
...Happy Reading...
Hawa dingin yang bertiup dimalam itu, seolah melambangkan betapa terlukanya hati seorang Nicholas, ketika dirinya yang sudah terpaut jauh dengan seorang gadis biasa, namun terlihat istimewa dihatinya.
Tapi sayang cinta yang baru saja tumbuh menghijau itu kini harus pupus termakan oleh hama yang datang tanpa diduga.
"Nick... apa mungkin kamu hanya di prank saja oleh Alisya?"
Jeremy sebenarnya tidak tega melihat Nicholas seolah tersakiti seperti ini, namun dia bisa apa, karena semua sudah terjadi, andai saja kejadian itu belum terlaksana, apapun pasti akan Jeremy lakukan untuk membantu asisten yang sudah setia kepada dirinya bertahun-tahun lamanya itu.
"Nggak mungkin mas, Alisya bukan tipe gadis yang jahil, apalagi ngeprank soal pernikahan, aku tahu betul kebiasaan Alisya seperti apa." Hanny langsung mengeluarkan pendapatnya.
"Tuh kan bos, kenapa dia sampai tega melakukan hal itu kepadaku, apa dia sengaja menggantungkan perasaanku, padahal aku sudah jelas-jelas sudah mengungkapkan perasaanku tadi."
Nicholas tetap tidak terima, entah kenapa dia sungguh tidak rela jika Alisya dimiliki orang lain, padahal dia yang sudah lebih dulu start mendekatinya.
"Emangnya saat kamu bilang sayang dengan Alisya, dia membalas perasaanmu tidak?"
"Dia tersenyum kepadaku." Jawab Nicholas dengan bangganya.
"Hei... tersenyum saja tidak cukup Sarmin! bahkan orang gila saat kamu tanya juga bisa tersenyum, apa itu bermakna dia membalas perasaanmu?" Ledek Hanny dengan tatapan heran.
"Kalau dia menolakku harusnya dia tidak tersenyum dong?"
"Kalau dia hanya menggangap itu semua sebagai candaan bagaimana, kamu jangan segampang itu menyimpulkan sebuah perasaan, bisa aja kamu yang kegeeran, tapi sebenarnya Alisya sama sekali tidak berminat dengan kamu?"
"Enak aja! jangan sembarangan ngomong kamu!" Nicholas merasa tidak terima, karena dia juga merasakan sinyal-sinyal suka dari Alisya, namun dia tidak memperlihatkannya saja pikirnya.
"Sepertinya apa yang dibilang istriku benar Nick, dia mungkin hanya bercanda, harusnya kamu tertawa, bukannya jatuh cinta, dan akhirnya kamu terluka." Jeremy seolah malah memperkeruh suasana hati Nicholas saja.
"Tulll."
"Nggak, pokoknya aku harus kerumahnya sekarang juga!" Umpat Nicholas yang langsung beranjak berdiri.
"Heh, kamu nggak lihat jam, ini sudah pukul berapa? hampir tengah malam tau Nick, mereka juga sudah pasti tidur semua." Jeremy menunjuk jam besar yang tertempel di dinding ruangan itu.
"Aku tidak perduli!"
"Jangan nekad kamu, jangan buat keributan dirumah orang, bisa-bisa kamu digrebek massa nanti, mau kamu?"
"Tapi bos?"
"Nick, memangnya kalau kamu datang malam ini, waktu bisa diputar kembali begitu, tetap saja dia sudah menikah bukan?"
"Aku tidak rela Alisya dimiliki pria lain bos!"
"Besok pagi-pagi kita kesana, kamu bisa tanya alasan kenapa dia menikah, okey?" Jeremy mencoba memberikan solusi.
"Ckk... kenapa sih, semua wanita nggak ada yang bener?"
"Ngawur aja kamu kalau ngomong, kalau Alisya bukan jodohmu bukan berarti semua wanita itu salah, jangan lemah deh, bahagia bukan hanya soal cinta!" Umpat Hanny yang langsung melengos saat mendengarnya.
"Peh... kalau ngomong itu sedap betul, laki kamu itu dulu juga sudah seperti orang gila saat tahu kenyataan pahitmu, asal kamu tahu saja!" Nicholas seolah mengadu.
"Tapi aku kan sudah minta maaf, ya kan mas?"
"Hmm."
"Dih... jika kata maaf saja cukup, tidak banyak orang menjadi penghuni Neraka Jahanam, pokoknya aku mau minta penjelasan sama Alisya sekarang juga!"
"Woi... kalau emang mereka sudah menikah, sudah pasti mereka sedang ritual malam pertama sekarang, apa kamu mau menganggunya?" Hanny langsung kepikiran akan hal itu.
