ini selalu terbuka untukmu," ucap kakek.
Wardiman selaku pemilik rumah ini sudah menganggap Jihan sebagai cucunya sendiri, selain ia berteman dengan keluarga Jihan yang juga turut membantu usahanya pada masa lalu, mereka juga masih kerabat, sehingga tidak mungkin bagi Wardiman membiarkan Jihan sendirian di Jakarta.
"Terimakasih kakek."
Selesai makan, Raina membantu Yani membereskan piring-piring dan mencucinya. Raina kaget saat Gibran memeluknya dari belakang.
"Aduh Mas Gibran, Rai kaget, untung aja piringnya gak pecah," ucap Raina menyingkirkan tangan Gibran dari pinggangnya.
"Maafin Mas ya, kita enggak jadi pergi hari ini," ucap Gibran yang malah memeluknya semakin erat.
"Enggak papa Mas, tapi lepasin dulu tangannya, kapan cuciannya selesai kalau tangam Mas terus meluk aku kaya gini?" Geram karena perkataannya tak digubris, Raina berbalik arah dan mengusap wajah Gibran menggunakan tangannya yang penuh dengan busa sabun. Gibran pun membalas perbuatan Raina dengan menyipratkan air dari keran. Bukannya beres, pekerjaan Raina malah bertambah karena kini dapur menjadi kacau dengan perbuatan mereka.
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa dapur seperti kapal pecah?" pekik Yani yang dibalas cengiran Gibran.
"Beresin se-ka-rang juga, SAMPAI BERSIH!" tegas Yani kemudian meninggalkan dapur.
"Siap tante."
"Gara-gara Mas sih, tante Yani jadi marah 'kan," ucap Raina sebal.
"Tenang sayang, Mas bantuin kamu kok sampai bersih," ucap Gibran enteng.
"Mas itu bukannya bantuin, tapi malah bikin rusuh," ketus Raina.
"Jangan marah dong sayang," bujuk Gibran pada Raina.
"Pokoknya Rai marah. Ya Allah, harus mulai dari mana lagi ini?" ucap Raina sambil berjalan menuju wastafel dan ia hampir jatuh karena lantainya licin oleh sabun, untung saja Gibran segera menolongnya. Raina melihat Jihan berada di depan pintu, menyaksikan Gibran yang sedang menyangga tubuh Raina. Dengan sengaja, Raina mendekatkan wajahnya pada Gibran hingga hidung mereka saling bersentuhan, melihat Jihan pergi dengan sebal, Raina tersenyum dengan puas. Raina segera berdiri dengan benar, lalu memalingkan wajahnya dari Gibran.
"Mas kira, kamu mau cium," ucap Gibran sembari memajukan bibirnya dua senti.
"Cuam cium, cuam cium. Cium sana pantat panci." Raina mendorong Gibran dari tubuhnya kemudian pergi meninggalkan Gibran yang melongo.
__ADS_1