
Adzan subuh telah berkumandang, dan sekarang Gibran tengah membangunkan Raina.
"Eungh.. Rai masih ngantuk Ma," erang Raina kembali menutupi tubuhnya dengan selimut yang telah Gibran tarik.
Gibran mengusap pipi Raina "Ayo bangun Rai, sudah subuh!"
Sadar kalau yang membanangunkannya bukan mamanya, Raina pun segera membuka matanya. Tepat saat netranya terbuka dengan sempurna, tatapannya langsung terpaut dengan manik hitam Gibran.
"Ayo bangun, kita subuh berjama'ah," Gibran tersenyum.
Beranjak dari kasur, Raina segera membersihkan dirinya kemudian mengambil air wudhu. Selesai mengenakan mukena yang tersedia dikamar hotelnya, Raina pun menggelar sajadah untuknya dan Gibran.
"MasyaAllah, cantiknya istri Mas pakai mukena putih ini," puji Gibran yang membuat pipi Raina bersemu merah.
Subuh ini, menjadi subuh pertama mereka setelah sah menjadi suami istri. Mereka berjama'ah dengan penuh kekhusuan, Raina tidak menyangka kalau suaminya sangat fasih membaca Al-quran, suaranya pun sangat merdu. Bahkan, Raina meneteskan air matanya tak kala Gibran membaca surah Al-Ma'un pada raka'at pertama. Ia sadar, kalau selama ini ia sering lalai dalam menjalankan ibadahnya pada Sang Khalik.
Usai shalat, Gibran menenggadahkan kedua tangan berdo'a kepada Rabb-Nya, syukur Gibran kepada Allah bertambah, karena kini ada seorang wanita dibelakangnya yang ikut mengamini setiap pinta yang ia panjatkan.
Raina mencium tangan Gibran dengan khidmat, Gibran balas dengan mencium dahi Raina, kemudian memeluk wanita cantik yang sudah menjadi istrinya ini dan menusap pungungnya dengan lembut. Akan tetapi berbeda dengan Raina, perlakuan Gibran membuat tubuhnya menegang dan juga ritme jantung Raina berubah menjadi lebih cepat dari biasanya meski ini bukan aritmia.
"Kamu harus terbiasa seperti ini, sayang."
***
Jam menunjukan pukul 14.00. Gibran telah selesai mandi lengkap memakai celana bahan dan kemeja birunya. Kemudian, ia mendekat ke arah Raina dan memberikan sebuah paper bag.
"Pakai ini ya!" ucap Gibran saat menyerahkan paper bag tersebut. "Mas tahu kamu belum terbiasa, tapi dari sekarang harus istiqamah ya. Mas juga bukan orang yang baik, kita sama-sama belajar ok."
Raina bergegas ke kamar mandi dan membuka paper bag, yang ternyata isinya adalah satu set gamis berwarna tosca lengkap dengan jilbabnya.
Setelah mandi, Raina berjalan ke meja rias lalu duduk di sana, kemudian ia mulai mengoleskan cream dan sedikit bedak pada wajahnya. Ia mengoleskan lip balm untuk sentuhan terakhirnya. Raina bersorak dalam hati, senang karena hasilnya tidak terlalu buruk.
Sekarang, Hanya tinggal satu masalah untuk Raina. Ia tak tahu bagaimana cara memakai jilbab segi empat ini. Ia belum terbiasa memakai jilbab dan hanya mengenakannya disaat idul fitri ataupun syukuran keluarga. Itu pun jilbab instan atau bergo bukan jilbab segi empat seperti ini.
Raina pun mecoba memakai kain segi empat itu, dan mengaturnya hingga sedimian rupa. Akan tetapi, saat ia akan menyematkan jarum pentul dibagian lehernya, tak sengaja jarinya tertusuk.
"Aw," pekik Raina, sambil mengibaskan tangannya. Gibran langsung menghampiri Raina, dengan sigap Gibran memegang tangan Rainadan meniupi jarinya dengan lembut.
"Kamu enggak papa, Rai?" tanya Gibran khawatir sedang orang yang ia cemaskan malah tertawa.
"Kok malah ketawa?"