"Memang itu tujuanku kesana, aku tidak sudi mereka melakukan hal itu dibalik penderitaanku!" Ucap Nicholas yang langsung mengambil kunci mobil Bosnya yang tergeletak diatas meja.
"Mas, gimana itu asistenmu, mau ngajak ribut atau gimana, kasian nanti Alisya?"
"Mau gimana lagi, kalau dia sudah bertekad, gunung dan lautan pun akan dia lewati, kita ikuti dia sajalah." Jeremy pun tidak bisa menghentikannya.
"Tapi mas?"
"Setidaknya kita bisa mencegahnya kalau dia sampai ingin menghabisi nyawa suami Alisya."
"Apa? sampai mau menghabisinya, gila ini sih, mana aku belum sempat beli ponsel lagi, gimana mau menelpon Alisya ini, aku kan nggak hafal nomornya!"
Hanny pun tidak bisa menanyakan hal ini kepada Alisya sekarang, karena memang dia belum sempat beli ponsel baru, karena ponsel lamanya sudah hancur saat dia melihat foto resepsi pernikahan suaminya dulu.
Jalanan malam itu terlihat sepi, tidak banyak orang yang berlalu lalang disaat tengah malam seperti ini, apalagi cuaca terlihat mendukung orang untuk tidur nyenyak dibawah selimut, karena hujan terlihat turun membasahi bumi.
"Alisya, keluar kamu!"
Saat Nicholas baru saja sampai, dia langsung berteriak-teriak didepan pintu rumah Alisya tanpa perduli dengan bajunya yang basah terkena air hujan.
"Woi... pake Assalamu'alaikum dong, nggak sopan banget sih? kamu mau jadi preman disini?" Umpat Hanny yang langsung memukul bahu Nicholas dengan kesal.
"Owh iya, lupa!"
"Ckk... kontrol emosimu, atau Setan yang akan menguasaimu!" Ucap Hanny kembali.
"Berarti kalian berdua lah setannya!"
"Woo... memang udah paling bener Alisya menikah dengan orang lain, daripada sama orang bar-bar kayak kamu kan!" Ledek Hanny dengan gemas sendiri.
"Bos, kasih tau istri anda itu, disini aku pihak yang terdzolimi!"
"Sayang sudahlah, dia hanya emosi saja, jangan menurunkan semangatnya, kasihan dia."
Hanny langsung melemah jika Jeremy sudah memeluk dan mengusap rambut panjangnya, karena saat ini hanya Jeremylah yang bisa menjadi pawangnya.
"Assalamu'alaikum Alisya, keluar kamu, aku ingin bicara denganmu!" Nicholas kembali berteriak disana.
Ceklek!
"Kalian siapa, kenapa teriak-teriak dirumah orang!"
Tiba-tiba seorang pria muncul dari balik pintu, bahkan hanya menggunakan sarung dan bertelanjang dada saja.
"Opsh... apa mereka sedang otw pecah telor?" Hanny langsung melotot saat melihat pria itu.
"Pejamkan matamu, kamu tidak boleh melihat tubuh pria manapun selain milik suamimu!" Jeremy langsung memeluk Hanny dan menyembunyikan wajahnya didadaa, seolah tidak rela jika istrinya melihat tubuh pria lain.
"Astaga, nggak sengaja mas!" Hanny hanya bisa pasrah saja, padahal dulu berbagai tubuh sudah dia saksikan, dari yang sispex dan kotak-kotak sampai yang buncit kayak orang hamil, jadi pemandangan seperti itu sudah biasa baginya.
"Mana Alisya!" Tanya Nicholas tanpa rasa takut sedikitpun.
"Untuk apa kamu mencarinya!" Jawabnya dengan nada yang seolah tidak suka.
"Aku ingin berbicara dengannya!"
"Beri aku satu alasan kenapa kamu ingin bertemu dengannya!"
"Dia kekasihku!"
"Tapi aku suaminya sekarang!" Pria itu seolah tidak terkejut jika ada seorang pria lain yang mengaku kalau dirinya kekasih dari istrinya.
Degh!
"Aku ingin mendengar penjelasannya, kenapa dia menikah dengan orang lain, padahal dia bilang mau menungguku!" Jelas Nicholas dengan jujur.
__ADS_1
"Apapun alasanmu aku tidak mau tahu, biarlah semua itu menjadi masa lalu diantara kalian, dan saat ini akulah orang yang berhasil mempersuntingnya, jadi silahkan pulang dan jangan pernah menggangu istriku lagi."
"Tidak segampang itu, suruh Alisya keluar terlebih dahulu!" Pinta Nicholas tetap tidak terima.
"Kalau aku tidak mengizinkannya kamu mau apa!"
