Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
16 Berita Mengejutkan


__ADS_3

Ini adalah kali pertama Raina menginjakan kaki nya di kantor Gibran. Tak ada yang istimewa di ruangan suaminya itu, ya seperti ruangan pada umumnya. Meja Gibran dipenuhi dengan setumpuk kertas dan file-file penting lainnya yang tersusun dengan begitu rapi.  Raina tersenyum senang, karena ia mendapati foto nya bersama Gibran terpajang dengan cantiknya dimeja ini.


Raina duduk di sofa menunggu Gibran menyelesaikan rapatnya sambil membaca diktat kuliah nya.


Kruyuk kruyuk


Dua jam berada diruang ini sendirian, membuat Raina sangat kelaparan, padahal tadi siang dikampus, ia menghabiskan dua porsi batagor sendirian. Entah efek ujian semester yang sedang dijalaninya atau kah perutnya yang karet saja, yang jelas ia lebih sering makan akhir-akhir ini.


Merogoh ke dalam tas nya, ia hanya menemukan dua buah permen karet. Lumayan lah untuk mendiamkan perut nya yang sedang berorkestra ria.


Lama menunggu pun akhirnya Gibran datang.


"Muka nya kok ditekuk gitu, kenapa hmm?" tanya Gibran saat menghampiri Raina.


"Laper."


"Kok camilannya enggak dimakan?"


"Memang ada?"


"Yang disamping kamu itu apa, sayang?"


Raina melirik ke samping nya dan melihat sekantung plastik penuh makanan. Ia merasa kesal sendiri karena mager, ia hanya merogoh tas nya tanpa melirik kanan kiri. Tahu gini kan ia enggak akan jenuh menunggu Gibran sendirian, terlebih lagi ia tidak akan sampai kelaparan.


"Mas enggak bilang sih ada makanan."


"Mas kira kamu tahu, orang ngejugrug di sana."


"Lagian Rai enggak mau makan snack, Rai mau nasi aja."


"Jangan ngambek gitu dong yang, ya udah kamu mau makan dimana?"


"Dimana aja yang penting enak."


"Ya udah yuk berangkat."


Saat mereka akan masuk lift tiba-tiba Raina kembali  ke ruangan Gibran karena melupakan sesuatu.


"Katanya enggak mau?" ucap Gibran sambil melihat ke kantung yang Raina bawa.


"Lumayan buat di jalan."


Dasar plin plan


Kini Gibran dan Raina sedang berada di rumah makan Padang atas usul Raina. Gibran senang sekali melihat Raina makan dengan lahapnya. Raina memang tidak susah untuk urusan makan beda sekali dengan Gibran yang sangat pemilih.


"Enak Yang?"


"Enak Mas, sekalian bungkusin ya udang asam manis nya buat di rumah sama rendang nya juga deh."


"Gampang yang."


"Aaaa," Raina menyuapi Gibran yang isi nya daun singkong dengan sambal ijo. Baru satu suap saja lidah Gibran sudah terasa terbakar. Dulu saja pakai nantangin Raina makan ramen, jadi kalah kan dia. Tak tega melihat suaminya kepedasan Raina pun memberikan Gibran minum.


"Manja nya suamiku ini apa-apa mau nya disuapin."


"Manja nya kan juga sama kamu Yang. Eh ujian nya sampai kapan Yang?"


"Lusa juga selesai."

__ADS_1


"Tinggal satu semester lagi dong ya istri mas di wisuda?"


"Iya mas enggak kerasa. Siap-siap aja ya bantuin Rai kalau harus revisi skripsi."


"Siap."


"Handphone nya bunyi mas."


" ......... "


"Wa'alaikum sallam. Iya Din, Mas lagi makan sama Raina ada apa?"


"Iya mas kesana sekarang," ucap Gibran dengan begitu khawatir.


"Ada apa mas?"


"Kita pulang sekarang ya sayang," Raina pun hanya menganggukan kepalanya dan mengikuti Gibran pulang.


