Taubatnya Sang Pendosa

Taubatnya Sang Pendosa
105.Modal Nekad


__ADS_3

...Happy Reading...


Setelah Ridwan mengakhiri ceritanya, tidak ada yang bersuara, Hanny dengan tatapan kosongnya, Jeremy dengan tampang mupengnya dan Nicholas dengan dramanya yang masih pura-pura tertidur.


"Huft... Ayah berharap, ini kali terakhir kalian meminta Ayah untuk membahas tentang masa lalu kelam dulu, karena sebenarnya Ayah tidak ingin membahasnya kembali." Helaan nafas panjang itu mengakhiri cerita lucu namun mampu membuat mereka menelan air ludahnya sendiri berkali-kali.


"Hup! kalau begitu aku pergi dulu!" Tiba-tiba Nicholas membuka matanya dan melompat dari tempat duduknya.


"Hei Bandit, mau kemana kamu? kirain beneran tidur tadi?" Hanny terkejut melihat tingkah musuh bebuyutannya itu.


"Cih... tidak mungkin makhluk seperti dia melewatkan cerita seru seperti ini." Umpat Jeremy yang langsung mengungselkan wajahnya diceruk leher istrinya karena menahan sesuatu dibawah sana.


"Aku mau pergi!" Jawab Nicholas dengan santainya.


"Iya, tapi pergi kemana?" Tanya Hanny yang penasaran jadinya.


"Aku mau menghamili Alisya!"


Duar!


"Uhuk.. uhuk.. hei, kamu bilang apa wahai anak muda!" Suara Ridwan langsung melengking ke udara.


"Aku mau menghamili anak bapak duluan, kalau bapak memang tidak mau merestui hubungan kami, terserah saja." Entah kerasukan setan darimana dia bisa berkata seberani itu.


"Astaga, harusnya aku suruh pergi dulu dia sebelum aku bercerita tadi." Kini kata sesal hanya tinggal kata, Ridwan hanya bisa mengusap wajahnya yang mulai berkeriput.


"Satu kata buat bapak." Nicholas masih sempat-sempatnya kembali berkomentar disana, setelah membuat kejutan untuk mereka.


"Apa?" Tanya Ridwan yang sudah kehabisan kata-kata.


"Menginspirasi!"


"Aish!"


"Kalau begitu saya permisi pak, numpang lalu!"


"Eits... tidak semudah itu anak muda!"


Ridwan langsung menarik telinga Nicholas saat dia ingin melewati dirinya dengan tingkat kepercayaan diri yang lumayan tinggi.


"Pak.. aku tetap tidak mau melepas Alisya sampai kapanpun juga, cukup bapak tahu kalau aku sangat menyayanginya melebihi apapun didunia ini." Seperti biasa, dia kembali mengutarakan perasaannya walau Alisya tidak berada dalam ruangan itu.


"Heleh.. sangat menyayanginya lah konon, baru berdiri ditempat imam di Pondok Pesantri saja kamu sudah pingsan, gimana mau jadi kepala keluarga kamu!" Akhirnya Ridwan mengingat kembali kejadian yang telah berlalu.


"Itu lain ceritanya pak, aku belum siap menjadi imam dengan jamaah banyak saat itu, tapi kalau untuk menikahi Alisya, Insya Allah aku sudah siap lahir dan batin sekarang." Nicholas pun sungguh tidak menyangka jika dia akan pingsan saat itu, andai saja dia menuruti kata Sholeh untuk tidak menoleh, mungkin dia sudah mendapatkan restu saat itu juga, atau bahkan mungkin hari itu dia sudah langsung berganti gelar menjadi seorang suami.


"Dia pernah gagal sekali dalam berumah tangga nak, dan aku tidak ingin putri kedua ku gagal untuk yang kesekian kalinya, jadi aku tidak ingin dia memilih suami yang hanya menuruti hawa nafsvnya saja." Tutur Ridwan selanjutnya, karena dia benar-benar takut jika putrinya akan terluka kembali dengan sebuah pernikahan.


"Maksud bapak, saya ingin menikahi Alisya hanya karena nafsv begitu?" Tanya Nicholas.


"Aku tidak berharap kamu seperti itu nak."


"Memang iya!" Jawab Nicholas yang membuat mereka semua yang ada disana menoleh kearahnya.


"Iya apanya?" Jeremy seolah tidak percaya mendengarnya.


"Memang karena nafsv!" Jawab Nicholas dengan entengnya.


"Wahahaha... tidak salah aku memanggil kamu dengan sebutan Bandit, karena kau memang Bandit Nicholas!" Hanny sampai terngaga saat mendengar kejujuran Nicholas.


"Jangan harap kamu mendapatkan restuku!" Ujar Ridwan yang langsung melotot kearah Nicholas.


