
Saat Raina dan Gibran akan berangkat, ada seorang kurir yang mengantarkan paket.
"Aku simpan ini dulu ke atas ya Mas."
"Jangan lama ya, Mas ada meeting."
Sembari berjalan Raina membuka isi paket dan melihat kop surat itu Raina langsung tahu kalau itu hasil laporan dari lab. Selesai membaca isinya, Raina teringat kalau Gibran ada meeting. Raina menyimpan kembali laporan tersebut ke dalam laci, kemudian menguncinya.
Di dalam mobil Raina terus membenahi posisinya, rasanya tetap saja tidak nyaman. Apalagi sejak pagi ia merasa tak enak hati.
"Kamu kenapa Yang, gelisah gitu?"
"Mas, Rai enggak tahu apa yang akan terjadi hari ini, esok ataupun nanti. Tapi Mas harus percaya, sampai kapanpun Rai akan terus mencintai Mas."
"Jangan menangis, tanpa perlu mengatakannya, Mas tetap percaya. Begitupula dengan Mas, sampai kapan pun hanya kamu satu-satu nya wanita yang ada dalam hati Mas."
Sampai di kampus, Raina langsung mendapatkan tatapan yang tak biasa ia dapat. Banyak sekali orang yang mendelik, hingga setengah berbisik membicarakannya. Raina bergegas ke toilet untuk menenangkan pikirannya. Ia basuh wajahnya dengan air, dan rasanya lumayan segar. Saat membenarkan jilbabnya, tiba-tiba seseorang menariknya.
"Aw...." pekik Raina.
"Enggak nyangka banget, mahasiwi berprestasi kaya loe, ternyata kelakuannya enggak jauh beda sama binatang," ucap salah seorang wanita yang tak lain adalah teman sekelas Raina.
Rai mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan ucapan Winda.
"Mendingan buka aja tuh jilbab, malu-maluin orang yang pada pakai aja."
"Maksud kalian apa? Apa salah aku sama kamu Winda? Kenapa kalian berkata sperti itu?"
"Masih pura-pura tidak tahu. Ngapain loe tidur sama Mr Fadly, kalau loe enggak lebih dari seorang *******."
"Tidur? Mr Fadly? Sepertinya kalian semua salah paham, karena itu semua tidak pernah terjadi. Pantas saja dari tadi orang-orang menjadi aneh sikapnya," Raina menepuk jidatnya kemudian melanjutkan perkataannya.
"Aku ingetin ya, kalian itu mahasiswa tapi langsung percaya kabar yang belum benar kejelasannya, kaya balita aja percaya hoax," Raina langsung meninggalkan mereka dan menutup pintu agak keras. Kalau Raina mau sekarang juga ia kunci mereka dari luar.
Raina segera ke ruangan Mr Fadly sekarang juga ia harus mengkonfirmasi agar gosip murahannya bisa segera menguap. Tapi sebelum sampai ke ruangan dosen, ia melihat orang-orang sedang mengerubungi mading. Raina terkejut inilah penyebabnya mengapa ia menjadi bahan pergunjingan. Sebuah Foto yang memperlihatkan seorang wanita yang tertidur dengan pulas ditemani seorang pria dewasa yang bertelanjang dada. Raina langsung mencabut foto tersebut dan melanjutkan tujuannya yang tetunda.
Sampai di ruangan Mr Fadly Raina melemparkan foto tersebut seraya bertanya "Bisa Mr jelaskan semua ini?"
Bukan jawaban yang Raina dapatkan melainkan sebuah seringaian.
"Ayolah Mr Fadly yang terhormat jangan bermain-main seperti ini."
"Mr Fadly anda diperintahkan untuk menghadap rektor," ucap salah satu dosen "Kamu juga Raina."
***
"Maaf sekali Raina, mulai hari ini kamu bukan lagi mahasiswi Fakultas ini."
"Maksud Bapak apa?"
"Kamu sudah mencoreng nama baik universitas ini dengan prilaku asusila."
"Itu tidak benar pak, itu salah semuanya salah. Bapak tidak boleh seenaknya mengeluarkan saya dari sini."
"Tapi Foto tersebut asli Raina bukan editan."
"Kamu sengaja menjual hasil proyek penelitian Mr Fadly ke lembaga lain, karena Mr Fadly tidak memberikan apa yang kamu inginkan, dengan cara licik kamu menyebarkan foto tersebut."