Gibran melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Begitu mereka sampai di rumah, Gibran langsung berlari ke lantai atas di ikuti Raina. Suasana rumah begitu sepi karena kakek sedang liburan dengan membawa seluruh asisten rumah tangganya.


Begitu sampai di kamar Jihan, Gibran melihat Dinda sedang menangis sembari memukul-mukul pintu berusaha membukanya.


"Ada apa Din?"


"Untung lah kalian segera datang. Jihan kak, dia tidak membuka kamarnya sejak pagi. Tapi tadi Dinda sempet denger dia teriak dengan histeris. Mas dobrak aja pintunya Dinda takut Jihan kenapa-napa." isak Dinda.


Gibran mendobraknya dan walhasil pintu pun terbuka, mereka tak menemukan Jihan di kamarnya. Namun,  suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi membuat mereka segera mendatanginya.


Dinda histeris melihat keadaan sahabat nya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja.


Di sinilah Jihan di bawah guyuran shower ia terkulai dengan lemas. Wajah Jihan sangat pucat, bahkan bibirnya sudah membiru dan darah terus mengalir yang berasal dari sayatan dilengannya. Gibran spontan membopong Jihan untuk membawanya ke rumah sakit.


Di luar, semuanya menunggu dengan khawatir terlebih Gibran yang terlihat sangat cemas. Raina meremas tangan Gibran memberikan kekuatan untuk nya. Bagaimana pun Jihan juga berarti dihidup Gibran, Raina juga merasa kasihan pada Jihan terlebih lagi Jihan tidak mempunyai siapa-siapa lagi selain keluarga Gibran.


"Tenang ya Mas, lebih baik kita ke mesjid aja sekarang, udah masuk waktu isya yuk."


Gibran dan Raina pun pergi ke mesjid yang ada di Rumah Sakit ini untuk menunaikan shalat isya.


Selepas bermunajat kepada sang Ilahi, mereka kembali ke ruang tunggu. Beberapa menit kemudian dokter keluar dari sana.


"Keluarga Ny. Jihan?" tanya dokter.


"Saya dok,"  jawab Gibran.


"Alhamdulillah istri dan anak bapak bisa diselamatkan. Jika ada masalah keluarga, sebaiknya dimusyawarahkan agar tidak berakibat fatal. Istri yang sedang hamil itu sensitif pak. Ya sudah saya permidi." pamit dokter.


"Terimakasih dok," ucap Gibran yang dibalas senyuman oleh dokter tersebut.


Mendengar pernyataan dokter barusan membuat Raina lega sekaligus sakit secara bersamaan. Lega karena Jihan baik-baik saja, dan sakit karena dokter menganggap Jihan adalah istri suami nya.


'sabar Raina kau tak perlu menjelaskan posisi mu di sini karena dokter itu tidak tahu apa-apa' Raina mencoba menenangkan hatinya.


Mereka pun masuk ke ruangan Jihan.


"Ji kenapa kamu enggak bilang sama aku Ji? Kenapa kamu selalu menderita sendiri Ji?" isak Dinda.


"Din, sebaik nya kamu pulang ke rumah biar kakak yang jaga Jihan di sini."


"Tapi Dinda juga ingin jaga Jihan kak."

__ADS_1


"Besok kamu bisa ke sini lagi Din, Bukannya besok kamu ada pemotretan."


"Baik lah, jaga Jihan baik-baik ya kak."


"Aku pergi ya kak, Raina." pamit Dinda.


Gibran pun tidur di sofa ditemani Raina yang memeluk lengannya.


*****


Jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi, dan akhirnya Jihan pun terbangun. Melihat itu Gibran langsung mendekati Jihan.


"Al."


Jihan menangis kemudian Gibran memeluknya. Sedang Raina hanya menggigit bibir bawahnya. Raina meremas dadanya dan menggigit bibir bawahnya. Raina tahu situasi nya memang sedang sulit, tapi tak dapat ia pungkiri kalau ia merasa cemburu.


Dokter dan suster datang ke ruangan Jihan untuk memeriksanya.


"Kondisi kesehatan bu Jihan terus membaik, besok juga sudah bisa pulang. Saya akan resepkan vitamin dan bapak boleh segera menebusnya ke apotek. Kami permisi."


