
Siang itu cuaca terasa sangat panas, Raina menunggu Gibran pulang, lebih tepatnya ia menunggu pesanan makanannya. Tak lama, Gibran dating membawa beberapa bungkus bakso yang diinginkan Raina.
“Pokoknya Mas juga harus coba!” ucap Raina sembari menyuapi Gibran dengan Bakso yag sudah Raina kasih sambal sangat banyak.
Handphone Raina bergetar. Raina berhenti menyuapi Gibran, kemudian meletakan mangkuk dan sendok di atas meja, ia segera mengambil handphone yang berada di dalam sakunya. Gibran dapat bernapas dengan lega sekarang.
"Hallo apa anda keluarga bapak Gandi Santana?"
"Iya, saya cucu nya Pak."
"Baru saja terjadi tabrakan beruntun di....... " Raina tak dapat lagi mencerna apa yang polisi tersebut katakan ia begitu shock.
Handphone yang Raina pegang langsung terjun ke bawah. Ia sama sekali tidak percaya dengan kabar yang diterimanya barusan. Bukankah mama beserta rombongan akan pulang besok? Tapi baru saja, polisi mengatakan bahwa mobil yang ditumpangi keluarganya mengalami kecelakaan.
"Ada apa Rai?"Tanya Gibran dengan khawatir membuat Raina tersentak dari lamunannya.
" Kakek aku Mas, Mama ..... " Rai susah sekali untuk berbicara.
Gibran mengambil handphone Raina yang terjatuh dan ia lihat panggilannya masih tersambung.
"Baik pak kami akan segera kesana. Terimakasih."
Gibran segera membawa Raina ke rumah sakit, tempat keluarganya di evakuasi. Raina berlari dari bangsal satu ke bangsal lainnya demi mencari mama, papa dan kakeknya.
Disibakannya satu persatu selimut yang menghalangi wajah korban dengan perasaan cemas, meski jauh dilubuk hatinya, ia menginginkan kalau keluarganya baik-baik saja. Pastilah kecelakaan tadi terjadi dengan begitu mengerikan, melihat para korban banyak yang meninggal dengan kondisi tubuh yang mengenaskan.
"Papaaaa..... Ya Allah!" teriak Rai saat menemukan salah satu korban tersebut adalah papanya. Raina memeluk papanya dengan erat. Hatinya benar-benar sakit, papa yang selalu mengasihinya dan mengajarkan kepadanya tentang arti sebuah kehidupan itu, kini telah ergi untuk selama-lamanya. Tepat disebelah papanya, kakek Raina juga telah menghadap pada sang Ilahi.
"Kakek.." Raina beralih ke sebelah kanannya dan memeluk kakeknya.
Gibran menarik Raina ke dalam pelukannya, mengelus punggungnya dengan sayang.
"Papa sama kakek Rai Mas.. hiks hiks...." isak Raina dalam pelukan Gibran.
"Hiks... hiks....."
"Mama dimana?"
"Suster... dokter, Mama saya dimana?"
"Korban yang keritis ada di ICU bu." Jawab suster.
Raina langsung berlari ke ICU. Ia sangat khawatir dengan kondisi mamanya. Sampai di sana Raina berusaha masuk ke ruang tersebut namun ruangannya dikunci karena dokter sedang menangani pasien. Akhirnya Raina duduk di ruang tunggu dengan perasaan gelisah.
"Mas, Mama Rai pasti akan baik-baik saja kan?" tanya Raina penuh harap.
"Iya sayang, Mama akan baik-baik saja." Gibran menenangkan Raina.
Setelah hampir dua jam, salah satu suster keluar dari ruangan.
"Keluarga bu Sinta?"
"Saya putrinya Sus."
"Pasien kehilangan banyak darah dan harus segera mendapatkan donor."
"Darah saya cocok Sus, bisa kita lakukan sekarang juga Sus?"
"Baiklah kita cek dulu Bu."
Selesai transfusi darah, Raina kembali ke ruang tunggu ditemani Gibran dengan kondisinya yang sangat lemah.
Para team medis kini sedang berjuang untuk menyelamatkan mama Raina.
__ADS_1
"Dok pasien henti napas dan monitor jantung menunjukkan tanda asystole (biasa dikenal sebagai garis lurus / flat line)," ucap salah satu perawat.