"Atau aku perlu membuat keributan dulu sekarang?" Tantang Nicholas yang sudah terbawa emosi.
"Coba saja kalau berani!"
"Kamu menantangku!" Teriak Nicholas yang mulai tersulut emosi.
"Nicholas, sudahlah.. jangan begini, kita bisa bicara baik-baik okey?" Disaat suasana mulai terlihat memanas Jeremy mulai menengahi.
"Tapi dia ngelunjak bos!"
"Itu hak dia, karena memang dia suaminya!"
"Aku tidak perduli!"
"Emm... begini saja, aku Hanny sahabat Alisya, bisa tolong panggilkan dia Bang, aku ingin bicara sebentar dengan dia." Ucap Hanny mencoba ingin membantu.
"Kalau aku tidak mengizinkan kamu juga, kamu mau apa!" Jawab Pria itu dengan wajah ketusnya.
"Hei, jangan meninggikan suaramu didepan istriku!" Jeremy langsung tidak terima saat intonasi pria itu terdengar keras kepada Hanny.
"Mas, it's okey, aku tidak apa-apa, mas bawa dulu Nicholas pergi ke mobil." Bisik Hanny.
"Tapi yank?"
"Aku akan mengurusnya!" Ucapnya kembali.
"Aku tetap ingin menunggu Alisya sampai dia mau keluar menemuiku, titik!" Nicholas tetap bersikukuh dihadapan mereka.
Plak!
"Mau nurut nggak!" Hanny langsung memukul lengan Nicholas sambil melotot.
"Nggak!"
"Aku akan membantumu Sarmin, tapi kalau kamu teriak-teriak kayak begini, gimana Alisya mau keluar, ikuti arahanku, kamu pasti akan bertemu Alisya nanti!"
"Ckk!"
"Bawa dia ke mobil mas."
Akhirnya dengan berat hati Nicholas meninggalkan tempat itu menuju kedalam mobilnya.
"Boleh aku bicara sebentar dengan Alisya? aku janji tidak akan lama." Hanny mencoba berbicara sopan dengan pria itu.
"Kalau aku tetap tidak mengizinkan kamu gimana?"
"Kamu bisa bayar royalti, seratus kali lipat dari gaji yang aku berikan kepada Alisya, karena itu sudah perjanjian kami."
Jika masalah tidak bisa diselesaikan dengan baik-baik, perihal materi adalah solusinya, pikir Hanny.
"Maksud kamu apa!"
"Aku bos Alisya, dia adalah asisten pribadiku, jika kamu melarangku untuk bertemu dengannya tidak masalah, tapi kamu yang harus ganti rugi, karena aku ada perlu dengannya, mengerti kamu!"
Hanny tidak punya alasan lain, selain sedikit mengancamnya, karena walau bagaimanapun juga Alisya tetap harus menjelaskan semuanya, dia tidak akan bisa hidup dengan tenang jika menggantungkan perasaan orang lain.
"Kenapa aku harus percaya denganmu!"
"Kalau kamu tidak percaya tanyakan saja dengan Alisya, namaku Hanny!" Ucap Hanny terlihat meyakinkan.
"Awas kamu kalau berani membohongiku!"
"Aku tidak takut denganmu, aku hanya takut dengan Tuhanku."
"Cih... masuklah, aku beri waktu kamu lima menit, jangan membuang-buang waktuku, kalian menganggu urusanku saja!" Umpatnya dengan kesal dan memilih masuk kedalam ruangan lain dirumah itu.
Hanny langsung melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mencari keberadaan Alisya, dia malas berdebat dengan pria itu sebenarnya.
"Alisya?"
"Hanny, ngapain kalian disini?"
"Kamu beneran sudah menikah?"
"Hmm.."
"Why?"
"Mungkin memang ini sudah jalannya!"
"Tapi kenapa Alisya, katakan alasannya denganku?"
"Orang tua kami sudah menjodohkan kami Han, dan itu juga keinginan kakek."
__ADS_1
"Tapi kamu kan bisa menolaknya, kasihan Nicholas, dia sudah hampir gila karena kamu tinggal nikah!"
"Tapi kami belum berhubungan sejauh itu Han."
"Iya, tapi kamu sudah memberikan harapan kepadanya, tidak baik seperti itu Alisya, setidaknya kamu harus memberikan penjelasan kepadanya sebelum kamu menikah!"
"Kalau aku memberikan penjelasan apa dia tetap mengizinkan aku menikah dengan orang lain?"
"Ya setidaknya kamu memberi tahu alasannya terlebih dahulu Alisya!"
"Fuuh... Ta'aruf ini sudah keluargaku rencanakan sejak lama, dan suamiku saat ini mendesak ingin segera dinikahkan, karena besok dia harus pindah keluar negri dan ingin membawaku pergi kesana."
