
Jam tiga dini hari, dan sebuah keajaiban yang luar biasa, karena Raina bisa bangun sebelum ayam berkokok. Prestasi ini bisa ia raih, karena mama tercintanya lah yang membangunkannya secara paksa, hingga ranjang Raina menjadi basah meski tidak ada banjir. Kepalang basah karena dibangunkan sang mama dengan air segayung, Raina pun bergegas mandi. Selesai mandi Raina begitu kaget, karena saat keluar dari kamar mandi ia melihat makhluk asing didalam kamarnya. Sontak saja Raina berteriak.
"MAMA!"
"AAAAA! " teriak Raina dan seorang pria asing di dalam kamarnya.
"Iya, ada apa Rai?" raut Sinta terlihat panik saat ia membuka pintu kamar putrinya.
"Aduh Jeng, eike kaget deh, habis putri yey teriak," ucap pria kemayu itu.
"Kirain kenapa? Kenalkan, ini Mas Doni sayang, yang akan rias kamu," kenal Sinta.
"Maaf, miss Donna Jeung," ralat penata rias ini dengan suara di lembut-lembut kan.
"Ngapain dia kesini Ma? Yang nikah kan Kak Ana, masa Raina Harus bedakan juga. Males ah Ma, nanti muka Rai gatel sama panas," Raina menolak mentah-mentah perintah mamanya, pasalnya ia tidak suka sekali memakai make-up, membuat kulitnya iritasi.
"Pokoknya tidak ada penolakan. Pakai make up lah sayang, masa di kamera kamu kumel sendiri. Kaya mayat hidup entar yang ada. Dan tenang aja, yang ini gak bakalan bikin kamu iritasi. Mama bisa pastikan itu," ucap mama sembari menunjukan sebuah kotak besar berisi alat rias.
"Iya deh Ma. Tapi, Rai mau ke bawah dulu, mau lihat kak Ana ya Ma, sebentar aja deh," taktik Raina padahal gadis itu mencoba untuk kabur.
"Tidak boleh sayang, kalau kamu kesana, entar malah bikin rusuh. Kak Ana sudah dengan ahlinya juga," larang Sinta. Tahu saja kalau Rai mau kabur karena tidak mau pakai make up. Kalau sudah begini yang Raina bisa lakukan hanya lah pasrah.
Kesempatan itu pun tidak di sia-siakan Sinta. Ia langsung memberikan titahnya pada miss Dona untuk segera memake over Raina habis -habisan.
"Udah belum sih, lama banget deh Miss," protes Raina.
"Anak gadis nurut aja, pokoknya hasilnya bakalan amazing banget."
Raina tak pernah diam, hingga mamanya harus memegangi tangan Raina yang nakal. Belum lagi, Sinta dan miss Dona sampai panas kupingnya karena Raina terus saja ngedumel perihlah, gatelah, panaslah dan kini selesai sudahlah acara dandan yang sangat menyebalkan bagi Raina.
"Ini kebayanya sayang, cepat ganti sana!"
__ADS_1
"Rai kan jadi pagar ayu doang, gak mau ah Ma, masa pakai kebaya juga?"
"Ganti sekarang juga!" perintah mama.
Percuma saja berdebat dengan mama nya ini, ia gak akan menang. Akhirnya Raina masuk ke walk in closetnya dengan hati yang dongkol.
"Rai sudah selesai belum?"
"Iya Ma sudah."
"Sini Mama hijabin!"
"Gak mau Ma. Mama kenapa sih, hari ini maksa-maksa terus?"
"Please hari ini aja sayang, ya?"
"Iya deh serah Mama," pasrah Raina.
Demi sepupu kesayangannya itu, Raina rela tampil feminin. Untung saja sepupunya hanya satu, coba saja kalau banyak, bisa habis Raina kalau setiap acara keluarga harus di dandanin terus seperti ini.
"Putri Papa cantik sekali," puji papa Raina yang baru saja masuk kamar.