"Rai cuma ketusuk jarum Mas, mukanya kok panik gitu. Kaya istrinya mau lahiran aja."
"Rai belum biasa memakai hijab Mas, apalagi hijab segi empat. Seperti kata Mas, Rai akan berusaha mencobanya. Tapi Rai belum bisa pakein jarum ini, disini," tunjuk Raina ke lehernya. Gibran mengambil jarum pentul yang ada di meja, kemudian memasangkannya di hijab Raina dengan hati-hati.
__ADS_1
"Sekarang kalau ada apa-apa bilang aja sama Mas, Mas siap bantu kok," tawarnya.
"Baiklah, Mas juga ya," ucap Raina sambil membenarkan dasi yang dipakai Gibran. Saat Raina selesai membenarkan dasinya, ia baru sadar kalau Gibran memperhatikannya.
"Istri Mas cantik. Apapun yang kamu pakai jadi terlihat indah. Kaya jilbab ini," puji Gibran membuat Raina langsung menundukan wajahnya.
Pipi, please deh jangan blushing
"Yuk, kita berangkat." ucap Gibran sembari menggandeng tangan Raina.
Setelah sampai di kediaman Wardiman. Gibran dan Raina langsung disambut dengan deretan asisten yang berjajar rapi di rumah ini dengan menunduk hormat. Setelah selesai menyapa semua, Gibran dan Raina langsung ke ruang keluarga. Nampak disana kakek beserta keluarga Gibran lainnya tengah berkumpul, yang Raina ketahui hanya kakek dan papanya Gibran, meskipun sebagian dari mereka sudah hadir pada saat resepsi. Gibran langsung mencium punggung tangan kakeknya di ikuti Raina yang senantiasa mengekorinya. Ya bagaimanapun Raina masih merasa asing dengan semua orang yang berada disini, terlebih lagi ada seorang wanita parubaya yang terang-terangan memberikan tatapan tidak suka kepadanya meski kebanyakan dari mereka bersikap ramah.
Dari obrolan barusan selain memperkenalkan satu persatu anggota keluarga, Raina menarik kesimpulan bahwa semua anak dan cucu bahkan cicit mereka harus tinggal dirumah ini. Raina merasa dirinya bernasib seperti tokoh utama di serial india yang sering ditonton mamanya di rumah. Dimana seorang wanita, bila sudah menjadi istri, harus tinggal dirumah keluarga suaminya. Sungguh klasik sekali menurutnya.
"Menantu Kakek cantik sekali," puji kakek kepada Raina.
"Terimakasih Kakek," Raina tersipu.
"Ini untuk kalian, hadiah dari Kakek," ucap kakek sambil memberikan dua lembar kertas yang ternyata tiket untuk honeymoon.
"Terimakasih Kakek."
"Hadiah dari Papa tinggal kamu tanda tangani saja, dan ini untuk menantu Papa," ucap papa memberikan sebuah hadiah.
Raina membuka kado tersebut dengan perlahan, ternyata didalamnya terdapat sebuah kalung emas putih bertahtakan berlian yang sangat indah.
"Terimakasih Om, kalungnya indah sekali, Rai suka."
"Jangan bilang Om, panggil Papa saja ok."
"Iya Pah."
"Kakek Milka juga mau," pintanya menggemaskan.
"Iya, nanti Kakek belikan."
"Kalung lumba-lumba ya Kakek."
"Iya."
Setelah selesai, Gibran mengajak Raina ke kamarnya untuk istirahat.
"Mas bolehkah aku bertanya sesuatu?" tanya Raina sembari membereskan lemari Gibran. Gibran yang sedang mebaca buku pun menoleh ke arahnya.
"Iya tanyakan saja."
__ADS_1
"Kok aku enggak lihat Mamanya Mas, memangnya Mama Mas dimana?" pertanyaan Raina barusan, membuat mimik Gibran berubah menjadi sedih. Raina merasa bersalah dengan pertanyannya barusan. Akan tetapi, Raina merasa sangat penasaran dengan keberadaan mama Gibran. Karena saat akad maupun resepsi, ia tidak melihat seorang wanita yang bersanding dengan papa suaminya itu.
