
Dianggap Gila
Raina merasa nyeri dibagian perut sebelah kirinya, Raina pun menyingkap sedikit bajunya. Luka bekas tusukan itu sudah mengering, Raina tak tahu berapa lama ia tak sadarkan diri?
Kejadian itu terus berputar dikepala Raina bak cd yang rusak, hingga kepalanya terasa berat dan perutnya terasa begitu mual. Raina berjalan ke toilet yang berada didalam kamarnya, kemudian memuntahkan isi perutnya kedalam wastafel. Raina mengamati wajahnya sendiri yang terpantul dicermin.
"Jika aku selamat, lalu dimana mas Gibran sekarang?"
Belum selesai dari keterkejutannya Raina membelalakan matanya saat ada yang menggedor pintu kamarnya. Raina keluar dari toilet kemudian membuka pintu kamarnya. Seorang wanita berdiri dibalik pintu, wanita itu langsung berhambur memeluknya dengan erat.
"Ini memang salah Kakak, seharusnya tadi pagi kakak enggak pulang dari rumah sakit. Maafin Kakak karena enggak becus jagain kamu, sudah cukup Gibran yang ninggalin Kakak, kakak enggak mau sampai kehilangan kamu juga."
"Maksud Kakak apa? Mas Gibran baik-baik aja kan? Suami aku dimana Kak?" tanya Rai sambil menguraikan pelukannya.
"Gibran udah ninggalin kita Rai, untuk selamanya."
"Kakak bohong, Kakak cuma bercanda kan?"
"Huhuhuhuhu Mas Gibran enggak mungkin ninggalin aku, ia sudah janji sama aku Kak, huhuhuu."
"Wulan," Panggilan tersebut membuat Wulan dan Raina menoleh pada sosok yang sedang terbaring ditempat tidur.
"Mama!" mata Wulan membulat, ia mengerjapkan matanya berulang-ulang, memastikan bahwa wanita parubaya yang sedang terbaring diranjang Raina adalah ibunya.
"Mama sudah sadar, ya Allah alhamdulillah setelah sekian tahun, akhirnya Allah menjawab do'aku," Wulan memeluk mamanya dengan erat.
"Mama selamat karena gadis ini yang menyelamatkan mama. Gibran mana Lan? Adik kamu gak mungkin ninggalin mama."
__ADS_1
"Raina ini istri Gibran Ma, dua minggu yang lalu mobil yang Rai dan Gibran tumpangi masuk jurang. Mobilnya terbakar dan Gibran gak bisa keluar darinsana, Raina terlempar dari mobil meski perutnya tertancap ranting, alhamdulillah Rai selamat," jelas Wulan
"Kami enggak kecelakaan Kak! Itu semua bohong, Rai enggak akan pernah maafin Tante Yani, semua ini salah Tante Yani."
"Apa maksud kamu Rai? Rai, Rai tunggu Kakak, kamu mau kemana?"
Raina beranjak dari kamarnya kemudian ia menuruni tangga dengan tergesa, benar saja dibawah sudah ada Yani, papa Gibran, Milka anak Wulan dan juga Deni suami Wulan serta kakek yang duduk dikursi roda.
Raina mendekati Yani, kemudian mengguncangkan tubuh Yani dengan keras.
"Pembunuh! Kamu pembunuh, kembaliin suami aku huhuhuhu........ KEMBALIKAN!" teriak Raina membuat semuanya menatap Raina dengan heran.
"Raina apa yang kamu lakukan? Sabar sayang, kamu harus bisa merelakan Gibran," Yani berkata dengan lirih.
"Wanita ini, dia yang sudah membunuh Mas Gibran. Kenapa kalian diam saja? Kamu harus pertanggungjawabkan semuanya Tante Yani," meski Raina berteriak, tak ada reaksi apapun dari keluarganya, mereka malah menatap Raina dengan iba.
Wulan yang kini sudah berada disamping suaminya menangis sesunggukan sembari memeluk suaminya. "Mas, kasihan sekali Raina, pasti berat ditinggalkan orang yang paling kita cintai, hingga membuatnya begitu trauma seperti sekarang."
"Untuk itu, kita tidak boleh lemah. Kita harus selalu ada disisi Raina untuk mendampinginya," ucap Deni sembari mengusap punggung Wulan.
Raina mengerjapkan matanya berulang-ulang, sinar matahari yang masuk lewat celah jendela itu mengusik tidurnya. Setelah matanya terbuka dengan sempurna, Raina sadar bahwa kini ia tidak berada di kamarnya. Saat ini ia sudah berada di rumah keluarga Wardiman, tepatnya di kamar yang biasa ia dan Gibran tempati.
