Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
30


__ADS_3


End


Seorang wanita baru saja keluar dari bandara dan hendak menaiki sebuah taksi, namun baru saja ia akan membuka pintu mobil, ada seseorang yang sudah mencekal tangannya. Rupanya bukan hanya seorang, akan tetapi beberapa polisi dan petugas keamanan bandara.


"Apa-apaan ini? Lepaskan tangan saya!"


"Sebaiknya, ibu ikut kami ke kantor sekarang."


"Atas dasar apa, Bapak membawa saya?"


"Ini surat laporan penangkapan anda, Ibu dituduh melakukan pembunuhan berencana dan juga melakukan human trafiking."


"Bapak pasti salah orang. Itu bukan saya," elak Yani.


"Ibu bisa menjelaskannya dikantor."


"Lepaskan saya!" ronta Yani.


Sementara disisi lain, Raina sedang membantu Gibran untuk masuk ke dalam mobil bersama mama dan papa mertuanya, karena malam ini Gibran sudah boleh pulang ke rumah, meski tetap harus rawat jalan dan menjalani beberapa terapi.


Sesampainya di rumah, Gibran di alihkan ke kursi roda oleh papanya, kemudian Raina yang mendorongnya hingga masuk ke dalam rumah.


Mata Gibran berkaca, sebelumnya ia tak pernah menyangka bisa kembali ke rumah ini lagi dan berkumpul bersama keluarga yang dicintainya. Pasalnya ia sudah hampir putus asa, karena percobaan melarikan dirinya selalu gagal meski sudah mencoba ratusan kali. Setiap ia tertangkap melarikan diri, tak segan mereka mencambuk dan menyiksanya. Gibran benar-benar tak menyangka kalau perbudakan itu memanglah nyata meski di zaman modern seperti ini, dan ini adalah kejahatan internasional yang nyata di alaminya. Namun, pertolongan Allah itu nyata, ia bisa selamat dari tempat mengerikan itu bahkan pada saat titik terlemahnya.


Allah tidak akan menguji suatu kaum diluar batas kemampuannya.


"Kamar kalian sekarang dibawah dulu ya, biar gampang kalau Gibran mau kemana-mana," ucap mama saat membuka pintu kamar.


"Iya Ma."


"Mama sama papa ke kamar ya. Kalian istirahat ya."


"Iya Mama."


Raina pun menutup pintu kamar mereka lalu mendekati Gibran.


"Mas aku wudhu dulu ya mau shalat Isya."

__ADS_1


"Kita berjama'ah. Mas mau shalat sama kamu."


"Baik Mas, Rai ambil koko Mas dulu ya, habis itu Mas tayamum."


Selesai membantu suaminya mengganti, baju Raina pun pergi ke kamar mandi untuk berwudhu.


Seminggu yang lalu saat Raina melepaskan ikatannya dengan Arvi, ia memberitahukan pada Gibran segalanya dan lebih banyak mama Gibran yang menjelaskan kepada putranya itu selama Gibran tidak ada. Begitupun dengan Gibran, ia menceritakan apa yang dialaminya lima tahun terakhir ini, hingga membuat wanita-wanita yang dicintainya itu tersedu mengeluarkan air mata.


Karena status Gibran sebelumnya sudah dianggap meninggal dan untuk menjaga kehati-hatian akhirnya Gibran mengucapkan kembali ijab qabul untuk Raina, meski hanya disaksikan keluarga Gibran dan juga wali hakim serta saksi baik dari pihak Gibran juga Raina dan itu dilkakukan di rumah sakit.


Raina keluar dari kamar mandi, kemudian memakai mukenanya. Raina menggelarkan sajadahnya dibelakang Gibran yang duduk dikursi roda kemudian membacakan iqamah.


Ini adalah shalat berjama'ah mereka yang pertama setelah lima tahun terpisah. Seperti biasa, suara Gibran mengalun dengan indah, selesai membaca Al-Fatihah yang di amini Raina, Gibran melanjutkan membaca surah Al-Insyirah.


Alam nasyrah laka shadraka, wawadha'naa 'anka wizraka, alladzii anqadha zhahraka, warafa'naa laka dzikraka, fa-inna ma'a al'usri yusraan, inna ma'a al'usri yusraan, fa-idzaa faraghta fainshab, wa-ilaa rabbika farghab.