"Tapi hanya sebagian saja persentasinya, kalau menikah tanpa nafsv bukannya lebih berbahaya? gimana ceritanya menikah tanpa nafsv, kita mana bisa memberikan nafkah batinnya, kalau menyentuhnya saja kita tidak mampu? sedang kan paketan tanggung jawab sebagai suami itu harus memberikan nafkah lahir dan batin, berdosa dong pak, kita sebagai kaum pria?" Dia langsung menjelaskan rinciannya secara mendetail.


Oerk!


Ketiga manusia yang ada didalam ruangan itu kembali berperang batin dalam pikiran masing-masing, saat mendengarkan penjelasan Nicholas yang memang ada benarnya juga.


"Dia memang asisten terbaik gue, nggak salah memang kalau bayarannya mahal." Jeremy menggelengkan kepalanya, karena begitu takjub dengan pria yang selama ini mendampingi kehidupan karier dan percintaannya.


"Lihat itu, Ayah sampai tidak bisa berkata-kata karenanya!" Bisik Hanny disamping telinga suaminya.

__ADS_1


"Huft... ya sudahlah!" Ridwan memilih pasrah saja kepada Tuhan semesta Alam saat ini.


"Yes, jadi aku boleh nikahin Alisya kan pak?" Nicholas langsung bersorak seketika.


"Tidak segampang itu, tetap lakukan syaratmu!" Lirikannya berhasil membuat nyali Nicholas kembali mengkeret.


"Apa?" Kedua bahu Nicholas langsung turun seketika, bahkan tubuhnya terasa lemas, akhirnya dia bersandar di dinding ruangan itu.


"Masih bertanya lagi kamu, apa segitu pendeknya ingatan kamu?"


"Menjadi imam lagi pak?" Tanya Nicholas dengan tampang kusutnya.


"Kenapa? mau yang lebih menekan batin lagi, bagaimana kalau kamu menjadi Imam saat hari Raya nanti, jadi kamu nikahnya bulan Syawal, bulan bagus itu untuk menikah." Tantang Ridwan kembali.


"Aduh kelamaan pak, sekarang aja saya sudah nyut-nyutan setelah dengerin kisah bapak tadi!"


"Maksud kamu apa!"


"Kasian Alisya juga pak, kalau kelamaan dianggurin, bahkan dia masih perawan setelah jadi janda, jadi biarkan aku membahagiakan Alisya secara lahir dan batin pak, aku jamin ceritaku akan lebih seru daripada cerita masa lalu bapak."


"Nicholas!" Ridwan kembali dibuat syock dengan segala ucapan dari Nicholas.


"Tenang aja pak, biar adil nanti setelah malam pertama kami berakhir akan aku ceritakan kisahku juga deh?"


"Anak ini benar-benar ya!" Tangannya berasa gatal ingin menjewer telinga Nicholas sampai memerah saat ini.


"Ahahaha.. ampun pak!" Nicholas langsung berlari menghindar.


"AYAH!"


Tiba-tiba terdengar suara teriakan Alisya dari luar ruangan itu yang membuat mereka semua terkejut.


"Ada apa nak, kenapa teriak-teriak begini, ini rumah sakit loh?" Ridwan langsung berjalan mendekati putrinya yang berjalan tergesa-gesa dengan keringat yang mulai membasahi area wajahnya.


"Ibu kenapa?" Tanya Alisya yang sontak membuat kedua alis Ridwan naik serentak.


"Memangnya ibumu kenapa nak?" Tanya Ridwan kembali.


"HAH?"


Astaga, apa ibu Alisya juga mendengarnya? Dia bahkan tidak tahu cerita ini?


Bukannya langsung berlari untuk pulang namun Ridwan memilih untuk kembali duduk sambil memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Ayah, kenapa Ayah diam saja, cepat tenangkan Ibu dong Yah, apa kalian berdua bertengkar? masalah apa? tidak biasanya kalian bertengkar?" Alisya memang tidak pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar selama ini.


"Sayang?" Lain cerita dengan Nicholas, jika dia sudah melihat Alisya, seolah Surga ada dihadapannya.


"Diam dulu mas, ini masalah penting, kasihan Ibu tau nggak!" Alisya melotot saat Nicholas ingin bergelayut manja di lengannya.


"Hmm... sudah pasti Ibumu marah, kalau kamu dengar juga pasti akan---" Umpatan Nicholas terhenti saat lirikan mata Ridwan teetuju kepadanya.


"Ckk.. jangan ngomong sembarangan kamu, bukannya kita sudah melakukan perjanjian diawal tadi?"


"Opsh... saya lupa pak."


"Perjanjian apa, kenapa aku tidak tahu, apa yang kalian sembunyikan dariku?" Alisya semakin curiga karenanya.


"Ini tidak terlalu penting nak."


"Aha... Pak, mau aku kasih ide, agar bapak bisa menyelesaikan masalah tanpa masalah baru lagi?" Nicholas mendekat kearah Ridwan dan berbisik kepadanya.


"Apa itu?"


"Tentu ada syaratnya dong?" Nicholas tersenyun dengan liciknya, bahkan Jeremy langsung berjalan mendekat kearah mereka.


"Katakan!"


