Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
8 Lombok


__ADS_3

Raina mematut dirinya didepan cermin dan tersenyum puas melihat hasil karyanya sendiri. Setelah bertahun-tahun harus cekcok dengan mamanya karena disuruh bersolek, baru kali ini ia melakukannya secara ikhlas walau hanya mengoleskan cream dan sedikit lip balm ke bibirnya. 


Bayangan yang muncul dicermin kini bertambah menjadi dua orang karena ada Gibran dibelakangnya, yang sudah siap dengan kemeja kuningnya.


"Mas kamu ganteng banget hari ini," puji Raina.


"Memangnya kemarin tidak?" ucap Gibran sembari memasang jam dipergelangan tangannya.


"Memang, hari ini mas terlihat begitu bersinar."


"Jangan meledekku."


"Tapi Rai suka kalau Mas memakai kemeja kuning ini."


"Baiklah jika kamu menyukainya, Raina." Raina tersenyum senang dengan perkataan Gibran barusan.


Saat Gibran menghampiri Raina dengan membawa dasinya, Raina terlebih dulu menolaknya bahwa ia ingin memasangkannya saat mau berangkat saja dan menyuruh Gibran ke bawah untuk sarapan bersama.


"Wow, mentari diluar sana nampaknya kalah terang dibanding dirimu Gibran." goda Wulan kakak Gibran.


"Rai, Mas mau Rotinya." ucap Gibran tak menghiraukan perkataan kakaknya.


"Biasanya, kalau mama yang menyiapkan mu kemeja itu kau selalu banyak alasan. Tumben sekali kau mau memakainya kali ini."  perkataan iparnya itu berhasil membuat tawa Raina tertahan. Mana mungkin Gibran akan  menjawab kalau ia kalah taruhan memakan Ramen, mau taruh di mana wajahnya.


"Mau selai rasa apa Mas?" alih Raina yang bisa membuat Gibran sedikit bernapas lega.


"Selai coklat."


"Baiklah." ucap Raina sembari mengoleskan selai cokelat ke roti yang Gibran minta.


"Kalian berangkat jam berapa ke bandara?" tanya kakek.


"Jam sembilan kek," jawab Gibran.


"Jaga istrimu baik-baik Gibran!" titah kakek.


"Tak usah kakek perintahkan pun, Gibran akan melakukannya."


"Tante sam Om, memangnya mau pergi ke mana?" tanya Milka.


"Tante sama Om, mau pergi ke Lombok sayang," jawab Raina.


"Milka mau ikut, boleh enggak Bun?" tanya Milka meminta persetujuan Wulan.

__ADS_1


"Sayang, besok Ayah pulang. Kita kan mau ke puncak," jawab Wulan.


"Oh iya Bunda, kita kan mau pergi sama Ayah. Bunda, Milka mau ke Jungle Land juga pokoknya!" untung saja Milka tidak merengek, kalau Milka sampai ikut Gibran ke Lombok, acara honeymoon itu akan berubah menjadi rekreasi keluarga.


"Iya Milka Sayang, kemana pun yang kamu mau." ucap Wulan membuat Milka senang.


Setelah yakin tidak ada barang yang tertinggal, Raina menenteng tas yang akan dibawanya, sedang Gibranlah yang bertugas membawa koper.


"Kakek kita berangkat dulu ya, assalaamu'alaikum." pamit Raina dan Gibran.


"Wa'alaikum sallam, hati-hati ya nak."


 Raina begitu mengantuk, karena semalam ia bergadang menyiapkan pakaiannya dan Gibran, kemudian ia harus bangun pagi sekali untuk menyiapkan sarapan keluarga.


Semua itu jarang sekali dilakukannya ketika ia masih bersama mamanya. Jangankan pekerjaan rumah tangga, untuk bangun pagi saja ia susah sekali meski mamanya sudah mengomel beberapa kali. Semua pekerjaan rumah, dikerjakan mama dan mbak di rumahnya. Ia hanya terima beres dan tak begitu peduli dengan keadaan rumahnya. Ia merasa begitu bersalah karena selalu meyulitkan orangtuanya terutama ibunya.


Kini ia harus mengerjakan semuanya dengan ikhlas meski butuh waktu karena ia masih terus belajar. Lelah memang ia rasakan tapi semua itu di abaikannya karena ini sudah menjadi kewajibannya.


Melihat Raina mengantuk, Gibran mendekatkan tubuhnya pada Raina. Diraihnya kepala Raina dan disandarkan ke bahunya. Raina pun bisa beristirahat dengan nyaman hingga sampai ke bandara.


Ini adalah penerbangan perdana mereka  setelah menjadi seorang suami istri. Jarak Jakarta-Lombok kini telah ditempuh keduanya selama kurang lebih dua jam. Sekarang mereka sudah menapakan kakinya di Bandara Internasional Lombok dan tujuan mereka selanjutnya adalah pantai Gili Trawangan.