Papa mendekati Raina kemudian mengelus kepala putrinya dengan sayang. Mata papa terpejam kemudian merapatkan tubuhnya dengan putri sematawayangnya itu, lalu memeluknya dengan erat.
"Raina, putri kebanggaannya Papa, kesayangannya Papa, harta Papa dan Mama yang paling berharga di dunia ini. Bagi Papa dan Mama sampai kapanpun kamu tetaplah putri kecil kami. Papa mohon apapun yang terjadi hari ini, kami mohon jangan benci Papa dan Mama. Semua yang kami lakukan hanyalah untuk kebahagiaan mu sayang. Papa dan Mama sangat sayang sama kamu," papa semakin mengeratkan pelukannya pada Raina dan tanpa Raina ketahui papanya itu meneteskan air mata.
"Rai juga sangat sayang Mama dan Papa."
"Ih Papa, kok berasa Rai yang mau nikahan sih jadi melow kaya gini," alih Raina agar mereka tidak melihat bahwa ia juga menangis.
"Mama dan Papa ke bawah dulu ya, mau siap-siap."
__ADS_1
"Iya Ma, bawa Mbak Dona Doninya ya sekalian."
Sekarang jam sudah menunjukan pukul delapan, dan mempelai pria juga sudah berada dibawah. Sejak tadi Raina ingin sekali mendampingi Ana dikamarnya, untuk sekadar menghiburnya agar kakaknya itu tidak begitu gugup, tetapi mama malah menyuruh Raina untuk tetap didalam kamar.
Tapi namanya juga mama ajaib, Raina tetap bisa menyaksikan acara akad, karena ada cctv yang terhubung ke PC nya secara langsung.
Sambutan dari pihak mempelai pria dan wanita, begitu pula dengan khutbah nikah sudah selesai. Si mempelai pria tidak terlihat wajahnya, hanya nampak bagian tubuh belakangnya saja. Dalam analisa Raina, pria tersebut tinggi dan tegap serta terlihat cocok dengan Ana yang cantik.
Kini layar itu focus menampilkan wajah papa Raina. Di sana, papa Raina terlihat tampan di usianya yang sudah tidak muda lagi. Papa mulai berkeringat dingin, maklum mungkin papa gerogi karena akan menjadi wali dari Ana. Nampak juga kakek dan keluarga besar lainnya yang terlihat bahagia dengan pernikahan ini.
Raina senyum-senyum sendiri dan tak sadar kalau mama nya sudah bergabung ke atas ranjang dan ikut menonton.
"Loh kok Mama enggak nemenin Kak Ana sih?"
"Mama mau di sini aja nemenin kamu," Mama mengenggam jemari Raina erat.
"Apa pun yang terjadi, Mama mohon, tolong jangan benci Mama sama Papa ya Rai sayang, janji?" tanya mama parau.
"Mama bilang apa sih, mana mungkin Rai benci Mama dan Papa?" Tutur Raina, kemudian mereka sama-sama terdiam dan mengalihkan tatapan mereka ke layar. Namun genggaman mama masih erat ditangannya, malah semakin bertambah. Kini papa mulai mengulurkan tangannya dan diraih oleh si mempelai pria.
"Ananda Gibran Al-Fatih Wardiman Bin Ahmad Syarif Wardiman saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Raina Desiana Silvi binti Ananta Santana dengan maskawin berupa cincin berlian dan seperangkat alat shalat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya putri kandung bapak, Raina Desiana Silvi Binti Ananta Santana dengan maskawin tersebut tunai," pria tersebut mengucapkannya dengan lantang dan begitu tegas.
Raina bergeming.
Tidak
Telinga Raina terasa begitu pengang. Raina merasa bahwa yang didengarnya barusan adalah sebuah kesalahan.
Raina baru tersadar saat para saksi menyebutkan kata sah.
__ADS_1
"Bukankah nama yang seharusnya disebut adalah Rakana tapi kenapa jadi namaku?"
"Ma sebenarnya ada apa ini?" tanya Rai pada wanita yang melahirkannya itu.