Tanpa menunggu, dokter bersama perawat yang bertugas segera melakukan RJP (Resusitasi Jantung Paru). Namun, dalam waktu 30 menit tidak ada perubahan, obat-obatan yang sudah masuk untuk memacu jantung pun tidak membuat kondisi pasien membaik, akhirnya pasien dinyatakan meninggal.
"Pasien meninggal pukul 16.09," putus dokter. Kemudian segera memberitahukannya pada Raina dan Gibran.
Raina berlari ke bangsal mamanya. Dibukanya kain yang menutupi wajah mamanya ini. Tangannya terulur mengusap pipi mamanya dengan perlahan. Ia menahan dengan sekuat tenaganya agar air matanya tidak menetes, ia ingin mencium mamanya untuk yang terakhir kalinya terlebih ia tak ingin memberatkan kepergian sang bunda.
Dikecupnya pipi dan seluruh wajah mamanya lama, Raina segera menarik wajahnya karena tangis yang ditahannya sedari tadi tak dapat ia kendalikan lagi. Penglihatannya benar-benar kabur saat ini semuanya terlihat seolah berputar hingga ia limbung dan tak sadarkan diri.
****
Raina mengerjapkan matanya dengan perlahan, tepat saat ia membuka matanya ia tersadar kalau kini ia sedang berada di kamarnya, buktinya ia melihat Teddy boneka kesayangannya duduk manis berderet dengan boneka-boneka lainnya. Ia menghela napasnya, baru saja terjadi mimpi yang sangat menyeramkan.
Raina kaget kala seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk!"
Terlihat Rakana berdiri di depan pintu dengan mata yang begitu sembab.
Rakana serta mamanya menetap di Kairo karena ikut dengan suaminya. Mereka langsung terbang ke Indonesia tat kala mendengar musibah yang menimpa keluarganya. Rakana menghampiri Raina kemudian memeluk dan mengusap punggung adik kesayangannya ini.
"Yang sabar ya Dek, hiks.... hiks."
"Ini bohong kan Kak, ini hanya mimpi kan?" tanya Raina.
"Maafkan Kakak, seandainya saja Kakak menahan Tante dan Kakek agar tidak pulang, pasti semuanya tidak akan terjadi hiks.... hiks..." sesal Rakana.
Bagaimana pun ada empat kewajiban seorang muslim kepada saudara muslimnya yang meninggal. Yaitu, memandikan, mengkafani, menshalatkan, dan menguburkannya. Ya, sedari malam Gibran lah yang mengurusi mama, papa, dan kakek Raina dibantu para warga yang tinggal dikomplek ini.
Hingga saat ini masih banyak tetangga, rekan, sahabat, dan kolega dari keluarga Gandi Santana yang berdatangan untuk menshalatkan dan membacakan ayat suci al-qur'an. Keluarga Raina selain terpandang, mereka sangat dermawan dan begitu baik kepada sesamanya, tak peduli bahwa orang itu adalah para staf atau bawahannya sekalipun. Tak heran jika saat ini rumah Raina bagaikan lautan manusia.
Melihat Raina menuruni tangga, Gibran segera menghampirinya dan memapahnya. Raina berpegangan dengan erat pada Gibran. Sampai dibawah Raina langsung mendapatkan ucapan belasungkawa atas kepergian keluarganya.
Kini mereka sudah sampai di TPU yang dekat dengan rumahnya. Gibran turun ke makam mamanya, Hanif suami Rakana turun ke makam papa Raina, sedang kakek Gibran turun ke makam sahabatnya yaitu kakek Raina. Mereka bertiga dibantu warga lainnya membuka ikatan yang ada pada kafan jenazah kemudian menghadapkan wajahnya ke kiblat. Tak ada suara apapun, selain lantunan merdu saat mereka bertiga mengumandangkan adzan. Raina merasakan jantung dan hatinya seakan ditarik paksa ke luar tubuhnya, saat tanah merah yang gembur itu perlahan menimbun jasad mama, papa, dan juga kakeknya. Ia meremas kerah bajunya dengan kuat kemudian menepuk-nepuk dadanya berharap agar sesak yang
ia rasakan dapat berkurang.
Selesai berdo'a dan menaburi bunga, perlahan satu persatu pelayat pulang. Kini tinggal Gibran dan Raina yang masih berada dipusaran mamanya. Raina memeluk nisan mamanya dengan erat.