"Maafkan Rai Mas," lirih Raina, sambil melihat ke frame yang berada di atas nakas, yang ia yakini bahwa wanita dalam foto tersebut, adalah mama Gibran.
"Tidak papa."
Gibran menarik napas kemudian mengembuskannya perlahan.
"Kamu mau bertemu Mama?" Raina mengangguk, "ya sudah, malam ini kita temui Mama," putus Gibran.
Disinilah mama Gibran, sudah lebih dari setahun terbaring lemah tak berdaya dengan alat-alat yang terhubung ke tubuh lemahnya. Gibran duduk disamping kanan bangsal mamanya. Ia meraih tangan mamanya kemudian menciumnya.
"Ma, Mama baik kan? Gibran udah penuhi keinginan mama, Gibran sudah nikah ma. Dan Ini Raina mah, istri Gibran." ucap Gibran sembari memeluk Raina dari samping.
"Mama enggak capek tidur terus? Mama enggak mau melihat menantu Mama?" Gibran terus saja bertanya, meski ia tidak tahu, kapan mamanya akan menjawabnya. Raina meremas jemari Gibran untuk menguatkannya.
"Maafin Rai ya Mas. Rai enggak tahu kalau Mama sedang sakit," ucap Raina Raina.
"Ssstt tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu enggak salah Raina," Gibran menghapus air dipipi Raina. Lagi-lagi tubuh Raina membeku dan kaku karena sentuhan Gibran. Tiba-tiba Handphone Gibran berdering.
"Mas keluar dulu ya," Raina menganggukan kepalanya.
Raina memperhatikan mama Gibran dengan seksama. Mama Gibran terlihat sangat cantik, meskipun sekarang usianya sudah tidak muda lagi, bahkan dalam keadaan sakit sekalipun ia terlihat cantik. Kemudian, Raina membandingkannya dengan wajah Gibran. Alis, hidung, bibir serta rahangnya, semuanya tak ada yang mirip dengan mamanya. Semua yang dianalisa Raina barusan ada di wajah papa Gibran, kecuali manik mata Gibran, mungkin milik mamanya. Andaikan saja mama Gibran bisa membuka matanya, sekarang pasti akan langsung menjawab pertanyannya.
Raina mengambil jemari mertuanya, kemudian ia letakan dipipinya.
"Kenalin Tante, aku Raina. Menantu Tante, Boleh panggil Mama juga kan? Rai harap Mama cepat sembuh, dan bisa berkumpul bersama kita. Rai yakin, meski ini adalah pertemuan pertama kita, Mama adalah orang yang baik."
Ketika membuka knop pintu, papa Gibran mengurungkan kembali niatnya untuk masuk, ia melihat Raina sedang berbicara tulus kepada istrinya, membuatnya tersenyum senang karena merasa bangga dengan menantunya.
"Kenapa Papa tidak masuk?" tanya Gibran, sedang papanya menjawab dengan lirikan mata ke arah Raina yang sedang memeluk mamanya.
"Ya Allah sembuhkanlah Mama, Engkaulah Sang Maha penyembuh," Do'a Raina.
Gibran dan papanya masuk sembari mengamini do'a Raina. Raina pun langsung membenahi posisinya saat melihat papa Gibran datang menjenguk istrinya.
"Pa, Gibran dan Raina pulang duluan ya," ucap Gibran mengerti akan privasi papanya.
Kini mobil mereka melaju untuk pulang . Awalnya suasananya hening, dan mereka larut dalam pikiran masing-masing, hingga Gibran mulai bersuara.
"Setahun yang lalu, Mama sakit parah karena kista, hingga rahimya harus diangkat. Operasinya berjalan dengan lancar. Namun, sampai kini, mama tak sadarkan diri hingga membuat Papa menjadi berubah. Papa tak bisa mengendalikan dirinya dan terpukul karena hal itu. Raganya memang ada, namun ia telah kehilangan harapan untuk hidup," tutur Gibran, dan Raina bisa merasakan kesakitan yang Gibran alami.
"Yang sabar ya Mas. Rai yakin, Allah akan menyembuhkan Mama dan bisa kembali bersama kita," ucap Raina menguatkan Gibran.
"Aamiin.... makasih ya Raina," ucap Gibran tulus.
__ADS_1