"Izinkan aku menikah tanpa syarat!" Ucap Nicholas yang sebenarnya sudah Ridwan duga.


"Ckk... Kamu ini!"

__ADS_1


Namun sesungguhnya, Ridwan juga tidak mau menjadi penghalang hubungan putrinya, hanya saja awalnya dia hanya ingin Nicholas itu sedikit lebih berjuang saja pikirnya.


"Saya janji akan jadi imam yang baik untuk keluarga kecilku, biarkan saya belajar mengimami istriku dulu, baru setelahnya aku turuti kemauan bapak, karena semua juga harus berawal dari yang kecil dulu kan pak?" Pinta Nicholas dengan sedikit memohon.


"Huft... cepat katakan apa idemu!" Dia tidak punya pilihan lain, karena dia juga belum menemukan cara untuk membujuk istrinya nanti.


"$%€£¥₩@#!" Bisik Nicholas yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.


"Hah?" Ridwan sempat ragu sesaat.


"Mau nggak pak?"


"Ya sudah, atur saja pernikahan kalian, aku tunggu dirumah ya, pinggang dan lututku memang sudah tidak sekuat dulu lagi!" Namun setelah dia pikir-pikir kembali, ada benarnya juga, mungkin ide itu harus dia coba.


"Yes... Sayang! akhirnya kita menikah juga yank!" Nicholas langsung memeluk lengan kekasihnya.


"Hah? Kok bisa?" Giliran Alisya yang kebingungan sendiri.


"Jangan bilang kok bisa, katakan Alhamdulilah dong sayang!" Nicholas langsung menyentil hidung mancung kekasih idamannya itu.


"Iya, tapi kok bisa Ayah secepat itu merestui hubungan kita?"


"Hehe... calon suamimu ini selalu punya cara, untuk menyelesaikan masalah walau rumit sekalipun."


Ya Allah, selama ini aku sudah bertarung dijalur Man Jadda Wajada Mu, dan izinkan Kun Fa Ya Kun Mu untuk menemani langkahku, amin.


Akhirnya senyun Alisya terbit disana, walau Alisya masih merasa heran, namun dia ikut bahagia, karena hubungan cinta mereka bisa menjadi ladang pahala dalam indahnya dunia pernikahan.


"Nicholas!"


"Apalagi Bos, aku lagi senang ini?" Umpat Nicholas yang menatap jengah ke arah Bos nya yang terkadang sering menjahilinya.


"Sini dulu!" Dia langsung menjentikkan jarinya agar asistennya itu mendekat.


"Ckk... aku mau cuti, jangan kasih aku pekerjaan dulu sementara ini." Nicholas malah berpikiran lain.


"Bukan masalah itu, begini.. kamu mau aku jadi sponsor pernikahan kamu nggak?"


"Ya mau lah, terima kasih banyak bos!" Senyumnya langsung melebar saat ada yang menawarkan jadi sponsor pernikahannya, lumayan tabungannya bisa dia pergunakan untuk hal lain pikirnya.


"Jangan terima kasih dulu, katakan dulu apa ide yang kamu berikan kepada Ayah mertua, kenapa dia jadi dengan mudahnya membebaskan syaratmu itu!" Bisik Jeremy dengan rasa penasaran yang menggunung.


"Hehe... Rahasia Bos!"


"Kalau begitu aku tarik sponsormu, bahkan gaji dan bonusmu bulan ini akan aku suruh di bekukan terlebih dahulu!" Ancamnya seketika.


"Astaga Bos!"


"Cepat katakan!"


"Obat kuat!" Ucapnya dengan cepat, lebih baik dia jujur daripada sponsornya hilang begitu saja.


"APA? OBAT KUAT?" Jeremy bahkan mengulanginya dengan suara lantang.


"Ssssttth... jangan keras-keras bos!" Nicholas langsung melotot kearahnya.


"Maksud kamu, Ayah mertua mau kamu berikan obat kuat?"


"Iya, karena calon ibu mertua pasti marah dong saat mendengar masa lalu jungkat-jungkit calon Ayah mertua, dan solusinya hanya satu dalam masalah itu, yaitu memberikan hal yang lebih menegangkan untuk yang sah, sedangkan kondisi umurnya sudah mulai senja, butuh tenaga ekstra pastinya." Otaknya yang cerdas itu langsung dia pergunakan disaat yang tepat.


Prok


Prok


Prok


"Woahahaha.. kamu memang warrrbyasah, memang Bandit kau ya Nick!" Jeremy langsung bertepuk tangan karenanya.


"Jangan panggil saya Nicholas, jika tidak bisa menyelesaikan segala masalah dan rintangan yang ada, hehe!"


Akhirnya Nicholas berhasil menyombongkan dirinya dihadapan bosnya, namun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, sesungguhnya dia sangat bersyukur, akhirnya perjuangan dirinya menuju kata ahh akan segera terwujud dalam naungan dari keluarga Alisya, padahal tadinya Nicholas hanya bermodalkan nekad saja.

__ADS_1


__ADS_2