"Baik saya terima saya di keluarkan dari universitas ini. Satu hal yang harus bapak tahu, sekalipun saat ini saya terlihat bersalah, tapi Allah maha tahu. Allah tidak tidur pak, Allah lah hakim di atas hakim. Saya tidak sehina itu hanya untuk uang yang tidak akan dibawa mati. Asal bapak tahu, saya cucu dari Gandi Santana, jangankan menggaji Mr Fadly, bahkan bapak sekalipun. Kalau saya mau, saya bisa membeli tidak hanya fakultas ini, kampus ini pun akan saya beli. Terimakasih Pak. Permisi."
Profesor Hadi terperanjat, saat Raina menyebutkan bahwa ia cucu dari Gandi santana. Ia benar-benar tidak tahu, bahwa Raina merupakan cucu dari orang yang paling berjasa dalam hidupnya, orang yang sudah membuatnya menjadi sukses seperti ini. Sayang sekali ia begitu menyesal karena sudah mengeluarkan Raina dari kampus ini.
Tepat saat Raina keluar dari ruangan rektor, ia berpapasan dengan Mr Fadly. Mr Fadly menarik tangan Raina, hingga menyudutkannya ke tembok.
"Saya tidak menyangka, Mr akan sepicik ini menipu saya," ucap Raina sambil berusa melepaskan diri dari fadly, meski tak berhasil karena tenaga Fadly lebih kuat.
"Pengecut," ucap Raina tepat di wajah Fadly.
__ADS_1
"Apa kamu bilang?"
"Ya, anda pengecut Mr Fadly."
"Kamu yang bodoh Raina, mudah percaya dengan orang lain."
"Saya tidak tahu, keuntungan apa yang Mr dapatkan dengan memaksa saya untuk mengerjakan proyek penelitian yang tidak mudah ini? Lalu, Mr jual sendiri hasil proyek penelitian tersebut, kepada lembaga lain. Kemudian menyebarkan berita bohong dengan helaian foto, seakan-akan saya tidur dengan iblis seperti anda? Apa yang anda inginkan dari saya sebenarnya?" tanya Raina berapi-api.
"Aku hanya menginginkan kesenangan Raina, dan aku sudah mendapatkannya," Fadly menyeringai, membelai pipi Raina dengan jarinya, lalu mendekatkan wajahnya pada Raina.
Saat bibir Fadly mendekat, refleks Raina meludahi Fadly, kemudian menendang selangkangannya dengan sekuat tenaga, lalu kabur saat Fadly mengaduh kesakitan.
Raina berlari dan langsung menaiki Taxi. Sudah berkali-kali ia menghubungi Gibran, namun Gibran tak mengangkat telponnya. Sesudah menekan tombol sent, Raina menyimpan kembali handphonenya kedalam tasnya, namun ia berharap agar Gibran segera membalas pesannya.
"Rai benar-benar butuh Mas sekarang, Mas dimana?" gumam Raina.
Sesampainya Raina di rumah, ia langsung ke kamar dan menghubungi Gibran lagi. Nihil, sampai sekarang nampaknya Gibran masih sibuk.
Raina naik ke lantai dua rumah ini, kemudian menuju kamarnya. Saat membuka knop pintu kamar, matanya terbelalak melihat Yani sedang membaca laporan hasil uji laboratorium obat kakek.
"Tante?"
Yani tertawa kemudian perlahan mendekati Raina.
"Aku tak menyangka, anak kecil sepertimu cukup berani untuk melawanku."
"Maksud tante?"
"Hentikan semua apa yang tidak perlu kamu ketahui Raina, jika kamu ingin selamat." Ancam Yani.
"Rai mengerti, jadi selama ini yang menukar obat kakek adalah Tante. Kenapa Tante melakukan semua ini?"
"Sudah ku peringatkan Raina, kau tidak perlu tahu apa yang ingin kulakukan."
"Tidak, Rai akan membongkar semuanya sekarang juga Tante."
"Bawa dia sekarang juga!" titah Yani.
"Siap nyonya."
"Tidak, lepaskan. Diki ku mohon lepaskan," Raina berontak.