Tangan Rai mengusap sisi sebelah ranjangnya, kosong. Pipi Rai menjadi basah, karena tetesan air matanya. Semua ini bagai mimpi pahit, yang begitu membuatnya merasa sakit. Raina mencengkram kerah piyamanya dengan kuat, lalu ia tepuk-tepuk dengan kuat dadanya berharap rasa sesak itu bisa lenyap, sayang usahanya sia-sia karena nyatanya itu tak meringankan bebannya, justru membuatnya semakin merasa sakit, karena ini semua bukan mimpi yang jika ia bangun semuanya akan kembali seperti semula, tapi semua ini NYATA.
Wulan mengetuk pintu kamar Raina dengan sebelah tangannya, karena sebelahnya lagi ia gunakan untuk memegang nampan yang berisi semangkuk bubur dan juga segelas besar susu yang masih mengeluarkan asap. Meski tidak ada sahutan, Wulan akhirnya membuka knop pintu kemudian masuk ke dalam.
"Rai sarapan dulu ya," ucap Wulan sembari meletakan nampan tersebut di atas nakas. Wulan tahu Raina sedang menangis meski adik iparnya itu memunggunginya, ia tahu karena ia melihat bahu Raina bergetar.
__ADS_1
"Makan dulu, ya?" pinta Wulan sekali lagi sembari menyentuh bahu Raina.
Raina berbalik dan menggelengkan kepalanya, "Aku gak laper kak."
"Ayolah Rai, kamu harus makan. Gibran pasti sedih banget kalau kamu kaya gini. Makan saya," pinta Wulan sembari mulai menyendok bubur untuk menyuapi Raina.
"Kak dengerin aku sekali ini saja," Rai berkata dengan penuh harap.
"Kak, kami tidak kecelakaan. Tante Yani culik aku karena aku tahu ia sudah berbuat jahat pada keluarga kita. Dia ... Sudah mengganti obat Kakek degan racun, dan luka ini," tunjuk Raina sembari menyingkap piyamanya "bukan karena tertusuk ranting, ini karena Amas yang menusuku atas perintah tante Yani dan Dia ... Dia ... Juga telah memukuli Mas Gibran, Dia ... Dia ... Huhuhhhu." Raina tak kuasa lagi menahan tangisnya.
"Kalau Gibran tidak pernah menitipkanmu padaku, aku tak sudi merawatmu. Stop untuk nyalahin Tante Yani, atas dasar apa kamu menuduhnya hah? Gibran mengalami kecelakaan itu semua gara-gara kamu, gara-gara pertengkaran kalian, gara-gara kamu yang berselingkuh dengan dosenmu sendiri! Gara-gara kamu juga Gibran pergi ninggalin kami untuk selamanya."
"Tidaaaaak! Mas Gibran gak pergi, mas Gibran masih hidup. Kakak bohong mas Gibran masih hidup," Raina histeris.
Wulan sebenarnya tidak bermaksud mengatakan itu semua, karena emosi ia jadi lupa diri hingga berkata kasar pada iparnya itu.
"Maafin Kakak, Rai." ucap Wulan kemudian memeluk Raina dengan erat, meski ia harus sedikit merasa sakit karena Raina terua memberontak.
"Gak, gak mungkin Mas Gibran masih hidup!" teriak Raina.
"Suster, Suster," panggil Wulan. Lagi dan lagi Raina diberikan suntikan penenang hingga membuatnya tak sadarkan diri.
"Lan, jangan tekan Rai seperti itu."
"Tante dengar semuanya?" tanya Wulan pada Yani.
Yani tersenyum sambil mengangguk, "Biarkan saja dia menyalahkan Tante, jika itu bisa menjadi alasannya untuk bertahan hidup, Tante ikhlas. Kamu tahu sendirikan Lan? Dalam waktu yang berdekatan Raina terus mendapatkan ujian, ditinggalkan oleh orang-orang yang ia sayang. Ditinggalkan oleh kedua orang tua dan alasan untuk ia bisa hidup adalah Gibran, tapi sekarang Gibran juga sudah tiada. Tante pernah berada diposisi Raina, kehilangan kedua orang tua Tante dan itu sangat menyakitkan, Lan."
"Tante benar, sekarang jiwa dan psikis Rai sangat rapuh, Ulan nyesel banget udah bentak Rai barusan. Maafin Kakak ya Rai." ucap Wulan kemudian menyelimuti Rai hingga batas leher.
__ADS_1