Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
6 Cemburu


__ADS_3

Tepat jam delapan malam, Raina terbangun. Ia melihat Gibran sedang fokus dengan laptopnya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.


"Mas, Rai ketinggalan sesuatu di kampus," ucap Raina namun Gibran bergeming.


"Mas, anter ke kampus lagi ya?"


"Besok aja ya, kan kamu masih sakit."


"Sekarang Mas, ini penting ku mohon."


"Besok."


"Ya sudah, kunci mobil mana?"


"Kamu bercanda Rai,"


"Siapa yang bercanda sih. Sini kunci mobilnya."


"Ya sudah, aku naik taksi saja."


Raina turun dari ranjangnya, kemudian ia segera memakai jilbab, dan menyampirkan tas selempang ke bahunya.


"Aku pergi, assalamualaikum."


Walau kesal, Raina tetap pamit dan mencium tangan Gibran.


"Tunggu Mas sebentar."


Raina tersenyum senang karena Gibran mau mengantarkannya. Saat dimobil, Gibran sesekali melihat Raina yang masih meringis kesakitan. Namun Raina tak menggubris rasa sakitnya, raut wajahnya lebih menunjukan kalau ia khawatir.


"Thomas, tunggu aku."


Gibran berhenti mendadak, membuat Raina mengusap dadanya karena merasa terkejut.


"Loh kok ngerem mendadak sih, ada kucing?"


"Thomas? Jadi, kita kesana karena dia!" teriak Gibran marah.

__ADS_1


"Benar, ia juga ikut pulang, mungkin," Raina sengaja memancing Gibran, maa mungkin ia membawa mencit-mencitnya pulang ke rumah.


"Apa? kamu ingin membawa orang lain ke rumah. Yang benar saja Raina."


"Sudahlah Mas, aku tak ingin berdebat denganmu sekarang, sebentar lagi kita sampai."


Setelah sampai dikampus, Gibran masih marah dan tak mau turun dari mobil.


"Ayo Mas, kita ke lab Farmakologi," ajak Raina.


"Maksudmu, Mas harus mengantarkanmu bertemu Thomas!" Gibran meninggikan suaranya.


"Mas kenapa sih marah-marah enggak jelas? Ya sudah kalau tidak mau mengantar, aku bisa ke lab sendiri."


'Maksudmu aku harus melihatmu yang terang-terangan selingkuh dihadapanku dan kau mau membawanya pulang juga hhhh ' umpat Gibran dalam hati


Raina pun meninggalkan Gibran yang masih stay didalam mobil. Dengan hati gondok pun, akhirnya Gibran tetap mengekori Raina dari belakang.


"Belum beres ya praktikumnya Mir?" tanya Raina pada Mira.


"Iya Rai, aku lagi uji aktivitas ekstrak yang aku punya, kamu sendiri?"


Gibran yang berada didepan pintu pun hanya melongo. Ternyata Thomas itu hanya seekor mencit, ia kira pacarnya Raina. Ia merasa malu, karena terlajur marah pada Raina.


"Semangat praktek ya Mir, aku pulang duluan. Assalamualaikum."


"Aku kira, Mas masih dimobil," ucap Raina sinis.


"Mas takut kamu kenapa-napa."


"Oh," Raina cuek.


Mereka pun berjalan beriringan.


"Maafin Mas ya."


"Hmmm."

__ADS_1


"Jangan marah dong Rai, Mas pikir Thomas itu laki-laki."


"Thomas kan memang laki-laki."


"Bukan itu, maksudnya, Mas kira Thomas itu ...."


"Manusia," sela Raina, “ngajarin aku harus husnudzon, sedirinya malah su’udzon, Mas, Mas,” geleng Raina, sedang Gibran hanya diam merasa bersalah.


"Mas cemburu?"


"Kata siapa?"


"Aku barusan,"


"Enggak." elak Gibran.


"Ngaku aja deh,"


"Cie cemburu sama mencit. Hahaha, gak elit banget Mas." Gibran melihat Raina tertawa lepas dan ia senang karena hal itu. Raina jauh lebih cantik ketika ia tersenyum, apalagi jika tertawa seperti ini. Raina tak berhenti menggoda Gibran sampai mereka masuk kedalam mobil.


Kruyuk kruyuk


"Sepertinya seseorang tengah kelaparan sekarang," ejek Raina.


"Siapa juga yang tega membuat suaminya kelaparan,"


glek


Raina baru sadar, jangan-jangan dari tadi Gibran hanya menemaninya tidur sampai melupakan jam makannya.


"Kalau gitu kita kerumah sekarang, aku janji masakin apapun yang Mas mau."


"Jangan Rai, Mas tahu kamu masih sakit. Kita makan disekitar sini saja. Biar pulang, kita langsung istirahat," putus Gibran.


"Boleh."


Selesai makan, mereka langsung pulang. Gibran menyuruh Raina untuk segera beristirahat.

__ADS_1


Raina mulai membenahi posisi tidurnya. Ia tidur menyamping kekanan sembari memeluk guling. Selesai shalat Isya, Gibran bergabung bersama Raina dan tidur sambil memeluk sang istri. Rupanya Gibran mulai menyukai aktivitas barunya ini. Gibran berdo'a kemudian mencium puncak kepala Raina dan memejamkan matanya ikut terlelap bersama Raina.


__ADS_2