"Kamu menyukainya?"
"Dulu kami berteman saat masih sekolah."
"Pertanyaanku bukan itu, tapi apa kamu juga menyukainya?"
"Entahlah, semua ini terlalu mendesak."
"Lalu kenapa kamu harus menjanjikan sebuah hubungan dengan Nicholas coba?"
"Aku pun tak tahu, tiba-tiba malam itu dia dan keluarganya datang kerumah, bahkan sudah membawa pak ustad untuk menikahkan kami."
"Kalian baru menikah siri?"
"Hmm... dan acara resminya akan diadakan bulan depan, setelah pekerjaannya di luar negri selesai."
"Kenapa kamu langsung menerimanya?"
"Aku tidak bisa menolaknya, karena ini sudah menjadi keputusan keluargaku juga."
"Alisya, aku tahu kamu orang baik, kamu tidak mau durhaka dengan orang tuamu, tapi nggak gini juga Sya, kamu berhak menentukan pilihanmu sendiri, apalagi ada Nicholas yang menyukaimu!"
"Pria itu juga bilang kalau dia menyukaiku, lagipula aku dengan Nicholas juga belum sejauh yang kalian kira."
"Entah kenapa aku kecewa dengan keputusanmu kali ini Alisya." Ucap Hanny dengan jujur.
"Aku bingung bagaimana menolaknya, lagian Nicholas hanya menyuruh aku menunggu, kepastiannya belum tahu kapan lagi, sedangkan mereka terus mendesakku!"
"Aku tahu siapa Nicholas, dia tidak akan pernah mengingkari ucapannya, dia punya prinsip yang kuat Alisya, aku sungguh kecewa denganmu."
Karena enah mengapa Hanny lebih percaya dan lebih yakin kalau Alisya pasti akan bahagia jika bersama Nicholas bukan suaminya kini.
"Aku memang salah Han, untuk itu sampaikan permohonan maafku kepadanya."
"Sampaikan sendiri, itu tanggung jawabmu!"
"Tapi Han?"
"Aku akan mengaturnya besok, jelaskan sendiri dengannya!"
"Aku besok sudah berangkat ke luar negri Hanny."
"Jam berapa?"
"Entahlah, mas Yoga belum mengatakannya."
"Namanya Yoga siapa?"
"Yoga Pratama."
"Okey, itu saja sudah cukup."
Hanny hanya membutuhkan nama saja untuk mencari semua informasi tentangnya.
"Hanny kamu mau ngapain?" Bisik Alisya yang malah khawatir dengan tingkah Hanny yang sering diluar nalar.
"Kamu tidak perlu merisaukan apa yang akan aku lakukan, pikirkan saja Nicholas, mungkin kamu terlalu jahat dengannya."
"Hanny?" Alisya pun menyesal sebenarnya.
"Harusnya bukan begitu caramu untuk membahagiakan keluargamu Alisya, bukan begitu juga cara yang terbaik untuk kamu agar tidak durhaka kepada orang tuamu, pikirkan juga kebahagiaanmu dan pikirkan juga perasaan orang lain yang kamu dzolimi, jangan seperti itu Alisya, selama ini kamu sangat bijak dalam membantuku, jadi bijaklah dalam menghadapi masalahmu juga, aku percaya kamu paham dengan maksudku!"
"Tapi Han?"
"Apa kalian sudah selesai?" Setelah lima menit berlalu, Yoga datang menemui mereka.
"Sudah, terima kasih!" Jawab Hanny dengan cepat, informasi yang dia perlukan sudah cukup, selebihnya dia yang akan mengurusnya sendiri.
"Hanny, tunggu!" Alisya sebenarnya masih ingin berbicara dengan Hanny namun sepertinya Hanny yang sudah tidak berminat untuk mendengarnya lagi.
"Alisya yang aku kenal tidak seperti ini, aku pamit, assalamu'alaikum!"
Hanny langsung berbalik dan pergi tanpa menoleh lagi, jujur Hanny begitu kecewa dengan sikap Alisya, namun dia curiga pasti ada satu kejadian yang membuat Alisya tidak berani menolak perjodohan dari keluarganya ini, apalagi dia pernah mengatakan bahwa tidak ingin menikah terlalu cepat karena masih ingin kuliah dan mengejar kariernya terlebih dahulu.
Untuk itu Hanny ingin segera mencari tahu semua tentangnya dan ingin segera mengerahkan anak buahnya untuk menyelidiki pria yang sudah menjadi suami Alisya saat ini.
Sampai jumpa tahun depan bestie-bestieku tersegalanya, terima kasih atas dukungan kalian ditahun ini.
__ADS_1
Happy New Yearš„³