Tasbih Cinta Raina

Tasbih Cinta Raina
27 Pertunangan Raina dengan dr Arvi


__ADS_3

Hari-hari Raina berjalan seperti biasanya, ia bolak-balik rumah dan industri tempat ia bekerja.


Akhir-akhir ini ia makin disibukan dengan penelitian terbarunya, karena senyawa obat yang baru ia temukan sudah disintesis, telah selesai uji in vitro dan in vivo dan kini hanya tinggal menunggu hasil uji klinisnya saja.


Dan dalam kurun waktu sebulan ini, Raina terus melakukan istikharah, ia mempertimbangkan permintaan mama mertuanya untuk menerima lamaran dr Arvi. Dan kini, ia memutuskan untuk menerima lamaran dari dr Arvi.


Malam ini dr Arvi akan datang bersama kedua orang tuanya untuk meresmikan lamarannya.


"Rai, sini! Pakai baju yang ini ya," tawar mama kepada Raina sembari menyerahkan abaya berwarna tosca.


Raina pun izin pada mama mertuanya untuk memakai baju tersebut ke walk in closetnya, setelah selesai memakai abaya nya Raina pun kembali ke kamarnya, dan rupanya sudah ada Marsya disana.


"Tania ikut juga ternyata, sini Tante gendong," ucap Raina sembari merentangkan kedua tangannya untuk menggendong putri sahabatnya.


"Jangan tante Rai, entar gaunnya basah kena iler Nia. Lagian bapaknya juga ikutĀ  kok."


"Ih Sya, aku kangen banget sama Nia. Masa gendong bentar aja gak boleh."


cup


Raina mencium pipi gembil Tania, dan gadis kecil itu tersenyum pada Raina.


"Tenang, aku seminggu kok di Jakarta, jadi besok kamu masih bisa gendong Nia sepuasnya. Ya udah, aku ke bawah dulu ya Rai, mau titipin Nia dulu ke mas Tomi. Pokoknya aku yang akan make over kamu hari ini," ucap Marsya kemudian ia melenggang sembari membawa Nia.


Selesai menyerahkan putrinya pada Toni, Marsya bergegas ke kamar Raina untuk mendandaninya.


"Tante, jilbabnya warna putih aja ya," usul Marsya pada mama mertua Raina.


"Terserah kamu aja Sya, yang penting buat Rai jadi makin cantik okay."


"Siap tante."


Raina bak kerbau yang dicocok hidungnya, ia menurut saja saat mama dan sahabatnya itu memperlakukan Raina sesuka hati mereka.


Satu jam telah berlalu dan kini Raina telah siap dengan abaya dan riasan ala MUA Marsya.


"Masha Allah Raina, manglingi banget. Kamu cantik banget sayang," puji mama.


"Siapa dulu dong MUA nya, Marsya," ujar Marsya bangga.


"Okay, okay ibu satu anak."


"Eits salah Rai, ibu dua anak loh. Sekarang aku hamil lagi adiknya Nia, baru tiga minggu sih. Dan kehamilan aku yang sekarang ini, bikin aku tambah semangat dandanin orang."


"Pantes aja. Selamat ya Sya, aku senang kamu bahagia."


"Dan aku akan lebih bahagia, jika kamu juga bahagia Rai. Kamu itu udah lebih dari sekadar sahabat, lebih juga dari sekadar saudara. Pokoknya kamu harus bahagia juga kaya aku ya Rai, janji?"


Raina menganggukan kepalanya kemudian memeluk Marsya dengan erat.


"Makasih ya Sya, kamu selalu ada dan selalu percaya sama aku."

__ADS_1


"Iya, dan jangan sampai riasan ini rusak gara-gara kamu nangis."


Malam ini dr Arvi telah resmi menjadi tunangan Raina, setelah ibu dari dokter muda itu memasangkan emas dipergelangan tangan Raina. Senyum dokter muda itu terus saja terhias dibibir tipisnya, mengingat sebentar lagi wanita yang telah ia cintai dari tiga tahun lalu akan segera menjadi istrinya.


Arvi sadar meski cinta belum ada di hati Raina untuknya, tapi ia akan selalu bersabar. Karena menurutnya, cinta darinya saja sudah cukup untuk mereka berdua. Ia berjanji akan selalu mencintai dan membahagiakan Raina sepenuhnya.


Pandangan Raina tertuju pada mama, papa mertua, kakek dan juga sahabatnya Marsya. Raina tersenyum saat melihat wajah orang-orang yang dicintainya terlihat bahagia dengan pertunangannya ini. Kemudian, tatapannya jatuh pada foto keluarga yang terpajang didinding ruang keluarga ini, foto dirinya dan Gibran yang memakai gaun pengantin.


"Mas, apa kamu bahagia juga dengan keputusanku ini?" tanya Raina dalam hatinya.


***


Raina merasa perih di lambungnya, ini terjadi karena seharian kemarin ia tidak makan, karena sibuk di lab untuk penelitian obat antikanker. Ia pun turun ke dapur untuk membuat sarapan. Sampai di sana, rupanya mama sedang memasak.


"Wangi banget Ma, masak apa sih? Dari jauh aja baunya udah kecium, pasti enak sekali," ucap Raina sambil mendekati Rahmi.