"Mas temani Mbak Jihan aja. Obat nya biar Rai yang tebus," Kemudian Raina pergi keluar setelah Gibran mengizinkannya.


Raina berjalan dengan perlahan. Ia melihat banyaknya ibu dan calon ibu yang sedang mengantri di ruang tunggu untuk memeriksakan kehamilannya saat melewati bagian dokter kandungan. Ia mengelus sendiri perutnya yang rata dan tersenyum simpul, membayangkan kalau ia sedang mengandung ditemani Gibran untuk memeriksanya. Kemudian ia tersadar dan melanjutkan langkahnya saat melihat resep yang harus ditebusnya.


Selesai menebus resepnya Raina segera ke ruangan Jihan. Saat pintu sudah terbuka, terlihat Gibran sedang menyuapi Jihan.


Entah kenapa, yang jelas Raina sangat menginginkan apa yang sedang Jihan makan. Tanpa ia sadari ia mengambil sendok yang sedang Gibran pegang, kemudian segera menyendokan ke mulutnya.


"Apa yang kamu lakukan Rai?"


"Ma... maaf maafin Rai Mas." dengan gemetar Rai menyimpan obat nya di atas ranjang Jihan, kemudian berlari keluar.


Sampai ditaman rumah sakit, Raina duduk disebuah kursi dan kini ia tumpahkan tangisnya yang sudah ia tahan sedari tadi. Raina bertanya pada dirinya sendiri. Sebegitu tidak rela kah dia melihat Gibran menyuapi Jihan, atau ia yang terlalu egois? Tapi tadi ia benar-benar menginginkan apa yang sedang Jihan makan. Yang jelas ia merasa hatinya begitu sakit, baru kali ini Gibran berkata padanya dengan nada yang tinggi.


Gibran sempat akan menyusul saat Raina pergi . Akan tetapi, keadaan saat ini sangat tidak memungkinkan bila meninggalkan Jihan sendirian. Barulah setelah tante Yani datang, Gibran langsung mencari Raina.


Setelah mencari hampir ke setiap sudut rumah sakit ini, ternyata Raina ada dibangku taman dengan bahu yang bergetar. Gibran kemudian menghampiri dan ikut duduk bersama Raina.


"Maafin Mas Raina. Mas enggak bermaksud untuk kasar sama kamu," Raina tak menggubris perkataan Gibran.


"Mas memang keterlaluan, tapi kamu enggak boleh diamkan Mas kaya gini juga!" ucap Gibran seraya akan menyeka air mata Raina tapi Raina lebih dulu menghapusnya.


"Maafin Rai Mas, mau dapet bulanan kali, Rai jadi sensitif kaya gini." Raina menghela napasnya, “Rai masih ujian hari ini, Rai pulang duluan ya mas. Assalaamu'alaikum," ucap Raina mengecup punggung tangan Gibran lalu terburu-buru pergi.


Gibran tahu, Raina saat ini sedang menghindar darinya. Ia hanya bisa memberikan waktu agar Raina sedikit lebih tenang. Ia akan menyelesaikan semua nya bersama Raina, setelah pulang dari kantor nanti.


Sebelum ke kantor, Gibran ke ruangan Jihan lebih dulu.


“Al, Raina pasti salah paham,” ucap Jihan.


“Seharusnya dari awal, aku tidak datang ke sini, dan menganggu hubungan kalian,” Jihan menatap Gibran dengan seksama.


“Apa maksudmu Ji?”


“Kata dokter besok aku sudah boleh pulang. Aku akan pulang ke Australi lusa, dan hari ini Chetrine sudah sampai di bandara, ia menjemputku ke sini. Maafkan aku Al, sampaikan juga permintaan maafku pada Raina.”


“Jika itu sudah menjadi keputusanmu, aku akan mendukung. Namun, jika kau butuh bantuan, jangan ragu untuk hubungi aku Ji, kamu bukan hanya sahabat tapi sudah seperti saudariku sendiri,” ucap Gibran tulus.


“Terimakasih Al,” Jihan tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2