"Maka sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu pasti ada kemudahan."


Allah mengulangnya hingga dua kali dalam surah Al-Insyirah.


Allah telah memberikan satu paket secara bersamaan, kesulitan bersama dengan kemudahan, permasalahan sekaligus dengan penyelesaiannya.


لا يكلف الله نفساً إلا وسعها


"Bahwa Allah tidak membebani seseorang diluar kemampuannya"


Esoknya Gibran, Raina dan juga mertuanya datang ke pengadilan untuk memberikan kesaksian. mama Gibran benar-benar murka melihat Yani yang nampak tak merasa bersalah sedikitpun, mertua Raina itu hampir kehilangan kontrol untuk menampar Yani jika suaminya tidak segera menghentikannya.


"Sabar Ma," tenang papa.


"Papa, dia sudah jahat sama anak kita. Wanita ini tidak pantas untuk hidup. Benar-benar tidak tahu diri padahal keluarga kami sudah baik sama kamu," Rahmi tak berhenti bersumpah serapah.


Saat suaminya melepaskan genggamannya Rahmi benar-benar menampar Yani karena begitu geram. Sementara Yani hanya tertawa-tawa sembari memegangi pipinya yang terasa panas.


Sidang berlangsung selama beberapa kali, meski sidangnya berjalan dengan alot, akhirnya Yani divonis menghabiskan sisa hidupnya didalam jeruji besi. Selang beberapa waktu, dari rutan yang memenjarakannya, Yani dipindahkan ke rumah sakit jiwa karena mengidap skizofren, tak lama setelahnya, Yani meninggal bunuh diri dengan keadaan yang amat tragis.


***


Waktu terus berlalu, Gibran sudah mulai kembali ke kantor dan meninggalkan kursi rodanya. Justru sekarang Raina lebih banyak dirumah, Raina memutuskan untuk berhenti kerja demi mengurus suami dan calon anaknya yang baru berusia enam belas minggu sekarang. Meski begitu sesekali ia datang ke rumah sakit yang didirikannya, memang belum lama, tapi rumah sakit itu tak pernah sepi. Selain menggratiskan biaya bagi pasien yang tidak mampu tanpa persyaratan, Raina juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga sekitar.

__ADS_1


"Loh, kok udah pulang?"


"Memangnya enggak boleh, katanya mau makan seblak?"


"Tapi disini kan susah nyari seblak Mas."


"Mas enggak mau anak kita ileran, jadi Mas aja yang mau masakin kamu seblak."


"Jadi dalam paper bag itu apa?"


"Seblak instan, Mas pesen tadi malem sama Tomi, mereka habis liburan dari Garut dan tadi dateng ke kantor nganterin ini."


Gibran bergegas ke dapur kemudian segera memasakan seblak itu untuk Raina. Gibran sangat bersemangat karena selama empat bulan kehamilan baru kali istrinya itu merasakan ngidam.


Selesai memasaknya, Gibran menaruhnya di meja makan.


"Kelihatannya enak tuh."


"Ayo sini sayang, Mas suapin."


Satu sendok berhasil masuk ke dalam tenggorokan Raina.


"Ternyata memang enak ya," Raina mengomentari rasanya. Kemudian istrinya itu mengambil alih sendok dari tangan Gibran kemudian menyendokan seblak itu ke dalam mulut Gibran.


"Mas juga harus cobain, gimana?"


"Pedes Yang, tapi kamu kok enggak kepedesan sih?"


"Orang gak pedes, lidah kamu ini masih aja ya," omel Raina.


"Mas, aku kenyang. Tapi kamu harus habisin ini semuanya ya, inget jangan mubazir loh."


"Tapi, Yang ini-"


"Enggak ada tapi-tapian, ini maunya dedek." ucap Raina sembari mengusap perutnya, dengan begitu Gibran kalah telak. Yang jelas Gibran itu SUSIS, a.k.a Suami Sayang Istri dan anak.


Raina benar-benar bersyukur memiliki suami yang begitu mencintainya, serta mertua yang begitu menyayanginya.


Dulu ia memang sedih karena harus menggantikan Rakana sebagai Pengantin Pengganti, namun ia harus berterimakasih karena penolakan Rakana lah yang mebuatnya bisa bersama dengan Gibran saat ini.

__ADS_1



__ADS_2