"Ma, kenapa kalian pergi secepat ini meninggalkan Rai? Bukankah kalian ingin melihat cucu kalian? Tapi kenapa kalian pergi sebelum Rai dapat mengabulkannya? Kenapa kalian pergi sebelum Rai dapat memberikan apapun yang kalian inginkan? Kenapa Ma? Kenapa Pa?" isak Raina.
"Sayang ayo kita pulang, sebentar lagi hujan akan turun," ajak Gibran karena langit begitu mendung bahkan petir sudah beberapa kali menyambar.
"Mas saja yang pulang, Rai masih mau di sini."
Gerimis mulai turun, tapi Raina masih bersikukuh tak mau pulang. Bahkan kini matanya sudah sangat merah dan tangisnya menyatu bersama air hujan. Hujan semakin bertambah deras, gamis putih Raina pun kini sudah terwarnai oleh tanah. Gibran tahu jiwa dan psikis Raina sedang tergoncang, tapi ia tak mau istrinya menjadi lebih sakit. Digendongnya Raina ala bridal, meski Raina terus berontak dengan memukul-mukul dada Gibran, namun tenaga Gibran jauh lebih besar dari pada dirinya, terlebih kondisinya Raina saat ini sangatlah ringkih.
Raina membuka pintu kamar mama dan papanya pelan, matanya menyapu setiap sudut kamar ini. Raina melihat Foto pernikahan mama dan papanya yang terpasang dengan kokoh didinding, tepat di sampingnya ada Foto mereka bertiga ketika Raina masih kecil. Raina meraba foto itu dengan jemarinya, pada foto itu terlihat Raina yang sedang tersenyum dengan gigi depannya yang baru tanggal untuk pertama kali, tangan kanannya digenggam oleh papanya serta tangan kirinya digenggam oleh mamanya.
Boneka Teddy Bear berukuran sedang yang memakai jas dokter dan juga memakai stetoskop tertidur di atas ranjang kamar ini. Raina berjalan ke ranjang dan menemukan boneka kesayangannya. Ia peluk boneka itu dengan erat. Boneka ini jugalah yang selalu mama Raina peluk kala ia sangat merindukan putrinya.
Raina mulai memejamkan matanya menghirup aroma mama dan papanya yang masih begitu melekat di ruangan ini.
Flashback
Seorang gadis kecil berusia tujuh tahun terus saja menangis karena sudah dua hari semenjak di operasi mamanya belum juga sadarkan diri.
"Dek kenapa kamu menangis?" ucap Rakana yang baru saja pulang sekolah dan masih mengenakan seragam putih birunya.
"Kak Ana, Mama belum bangun juga huhuhu..." Raina terus saja terisak.
"Tante pasti baik-baik saja dek, mau kakak ceritain sesuatu?" tawar Rakana dan Raina hanya mengangguk.
__ADS_1
"Dulu ada seorang putri yang hidup bersama para kurcaci di hutan, untuk menjaga para penghuni hutan seperti burung, gajah, dan jerapah. Suatu hari ada seseorang yang ingin memburu di hutan itu, namun terus dihalangi oleh sang putri. Hingga akhirnya pemburu itu geram, kemudian menuangkan racun pada salah satu sumber air yang ada di hutan itu. Hari itu, Sang putri lelah bermain bersama teman-temannya dan ia merasa begitu dahaga. Sang putri kemudian mengambil air dengan ke dua telapak tangannya, kemudian meminumnya. Dahaganya bukannya hilang, tapi ia malah semakin pusing dan tak sadarkan diri. Para kurcaci begitu sedih karena sang putri tidak terbangun dari tidurnya, padahal musim terus berganti. Hingga suatu hari, datang seorang pangeran berkuda putih datang mencium kening sang putri hingga ia bangun dari tidur panjangnya." Dongeng Rakana panjang lebar.
Raina merasa jengah dengan dongeng Rakana barusan. Pasalnya, mamanya sering menceritakan dongeng ini untuknya.
"Papa juga cium kening Mama setiap hari, tapi Mama belum bangun juga," elak Raina.
"Om kan bukan pangeran berkuda putih," canda Rakana.
"Rai mau Mama," Raina masuk ke ruang mamanya dirawat.