"Siapapun yang ada di rumah ini tolong aku. Ku mohon lepaskan," ucap Raina sembari berusaha melepaskan diri namun Raina tak sadarkan diri karena mereka telah membiusnya.
****
Meeting hari ini cukup melelahkan untuk Gibran, karena proyek yang akan dijalankan kali ini, bukanlah proyek kecil. Sampai di ruangannya, Gibran beristirahat sejenak di kursinya. Tak sengaja ia melihat sebuah amplop coklat di depannya. Gibran pun membuka amplop tersebut dan terdapat beberapa foto yang cukup membuat Gibran terkejut.
Ya, foto Raina yang sedang tidur bersama lelaki lain. Meski foto ini tak memliki kejelasan, Gibran tak dapat membohongi hati kecilnya kalau foto tersebut mengiris batinnya dan membuat ia cemburu. Gibran tak segan-segan akan menguliti siapapun, jika ada yang ingin merebut Raina darinya.
Untungnya, Gibran tak mempercayai foto tersebut begitu saja, menurut Gibran itu hanya kerjaan orang iseng yang ingin mengusik rumah tangganya bersama Raina. Gibran yakin, Raina tidak akan pernah menghinatinya.
Gibran membuka handphonenya dan melihat banyaknya panggilan dari Raina yang tak bisa ia jawab. Gibran membuka pesan dari Raina, bahwa istrinya saat ini sangat membutuhkannya. Tanpa babibu lagi, Gibran langsung ke parkiran dan melajukan mobilnya dengan kencang untuk segera sampai rumah.
Sampai di rumah, keadaan sepi sekali. Gibran mencari Raina ke kamar, namun ia tak menemukannya. Ia cari keseluruh ruangan, dan saat di dapur, ia mendengar sebuah suara dari toilet.
"Bi Iis," ucap Gibran saat melihat asisten rumah tanganya, dengan tangannya yang terikat serta mulutnya disumpal dengan kain, dan wajahnya basah dengan air mata. Gibran segera menolong mbak Iis, dengan membukakan sumpalan dan ikatan pada tubuhnya.
"Den, non Raina dibawa orang, tapi Bibi enggak tahu non dibawa kemana?"
Gibran segera menelpon ambulance, agar Bi Iis segera mendapatkan perawatan, Gibran takut Iis dehidrasi karena disekap di kamar mandi.
Gibran langsung mencari Raina, ia berharap melalui GPS yang ia pasang pada hp Raina, ia akan segera menemukannya.
Gibran merasa bersalah, berkali-kali Raina menghubunginya, namun tak satukalipun ia menjawabnya, karena handphone nya ia simpan di ruangannya saat ia meeting. Pantas saja dari kemarin perasaannya selalu tidak enak, ternyata sesuatu yang buruk sedang menimpa keluarganya saat ini.
Handphonenya kembali berdering, dan Gibran segera mengangkatnya.
__ADS_1
"Kalau ingin istri anda selamat, sekarang juga anda datang kesini. Dan ingat jangan bawa polisi karena saat ini kami tahu posisi anda berada tuan Gibran."
"Awas aja kalian menyakiti Raina, aku enggak akan segan bunuh kalian."
"Tenang saja, tempatnya akan kami kirim lewat pesan," dan sambungan pun langsung terputus.
****
"Jadi, Mr Fadly keponakan Tante Yani. Kalian benar-benar keluarga gila." decih Raina.
"Nyatanya tak benar-benar ada yang menginginkanmu Raina, kamu lihat sendiri, Diki sahabatmu pun berada dipihak ku. Dan kamu, tidak punya siapa-siapa Raina, Gibran mungkin sudah bosan denganmu, hingga tengah malam seperti ini dia tak datang jua," Raina melihat ke arah Diki yang hanya menundukan kepalanya.
Gibran mendatangi tempat yang mereka janjikan, dan cukup sulit untuknya sampai ke tempat ini. Kini, Gibran berada didekat gubuk yang berada ditengah hutan di Sukabumi.Gibran masuk kedalam gubuk tersebut yang hanya diterangi oleh patromax dan ia melihat Raina sedang memaki-maki Yani.
"Menantu durhaka kamu Tante Yani, beraninya kamu menukar obat Kakek dengan racun."