Tatapan Rahmi yang sedang mengaduk masakannya pun teralih pada Raina.


"Enak dong sayang, Mama kan lagi masak bubur spesial kesukaannya Gib-" Raina yang mengerti keadaan Rahmi pun langsung mengalihkan pembicaraan nya.


"Sepertinya udah mau matang, Rai siapin mangkuknya ya Ma."


"Tiga ya sayang."


"Apanya yang tiga Ma?"


"Mangkuknya sayang. Tadi nak dokter telpon katanya mau ikut sarapan di sini."


"Habis handphone kamu enggak aktif, makanya nak Arvi telepon Mama."


Ting tong


"Belnya bunyi tuh, sepertinya nak Arvi sudah datang, yaudah kamu yang lanjutin ya Rai, biar Mama yang buka pintu."


"Siap Mama."


Selesai menata kerupuk, kecap dam juga sambal Raina tersenyum puas. Dokter Arvi pun sudah duduk manis di meja makan.


"Selamat pagi Raina."


"Pagi juga Kak Arvi."


"Nak Arvi, kalian sarapan duluan aja ya, Mama mau angkat dulu telepon dari Papa," ucap Rahmi kemudian berlalu pergi.


"Tumben datang sepagi ini. Pasti mau sarapan gratis ya?" Tanya Raina pada Arvi.


"Iya Rai sarapan gratis, biar aku bisa hemat dana untuk pernikahan kita," Raina bengong untuk beberapa detik kemudian tertawa. Raina kaget sekaligus geli dokter Arvi yang selalu serius tiba-tiba bisa bicara seperti ini. Sebuah peningkatan besar yang harus diberikan sebuah apresiasi.


"Loh kok malah ketawa sih. Tapi aku suka lihat kamu seperti ini jadi lebih cantik," ucap Arvi dan tak sedetik pun tatapannya terlepas dari Raina.


"Gombal aja terus. Tapi serius, receh banget, saya kira-"

__ADS_1


"Aku kenapa?" tanya Arvi.


"Bukan apa-apa kok Kak, saya lihat Kakak selalu serius bahkan terlalu serius. Ternyata bisa bercanda juga," ucap Raina kemudian tertawa lagi.


'Aku rela melakukan apapun itu asal dapat membuatmu bahagia Raina.' Batin Arvi.


"Buburnya enak pasti kamu yang masak kan?"


"Enak dong kan gratis. Lagian bukan Rai yang masak kok, tapi Mama."


Selesai bersiap Arvi dan Rai meminta izin pergi ke butik untuk fitting baju pernikahan mereka.


"Rai pergi ya Ma. Assalamualaikum," Raina dan Arvi pamit pada Rahmi.


"Wa'alaikum salam. Hati-hati ya."


"Iya Ma."


Arvi membukakan pintu mobil untuk Raina kemudian Raina masuk ke dalamnya. Setelah masuk ke dalam mobil Arvi pun menyalakan mobilnya kemudian melajukannya. Sesekali Arvi melirik ke arah Raina dan tak pernah berhenti tersenyum. Ia bersyukur karena sebentar lagi Raina akan menjadi pendamping hidupnya, menjadi teman yang akan selalu menghiasi harinya terlebih lagi wanita tangguh ini akan menjadi rumah baginya tat kala ia harus pulang. Tiba-tiba perhatiannya teralihkan saat ada panggilan telpon.


"Kak, angkat dulu telponnya siapa tahu penting."


Dokter Arvi pun menjawab telpon tersebut kemudian memaskan earphone ke telinganya.


"......"


"Baik saya ke sana sekarang."


Raina memperhatikan dokter Arvi, kemudian bertanya setelah panggilannya terputus.


"Ada apa kak?"


"Maafkan aku ya Raina, Kakak tidak bisa menemanimu sekarang, ada operasi mendadak dan sangat urgent. Maafin kakak ya, kamu tidak papa kan?"


"Tidak papa Kak, Rai ngerti kok. Ya sudah Rai sendiri aja ke butik Tante Arne nya, biar Rai naik taksi saja," Arvi merasa tidak tega, namun bangga karena Raina mengerti dirinya.


"Terimakasih Raina. Aku telepon bunda dulu ya biar bunda nyusul ke butik. Yaudah, kamu hati-hati ya Rai."


"Semoga operasinya berjalan dengan lancar dan berhasil Kak."


"Aamiin."


Dokter Arvi baru pergi setelah Raina mendapat taksi dan memastikan wanitanya aman.


Saat hampir sampai ke butik, tiba-tiba taksi yang ditumpangi Raina berhenti mendadak.


"Astaghfirullah ada apa Pak?"


tanya Raina sambil mengelus dadanya karena masih merasa kaget.


"Sepertinya ada kecelakaan Bu."

__ADS_1


Raina pun keluar dari taksi dan entah mengapa ia ingin sekali pargi mendekat ke sana meskipun telah dikelilingi banyak orang. Raina berjalan perlahan dan berusaha menerobos kerumunan orang-orang. Dan ia sangat-sangat terkejut saat melihat wajah korban, karena korban tersebut adalah Gibran.


__ADS_2