Raina melihat dokter sedang memeriksa mamanya. Mata Raina terpejam kemudian berdo'a "Ya Allah sembuhkanlah mama Rai, bangunkan mama Rai Ya Allah," tepat saat Raina membuka matanya, sang mama sadar. Raina tersenyum bahagia "Terimakasih Ya Allah." Syukurnya dalam hati.
"Mama!" Teriak Raina. Raina begitu senang karena mamanya sadar kembali, ia sudah sangat ketakutan sebelumnya, takut mamanya akan pergi meninggalkannya. Ia peluk mamanya dengan erat, kemudian menciumi pipi mamanya, dan mamanya mengusap kepala Raina sayang.
Raina menatap dokter yang sedang bertugas kala itu. Bukan pangeran berkuda putih yang membangunkan mamanya, tapi semenjak saat itu ia putuskan dalam hatinya bahwa pangeran impiannya adalah pangeran berjas putih yang menyelamatkan ibunya.
Flashback off
"Sayang bangun yuk, shalat dulu sudah Maghrib. Kamu juga belum makan dari pagi ‘kan," ajak Gibran.
"Rai lagi enggak sholat mas. Rai dapat tamu bulanan tadi."
"Ya sudah Mas sholat dulu, nanti kita makan bareng," ucap Gibran lalu bergegas ke mesjid.
Hari ini tepat tujuh hari kepergian mama, papa, serta kakeknya. Raina masih tak percaya bahwa ia harus kehilangan tiga orang yang paling berarti dalam hidupnya sekaligus. Terkadang ia mengumpat dalam hatinya ingin mengikuti mamanya, tapi ia segera beristighfar. Syaitan memang lebih mudah menggoda kita ketika kita lengah. Untung saja ia mempunyai suami, yang begitu sayang dan perhatian padanya, serta selalu menguatkannya.
Sepulang dari mesjid, Gibran tak menemukan Raina di kamarnya, dan juga di kamar almarhumah mamanya. Gibran mencium bau masakan, dan ia menyimpulkan bahwa Raina berada di dapur.
Benar saja, Raina sedang memasak lengkap dengan memakai celemek dan mencepol rambutnya asal. Gibran menghampiri Raina, kemudian memeluknya dari belakang. Untung saja masakannya sudah matang. Raina mematikan kompor, kemudian melepaskan tangan Gibran yang melingkar diperutnya. Raina hendak menyajikan masakannya ke dalam piring, tapi Gibran memeluknya lagi. Raina memutar tubuhnya dan kini berhadapan dengan Gibran.
"Katanya mau makan?" tanya Raina.
"Mau dong Yang. Apalagi harum gini pasti enak."
"Ya udah diam tangannya. Jangan nakal."
"Siap tuan putri."
Raina pun menyuruh Gibran untuk duduk saja di meja makan.
"Mas kok masakan tadi pagi masih utuh?" tanya Raina, tapi tak Gibran jawab.
Mungkin suaminya tidak suka makanan yang ia masak tadi pagi. Raina pun membawa dua porsi nasi goreng yang ia masak barusan. Gibran makan dengan begitu lahap hingga seporsi besar nasi goreng untuk Gibran, langsung habis dalam waktu tiga menit.
"Mas doyan atau laper sih?" tanya Raina.
"Mungkin keduanya," Senyum Gibran.
"Terus kenapa gurame sama sayur asem bikinan Rai tadi pagi masih utuh?" tanya Raina dengan nada kecewa.
"Enggak enak ya makanannya, makanya Mas enggak mau makan?"
"Bukan begitu Raina, mana mungkin Mas makan, sementara tak ada sesuap nasi pun yang masuk ke dalam perutmu, sementara Mas harus kenyang sendirian. Mas benar-benar bingung harus bujukin kamu bagaimana lagi agar kamu msu makan. Tapi sekarang Mas senang sekali karena kamu mau makan," terang Gibran membuat Raina menangis ,merasa bersalah karena sikapnya.
"Maafin mas sayang. Jangan menangis."
"Maafin Rai, Mas, tidak seharusnya Rai bersikap egois seperti ini pada Mas."
"Sudah jangan menangis lagi Yang," ucap Gibran menghapus air mata Raina, kemudian menyuapi Raina dengan sayang.
"Besok kita ke rumah Mas lagi, ya?"
"Baik mas."
__ADS_1