Jarak antara Bandar Udara Internasional Lombok ke kota Mataram adalah 36 KM.  Kota Mataram ini merupakan ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Barat dan  akan dilalui karena akan ke Gili Trawangan. Waktu yang dibutuhkan dari Bandara ke kota Mataram sekitar 50 menit. Setelah dari kota Mataram ke Pelabuhan Bangsal. Dari Pelabuhan Bangsal barulah  ke Gili Trawangan. Lama perjalanan dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan sekitar 7 menit menggunakan kapal cepat (fast boat).


Gibran tak menyangka kalau Raina bisa mengayuh sepeda dengan sangat cepat, padahal mengayuh sepeda di atas pasir tidak bisa dianggap sepele, belum lagi banyak kerikil-kerikil kecil disana. Tak mau kalah, Gibran semakin kuat mengayuh sepeda nya dan hampir saja menabrak seorang anak kecil kalau ia tidak segera mengerem sepedanya.


Gibran segera  menghampiri gadis kecil itu. Berbagai macam cara sudah ia lakukan agar gadis kecil itu berhenti menangis, tapi bukannya diam, tangisan gadis kecil itu malah semakin kencang. 


Raina malah cekikikan memperhatikan Gibran yang sedang sibuk merayu gadis kecil itu. Dirasa usaha Gibran tak membuahkan hasil. Akhirnya Raina mendekati mereka kemudian berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil tersebut.


"Adik kenapa?" tanya Raina sembari menenangkan gadis itu ke dalam pelukannya.


"Gara-gara Om ini, Arin kaget. Enggak sengaja balonnya lepas dari tangan Arin san terbang  Kak huuu....huuu" ucap Arina sembari menunjukan telunjuknya ke langit.


"Gantiin dong OM balonnya." ledek Raina.


"Mas memang mau membelikan balon yang baru, tapi dia tak berhenti menangis."


"Arin masih mau balonnya? " tanya Raina dan Arin mengangguk.


"Yuk kita cari lagi balonnya." ujar Raina sambil menuntun gadis itu.


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan gadis kecil tersebut, mereka main bersama hingga hari mau petang.

__ADS_1


"Mmmm Arin disini kok sendirian, Arin ke sini sama siapa?"


"Arin sama Papa kesini."


"Terus Papanya kemana? Kok sendirian?"


"Tadi Arin sama Papa, terus Papa bilang ada urusan sebentar ya udah Arin main sendiri aja."


"Sekarang kakak antar Arin kemana?"


"Ke hotel aja kak, hotelnya enggak jauh saat kita ketemu tadi."


"Yuk kita pulang."


"Padahal, Arin masih ingin main Kak."


"Sebentar lagi maghrib sayang, dan kita harus pulang."


"Baiklah Kakak,"


Selesai mengantarkan Arin hingga bertemu papanya, Raina dan Gibran kembali ke hotelnya.


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Entah yang ke berapa kali Raina terus  mengganti chanel, ia merasa tak ada tayangan yang bisa ditontonnya malam ini.


Lama sekali Gibran pergi, dari sehabis shalat isya menemui teman lamanya. Raina bukan tak di ajak,  hanya saja ia merasa malas pergi kemana-mana. Tapi, sendirian di hotel juga  membuatnya sangat bosan.


Raina memejamkan matanya mencoba untuk tidur, kenyataannya mengantuk saja tidak ia rasakan. Kala bosan, biasanya Raina akan menonton Drama Korea ataupun membaca novel dan komik favoritnya ketika ia dirumah, namun disini ia tak menemukan itu semua.


Keronkongannya terasa kering, Raina pun turun dari ranjang menuju freezer di sudut kamar ini. Setelah membuka Freezernya ia menemukan minuman isotonik disana, kemudian meminumnya hingga tandas.


"Ternyata aku lapar juga, pantas saja aku tidak bisa tidur."


Raina segera memesan makanan tanpa menunggu Gibran pulang. Ia berpikir mungkin Gibran sudah makan bersama temannya. Bel berbunyi mungkin pesanannya sudah datang. Raina pun makan dengan lahapnya. Sedang asyik-asyiknya makan, bel pun berbunyi lagi.


"Perasaan pesananku sudah datang semua." gumam Raina dan ia memang memesan banyak makanan padahal itu untuknya sendiri.


Tanpa pikir  panjang, Raina langsung membuka pintu dan ia begitu terkejut karena yang datang bukanlah pesanan nya tapi suaminya sendiri. Gibran hampir saja ambruk kalau Raina tidak sigap menolongnya. Raina memapah Gibran hingga ke ranjang.


"Badanmu panas sekali, Mas."


Raina segera mengambil lap kecil dan baskom, kemudian mengompres Gibran. Meski malu Raina menggantikan kemeja Gibran dengan piyama agar suaminya merasa lebih nyaman. Saat Raina hendak menyimpan baskom untuk mengganti air,  Gibran menahan lengan Raina dan memintanya untuk tetap bersamanya.


Gibran memeluk Raina hingga ia tertidur. Napas Gibran pun dapat Raina rasakan, karena jarak mereka yang dekat. Raina pun semakin menempelkan tubuhnya dan memeluk pinggang Gibran dengan erat, berharap agar Gibran baik-baik saja, hingga ia pun ikut terlelap bersama nya.

__ADS_1


__ADS_2