"Kamu salah Raina, aku tidak pernah menukar obat itu, aku hanya menukar jejak rekam medisnya saja, dan hanya memanggil dokter pribadi yang berada dipihakku untuk sedikit bekerja sama. Itu memang obat yang diberikan dokternya dan aku tidak menukarnya. Ha hahaha."
"Kenapa Tante lalukan semua ini?" Tanya Gibran yang muncul dibalik pintu. Gibran mengernyit saat melihat lelaki yang persis dengan foto yang didapatkannya tadi siang.
Diki dan Amas menjaga Raina dengan ketat dari Gibran.
"Jangan sakiti istriku."
"Jangan sakiti istrimu kamu bilang Gibran, dulu saat aku kecil aku memohon, menjerit menangis agar Wardiman si tua bangka itu tidak mengusir kami dari rumah. Kalau saja ia tak mengusir kami, orangtuaku tidak akan mati. Wardiman pembunuh, ia rebut perusahaan kami, lalu mengusir kami dari rumah kami sendiri, apa itu tidak jahat Gibran, katakan?"
"Kakek ku bukan orang yang seperti itu, Tante pasti salah."
"Itulah faktanya Gibran."
"Aku pikir menjadi istri dari anaknya, akan memudahkan aku untuk membalaskan semuanya, ternyata aku salah. Menikah dengannya pun aku tak bisa mendapatkan kembali apa yang seharusnya menjadi miliku. Ia malah sibuk mengurusi perusahaan cabang, tanpa perduli dengan perusahaan pusat yang berada di sini hingga ia mati. Dinda, aku memberikannya pendidikan hingga S3, melebihi dirimu Gibran, supaya Dinda bisa mendapatkan posisi yang pantas. Namun, 40% saham akan tua bangka itu berikan kepadamu. Sedang aku, setiap harinya menjadi sakit karena harus melihat si tua bangka menyedihkan."
"Itu semua terlalu omong kosong, sekarang, pilihan ada ditanganmu Gibran, tandatangani pengalihan saham ini, kalau tidak aku akan membunuh Raina sekarang juga."
"Jangan Mas Gibran, kakekmu tidak bersalah, iblis wanita ini hanya sedang membual cerita bohongnya agar kau menandatanganinya."
"Tandatangan sekarang juga, kalau tidak bibir istrimu yang tidak pernah berhenti bicara ini, akan diam untuk selama-lamanya," ancam Yani dan Amas seketika membuka pisau lipatnya menyandra Raina.
"Kumohon Mas, jangan tandatangani itu." ucap Raina saat Gibran hendak membubuhkan penanya.
Tepat saat Gibran menandatanganinya, saat itu juga, Yani mengedipkan matanya memberi perintah pada Amas. Amas tak segan menusuk perut Raina.
Srett
Benda kecil namun tajam itu, berhasil menusuk Raina dan darah segar langsung mengalir dari perut Raina. Semua mata langsung tertuju pada Raina, tak terkecuali Diki, ia tak menyangka Yani akan melakukan ini pada Raina.
"Rainaaaaa!" teriak Gibran dan langsung merengkuh tubuh Raina.
Raina berucap setengah berbisik pada Gibran. "Mas jangan khawatir, aku akan baik-baik saja."
Amas menarik Gibran, kemudian memukul Gibran habis-habisan.
Gibran melawan, namun para bodyguard Yani lainnya memegang Gibran, Raina masih tersadar saat melihat suaminya diperlakukan dengan keji.
Amas memukul Gibran dengan membabi buta, hingga sekarang Gibran terkapar ditanah pun, Amas tak segan menginjak perut dan dada Gibran.
Raina menjerit, memohon ampun agar mereka tak menyiksa suaminya lagi, tanpa memperdulikan rasa sakit diperut kirinya yang tertusuk belati.
"Diki, ku mohon hentikan mereka," Raina meminta dengan penuh harap pada Diki. Namun Diki bergeming.
Raina tertatih, meski harus terseok-seok ia berjalan ke arah Gibran, dan berusaha menghentikan mereka. Mereka baru menghentikan aksinya, saat Gibran benar-benar tak berdaya.
"Mas." lirih Raina, ia tak mengingat apapun lagi saat jemarinya berhasil tertaut dengan Gibran.
Sebelum pergi, Yani berkata pada anak buahnya "Seperti biasa, pastikan tidak ada jejak sedikitpun."
"Siap nyonya."
__ADS_1