
Angin berhembus dengan kencang, kerudung yang Raina kenakanpun menari-nari dibuatnya. Selesai memanjatkan do'a, Raina menaburkan bunga dengan penuh ke makam mama dan papanya, setelah itu Raina menyiramkan air di atasnya.
"Ma, Rai juga bawa ini buat Mama. Si merah kesukaan Mama," ucap Raina sembari menaruh bucket mawar didekat nisan mamanya.
"Ma, Rai sayang Mama. Maafin Rai karena jarang datang ke sini. Mama tahu, Rai sangat iri sama Mama? Mama mencintai Papa, dan Papa juga sangat mencintai Mama. Kalian selalu bersama dalam keadaan suka maupun duka, bahkan mautpun tak rela memisahkan kalian, sehingga Mama dan Papa pergi secara bersamaan ninggalin aku," air mata Rai luruh ke atas makam orang tua nya.
"Rai mencintai Mas Gibran Ma, Rai juga tahu kalau mas Gibran mencintai Rai," ucap Raina sembari menarik napasnya yang kini mulai terasa berat, "semua orang mengatakan kalau Mas Gibran sudah tiada, tapi Rai gak percaya Ma. Lalu, jika Mas Gibran memang telah pergi, kenapa dia tidak membawa Rai bersamanya Ma?"
"Semua orang ingin Rai menikah lagi, tapi Rai tidak ingin menyakiti dr Arvi jika menerimanya, karena Rai mencintai Mas Gibran, Ma. Rai bingung, apa yang harus Rai lakukan? Apalagi sekarang Rai sakit Ma, ada kista di rahim Rai. Jika Rai tidak segera mengandung, maka kesempatan Rai untuk menjadi seorang ibu hanya akan menjadi sebuah harapan Ma."
Raina baru mengetahui dirinya terkena kista yaitu dua bulan yang lalu, itu adalah salah satu alasan kenapa setiap menstruasi ia selalu kepayahan dan merasa sakit yang teramat sangat. Tapi, menurut dr Vera Setiawati, SpOG. Penyakitnya akan sembuh jika ia segera menikah.
Entah berapa lama Raina berada di makam itu? Raina datang sejak pagi, bahkan rumput yang ia lewati di makam ini masih mengembun, hingga sekarang matahari sudah meninggi, membuat Raina menyipitkan mata saking silaunya, wajahnya pun mulai berkeringat karena terasa sangat panas.
Raina pun bangkit, kemudian melangkahkan kakinya keluar dari pemakaman tersebut. Ia pun segera masuk ke dalam mobil yang ia parkir ditepi jalan.
Raina menyalakan mobilnya, kemudian memutar arah untuk pulang.
__ADS_1
Saat Raina kembali melajukan mobilnya, tiba-tiba ia menginjak rem mobilnya sekaligus karena hampir saja ia menabrak seorang anak kecil hingga kepalanya membentur stir. Raina memijat pelipisnya yang terasa pusing kemudian bergegas menghampiri anak tersebut.
"Kamu tidak papa kan adik kecil?" tanya Raina sambil memastikan bahwa anak kecil tersebut tidak terluka.
"Son!" teriak seorang pria dari sebrang jalan.
"Ayah!" balas anak kecil itu sembari berlari kepada pria yang berada di sebrang.
"Kau tidak papa kan, jagoan?"
"Tidak Ayah."
"Mas Gibran."
"Mas!" Raina memanggil suaminya sekali lagi. Namun pria itu tidak menggubrisnya dan merasa khawatir dengan anak lelaki yang ia panggil Son tadi.
"Mas Gibran!" panggil Raina sembari mendekati dua lelaki beda generasi yang ada dihadapannya ini.
__ADS_1
Raina sangat merindukan Gibran, ia terus berjalan mendekati Gibran, Raina ingin sekali berlari namun kakinya terasa berat, padahal ia sudah tidak sabar ingin memeluk suaminya itu.
Anak kecil itu kini sudah berpindah tempat ke dalam gendongan Gibran, dan Raina pun sudah hampir dekat dengan mereka. Namun, pria itu juga beranjak dari sana.
"Mas, Mas. Mas Gibran! Tunggu Rai Mas, Mas Gibran jangan pergi!"
Raina terus memanggil nama Gibran, namun orang yang terus Raina sebut itu tidak mendengarkannya dan malah pergi meninggalkannya.
"Mas Gibran, tunggu!" mata Raina terbuka dengan sempurna, dan hal yang pertama dilihatnya adalah langit-langit kamarnya sendiri.
Raina benar-benar kaget dengan mimpinya barusan. Bagaimana tidak, kejadian dalam mimpinya itu terasa nyata? Seakan-akan ia bertemu kembali dengan Gibran.
Raina mulai berpikir apakah mimpi nya tersebut adalah sebuah pertanda bahwa suami nya masih hidup? Tapi dimana keberadaan nya? Apakah anak dalam mimpinya itu adalah anak Gibran?
"Tidak, tidak mungkin," seketika Raina menggelengkan kepalanya dengan pemikiran nya barusan.
Raina bangkit dari tidur nya kemudian duduk bersandar ke kepala ranjang. Ia baru sadar kalau dia masih memeluk foto Gibran. Mungkin mimpinya semalam karena begitu merindukan Gibran.
__ADS_1
Raina kembali meletakkan foto itu di atas nakas. Kemudian ia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah lima. Raina pun beranjak dari ranjangnya dan pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya, kemudian menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk menunaikan shalat subuh.